
Setelah diputuskan, Rustina akhirnya mengalah. Djarot yang menentukan. Akad nikah digelar di sebuah gedung serba guna, tak jauh dari alun-alun kota. Meski terkesan seadanya, Rully mengiyakan saja pilihan Djarot tersebut. Yah, daripada harus ke kota tempat tinggal Djarot, ini jauh lebih mudah.
Tentu mengingat bagaimana sikap para wanita yang dicampakkan Djarot, pria itu tidak mengambil resiko. Bisa saja mereka merusak acara penting nan sakral tersebut. Djarot tidak mau ini terjadi.
"Kamu ndak sayang uang, Ngga? Itu buat bayar hotel saudara kita habisnya banyak banget loh." Rustina berkomentar melalui sambungan telepon. "Kerja keras, hambur-hamburkan uang ... hanya untuk nikahan? Kalau di sini, ndak habis buat bayar hotel, kan? Kita bisa pinjam guest house milik pemda, atau kalau kurang kita bisa minta tolong sepupunya Mely yang jadi manajer hotel Bintang Lima, Ngga!"
"Malu Buk, masak pengacara ternama macam saya, nikahannya disponsori pemda. Nggak mau ah, kaya nggak punya duit kesannya. Lagian aku malu sama adik ipar dan suaminya, mereka pasti mikir aku laki-laki tak bermodal, hanya modal nekat doang pas nikahin kakaknya." Djarot menatap tubuhnya yang sedang menjajal baju untuk esok hari. Jas hitam itu membuat tubuhnya jauh terlihat kekar dan macho. Djarot tersenyum. Misi balas dendam pasti akan tetap dijalankan. Djarot masih ingat akan tepatnya waktu itu.
Rustina sepertinya mencibir. "Sekaya apa memangnya mereka sampai anggap kamu ndak modal? Sombong! Ndak tahu apa kalau kita ini orang terpandang?"
"Tahu, semua orang tahu kalau keluarga kita terpandang, tetapi tolong jangan gunakan kata itu untuk menekan keluarga Rully. Ibuk akan menyesal." Djarot mengingatkan dengan kejengkelan memenuhi ubun-ubunnya. Dia hanya ingin menikah dengan wanita yang dicintainya, itu saja apa susahnya? Kenapa Ibunya sampai seperti itu?
"Ibuk lebih menyesal kamu lebih milih dia ketimbang pilihan Ibuk, Ngga. Setidaknya, pertimbangkan lagi semua ini, Le." Ini usaha terakhir Rustina.
"Lingga sudah mantap milih Rully, Buk ... sekalipun Ibuk tidak merestui, Lingga tetap akan menikahi Rully. Atau tidak ada pernikahan sama sekali dalam hidup anak Ibuk ini! Assalamualaikum."
Djarot menutup teleponnya, lalu melemparkan ponsel mahal itu serampangan. Tangannya melepas jas dalam gerakan kasar dan memperlakukannya sama seperti ponsel. Ia memilih merokok setelahnya.
Jika kebanyakan pengantin pria gugup, Djarot justru gusar menjelang detik-detik pernikahannya. Sampai pada Sabtu pagi, dimana satu jam menjelang acara penting seorang Kalingga Djarot Putranto, orang-orang yang harusnya mengistimewakan dirinya belum juga muncul.
Penghulu tiba, tetamu telah memenuhi kursi, dan acara ini lebih dari siap untuk dimulai. Namun, orang tua Djarot belum menunjukkan batang hidungnya.
Ketika jam yang telah ditetapkan telah lewat, Djarot tidak mampu lagi menahan kasak kusuk di belakangnya.
"Pak Sigit, orang tua saya mungkin ada halangan di jalan, sebaiknya segera di mulai saja ... tidak enak membuat penghulunya terlalu lama nunggu."
Memang penghulu tidak mengatakan apa-apa, meski sudah hampir satu jam duduk di sini. Malah, penghulu yang juga menikahkan Mayang kemarin, terlihat asyik berbincang dengan orang-orang penting di pemda. Dan, Kamandanu Anggara, orang yang mempunyai jabatan yang sama dengan Murdyo Putranto, adalah saksi pernikahan Djarot dan Rully. Mertua Kamandanu Anggara adalah kakak angkat istri Sigit.
__ADS_1
Sebagian besar, yang Djarot tidak pernah katakan pada Rustina, adalah Mayang dan Rully terkenal di kota ini. Biar keadaan acara pagi ini, menampar wajah ibunya tersebut.
Sigit mempertimbangkan ketika ia menatap tamu barisan depan yang saling berbincang tanpa terganggu sebenarnya. Toh, tempat ini tidak semembosankan tempat lain saat menunggu. Sebelum acara dimulai, Rully sengaja menyediakan hidangan selamat datang, hiburan, spot foto kekinian, dan kejutan di akhir acara yang pastinya sayang bila dilewatkan.
"Saya ndak enak sama keluargamu, Nak ... saya bisa memberi beliau-beliau ini pengertian, kok. Kamu tenang saja." Sigit tesenyum saraya menepuk bahu Djarot yang merasa kurang nyaman dengan suasana saat ini. Pingin rasanya Djarot mengomeli bapak ibunya yang terkesan menyepelekan. Terutama Bapaknya, bisa-bisanya dia terlambat, padahal hari dan jam ini dia yang menentukan.
Djarot dongkol dalam hati. Wajah sumringahnya berganti suram dan mendung. Ketika Sigit pergi, tanpa bisa Djarot bujuk lagi, tangan Djarot meraih rokok dan menyalakannya.
Tinggal menghalalkan saja kok susahnya minta ampun! Djarot frustrasi.
"Enak sekali ya, Bro, jadi kamu!" Gian menyeletuk. Djarot terkejut. Ia menoleh membawa ekspresi 'siap bunuh-nya' saat menatap calon saudaranya itu.
"Sejak kapan kamu di situ?" Djarot mengerutkan alisnya, dalam hati sibuk mengingat, apa tadi dia sempat mengumpat atau menyumpah, yang sampai ke telinga pria di sebelahnya ini, sehingga pria menyebalkan itu terlihat mengejeknya.
"Kamu hampir duduk di pangkuanku kalau aku tidak geser tadi!" Gian terkekeh keras-keras. Djarot melemparkan rokok yang barusan menyala ke asbak. Dongkolnya dobel-dobel.
Djarot seketika bangkit. Ia melangkah lebar-lebar ke meja yang di tempati penghulu. Wajahnya semakin menampakkan keganasan mendengar sindiran Gian.
"Pak, hal baik harus segera dilaksanakan, bukan? Lagipula, apa hari ini Bapak hanya akan menikahkan saya saja? Seingat saya, kemarin pas saya minta jam ini, Bapak bilang, kalau sudah ada jadwal, jadi saya harus menyesuaikan dengan jadwal Bapak, tapi kok saya lihat, Bapak tidak sesibuk yang saya bayangkan? Lebih sibuk saya yang orang biasa, malahan!"
Penghulu itu seperti tersedak puluhan lebah. Ia mendelik samar seraya melirik jam di tangannya. "Eh, kita mulai sekarang, ndak apa-apa, toh? Maksud saya, keluarga Mas e belum datang." Ia mengatakan terbata-bata.
"Yang mau nikah saya, Pak Penghulu, bukan orang lain di keluarga saya!"
Penghulu itu nyaris menjatuhkan matanya. "Eh!"
Djarot beranjak dan duduk di meja akad dengan ekspresi mengerikan. Semua orang segera bersiap, suasana menjadi tegang bagi beberapa orang yang memahami. Roni terutama, dia mengomel pada siapa saja yang dianggapnya membuat atasannya bermuka galak.
__ADS_1
Gian saja yang terkekeh geli melihat semua itu. Entah siapa yang akan dihabisi oleh Djarot setelah acara ini selesai. Wajah Djarot seram saja seharusnya sudah membuat semua orang sadar, betapa dia bukan orang yang bisa dipermainkan. Orang tuanya sendiri saja bisa diabaikan. Tetapi Gian selalu suka dengan sikap itu. Setidaknya, pria harus menunjukkan sikap seperti itu, agar tidak ada yang mempermainkannya.
Segala sesuatunya telah siap, termasuk Rully yang begitu cantik dengan riasan adat jawa. Wanita cantik itu sedikit heran melihat Djarot yang hanya meliriknya, tanpa terkesima maupun takjub atas usahanya merias diri pagi ini. Tetapi saat melihat ke arah tamu undangan, Rully segera paham kenapa Djarot sangat marah. Ia tertawa geli dalam hati, lantas berdehem kecil agar keanggunan di wajahnya tetap bertahan.
Sigit mengulurkan tangannya ke arah Djarot setelah penghulu menyilakan.
"Kalingga Djarot Putranto bin Murdyo Putranto, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Rully Vidyastika binti Hendi Heriawan almarhum dengan mas kawin berupa logam mulia seberat 500 gram dan kepemilikan firma hukum terdaftar atas nama pengacara Kalingga Djarot Putranto, S.H., M. Hum. dibayar tunai." Sigit berkata dengan cermat dan hati-hati untuk penyebutan mas kawin Djarot.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rully Vidyastika binti Hendi Heriawan almarhum dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"
"Bagaimana, Saksi? Sah ...?"
"Sah ...!"
"Alhamdulillah ...," gumam Sigit.
Sementara, Djarot sama sekali tidak tersenyum atau bagaimana. Hanya di bawah, ia meremas tangan Rully kuat-kuat. Rully, alih-alih meringis mendapatkan serangan tangan besar Djarot, ia malah tersenyum lebar. Ia paham betapa Djarot saat ini tengah jengkel.
*
*
*
Maaf untuk kesalahan penyebutan mas kawin dan gelar. Saya riset dadakan😄 dan jujurly, itu saya baru kepikiran untuk mahar yang ekstrem😄 biar beda aja. Masa mas kawin dr kemarin itu-itu mulu😄
Sekilas inpoh :
__ADS_1
Maaf baru update 🙏 Insya Allah, setelah MP, Mayang akan ending ya ... demikian sekilas inpo🙏 boncabe tergantung rikues ... hehehe