
Yang namanya cinta, entah apa yang dilakukan kekasihnya, semenyebalkan apapun, pasti akan dimaklumi. Menjadi gila dan bodoh dalam soal cinta juga hal yang lumrah dalam hubungan yang unik ini.
Gian ini kurang apa? Cerdas sudah pasti,tetapi ia menjadi sangat bodoh dan tidak mengerti bagaimana wanita bekerja. Hormon mungkin mempengaruhi, tetapi tidak semua harus mengkambing hitamkan hormon kan?
"Mai ... tolong katakan sesuatu lah," pinta Gian entah ke berapa ribu kalinya. Mayang mendiamkannya sejak pagi, bahkan ia buru-buru mengepak kopernya dan keluar hotel tepat saat jam menunjukkan pukul enam pagi. Oke ... Gian salah. Tidak cepat-cepat menyusul istrinya itu ke kamar, malah meninggalkan Mayang sendirian semalaman. Gian bukan tanpa alasan, tetapi semua diluar kendalinya. Toh, ketika Gian menengok ke kamar, Mayang sudah terlelap dan mendengkur. Kondisi hamil dan lelah, membuat Gian memutuskan untuk tidak mengganggu, dan karena ada sesuatu yang mendesak di klinik, Gian meninggalkan Mayang.
"Aku semalam sudah ke hotel, tetapi kau tidur dan aku ada pasien gawat di klinik. Aku minta maaf karena telah meninggalkan kamu, dan harus aku ulang berapa kali kalimat ini?"
Gian menatap punggung yang sedari tadi menjadi pemandangan yang ingin di sentuhnya. Ingin menenggelamkan diri dalam tubuh hangat itu seperti hari-hari yang lalu. Gian bisa apa? Frustrasi jelas. Mayang memang keras kepala.
"Oke ... kalau mau kamu terus diam dan tidak mau mengatakan apapun. Aku akan ada di mess sepanjang hari, hape akan terus aku pantau jika kamu butuh sesuatu." Untuk kalimat terakhir, Gian menjadi sangat ragu dan tidak yakin. Mayang secara kiasan maupun kenyataan, tak pernah benar-benar membutuhkan dia. Mayang bisa semuanya sendiri sekarang, malah Gian yang kecanduan Mayang. Gian mendengus dengan muka berpaling mengingat semua itu.
Ludah Gian tertelan getir, saat ia sudah sampai di pintu tetapi Mayang sama sekali tidak merespons semua ucapannya. Ia mengutuk dalam hati siapa yang melakukan penelitian terhadap hormon kehamilan dan membuatnya mencuat dimana-mana sehingga para wanita menggunakan alasan itu untuk menindas pria bucin dan addict semacam dia. Marahpun rasanya percuma ... sialan!
__ADS_1
Sepeninggalan Gian, Mayang hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Sejak jam tiga pagi ia terus muntah sampai ia lemas, di hotel ia kesusahan saat ingin makan jeruk dingin kesukaannya saat mual. Mayang akan sehat sejak tengah hari sampai sore, lalu akan mengalami mual dan kedinginan malam harinya. Jeruklah yang menjadi candu dan obatnya saat itu. Sampai sekarang, Gian belum tahu itu, namun tadi pagi, Mayang sangat butuh bantuan Gian, tetapi lelaki itu bahkan tidak menjawab teteponnya. Mayang bukan tipe peneror yang akan terus menghubungi orang, sekalipun itu Gian. Jika awalnya ia berpikir karena terlalu lelah dan lemas karena muntah, namun belakangan, ia teringat kegiatan di pesta semalam. Gian pasti mabuk dan ketiduran, entah di mana. Atau memang benar dia ke klinik dan agak tidak mungkin jika tidak ada orang lain yang mampu menggantikan Gian saat hari bahagia yang dinantikan pria itu tiba.
Entahlah, dia kesal sekali hari ini. Moodnya tidak bisa pulih secepat biasanya. Muak sekali Mayang pada Gian yang begitu digilainya belakangan ini. Wajah Gian tampak seperti joker dimata Mayang.
"Suamimu ngambek?" Rully memasukkan ponsel ke saku celananya saat masuk ke kamar Mayang. "Bertengkar?"
Mayang bangun saat Rully merebahkan diri ke kasur Mayang. Wanita seumuran Gian itu tak bisa menyembunyikan wajah penuh bebannya di depan Mayang. "Semalam kemana? Kamarmu kosong."
Mayang melirik kakaknya dengan perasaan tak kalah jengkel dari perasaannya ke Gian. Bisa-bisanya mereka kompak meninggalkan Mayang sendirian.
"Aku tau kalau kalian sudah dewasa, menginap juga bukan hal yang aneh lagi bagiku, Mbak. Tapi semalam aku di hotel dan muntah-muntah sendirian. Itu bukan rumah sakit yang tiap menit bisa minta bantuan petugas, lagian tugas kamu jagain aku dan janjimu cuma keluar sebentar. Kenapa sebentar kamu jadinya semalaman?" Mayang meluap yang masih ditahan-tahan.
Rully menaikkan alis yang begitu indah itu saking heran dengan nada suara Mayang yang begitu marah. "Kan Gian ada? Apa Gian tidak mau membantumu? Itu kan ulah dia, kenapa kamu jadi sewot ke aku, sih?" Ujung kalimat Rully tak bisa lagi untuk tidak mengekspresikan amarah.
__ADS_1
"Kan Mas Gian menitipkan aku sama kamu, kenapa kamu ndak amanah sih, Mbak?"
"Ini gimana ceritanya sih, May ... kok aku ngerasa kamu ini nganggep aku seolah-olah paling salah? Kan kamu di kamar sama Gian, masa iya aku harus ada di tengah-tengah kalian?" Rully bangun dan duduk bersila di atas kasur Mayang. Matanya tak lepas menatap Mayang yang mendadak sayu dan ingin menangis.
"Aku ingin tidur sama Mbak Rully, aku ndak mau tidur sama Mas Gian lagi."
Mayang menatap Rully dengan mata basah, sementara Rully semakin heran saja dibuatnya. "Kalian lagi berantem?"
"Aku jijik lihat muka Mas Gian, Mbak. Aku ingin muntah lihat wajah dia," ungkap Mayang akhirnya. Ini susah di jelaskan. Pokoknya dia membenci Gian sampai ke bau badannya. Ia benci sampai ingin memaki Gian, tetapi setiap kali ia ingin memaki Gian, hanya muntahan saja yang keluar.
"Dih, segitunya ya, hamil anak pria galak musiman itu? Nasib baik aku nggak jadi nikah sama Gian. Bisa-bisa aku yang ngalami hal aneh kayak gini." Rully berjengit dan membatin.
"Jangan sampai dia pulang hari ini, Mbak. Antarkan baju dia ke klinik. Aku ndak mau lihat dia, Mbak!" rengek Mayang dengan bibir mulai pucat. Lalu dengan cepat Mayang menuju wastafel untuk membuang semua isi perutnya yang susah payah ia telan pagi ini.
__ADS_1
Rully seketika membatin, dan mengusap perutnya. "Amit-amit jabang bayi, semoga anak Mas Djarot nanti nggak merepotkan kayak anaknya Gian."
Bergegas Rully beranjak dari kasur dan membantu Mayang meringankan muntahnya.