Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Curiga


__ADS_3

Tidak menyangka memang, jika hal senekat ini akan dilakukkan Lea, sehingga membuat Ferdi tak berkutik.


"Lea akan tinggal di sini, Buk ... dia tidak punya tujuan selain rumah kita. Bagaimanapun dia adalah saudara Mayang." Begitulah ia berdalih ketika menghadapi tatapan melotot Ibunya. Mau bagaimana lagi, Lea sudah berdiri di depan pagar rumah dengan setumpuk barang bersamanya. Menolak juga percuma, Lea mengancam akan memberitahu Marini soal hubungan mereka.


"Hanya sementara saja, Buk, sampai kosan selesai di renovasi." Lea tersenyum manis.


Marini mengabaikan Lea. Andai saja dia bisa bilang tidak, pasti akan dia lakukan sekarang seraya berteriak kencang. "Seminggu saja batas waktu orang numpang di sini. Kalau tidak, tangan saya sendiri yang akan menyeretnya keluar!"


Lea tersenyum penuh terimakasih. "Lebih dari cukup, Buk ... saya hanya butuh waktu lima hari saja. Setelah itu saya akan meninggalkan tempat ini."


Terdengar gumaman 'bagus' dari Marini yang hanya bisa Ferdi maklumi. Rasanya dia telah membawa singa masuk ke kandang macan. "Aku antar ke kamar kamu, Le ... bawaanmu banyak."


Ferdi bergegas membawa barang-barang Lea, meski ia tahu ibunya mendelik marah padanya.


"Buk, saya ke kamar dulu, mau rapi-rapiin barang dulu," pamit Lea penuh kemenangan. Lea bersikap manis, sopan, bahkan biasanya dia dan Marini terlibat perdebatan kecil ketika bertemu, menganggap diri paling benar dan berkuasa atas apa yang bukan milik mereka.


Marini makin mendelik, rasa kesalnya memuncak. "Enak sekali dia, kaya rumah ini penampungan orang ndak punya tempat tinggal!"

__ADS_1


"Kamarmu di sini, Le ... spreinya di lemari, kamu bisa pasang sendiri kan?" Ferdi meletakkan barang-barang Lea, "yang lain—barang-barang Lea—kamu letakkan dimana?"


Agak heran Ferdi dengan bawaan Lea, yang memanglah hanya sedikit dari barang kepunyaan wanita itu.


Lea tersenyum penuh misteri, lalu memeluk manja pinggang Ferdi. "Aku titipkan di rumah temen."


Lea mulai meraba dada Ferdi dan menggodanya. "Entah mengapa aku merasa bahagia bisa serumah denganmu, Mas ... seakan aku ini sudah sah jadi istri kamu. Kita punya anak dan hidup bahagia."


Ferdi menunduk—meski dalam hati ia sangat jengah, menatap Lea yang terlihat ceria, seakan telah mencapai puncak motifnya. "Ini semua rencana kamu, kan, Le ...? Kamu pasti hanya berpura-pura saja diusir dari kos agar bisa tinggal di sini," batin Ferdi.


"Ketahuan juga ngga apa-apa, Mas ... biar Mayang itu kena stroke lihat kita bercinta di depan matanya. Biar kita cepet-cepet bisa kuasai hartanya, aku capek ditindak istri gembrotmu itu!" Lea melepaskan tangannya, lalu memaksa Ferdi menerima tubuhnya lagi. Kali ini ia imbuhi dengan ciuman panas yang memaksa.


"Mas ... main sebentar, yuk ...! Deketan sama kamu bawaannya pengen terus." Lea mendorong tubuh Ferdi hingga terantuk dinding.


"Jangan gila, Le!" seru Ferdi. Matanya bergantian memandangi Lea dan pintu dengan pandangan tertekan. "Nanti ketahuan Ibuk, Le ...!"


Ferdi memaksa diri membebaskan jeratan Lea yang memang selalu berhasil menjatuhkannya. Namun, ini tidak sama dengan sebelumnya. Ini sedikit berbahaya. Perasaan Ferdi agak terganggu dengan prasangka buruk. Sedikit geli, ia mengatakan dalam hati kalau Lea akan mengkhianatinya.

__ADS_1


"Mas ...!" decak Lea kesal. "Kamu ngga biasanya nolak aku kaya gini! Ada apa? Kamu mulai cinta sama dia?"


Tatapan mereka terkunci beberapa saat lamanya. "Oh, jadi begitu? Baik! Lima hari lagi, Mayang akan jadi janda, tunggu saja, Mas ...! Aku akan buat kamu meminta-minta padaku nanti."


"Kamu ini!" desis Ferdi seraya membungkam mulut Lea yang barusan berbicara keras. "Jangan kaya anak kecil, Le ... kamu paham apa maksudku! Aku hanya belum mau kita ketahuan sebelum mendapatkan harta Mayang!"


Ferdi melepaskan tangannya, mendelik marah pada Lea yang juga sama marah dan kesalnya. Mereka lagi-lagi beradu pandang dalam kemurkaan. Sama-sama bertahan dengan ego mereka.


"Aku ke kamar dulu, sebaiknya kamu turuti kata-kataku jika ingin hidupmu enak nanti!" Ferdi menekankan sekali lagi. Menakut-nakuti bayang seram kemiskinan pada Lea yang begitu anti pada status hidup satu itu.


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2