
"Biar saya temani Mbak Mayangnya, Ma—Pak Gian." Hira menawarkan diri dan tetap berusaha terlihat baik di mata Gian.
Mayang menarik salah satu sudut bibirnya.
Dokter Yoga tertawa tanpa suara seraya menggelengkan kepala.
Gian yang berdiri di belakang Mayang—berhadapan dengan Hira, bingung untuk mengambil sikap. Jujur dia takut, Hira akan membuat Mayang syok dan juga tertekan. Ini tidak baik.
"Mas Gian bisa tinggalkan aku dengan Dokter Hira di sini." Mayang mendongak seraya berkata. Tangannya mengusap tangan Gian yang memegang pundaknya. Tanpa Gian sadari, Gian sudah meremas di bagian itu sedikit kuat.
Gian lega, seakan terbebas dari kecanggungan yang membelenggu. Jika sudah Mayang yang meminta, setidaknya dia tahu Mayang tidak berpikir macam-macam soal dia dan Hira. Lagian itu hanya rasa suka sepihak. Gian sama sekali tidak punya perasaan pada Hira. Meski Hira selalu mengatakan perasaannya secara blak-blakan.
"Aku akan cepat." Gian mengecup kening Mayang, lalu setengah mati menahan dirinya untuk tidak mencium bibir merah muda yang begitu menggoda saat tersenyum itu.
"Hati-hati, Mas." Mayang berbisik, tetapi Gian yakin Hira mendengarnya, sebab sekarang Juga memalingkan wajahnya ke samping.
Gian membungkukkan badan sedikit ke arah dokter Yoga, lalu berlari secepat yang dia bisa menuju apotek untuk menebus resep yang diberikan oleh Dokter Yoga.
Dokter Yoga membuang napas dan menggeleng menatap kepergian Gian, lalu kembali menghadapi dua wanita muda di depannya.
"Meski kopi tidak disarankan, tetapi di kafetaria kantor, ada jus dan smoties yang baik untuk ibu hamil." Dokter Yoga tersenyum lalu mengisyaratkan dirinya ingin kembali masuk ke ruangan kantornya. Sudah waktunya dia pulang.
Mayang dan Hira tersenyum untuk mengekspresikan perasaan masing-masing. Sesaat setelahnya, mereka saling menatap dalam kecanggungan.
Hira duduk di kursi panjang depan ruangan Dokter Yoga. Sikapnya mendadak begitu dingin dan angkuh. Tangannya bersedekap, kakinya tersilang saling menumpu. Kakinya yang panjang dan ramping langsung menghiasi mata Mayang.
"Sudah lama kenal dengan Mas Gian?"
Mayang mendesis sebentar, lalu menatap Hira dengan sedikit mengejek. Bahkan Mayang tidak punya niat bertanya apapun pada Hira. Mayang mampu menahan diri beserta kecurigaannya di depan semua orang, tetapi Hira tentu tidak bisa menahan diri lebih lama. Hira kalah, dan menunjukkan betapa dia sangat kesal dengan keadaan Gian sekarang.
Gian bahagia dengan istrinya, juga empat bayinya.
Hira sempat mendengar, Gian tidak bahagia dengan pernikahannya. Bahkan saat kemari untuk program spesialisnya, Gian terlihat sangat ambisius dan emosional. Tempramennya buruk, dan hanya Hira saja yang mau berteman dengan Gian.
"Sekitar tiga bulan sebelum memutuskan menikah." Mayang tersenyum ringan, dan tidak tampak ingin memperpanjang obrolan.
Hira menoleh, membawa tatapan sinis yang aneh. "Cukup singkat, ya ... aku empat tahun dan tahun ke lima kami sebenarnya ingin melangkah ke hubungan yang serius."
__ADS_1
"Kenapa tidak dilanjutkan?" Mayang menyela dengan senyumnya yang tampak tidak terusik oleh pengakuan Hira.
Ayolah, Gian bisa menyembunyikan apa memangnya dari Mayang? Jadi untuk apa Mayang khawatir Gian akan terpengaruh lagi oleh Hira. Sekeras apapun usaha Hira untuk memikat Gian kembali.
Hira tersudut ke sandaran bangku tanpa sadar. Ucapan Mayang sedikit menampar ingatan Hira tentang masa lalunya dengan Gian.
"Jika kalian sudah lama mengenal, saling mencintai, dan merasa tidak terpisahkan, kenapa tidak menikah? Kenapa tidak berusaha lebih keras agar kalian bisa bersama?" Mayang mendesak.
Hira bingung menjawab, tetapi satu fakta yang tak bisa Hira elakkan, restu orang tua adalah hambatan terbesarnya.
Hira menegakkan wajahnya yang sempat layu dan mundur karena terintimidasi Mayang.
"Ada alasan tersendiri yang tidak bisa saya katakan pada sembarang orang." Hira tersenyum.
"Jadi siapapun yang bersama Mas Gian sekarang, bukan menjadi alasan bagi anda untuk mencemburuinya, kan? Ini murni pilihan anda, Bu Dokter." Mayang menghakimi dengan kejam seorang Hira yang begitu hebat.
Hira sedikit terganggu, tetapi dia tetap tersenyum meski terpaksa. "Saya hanya heran saja, Bu Mayang. Mas Gian sejak dulu tidak pernah menginginkan seorang wanita itu sungguh-sungguh, jadi saya meragukan pernikahan kalian akan langgeng, yah ...."
Mayang mengerutkan kening saat Hira dengan terang-terangan mengejek Mayang dengan gerakan leher dan ekspresi wajah.
Mayang tertawa kecil. "Jadi apa harapan Bu Dokter?"
"Tidak ada ... hanya menyarankan saja, toh pernikahan kalian sudah terjadi." Hira benar-benar merendahkan Mayang sekarang. Wanita itu dengan bergaya menunjukkan kelasnya, jika dibandingkan Mayang yang terlihat sederhana. Harusnya, Hira tidak terlalu cemburu, toh, yang dinikahi Gian tidak sebanding dengannya.
"Apa saran Bu Dokter?" Mayang menurunkan dirinya semakin rendah, dengan begitu dia dengan mudah melambung, melampaui Bu Dokter yang luar biasa ini.
Hira mengibaskan rambutnya dengan anggun ke satu sisi. Tatapannya begitu arogan. "Meski punya seribu anak sekalipun, pria tidak punya alasan untuk tetap setia pada satu wanita, Bu. Pria adalah makhluk visual, dia tidak akan tahan dengan perubahan pada fisik wanitanya."
"Tapi bukan berarti, Mas Gian suka sama wanita single tanpa anak kan, Bu?" Mayang menjaga ucapannya tetap ragu-ragu.
Hira menatap Mayang sedikit waspada. Dia agak takut terjebak sebenarnya, tetapi ekspresi Mayang menyakinkan sekali.
"Tanpa anak itu pilihan ...." Hira tersenyum. Ucapannya begitu bijak.
"Punya anak seribu dan bentuk badan berubah juga bukan sesuatu yang mudah diremehkan oleh pria, kan, Bu. Itu juga pilihan. Pilihan mereka berdua. Buktinya, single, mandiri, tanpa anak, dan juga cantik, juga bukan prioritas pria dalam memilih pasangan."
Hira mendelik tanpa sadar. Mayang tersenyum dibuatnya.
__ADS_1
"Mungkin saya terlalu percaya diri, Bu ... tapi Mas Gian begitu bersalah telah membuat saya hamil anaknya hingga empat."
"Jangan terlalu bangga dengan bisa mengandung anak empat, Bu ... saya juga bisa!" Hira berdiri, tak kuasa lagi menahan emosinya yang dipermainkan oleh Mayang.
"Mas Gian tidak memilih anda." Mayang mengendik dengan bibir saling menipis, seolah siap mengeluarkan senjata pamungkasnya. "Sayang sekali."
Hira menghentakkan kakinya, tangannya mengepal tanpa sadar. Astaga ... Hira tidak bisa berkiti-kiti dibuatnya. Hanya bisa menatap Mayang dengan marah.
Mayang meladeni tatapan galak penuh amarah itu dengan hati yang sangat lapang. Dia selalu siap bertarung dengan mantan Gian yang lain, jika masih ada. Tetapi ketika melihat siluet Gian di kejauhan, Mayang segera melunakkan ekspresinya. Tangannya meraba perut pelan-pelan.
"Aduh-du-du-duh ... sakit banget." Mayang meringis seraya berteriak keras agar Gian mendengarnya.
Hira melotot dan mundur. Dia tidak melakukan apa-apa, tetapi intimidasinya bisa jadi membuat ibu hamil ini tertekan. Hira ketakutan.
"May ... Sayang!" Gian berlari dengan begitu paniknya, lalu meraih perut Mayang untuk diberi usapan.
"Kenapa, Sayang? Bayinya nendang, ya? Mereka bikin kamu sakit, kah?" Gian berjongkok tanpa ragu, menatap wajah Mayang dan beralih ke perut besar itu.
"Astaga ... kenapa kalian nakal sekali, sih ... jangan bikin mama kalian sakit. Ayolah, yang tenang, ya. Papa mohon." Gian menciumnya tanpa ragu, mengusapnya lembut agar bayi-bayi di sana kooperatif.
Mayang tersenyum, seraya mengerling Hira dengan sudut matanya. Seolah mengatakan bahwa inilah Gian dan seluruh cinta yang dimiliki pria itu untuknya.
Jadi masih mau berpikir Gian punya waktu mempertimbangkan masa lalunya? Hira harus mampu hamil sepuluh anak dalam sekali waktu jika ingin merebut hati dan perhatian Gian darinya.
"Mereka akan berulah jika jauh dari Papanya, Mas ... mereka suka kehadiranmu setiap waktu." Mayang mengusap rambut Gian yang masih mengelus dan menciumi perutnya dengan lembut.
Hira gemetaran dibuatnya.
"Benarkah? Tapi Papanya gak boleh nengok sebelum mereka lahir." Gian merengek.
"Bisa diatur itu, Papa." Mayang mengecilkan suara agar mirip suara anak kecil.
Keduanya saling menatap penuh cinta, lalu tertawa. Merasa ini momen sangat lucu dan langka. Membicarakan lampu hijau untuk mengunjungi bayinya di luar rumah membuat Gian sedikit terangsanģ.
Gian lupa bahwa Hira masih di sana, dia terlalu khawatir Mayang kenapa-napa. Bahkan Hira melihat dengan jelas, ekspresi memuja Gian. Pun dengan tatapan menginginkan wanita berlebihan muncul di mata Gian. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah Gain tunjukkan padanya.
Hira meninggalkan mereka seperti melayang. Berusaha tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Atau dia akan mendapat malu yang luar biasa. Hah ... jika boleh, dia ingin tetap bersikeras, Gian akan memikirkan perasaanya suatu saat nanti. Sayangnya, semesta menginginkannya berhenti.
__ADS_1