
Semua orang di rumah ini jelas merasa bingung, ketika Mayang bilang baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa antara dia dan Lea. Namun kenyataan bahwa Mayang memilih menghindari kontak langsung dengan Lea, membuat orang bertanya-tanya. Tetapi bisakah mendesak Mayang mengatakan sesuatu bila mulutnya sudah berkata tidak?
Sifat satu ini seolah baru tumbuh di diri Mayang akhir-akhir ini. Marini jelas paling paham akan situasi rumah dan sisi-sisi Mayang secara keseluruhan. Dia menjadi banyak berpikir soal Mayang. Malam ini pun demikian.
Dia belum juga bisa tidur, sehingga ia memutuskan untuk minum teh hangat. Tepat ketika Mayang membuka pintu, matanya melihat Ferdi keluar kamar. Bayang remang itu menuju kamar belakang.
"Ferdi mau kemana?" Tidak ada yang salah dengan gesture anaknya itu, langkahnya tetap ringan seolah menyelinap adalah hal biasa. "Ke kamar Lea? Untuk apa?"
Marini terbiasa memperturutkan rasa penasarannya. Tidak peduli itu adalah anaknya sendiri, sehingga ia langsung mengendap sampai di depan kamar yang di tempati Lea.
"... ngga sudi aku kalau sampai dikalahkan oleh Mayang!"
Marini membeliak, tetapi dia tak terlalu heran mengingat sifat Lea yang angkuh dan arogan, pasti ada maksud lain dari wanita itu. Kembali memasang kuping lebar-lebar, Marini mengendap semakin dekat. Jelas matanya melihat anak lelakinya di sana, tampak kesal dengan sikap Lea. Apa yang sedang mereka lakukan?
"Kapan kamu percaya kalau Mayang udah tau rencanaku, Mas? Bahkan semua barang-barangku ada padanya!" erang Lea di hadapan Ferdi.
"Iya tapi dimana? Aku sudah mencarinya kemana-mana, di semua tempat sudah kugeledah, tapi nggak ada satupun benda kamu di sana. Bahkan uang di rekekingmu bisa ditarik, Le ... itu-itu agak aneh kenapa Mayang nggak memblokir rekening kamu? Kenapa dia malah terkesan membiarkan?"
"Itu hanya akal-akalan Mayang, Mas ... agar aku kelihatan bohong sama kamu. Mayang hanya sedang mempermainkan kita saja. Nggak mungkin Mayang beli restoran besar kaya beli kerupuk. Jelas kemarin dia nggak bakal beli itu jika hanya untuk diberikan pada ibumu, Mas. Lagian, memblokir rekening juga tidak mudah tanpa bukti yang kuat."
"Tetap saja, Le ... agak mustahil Mayang bisa berpikir selicik itu. Mayang nggak mungkin akan banyak akal dan memendam kemarahannya begitu saja. Jujur aku nggak percaya sama kamu soal ini, Le."
__ADS_1
Marini tetap bergeming di dekat pintu, meski matanya nanar, kendati jantungnya berdebar-debar tak karuan. Melihat mereka berdebat sengit, Marini paham apa yang terjadi selama ini. Dia juga belum memutuskan dia akan ada di pihak mana.
"Mas ... coba pikir." Lea mendatangi Ferdi dan mengelus dada pria itu, "kenapa aku bisa jadi budak di rumah makan itu? Semua karena Mayang tahu aku mencuri uangnya. Aku memberinya laporan palsu. Dia marah karena uangnya lenyap lebih dari separo, dia merugi tanpa sepengetahuannya."
Ferdi melepas tangan Lea, "Meski begitu, seharusnya kamu ngga mengada-ngada soal Mayang melabrak dan mengambil barang-barangmu. Kamu hanya tidak mau membantuku untuk mendapatkan uang, kan? Kamu hanya tidak suka aku baik-baik sama Mayang, kan?"
Lea tertawa, "Kalau kamu pilih percaya sama Mayang, silakan ... cari saja perhiasanku di tas atau dimanapun, Mas. Pasti kamu akan menemukannya. Ini--di sini ...." Lea melangkah menuju laci dimana dia menyimpan sisa barang berharganya. Lea mengambil kotak perhiasan yang sisa bukti kepemilikan perhiasannya.
"Hanya ada surat emas-emas yang aku beli selama ini." Lea menyerahkannya pada Ferdi.
Ferdi menghela napas dan membuka kotak itu. Namun matanya dibuat membulat kala melihat perhiasan Lea sudah memenuhi kotak itu lagi. "Ini apa kalau begitu?" Ferdi mengulurkan kotak itu ke depan Lea.
"Apa kau lupa menyembunyikannya lagi, Le?" cecar Ferdi. Lea menggeleng dan menatap kekasihnya penuh iba.
"Mas ... sungguh aku nggak bohong soal Mayang merampokku sore kemarin. Dia bahkan mengusir aku dari kos, menamparku, dan menyakitiku," bela Lea.
"Berarti perhiasan ini punya kaki untuk jalan ke sini!" tekan Ferdi merasa muak. Dia melemparkan kotak itu ke sembarang arah hingga terburai dari kotaknya.
Lea menutup mulut, kaget akan apa yang di saksikannya barusan. Belum pernah Ferdi marah sampai seperti ini padanya. "Mas ...," lirihnya tak percaya, memandang Ferdi dan perhiasan itu bergantian.
"Aku muak, Le ... aku muak dengan semua alasan dan juga bualanmu itu! Kenapa kamu nggak jadi pengarang cerita saja? Bisa-bisanya kamu mengarang kebohongan yang di luar nalar manusia begini?" Ferdi menyentak langkahnya, dia muak melihat Lea. Muak sekali.
__ADS_1
"Mas ...," rengek Lea seraya menahan langkah Ferdi. "Aku nggak seperti itu, Mas ...aku nggak ngarang cerita atau apapun. Aku ngga bohong! Sumpah! Jangan begini sama aku, Mas!"
"Terserah, Le ... aku mau kita jalan sendiri-sendiri dulu untuk sekarang." Ferdi mengibaskan tangan Lea dan meninggalkan kamar ini dengan langkah lebar. Membiarkan Lea meraung-raung seorang diri. Tidak peduli apakah suara Lea akan di dengar oleh Mayang maupun ibunya.
Mayang menyaksikan itu semua, bahkan ia melihat Marini sedang menguping. Setelah melihat Lea di rumah ini dan bertekat akan menjandakannya dalam lima hari, Mayang segera berpikir lebih cepat. Dia harus selangkah di depan Lea. Menurutnya, Ferdi tidak akan berpikir banyak jika ia akan memperoleh apa yang dia mau. Mayang nyaris gila memutar otak untuk meringkus mereka bersamaan.
"Yang ...," panggil Ferdi, "sedang apa di sini malam-malam?" Ferdi terkejut melihat Mayang di dapur dengan segelas minuman pekat berwarna hijau di tangannya.
Mayang terkesiap karena melamun, "oh, ini, Mas ... aku sedang minum jus, biar agak segaran badanku."
Keduanya canggung dan kikuk. Mayang pasti dengar teriakan Lea barusan.
*
*
*
*
Gara-gara ilang satu bab, jadi harus ketik ulang. wkwkwkkkww
__ADS_1