
Gian begitu takjub melihat banyaknya makanan yang tersaji di depan mata. Aneka menu makanan berat dan juga kue-kue manis nan lembut memenuhi meja rapat sekali lagi.
"Apa Mayang ingin aku gendut setelah aku pulang nanti?" Gian bergumam seraya mengambil piring dan melangkah pelan ke wadah-wadah prasmanan tertutup di sana.
"Astaga, ini enak sekali," keluhnya setelah beberapa saat kebingungan dan berhasil memilah menu yang dirasa memenuhi minatnya.
Gian mulai makan setelah itu dalam diam. Anak buahnya mengambil makan dan memilih membawanya ke stasiun. Dalam hati ia bersyukur, meski tak suka, tetapi Mayang masih tetap bersikap sebagaimana istri yang baik.
"Sepertinya aku harus berterimakasih, meski caranya agak tidak lazim." Gian merogoh ponselnya, memfoto semuanya dan memberikan caption unik sebelum mempostingnya di media sosial dan menandai Mayang. Sebaris kata-kata manis ini akan mereka kenang sepanjang masa.
Gian tersenyum lalu melanjutkan makan. Ia harus makan yang banyak karena selama tinggal di mess artinya dia akan bekerja nyaris sepanjang hari. Tentu ini membuat anak-anak tidak jadi menggoda Gian yang awalnya berencana melakukan itu jika Gian berbulan madu usai resepsi.
Tepat ketika Gian mengambil puding dengan buah-buahan segar, Ferdi masuk dan agak syok melihat banyaknya makanan di sini.
__ADS_1
"Eh, Fer ... ikut gabung sini. Sorry, aku tadi nunggu kamu dan ku pikir kamu masih akan lama, jadi aku tinggal makan dulu." Gian meletakkan puding dan menatakan kursi agar Ferdi duduk berhadapan dengannya.
"Aku masih kenyang, Pak Dokter," ujar Ferdi menahan diri. Jika dari resto Mayang, Ferdi pasti akan kalap. Makanan di sana khas banget dan bumbu-bumbunya membuat lidah candu. Selain sungkan, Ferdi sebenarnya takut kalau akan kembali kecanduan Mayang. Maksudnya itu masakan resto Mayang.
"Aku ambilkan puding kalau gitu, biar enak aku ngobrolnya sama kamu." Gian tidak pernah menerima penolakan sehingga ia menarik piring kecil dan menyendokkan puding dengan hati-hati. "Sini!" perintahnya tak terbantahkan.
Ferdi bak kerbau dicocok hidungnya, sampai pria itu menurut saja apa kata Gian. Ia hanya berterimakasih dengan tulus kala menerima dan duduk di depan Gian.
"Jujur saja, aku prihatin dengan kondisi Lea. Tapi itu saja tidak cukup kan bagi seorang dokter?" Gian memulai bahasan soal Lea. Ferdi terdiam kaku seraya menelan puding itu utuh.
"Lea bisa disembuhkan dan punya anak jika saat ini segera mendapatkan pertolongan. Ini hanya infeksi pasca keguguran yang terlambat ketahuan, semoga aku tidak keliru sejauh ini, Fer. Uang bisa dicari tapi kesehatan dan nyawa itu tak pernah bisa dipaksakan hadir dua kali. Hanya sesal yang ada jika sudah punya opsi tetapi tak benar-benar dipilih. Lea bisa sembuh, Fer!" Gian menekankan, membuat Ferdi seret beberapa saat.
"Baik, Pak ... saya akan menuruti apa kata Pak Dokter. Saya hanya bisa mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan Pak Dokter. Dan setelah itu saya akan benar-benar bekerja agar bisa membayar—"
__ADS_1
"Soal itu, jangan dipikirkan. Kami tidak akan menutup mata ataupun terlalu kejam, Fer ...." Gian tersenyum seraya menyuapkan puding yang berkurang kadar dinginnya. "Mayang sudah menyiapkan ini jauh-jauh hari, hanya belum sempat diberikan saja."
Sebuah amplop coklat terulur ke depan Ferdi membuat Ferdi semakin rendah diri dan tak berguna di hadapan mereka. Bagaimana bisa Mayang masih berbelas kasih setelah perlakuan buruk mereka selama ini.
"Gunakan sebaik-baiknya, dan jangan ditolak. Malam ini juga saya meminta Lea dirujuk kesana agar secepatnya ditangani. Jangan banyak berpikir untuk hal yang tidak penting," sambung Gian.
Ferdi semula ingin menghabiskan puding ini, tetapi rasanya ia tak lagi punya selera untuk menelan maupun mengunyah. Ia terlalu malu, merasa menjadi benalu bahkan saat mereka tak lagi punya hubungan selain mantan. Padahal Ferdi merasa dia layak menerima hujatan dari Mayang. Sayang, Mayang malah membuatnya merasa tak berdaya dan buruk ketimbang ucapan yang penuh hinaan. Mayang berhasil membuatnya bak lalat yang tak pernah hinggap di hamparan madu. Atau dia malah akan jatuh terperangkap karena tak bisa mengarungi pekatnya madu.
*
*
*
__ADS_1
Sorry, segini dulu, ya ... akan saya lanjutkan besok. Inyong bener2 ngantuk dan lelah🥴
Maaf kalau agak nggak nyambung, ini mata meleknya cuma separo🙏