
Usai berkata demikian, Rully ngeloyor masuk ke dalam rumah. Namun, segera Rully menjadi panas dan malu. Pintu rumahnya terkunci dari dalam, dan sialnya, kunci itu masih tergantung di dalam sana.
Rully mengumpat, yang sayangnya hanya bisa ia suarakan dalam hati.
"Kuncinya ilang, Dek?" celetuk Djarot yang membuat Rully makin geram dan malu.
Rully berbalik dan menatap ketus Djarot. "Ketinggalan di dalam! Puas!" Bibir tipis Rully menyembur Djarot dengan ketus dan galak. Mata yang mungil dan bulat itu mendelik seolah Djarot yang membuat semua ini menjadi kacau.
Djarot tahu bagaimana mengatasi masalah Rully, tetapi ia hanya manggut-manggut tak jelas menanggapi ini. Ia tahu Rully meninggalkan rumah lewat pintu belakang tadi. "Kalau gitu kita ngobrol di teras saja. Saya juga buru-buru, ada perkerjaan penting jam sepuluh nanti."
Djarot belum menentukan apa dia akan terus merangsek ka hati Rully atau memutuskan berhenti. Dia sebaiknya bertanya.
"Dek Rully seperti ingin mengatakan sesuatu pada saya?" kata Djarot. Pria itu duduk dan dengan tenang menunggu Rully menyuarakan pendapatnya soal pendekatannya selama ini, yang bisa dibilang ditolak mentah-mentah.
Rully melirik sekilas ke arah Djarot. Jelas pria ini kualitas baik dari segi manapun, hanya usia saja yang membuat Rully khawatir soal masa depannya.
Sejenak berpikir, lalu kemudian ia melangkah ke kursi di seberang Djarot.
__ADS_1
"Bapak umur berapa?" tanya Rully terus terang. Ini masalah utamanya.
"Saya bulan depan tiga puluh tujuh, Dek. Apa saya terlihat tua? Mungkin Dek Rully pernah lihat saya rambutnya putih semua, sebelum saya mencukur habis rambut saya seperti ini. Jujur saya malu, Dek. Saya sering di ledek karena ubanan di usia tiga puluhan. Makanya saya pilih botak saja."
Rully menganga. Hanya selisih lima tahun saja rupanya mereka. Dan Djarot ini apa tipe muka boros? Makanya kelihatan tua dari usianya.
"Ini KTP saya kalau Dek Rully ragu."
Djarot mengulurkan kartu berwarna biru ke depan Rully. Sementara Rully seperti terhipnotis menerima kartu tersebut.
Kalingga Djarot Putranto. Nama yang tertera di kartu dengan foto Djarot dengan rambut hitam lebatnya. Benar juga Djarot berusia tiga puluh tujuh, dan yang membuat syok Rully adalah pria itu tampan dan jauh lebih muda ketika memiliki rambut.
Cepat-cepat Rully menatap pria itu, khawatir kalau Djarot tersinggung.
"Iya itu saya." Pria itu tersenyum malu-malu seraya memainkan tangannya. "Saya memang nggak sebanding dengan Dek Rully, tapi saya suka sama Dek Rully, bila berkenan di beri kesempatan dekat."
"Apa yang Bapak suka dari saya?" Rully memutuskan bertanya. Tidak mungkin Djarot hanya suka harta saja. Secara mereka berada di garis level yang sama.
__ADS_1
"Saya suka senyum kamu," jawab Djarot beneran menahan malu. Dia lemah di depan wanita. Dan selama ini, dialah yang sering menekan orang secara frontal, namun kali ini, dia bagai terpidana mati kasus berat saja saat suara dingin Rully menginterogasinya.
"Hanya senyum saja?" cecar Rully.
Djarot membuka kedua tangannya, "selebihnya, Dek Rully saja yang saya rasa klik dengan diri saya. Ibarat kopi, kita bakal jadi pasangan yang pas."
Rully hanya menaikkan alisnya, gombalan klisr yang mentah di matanya. Tak sampai menyentuh perasaan Rully.
"Kalau diberikan kesempatan, saya akan membuat Dek Rully menjadi wanita paling bahagia di dunia," lanjutnya. Djarot hanya bisa menjanjikan itu. Selebihnya, dia belum tahu.
"Saya bukan wanita paling bahagia di dunia, Pak ... ada Mayang yang selalu bahagia di atas saya. Dan saya nggak mungkin melampaui dia."
Djarot segera memahami. "Biar saya menggantikan pria itu, Dek ... saya akan melakukan apa saja, agar Dek Rully mau dan bersedia menerima saya. Tidak apa saya jadi orang yang Dek Rully mau, toh saya setelah menikah dengan Dek Rully akan menjadi pria yang sepenuhnya milik kamu."
Rully berdecih. "Syarat saya berat, Pak ... apa Bapak sanggup?"
*
__ADS_1
*
*