
4B sudah hampir dua bulan, dan mereka menggemaskan dengan gaya pakaian yang selalu dibuat senada. Rully paling suka mendandani mereka terutama Bryna. Bayi perempuan itu terlihat mirip dengan Gian alih-alih Mayang. Ekspresi juteknya mewarisi juteknya Gian. Galak-galak ngangenin.
Rully jadi banyak tinggal di rumah Mayang, bersama Djarot tentu saja, meski pria itu kadang tidak menyusulnya, tapi tidak apa-apa, Rully bisa kapan saja menyodorkan diri pada Djarot karena lokasi kerja dan rumah memang jadi satu. Kadang, tengah hari saat Djarot makan siang, kemudian Bryna dan ketiga saudaranya tidur, Rully melakukan kunjungan singkat, tapi berkualitas, pulang dengan senyum puas.
Tapi ada sedikit yang membuat Rully bingung. Djarot sering tidak fokus dan membuang muka saat meniduriìnga. Djarot kerap hanya memuaskannya lalu mengakhiri dengan cepat dan mudah. Kadang terkesan terpaksa. Haruskah Rully mulai curiga?
Tapi bayi ini, tidak bisa Rully abaikan begitu saja kan? Lihat betapa menggemaskan dia! Matanya jernih, sering mendengus, lalu bibirnya merah sampai mirip stroberi membuat Rully jatuh dalam pesona Bryna. Rully bahkan tidak bisa berpaling sedetik saja dari Bryna.
"Nanti Mama juga akan punya bayi mirip Bryna, ya ... kalian bisa main bersama-sama." Rully bergumam saat menimang Bryna, dia mulai berharap. Entah kenapa dia merasa terlalu lama untuk hamil. Dia bahkan sering mengganjal punggung dan menaikkan kaki lebih tinggi usai bercinta agar bisa cepat hamil, tapi belum berhasil juga.
Mayang masuk dengan botol susu ditangannya. Bryna ini keluar di urutan ketiga, tapi kata orang sekitar rumah, dia adalah anak nomor dua, karena Bhiwa yang keluar paling akhir disebut sebagai kakak paling tua.
Mayang sering dengar hal itu, tapi tidak pernah memikirkan. Terutama saat cucu kembar Bulik Hesti lahir. Mereka juga menyebut lahir terakhir adalah kakak. Mayang yang di sindir habis-habisan waktu itu hanya diam dan mengabaikan. Dia bahkan tidak pernah berpikir bahwa dia akan menjadi wanita beruntung yang melahirkan empat bayi sekaligus.
Bryna menangis, Mayang tersentak dari pikirannya sendiri.
"Kenapa melamun, Mbak?" Mayang sekilas melihat Rully tampak tidak fokus tadi.
Meletakkan susu di meja dekat ranjang Bryna, Mayang menatap kakaknya. "Ada masalah sama Mas Djarot, ya?"
Kening halus Rully mengerut sedikit. "Mungkin aku hanya sensitif aja. Mungkin aku kurang perhatian padanya akhir-akhir ini ... jadi aku sedikit merasa ada jarak diantara kami."
__ADS_1
"Makanya pulang." Mayang mengambil posisi duduk di depan Rully. "Aku senang Mbak ada di sini bantu aku momong, tapi Mbak juga harus urus Mas Djarot juga. Mbak harus bisa bagi waktu, dan lebih banyak untuk Mas Djarot. Jangan dibalik."
"Tapi ... aku nggak bisa jauhan lama-lama sama Bryna, May. Lihat anakmu ini, mukanya jutek tapi kok aku malah suka sama dia dibandingkan tiga yang lain. Jelas Bhima dan Bhian mukanya lebih imut, tapi kok aku sukanya sama Bryna?"
"Karena dia mirip kamu, Mbak, jadi Mbak seperti sedang merawat replika diri sendiri." Mayang mengambil alih Bryna yang dari tadi menggeliat. Lalu memberikan asi dari botol.
Rully membuang napas. "Iya ... dia mirip aku lama-lama."
Mayang tersenyum kemudian mendongak setelah Bryna menyusu dengan benar. "Sebaiknya Mbak pulang dulu, urus Mas Djarot, jangan sampai dia berpaling dari kamu."
Rully tidak punya alasan menolak. Toh dia beneran galau karena sikap suaminya itu. "Aku pergi dulu kalau begitu."
***
"Loh, Sayang ... anak kamu nggak nyariin?" Djarot terkejut saat melihat Rully menyembulkan kepala di pintu ruang kerjanya.
Semua orang yang ada di dalam sana menoleh, menatap Rully dengan heran. Ini belum jam makan siang, jadi jangan bikin otak travelling dong. Mereka saling pandang dengan senyum malu seolah mereka sudah bisa menebak mengapa bos besar mereka datang lebih awal.
"Mereka tidur." Rully mengambil kursi putar dan duduk di depan Djarot setelah menyapa anak buah Djarot. "Mas hari ini mau makan apa? Aku pengen makan es krim."
Sontak karyawan Rully menegakkan kepala dan telinga. Mata mereka membulat. Astaga ... kode mereka kok anu sekali.
__ADS_1
Djarot melirik anak buahnya lalu berdehem. "Itu tinggal beli di mini market depan ... apa perlu Mas minta sama suplier buat sediain satu freezer di sini?"
"Aku maunya di deket rumah kamu itu loh, Mas ... yang es nya bisa dibentuk roll atau kotak-kotak gitu. Dari buah langsung." Rully ingat penjual es krim ala street food di luar negeri yang sering mejeng di toktok. Selebihnya, itu hanya alasan dia saja agar bisa menjadi fokus Djarot hari ini. Sungguh dia takut kalau Djarot berpaling darinya.
Mata Djarot berkeliling sejenak, "Oke, tunggu sampai makan siang, kita berangkat. Kamu siap-siap, aku selesaikan pekerjaan dulu."
Rully tercengang sesaat, tidak ada yang salah atau berubah dari diri seorang Djarot. Apa benar ini hanya perasaannya saja?
Rully segera beranjak dari kursinya meski dirinya masih dipenuhi ragu.
"Yang, tunggu!"
Rully menoleh dengan perasaan cemas.
"Kamu ganti parfum, ya? Kok aku rasa ada yang berbeda darimu?"
"Enggak, ini parfum biasanya." Rully menciumi lengannya.
"Oh, mungkin hidungku aja yang bermasalah. Nanti sekalian periksa ya, aku merasa tidak enak badan."
"Ok." Rully segera berlalu dan bersiap-siap. Setelahnya dia kebanyakan bengong, sebelum berguling dan tidur. Entah kenapa badannya cepat sekali lelah setelah ada 4B.
__ADS_1