
36 minggu sudah usia kehamilan Mayang sekarang. Untuk persalinan yang aman, Gian membawa Mayang menginap di rumah sakit untuk observasi. Sebuah rumah sakit bertaraf internasional menjadi pilihan Gian, selain pelayanannya sangat bagus, NICU di sinilah yang paling memadai.
Bayi mereka terpantau sehat dan siap dilahirkan, jadi operasi segera di jadwalkan. Rully menemani Mayang sebelum segala prosedur dilakukan, bahkan Rully yang paling khawatir dan deg-degan menjelang persalinan ini.
"Sakit, May?" Rully menatap Mayang yang sedikit meringis saat ingin menggerakkan kakinya.
"Sakit semua, Mbak. Sejak seminggu ini rasanya punggungku sering kaku." Mayang mengatur napasnya. Sebenarnya, Mayang menantikan hari ini lebih dari siapapun. Melebihi rasa sakit dan tidak nyaman, Mayang lebih ingin melihat anak-anaknya. Rasanya sudah tidak sabar.
"Tahan sebentar, paling tinggal beberapa jam lagi." Rully mengusap kening Mayang yang sedikit berkeringat.
"Yang kuat dan sabar ya, banyak doa, biar semuanya selamat tanpa ada halangan apa-apa." Rully mengecup kening adiknya. "Seneng lihat kamu bahagia kaya gini, May. Kaya nggak nyangka kalau kamu nimang bayi juga akhirnya."
"Yang bermasalah kan bukan aku, Mbak. Jadi wajarlah kalau aku bisa hamil. Terakhir kan cek nya malah sama Mas Gian, dan yang bikin hamil juga Mas Gian." Mayang mengenang.
"Kayaknya, Gian emang sengaja menjelek-jelekkan Ferdi biar dia bisa nikahin kamu." Rully mendadak curiga.
"Kayaknya, Mbak sama Mas Gian sekongkol biar aku bisa cerai dari Mas Ferdi, deh." Mayang ganti menuduh.
"Oh iya, yang merekomendasikan Gian kan aku juga." Tangan Rully menepuk kening kuat-kuat. "Lupa aku tuh."
"Itu karena isi ingatan Mbak sekarang hanya Pak Djarot saja." Mayang mencibir.
Rully mencebik seraya menjauhkan tubuhnya dari Mayang. Matanya melirik tidak suka. "Nggak ... nggak salah maksudnya."
"Udah isi belum kalau isinya cuma Pak Djarot saja?" Mayang menusuk perut Rully yang begitu singset dan ramping.
"Aku belum halangan lagi." Rully mengusapnya dengan gerakan memutar. "Mungkin minggu depan."
"Semoga Mbak cepet hamil dan aku bisa ngolok-olok Mbak kalau lagi ngidam." Mayang tertawa kecil.
Rully berdecak, "Aku maunya yang ngidam Mas Djarot saja. Kayaknya lucu."
"Nggak seru ih," cibir Mayang. Kalau Djarot yang ngidam, Mayang mana berani menggoda atau mengolok-olok, bisa dijebloskan ke penjara nanti.
"Seru kali." Rully menatap langit-langit rumah sakit ini. "Bayangin dia muntah-muntah, nggak mau makan, trus Mas Djarot itu nggak bisa makan rujak, kan ... nah, aku ngarepnya nanti aku ngidam rujak yang pedes banget. Pasti seru."
"Yang ada, Pak Djarot sakit dan kurus. Bukannya seru tapi malah kasihan. Laki itu ndak sekuat kelihatannya. Dikit-dikit ngeluh kalau diluar kebiasaannya, beda sama perempuan, yang mudah menyesuaikan karena kita di beri keistimewaan yaitu bisa dekat dan merasakan langsung bagaimana bayi tumbuh di perut kita."
Rully berdecak lagi. "Gian pasti yang mengajari kamu begitu?"
__ADS_1
Mayang terkekeh, "kan bener, Mbak."
"Itu cuma alasan dia aja agar kamu nggak banyak mengeluh. Kamu sedang dibodohi Gian." Rully menuduh.
"Tapi akunya mau kok dibodohi Mas Gian. Mau banget malah." Mayang nyengir.
Rully mendengus, "Dasar bucin."
"Mbak juga, kan ... bucin sama Pak Djarot."
Rully melebarkan matanya. Apa kelihatan sekali kalau dia memang kecanduan Djarot. Ini saja sudah rindu dengan sodokan maut Djarot. Padahal mereka pisah baru 24 jam.
Rully menarik ponselnya, lalu berkata sedikit memerintah. "Tidur gih, nanti pas masuk ruang operasi, kamunya seger dan nggak kelelahan."
Tangan Rully mengetikkan pesan.
"Mas ... Mayang dioperasi jam 8 malam. Aku kayaknya butuh kamu kuatkan deh, nggak tega aku kalau lihat Mayang kesakitan."
Mayang melirik Rully yang mengeluarkan senyum aneh. "Dasar pemuja pria botak."
Mayang segera memejamkan mata, masih ada beberapa jam lagi dan dia harus benar-benar prima. Berkat Gian yang begitu perhatian, Mayang sama sekali tidak mengalami gangguan yang berarti. Gian bahkan mengecek sendiri keadaannya bahkan saat Mayang tidak mengeluh sedikitpun.
Ketika Mayang memejamkan mata, Rully kembali mengambil ponsel, dimana Djarot sudah membalas pesannya.
"Kamu butuh apa buat pegangan?"
Rully tersenyum nakal.
"Butuh punyamu yang panjang dan kekar."
Rully terkekeh karena merasa kata-katanya membuat otot kaki Djarot lemas, sementara otot yang lain semangat.
"Otwš¤š."
Rully terkekeh melihat pesan Djarot, lalu dengan cepat membalasnya dengan foto dirinya sedang menggigit bibir dan menarik turun kerah bajunya. Membiarkan Djarot menggebu untuk mendatanginya.
"Ikat pinggangku baru."
"Buat ikat tanganku, kah?" balas Rully cepat.
__ADS_1
"Buat hukum kamu yang bikin pertemuanku gagal."
Rully tergelak tanpa suara. Djarot bilang baru bisa datang besok sore paling cepat, tetapi mungkin godaan Rully benar-benar manjur.
Rully tidak membalas, tetapi dia ikut Mayang tidur. Setidaknya masih tiga empat jam lagi Djarot sampai. Dan pasti saat itu tiba, Mayang sudah selesai di operasi. Dia bisa tenang menikmati otot panjang nan kekar milik suaminya itu.
Ah ....
***
Gian menemani Mayang di dalam ruang operasi, sementara Rully menunggu di luar ruangan. Wanita itu sejenak lupa kalau Djarot akan datang. Dirinya sibuk berdoa untuk Mayang.
"Kok sepi, ya ... apa masih lama?" Rully mengintip jam di ponselnya. Sudah hampir 45 menit mereka di dalam, tapi tidak ada tanda atau suara bayi dari dalam sana.
Rully mondar mandir di depan ruangan itu sambil menggigiti kuku. Sebenarnya kakinya lemas, ulu hatinya seperti teriris-iris, tetapi dia mencoba kuat.
Sampai saat sudah genap satu jam berlalu, pintu ruangan dibuka, menampakkan dokter yang mengoperasi Mayang.
"Gimana adik saya, Dokter?" Rully berlari dengan cepat ke hadapan dokter pria berkacamata tersebut.
"Bu Mayang dan 4 bayinya dalam keadaan sehat. Masih nunggu beliaunya siuman, jadi belum bisa ditengok. Bayinya juga sudah di bawa ke ruang NICU, tapi juga belum bisa ditengok."
Rully menganga. Kok semua nggak boleh di tengok.
"Bayinya apa, Dok?"
"Bayinya sama kaya kita, Bu ... manusia."
"Bukan ... maksudnya laki apa perempuan."
"Dua-duanya, Bu ... tiga cowok dan satu cewek."
Rully berbinar. "Ya ampun, Alhamdulillah. Makasih Dokter."
Rully tanpa sadar melompat ke pelukan dokter tersebut. Memeluk dokter yang syok itu kuat-kuat seraya mengucapkan terimakasih yang tak terhingga.
"Makasih Dokter, makasih banyak udah bantuin adik saya."
"Rully!"
__ADS_1