
Terhitung tiga bulan Mayang telah berpisah dari Ferdi. Sekalipun Mayang tak pernah menghadiri sidang, secara teknis dia yang mencampakkan. Mungkin hal ini yang membuat Ferdi geram bukan kepalang.
Tiga bulan lamanya pula, Mayang bersemedi di rumah barunya. Rumah di kawasan barat kota, tak jauh dari Mocca dan pantai yang tersedia jogging trek. Debur ombak pantai bahkan terdengar dari lantai tiga rumah Mayang. Ya, rumah Mayang memang standart ukuran rumah pada umumnya, namun Mayang mendirikan istana di dalamnya. Lantai tiga dengan halaman belakang langsung mencebur ke kolam renang.
Mendapat sinar matahari penuh dari pagi sampai sore, Mayang merasakan hidup yang sesungguhnya di sini.
Namun, seakan tak pernah putus lingkaran hidupnya dengan mantan suaminya. Hari ini, Mayang diminta datang di acara kantor Ferdi yang sebenarnya tak ada hubungannya sama sekali dengan Mayang. Sebagai pelaku usaha yang sukses diusia mudanya, Mayang mendapat sorotan langsung dari kepala cabang, bersama pelaku usaha muda lainnya.
"Bu Bos Rumah Makan enaknya pake parfum rawon atau soto fragrance, biar aura rumah makannya kental terasa," gurau Rully saat melihat adiknya menimbang dua botol parfum impor kesukaannya.
Mayang menoleh, kakaknya datang dengan tangan penuh tas make up miliknya sendiri. Tentu peralatan make up Mayang dianggap kurang lengkap.
"Sayang badannya nggak bahenol lagi ...," gurau Rully dengan kerlingan nakalnya.
Mayang manyun, "Apa aku kelihatan keriput, Mbak? BB ku turun tiga puluh kilo selama hampir empat bulan, agak mengerikan menurutku, Mbak ...."
__ADS_1
Rully menghadap adiknya, memutar tubuh Mayang yang masih berbalut handuk. "Bokongmu masih mengerikan, May ... apa ini ndak bisa dikecilkan lagi? Pake fat freezing itu coba," saran Rully. Tangan lentik Rully menabok keras-keras bagian belakang tubuh adiknya itu.
"Aduh, Mbak ... sakit!" keluh Mayang seraya mengusap pantatnya. "Males lah Mbak ... aku kesel sama itu—pantat, kenapa dia bandel sekali." Mayang menjatuhkan tubuhnya di ranjang yang Mayang desain tidak terlalu besar. Mayang suka sekali dengan kelembutan jadi hampir setiap barang pribadinya bernuansa lembut dan kalem.
"Udah, sih, coba aja ... kalau kamu ndak nyaman sama bentuknya. Tapi ndak apa-apa juga sebenarnya, toh yang dilihat orang pertama kali itu muka, bukan pantat. Masa iya, dateng-dateng langsung bilang, 'eh, pantatmu gede banget' paling banter juga 'wajahmu glowing banget bestie, pake apa' ... ya nggak?"
Mayang tak menanggapi, dia asyik melamun, memikirkan ucapan kakaknya. "Iya, sih ...."
"Ya udah, sekarang sini Mbak Peri dandani biar makin cantik dan bikin Ferdi ileran." Rully segera menarik Mayang duduk di tempat yang cukup cahayanya, lalu mulai beraksi merias wajah adiknya yang tampak pasrah.
Lebih aneh, Gian juga hadir di sana. Apa dokter kandungan juga termasuk dalam industri ini? Kendati demikian, Mayang tidak menanyakan apa-apa, hanya bersalaman sekilas lalu berpisah.
Ketika acara dimulai, nama Mayang paling sering disebutkan, lalu dia diminta naik ke panggung karena dianggap pengusaha yang paling berpotensi dan menginspirasi.
"Saya tidak tahu dibilang menginspirasi dari sebelah mana, Pak ...." Mayang menimpali candaan yang dilemparkan oleh kepala cabang bernama Herman tersebut. Lalu di sambut tawa hangat di bawah.
__ADS_1
"Bu Mayang atau lebih nyaman saya panggil Dek Mayang, karena masih sangat muda usianya, beliau baru dua puluh sembilan, dan saya sudah empat puluh lima, beliau ini terlalu merendah. Apa perlu saya ungkap bagaimana kisah hidup Dek Mayang di sini? Saya tahu dengan lengkap dan pasti, loh, Dek."
Mayang hanya tertawa. "Saya tidak mau membuat hadirin di sini make up-nya luntur, saya tahu persis biaya untuk tampil di sini, Pak ... kisah saya sebaiknya diskip, karena menginspirasi itu tidak harus dari sebuah penderitaan atau masalah. Bukan berarti juga, anak-anak yang sudah punya 'modal' sejak lahir tidak punya sesuatu yang layak dijadikan inspirasi. Semua orang punya. Saya hanya dididik untuk tidak menyerah. Itu saja ...." Mayang mengakhiri sesi yang membuatnya canggung. Seisi ruangan tampak sedang memperhatikannya dengan tekun.
Pun dengan Gian, pria itu diam dan memperhatikan Mayang. Matanya bahkan tidak percaya wanita di sana adalah Mayang yang beberapa bulan lalu ditolongnya.
Saira pun demikian, ia mengakui Mayang sebagai tokoh yang penuh semangat dan berani. Seperti laki-laki tidak penting dalam hidupnya. Entahlah, karena Mayang, dia jadi ragu meneruskan perasaannya pada Gian. Ia takut memaksakan perasaan pada pria itu akan membuatnya terluka. Seperti Mayang pada Ferdi, Saira akhirnya tahu kisah mereka secara lengkap dari beberapa gosip yang berkembang tiga bulan ini.
Sementara Ferdi, hanya bisa melongo melihat perubahan Mayang. Antara marah, kecewa, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, satu tempat di dadanya, jelas sekali merasakan ngilu. Jadi selama bersama Mayang, apa sebenarnya dia sudah terbiasa atau memang sudah timbul perasaan cinta diantara mereka.
*
*
*
__ADS_1
Selamat berpuasa, gengs🥰