Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Saling Menggoda Dan Menjajaki


__ADS_3

Di kejauhan, Mayang melihat Gian berjalan ke arahnya, tatapannya kembali lunak, senyumnya pun terukir tanpa ragu. Tak ada raut wajah kesal maupun marah lagi di sana. Benarkan semua itu hanya untuk Mayang seorang? Sespesial itukah dia bagi Gian? Gian memang tidak tampan bak aktor-aktor, hanya garis-garis tegas di wajahnya membuatnya memesona. Hidungnya mancung yang diatas rata-rata, dagunya rucing, dan tubuh tingginya yang luar biasa menjulang, membuat Gian istimewa.


"Liat malaikat turun ya, Bu? Sampai sebegitunya liatin saya." Gian memasukkan kedua tangannya ke celana bahan berwarna abu-abu muda yang dikenakannya. Kemeja warna senada yang melipis masuk ke celana. Tanpa gesper, Gian memang tampak menawan.


Mayang berdecih seraya berpaling. Senyumnya tampak mencemooh sikap Gian yang narsis. "Jangan kepedean, Pak ... yang lebih ganteng banyak, tapi ndak senarsis Bapak."


"Yang lebih ganteng banyak, tapi yang istimewa cuma saya. Yang mau nunggu calon istrinya lupa sama mantannya, cuma saya ... yang rela jadi pilihan terakhir juga cuma saya, Bu Mai ... kurang apa lagi?" Gian berkata seperti itu sambil tertawa renyah. Ah, Pak Dokter ....


Mayang berdecih tanpa menjawab perkataan Gian. Bukan membenarkan, tetapi bisa jadi iya. Entahlah.


"Bu Mai boleh kok terpesona sama saya secepatnya, asal kalau udah terpesona langsung bilang kapan selesai idahnya, saya takut khilaf, Bu ...." Gian tersenyum penuh arti kala Mayang menatapnya. Tidak tahu juga kenapa Mayang seolah terpaku dan terus meladeni Gian di sini. Biasanya, Mayang lebih suka menyendiri.


"Saya ndak seperti itu, kok, Pak ...," elak Mayang.


"Ini buktinya ... Bu Mai masih sama saya, menatap saya, meladeni semua omongan saya, apa namanya kalau bukan terpesona?" Gian bersikap, memasang gaya sok cool. Ekor matanya melirik Mayang yang menunduk dengan wajah merah padam.


"Ini kan tempat saya. Suka-suka saya mau berdiri dimana? Lagian saya juga mau masuk, tapi dihalangi Bapak." Mayang berlalu menahan malu, membuat Gian menyeringai. Alasan saja ini betina satu, ngaku saja kenapa sih? Kan lebih mudah buat nangkepnya, batin Gian.


"Pak ...."


Gian mengangkat wajahnya ke arah Mayang. Hatinya berdentam-dentam tak karuan. Mungkinkah Mayang mengiyakan maunya?


"Kalau mau pulang, bayar dulu makanannya ...." Mayang menunjuk meja yang tadi di ditempati Gian, yang baru saja dikemasi oleh karyawan Mayang.


Gian hanya membuka mulut, tanpa mengeluarkan suara. Apa yang barusan ia dengar tadi? Mayang menagihnya? Apa tidak ada kompensasi orang dekat? Gian kan jelas-jelas suka sama Mayang, apa tidak ada gratisan untuk gebetan?


"Boleh ngebon kalau Pak Gian ndak bawa uang." Mayang menambahkan.


Gian mengumpat. Matanya menatap Mayang seolah tak percaya dengan semua ini. Lantas ia mengeluarkan dompetnya dengan bibir manyun.

__ADS_1


"Untung saya cinta sama Bu Mayang, kalau nggak pasti saya udah marah-marah," celetuk Gian saat melewati Mayang menuju meja kasir.


"Marah itu ndak boleh bilang-bilang, Pak ... ini kan rumah makan saya, bukan milik Bapak." Mayang kesenangan berhasil membalas Gian. Puas sekali rasanya membalas Gian dengan telak.


"Seenggaknya, tadi saya udah anterin Bu Mai ... harusnya adalah harga temen atau ongkos anter?" Gian membayar sesuai harga yang diterakan kasir Mayang. Ini tidak mahal, Gian uangnya banyak. Jangankan untuk makan sendiri, untuk bayar seluruh pengunjung juga cukup.


"Kan Bapak yang maksa, saya kan ndak nyuruh, Pak?"


Gian kembali tertohok, Mayang melenggang penuh kemenangan. "Pulangnya pakai ojek di depan, ya, Pak."


Gian melongo, lalu mengusap wajahnya kasar. Bisa-bisanya dia tidak memikirkan bagaimana kembali pulang dari tempat ini. Pikirnya, Mayang pulang tak lama setelah memeriksa rumah makannya.


"Bu Mai nggak pulang sekarang?" teriak Gian yang tak mendapat jawaban. "Haih, sial," umpatnya dalam gumaman.


Gian meninggalkan rumah makan Mayang, untuk mencari ojek di sekitaran sini, namun hingga beberapa saat lamanya, yang dicari tidak kunjung muncul. Gian berniat memesan taksi online. Namun, panggilan dari Klinik, membuat Gian urung memesan.


"Dok, ada pasien yang mengalami kondisi gawat janin, Dokter Ella meminta anda segera datang."


"Bisa nggak jemput aku di Tiga Dara? Siapa kek ... Bayu atau Manda." Gian menoleh kanan kiri dengan panik, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Sementara menunggu saya datang, minta Ella jangan sampai lengah, terus jaga pasiennya!" titah Gian bertubi-tubi. Beruntung perawat yang meneleponnya langsung memahami ucapan Gian yang maha cepat.


Sementara, Mayang juga mendapat telepon dari Wina. Mayang diminta datang untuk menjadi narasumber dan memberikan testimoni soal diet dan olahraga yang diikuti Mayang sampai bisa turun tiga puluh kilo gram. Enggan sebenarnya, tetapi demi membalas kebaikan Wina, Mayang mengiyakan dan langsung menyambar kunci mobilnya, kemudian keluar.


"Pak Gian ndak dapet ojek?"


Gian dan Mayang nyaris bertabrakan jika Mayang tidak segera mundur. Gian memang kembali untuk pinjam kendaraan Mayang semenatara waktu. Namun malah keduluan Mayang keluar.


"Saya mau pinjem mobil Bu Mai untuk ke klinik, boleh?" Gian memohon. Berulang kali matanya melihat jam di lengan kirinya, berharap bayi dan ibunya masih bisa selamat.


Mayang sebenarnya ingin menggoda, tetapi melihat gelagat Gian yang tampak murung, akhirnya Mayang mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Bapak yang nyertir kalau gitu, kebetulan saya juga sedang mau menemui Bu Wina." Mayang menyerahkan kunci mobil ke tangan Gian. Pria itu sampai menatap Mayang dan kunci di tangannya berganti-ganti saking tak percayanya pada pertolongan Mayang.


"Sok atuh, Pak ... nunggu apa lagi? Katanya buru-buru? Kok malah melamun ... nanti kalau makan lagi di sini, nggak bayar deh, ini saya yang minta," seloroh Mayang.


Gian langsung tersadar dan tak lupa menyilakan Mayang berjalan terlebih dahulu. Baginya wanita tetaplah yang utama, sesibuk apapun dirinya.


Gian masih sempat membukakan pintu untuk Mayang, yang membuat Mayang sedikit mengeryit. Rayuan saja atau memang Gian seperti ini? Ah, andai Gian masih punya ibu, Mayang tentu tak akan susah menentukan apakah Gian hanya pura-pura bersikap manis. Biasanya, sikap pria akan terlihat saat memperlakukan ibunya.


"Pak Dokter harusnya buruan, jangan ngurusin saya yang sehat. Keadaan klinik mungkin sedang ndak baik, Pak." Mayang tergesa-gesa memakai sabuk pengamannya, lalu duduk dengan baik agar Gian segera melajukan mobilnya.


"Ngurus yang mana, Bu?" Gian tak menoleh, dia fokus melajukan mobil Mayang.


"Ya, tadi itu, bukain pintu, minta saya jalan duluan ...," tutur Mayang pelan.


Gian tersenyum karena merasa aneh dengan ucapan Mayang barusan. Apa dia tidak pernah diperlakukan istimewa oleh mantan suaminya? Sebenarnya, Mayang ini kurang apa sebagai wanita dan istri sampai mantan suaminya tak menghargai Mayang sama sekali.


"Pria melakukan hal kecil seperti tadi bukan hal yang mewah ataupun istimewa, Bu ... biasalah kaum kami melakukan itu. Jika dikatakan menghargai dan menghormati itu berlebihan, bagi saya itu bentuk rasa sayang. Saya suka melakukan itu, bahkan pada Bapak."


Penuturan Gian membuat Mayang benar-benar meleleh nista. Hal yang bagi Mayang mewah dan langka, bagi Gian justru sebaliknya. Ah, bolehkah Mayang jatuh dalam pesona Gian mulai sekarang?


*


*


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2