
Gian tentu saja melayang hingga ia membopong Mayang ke kamar mereka di lantai tiga seperti terbang.
Perasaan Gian tak terbendung dan meluber kemana-mana. Beberapa bagian tubuh Gian mendadak butuh dicairkan karena sempat mengeras dan panas.
Hujan kecupan dan ciuman melanda Mayang, membuat Mayang geli dan mendesah tanpa sadar. Mereka leluasa di rumah besar Mayang ini. Mungkin alasan Gian tidak meminta pembantu rumah tangga menginap karena mereka ingin berbulan madu tanpa gangguan. Dia ingin mengumbar cinta mereka di mana saja di sudut rumah ini.
"Mas mandi dulu ... jangan bikin dua Gian junior di sini kena kuman dan bakteri," kata Mayang saat Gian merebahkan Mayang di ranjang, lalu menempatkan kedua kakinya mengapit kaki Mayang.
Gian menaikkan kedua alisnya. "Kamu nggak boleh tidur malam ini, Sayang ... kamu harus tanggung jawab karena udah bikin Mas jadi pria paling bahagia. Kamu membuat Mas menginginkan kamu berlebihan malam ini."
Gian mengecup kening Mayang, turun ke hidung dan bibir. Menyempatkan giginya menyapa ujung hidung dan bibir Mayang. "Tetap buka mata kamu lebar-lebar, Mayang ...!" perintah Gian dengan kerlingan mengancam yang begitu manis.
"Aku akan bersiap-siap untuk kamu!" Mayang mengedipkan sebelah matanya. "Mau aku pakai seragam SMA atau kostum kelinci?"
Gian tertawa. "Baju Sailormoon, Baby ... fantasiku ingin ke bulan malam ini."
Mayang terkejut. "Mas tau soal itu?" Itu adalah baju dinas yang secara kasat mata hanya dua potong pakaian untuk bagian inti tubuh, hanya di setel sedemikian rupa membentuk kostum kartun kenamaan. Bagian atas memang berlengan, tetapi penghubung pakaian itu adalah ujung yang panjang sebagai tali. Yang dengan mudah memuntahkan isinya, jika Gian menariknya. Sementara bagian bawah, adalah rok yang begitu mini dan menutup bagian bawah dengan malu-malu.
"Aku selalu tahu isi lemari dan otakmu, Mai ... kamu pasti terpengaruh teman-temanmu yang hobi mengoleksi pakaian itu. Juga kamu balas dendam, dulu kamu nggak bisa pakai yang begitu, kan?"
Mayang tergelak, membenarkan semua ucapan Gian. "Itu mini sekali, Mas ... aku malu," jawab Mayang seraya menutup mata. Ini ide gila Mayang yang suka sekali mengoleksi baju haram, sejak dia merasa perlu meningkatkan kualitas kebersamaan mereka.
__ADS_1
"Coba saja dulu, siapa tau unyu dan jamunya bereaksi makin beringas pas liat kamu." Gian berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Ia tahu ia harus cepat. Penasaran dengan progres yang dicapai Mayang setelah terkontaminasi kelakuan mesum Gian.
"Loh?" Gian terbengong saat melihat Mayang teronggok bagai buntalan di tengah kasur. Mata Gian menjelajah. Jelas Mayang telah memakai pakaian laknat itu dan sengaja menyembunyikannya di balik selimut. Pakaian Mayang sebelumnya telah tanggal dan tergantung rapi di kursi meja rias. Bahu Mayang terlihat sudah terbalut kostum Sailormoon yang berwarna putih dengan seleret merah di bagian kerah.
Gian memicing, mencoba menerka seraya mendekati kasur dan merangkak ke kasur. "Malu ... atau kamu takut tidak suka?"
Mayang menggeleng. "Bukan itu—tapi"
"Tapi apa?" Opening menu yang Gian harapkan menari dengan tidak sabar di benak Gian. Tubuh sintal Mayang dalam balutan kostum itu merajai pikiran Gian yang menjadi semakin kotor.
"Tapi, Mas ... kan ada anak kamu di sana? Itu nggak apa-apa?" Mayang mendadak khawatir. Ia takut membuat dua kesayangannya itu sampai kenapa-napa. Gian dan dua bayinya. Takut Gian kecewa karena Mayang tidak sesuai ekspektasi Gian dalam balutan pakaian haram ini, dan juga dia tidak tahu amankah berhubungan saat janin tumbuh dalam rahimnya.
Gian sabar melerai kedua tangan Mayang yang memengang selimut erat-erat. Tatapannya lembut, menekan rasa yang sudah meleleh gila di sudut-sudut dadanya. Gian tidak mau membuat Mayang takut padanya.
Sumpah mati, Gian menahan bibirnya tidak mengatakan 'Wow' melompat kurang ajar dari bibirnya.
"Aneh kan, Mas?"
Gian mengerti kalau Mayang merasa malu dengan pakaian yang seharusnya patut untuk berenang ini. Mayang—Gian duga, tahu semua do and don't bagaimana bercinta saat hamil. Mayang tampaknya terlalu siap dengan sebuah kehamilan jadi mungkin dia sudah survey dan riset banyak tentang serba-serbi hamil dan halangannya. Gian menduga, dan Mayang jelas menunjukkan tanpa sadar apa yang sebenarnya dicemaskan Gian.
"Kamu yang terbaik, Mai ...," kata Gian jujur tentang visual Mayang yang bagi Gian paripurna dan totalitas melayaninya. "Ini sungguh sempurna."
__ADS_1
Geletar aneh menyambangi keduanya. Perasaan mereka meluap dan bahagia. Pagutan dan perlakuan Gian makin menambah kadar cinta yang Mayang rasakan untuk pria itu. Mayang berpikir keras, mencoba terus memakai logika untuk menjelaskan bagaimana perasaannya bisa memenuhi dada. Gian benar-benar membuatnya melayang mencapai bulan. Gian dengan sabar menuntun Mayang melepaskan ketakutannya.
"Aku tahu bagaimana membuat kalian nyaman—tenang saja."
Mayang membuka mata, gerakan anggun Gian sungguh membuat Mayang mengigit bibir tanpa sadar. Suaminya itu sangat seksi dengan rambut membingkai ke dua sisi keningnya.
"Setidaknya unyu tau harus melakukan apa," kata Gian dengan seringai yang hanya bisa dipahami oleh Mayang maksud dan artinya.
Mayang bisa apa selain menjatuhkan kedua tangannya di leher Gian. "Don't tell me how the night ends, Babe."
"Of course, this night never ends." Gian melahap bibir Mayang seperti kelaparan malam ini. Salah Mayang karena terlihat cantik malam ini. Dia tidak akan pernah berhenti.
*
*
*
Harusnya ini part terakhir🤣 Gabungan MP sama Ending🤭 tapi yah, sudahlah ... Rully belum selesai. Dan agak melenceng dari rencana awal namatin Gian dan Mayang😄 Tapi tetap saya menikmati. Jujur nulis kalau enjoy tanpa beban itu enak, ngalir aja ide di otak saya. Meski ada beberapa yang saya harus tahan-tahan biar kesomplakan saya nggak bocor kemana-mana.😄
Saya memang nggak ahli bikin hot jeletot, tetapi saya suka yang begini ini. Biar mesum tapi nggak bikin eneg.😄 Karena saya sendiri, jika gabut suka baca ulang tulisan-tulisan saya.
__ADS_1
Selamat membaca semuanya😘