
Dulu, Djarot berpikir kalau sudah menikah, dia akan benar-benar berhenti merokok, tetapi lihat hari ini. Baru setengah perjalanan bumi berputar, dia sudah membuka bungkus baru dan menyesap batang demi batang kuat-kuat. Kepalanya sungguh pening.
Dia pikir, wanita galak itu tidak akan bertindak seagresif ini saat menggodanya. Dan, jika saja dia tidak memikirkan masih ada acara lain, bisa dipastikan Rully akan terkapar di ranjang sampai besok pagi.
Lihat itu ...! Hanya memakai kemeja abu-abu muda yang barusan diambil dari mobil—Djarot punya selusin baju dibagian belakang mobilnya, dalam lipatan rapi terbungkus plastik londrian, wanita itu berjalan mondar mandir seperti sengaja memancing. Membungkukkan badan, berjinjit, duduk dengan kaki saling menumpu, dan bersila tanpa ... itu. Ya, itu, hanya segitiga abnomalnya tanpa ada apapun melapisi.
Djarot membuang muka, di sesapnya batang rokok itu kuat-kuat lalu membuangnya keluar jendela yang dibukanya lebar-lebar. Dia mendesis kesal. "Kalau sudah selesai, kita pulang sekarang!"
"Dikit lagi, Mas ... Ini masih cari wadah buat perintilan ini." Rully menggenggam entah apa. Seperti jepit kecil, bros, hiasan kepala, bunga melati, dan masih banyak lagi. Lalu dia dengan santainya, memakai bagian depan kemeja untuk membungkus barang tersebut ... dan berdiri.
Seketika, pemandangan kakinya yang panjang, sesuatu yang montok, dan perutnya yang tipis berhias pusat kecil bagai sebuah titik membuat napas Djarot beserta jantungnya, kelabakan. Antara kedua kaki pria itu seakan merasakan kalau di depannya daging juicy dengan aroma menggoda, mendeciskan percikan gairah tak terkendali sedang menari mengundangnya.
"Astagfirullah!" ucap Djarot pelan seraya menekan keningnya. Isi kepalanya panas dan berkedut.
Rully agak bingung dengan keluhan suaminya itu. Kenapa memangnya? Apa dia melakukan maksiat sampai diistigfarin? Gadis itu melongo.
"Kenapa sih, Mas?"
"Di depan siapa aja kamu bertingkah kaya begini?" Djarot menatap Rully tajam. Ia beranjak mendekati ranjang.
"Kaya apa?!"
__ADS_1
Sedetik lamanya, Djarot menatap tepat ke titik hitam mata Rully, lalu meraih buntalan yang menggunduk di depan perut itu kuat-kuat—Rully sampai berayun. Rully benar tidak paham apa maksud Djarot, dan itu bukan pura-pura.
"Kamu tau apa yang kamu kenakan, dan dengan mudahnya kamu mempertontonkan benda milikmu di depan orang lain! Dan aku ini laki-laki, Rul ... aku ini pria dengan hasrat normal dan memiliki ketertarikan pada wanita! Kamu tau perbuatanmu ini, bisa membuatmu berakhir mengenaskan. Bisa saja kamu dilecehkan, jadi bahan olok-olokan! Tolong jaga sikap kamu dan berpikirlah dewasa!"
Gelegar suara Djarot langsung menghentikan keramaian sekeliling, berganti hening yang mencekam. Rully membalas tatapan mengerikan suaminya, semula heran, lalu dia mengerti dengan bantalan dibalik celana panjang suaminya yang terasa kaku. Senyumnya perlahan terbit.
Wanita itu berpikiran lain. Ini di depan suaminya, lalu kenapa kalau dia terlalu terbuka? Toh ini hanya berdua, dan buntalan itu akan dia masukkan ke kantung belanjaan yang diambilkan Djarot dari mobilnya, hanya sekitar tiga langkah lebar Rully jaraknya. Dan Djarot tadi kan tidak menatap ke arahnya. Rully mengira dia akan aman sampai di sana, bahkan sebelum Djarot selesai dengan rokoknya. Sial memang nasibnya, Djarot punya kecepatan yang mata Rully tidak mampu menangkapnya.
"Aku seperti ini karena terpaksa, Mas ... dan ini juga baru saja kulakukan demi menghemat waktu. Cuma sampai ke situ!" Ekor matanya melirik kantung itu. Djarot paham, tapi dia harus memastikan. Meski istrinya masih perawan, bisa saja dulu dia bermain-main dengan pria, lalu foto-foto dengan tampilan begini beredar di ponsel pria dengan fantasi yang sama dengannya.
"Lagian, Mas ...." Rully menekankan tubuhnya dengan gesekan sensual pada tubuh Djarot. Suaranya lembut dan bergetar. "Bukankah seharusnya aku selalu begini kalau berduaan dengan kamu?"
Djarot mundur setengah langkah. Ini bahaya!
"Kalau nggak buru-buru, boleh dong nggak pakai baju sekalian!" Kaki Rully mendesak Djarot. Pria itu menahan napas sampai mata melebar. Degup jantungnya mulai merasakan alarm bahaya.
Alis Rully naik turun penuh goda. Pundaknya membuat gerakan sensual dan Djarot yang masih pemula, kembali sesak napas. "Boleh, dong, masa nggak boleh!"
Segera pria itu sadar, setelah sempat kembali melayang pada dua kali percintaannya yang mengesankan. Benar, jika saja tidak buru-buru, Djarot punya tenaga dan keinginan lebih untuk menjamah dan menjatuhkan Rully ke dasar kenikmatan dunia.
Tangan besarnya menggenggam buntalan itu dan membawanya ke kantung yang dituju Rully, menjatuhkan barang sialan itu ke dalamnya, lalu kembali menatap Rully dengan tajam.
__ADS_1
"Orang normal, kantungnya dibawa ke sana! Bukan sebaliknya!" Tangan Djarot kejam menunjuk kasur.
"Aku masih belum normal setelah kamu aduk-aduk barusan." Rully menunduk malu-malu. Ia memilin ujung kemejanya. Dia kali ini bertingkah sok polos. Dalam hatinya, ada gelak tawa yang begitu keras.
"Lain kali kamu begini, aku pastikan kaki kamu akan menderita kelainan! Sampai lupa caranya berjalan! Ngerti!" Djarot segera melepas ikat pinggangnya dalam gerakan kasar.
Rully mendadak mundur. Ia membeliak ketakutan. "Mas ... kamu mau apa?"
"Mau kasih tau kamu bagaimana cara berpakaian yang benar!" Djarot mengulurkan tangannya untuk meraih Rully. Tatapannya masih sama tajam dan mengerikan.
"Tapi, Mas ... aku hanya bercanda tadi. Iya, aku akan pakai baju yang bener lain kali." Rully masih terus mundur, sementara hanya dinding dan dinding yang ada di sini. Dia tersudut.
Mati aku!
Gesper Djarot terlihat berat dan kaku. Rully menatap benda itu dan ketakutan. "Mas, jangan begini! A-Aku bercanda tadi, Mas!"
Djarot mendadak punya tatapan lapar yang mengerikan. Terlihat bengis dan tak berperasaan. "Kamu harus dikasih pelajaran, Rul!"
"Mas!"
Djarot menepis tangan Rully, dan meraih pinggang itu seraya membaliknya menekan dinding.
__ADS_1
"Mas!"