
Satu ronde berakhir dengan senyum dan keringat mengembun. Gian menyematkan kecupan di kening Mayang, turun sampai ke bibir.
Mayang pasrah saja, dia terlalu lemas untuk membalas.
"Mai ... kamu baik-baik aja, kan?" Gian khawatir mendapati Mayang yang tak sanggup bergerak dan memejamkan mata. Tangannya menangkup pipi dan mengguncangnya pelan. "Mai?"
"Saya baik, Pak ... baik banget perasaannya, hanya badan saya lemes, ndak punya tenaga lagi buat gerak." Mayang berkata tanpa membuka mata. Dia benar-benar dibuat jatuh di bawah keperkasaan Gian. Dia benar-benar baru merasakan bagaimana bercinta. Bercinta yang penuh gairah dan menyenangkan.
"Jadi si unyu milik saya membuat kamu kewalahan, kan?" Gian ingin menampik ucapan Mayang kemarin-kemarin soal sianu.
"Jangan kepedean, Pak ... semua lelaki pasti bisa bikin wanita begini, kan?" Mayang menyangkal, tetapi senyum tipis di bibir wanita itu bisa dilihat dengan jelas oleh Gian. Mayang menarik selimut, dan mengambil posisi miring memunggungi Gian. nanti sajalah ke kamar mandinya, kakinya lemas.
"Buktinya tadi kamu melek merem gitu? Masa iya kamu nggak puas, sih, Mai? Apa aku melewatkan sesuatu? Kamu nggak or—"
"Pak Gian bisa diam, nggak?" Mayang menukas galak.
Gian menatap Mayang serius, bisa gawat kalau Mayang tak bisa mencapai puncak percintaan mereka. Padahal Gian jelas merasakan sensasi pelepasan yang khas dari Mayang.
"Maksud aku, kalau emang kamu nggak bisa terpuaskan, kita harus evaluasi, Mai. Itu penting buat kamu, dan aku rasa reaksi kamu nggak bohong kalau sudah mencapainya. Mungkin aku perlu melakukan sesuatu? Atau kamu nggak suka gayanya?"
Mayang terdiam sejenak, mengumpulkan sisa tenaga untuk menjawab suaminya.
"Mai ...." Lagi-lagi Gian mengejar, terdengar tak sabar. Padahal ini pertama kali—pertama kali tidur bersama dengan tiga ronde dalam kurun waktu kurang dari enam jam—wajar kalau masih meraba-raba untuk mengenali pasangan. Dan Gian mungkin sudah sangat berpengalaman, sehingga menaklukkan Mayang adalah hal mudah.
__ADS_1
"Emang hebat banget, ya, mantanmu dulu, sampai aku yang begini nggak ngefek di kamu?"
Apa-apaan sih, dia?
Mayang dengan terpaksa membuka mata dan membalik tubuhnya.
"Pak ... mana ada sih, orang bercinta dibahas sampai tahap evaluasi segala?" Mayang terpaksa duduk. Gian ini kenapa sebenarnya?
"Saya tidak berpikir membanding-bandingkan Bapak, loh, ya ... Bapak sendiri yang baper. Saya lelah, Pak ... lelah abis dibantai sama Bapak. Bercinta tidak melulu soal puas atau memuaskan, itu bisalah dicoba nanti-nanti, saya akan terus mencoba untuk tetap baik dalam segala hal sebagai istri Bapak, bukan hanya di atas ranjang saja. Saya ingin menjadi orang yang paling Bapak rindukan, inginkan, butuhkan, dan selalu Bapak sebut dalam doa Bapak."
Gian merasa tersentuh oleh perkataan Mayang. Benar Gian tak salah pilih kali ini.
Mayang meraih tangan Gian, "Yang pasti Bapak memberikan saya pengalaman yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya berterimakasih soal itu, terlihat sekali Bapak membimbing saya untuk aktif membalas Bapak, sehingga kita benar-benar saling menghargai dan menyenangkan."
Mayang berhenti sejenak, menatap Gian dalam, "saya bisa berikan bintang empat untuk pengaman pertama kita."
Jika bisa digambarkan, Gian ingin melukiskan seberapa besar perasaannya mekar dan berkembang. Gian sangat senang dengan keterbukaan Mayang, keterbukaan soal perasaannya, bukan soal ...? Karena Mayang memang belum mengenakan apa-apa.
"Love you, Mai ...." Gian memburu bibir yang selalu menyejukkan hatinya ini. Mayang memang manis. Sangat manis dan menyenangkan. Dalam segala hal.
Mayang megap-megap dalam pagutan yang Gian berikan, tangan besar pria itu memeluk Mayang begitu erat.
"Ah ...!" Mayang melepas paksa ciuman yang begitu menuntut.
__ADS_1
"Kenapa?" Gian kaget.
"Ini sudah pagi, Pak ... saya nanti harus kerja, Bapak juga harus istirahat karena semalam ndak tidur. Saya ndak mau ya, pengantin baru sakit, nanti dikira saya ngisep intisarinya Bapak berlebihan lagi." Mayang akhirnya beringsut turun. Dia harus segera mandi dan berpakaian semestinya. Ehm, memang Mayang memakai pakaian biasa saja, dia belum punya baju dinas. Mungkin ia harus punya stok banyak, biar Gian tidak bisa bekerja.
"Terkakhir dan sebentar saja, yuk." Gian memohon.
"Ndak, Pak ... tunggu isinya penuh, biar nyemburnya kerasa." Mayang berlari. Senang rasanya menggoda Gian. Sebenarnya, kalau manusia tidak diberi rasa lelah, kegiatan itulah yang ingin Mayang lakukan banyak-banyak, apalagi yang tarikannya kenceng kaya begitu. Uh, langka kali, ya.
"Haih, mana dia hot banget lagi." Mayang mengguyur kepalanya kala sudah sampai di kamar mandi. Agar bayangan Gian saat diatasnya segera pergi. Rambutnya yang basah oleh keringat, ekspresinya yang begitu menikmati, membuat Mayang meleleh gila.
"Haish!" Mayang tersenyum berbarengan dengan bibirnya yang tergigit.
Sementara yang diatas ranjang, tersenyum seperti orang gila, mengelus-elus—dengkulnya. Membayangkan Mayang yang mengerang dan mengeluh atas setiap tindakannya. Desisan merdu, bagi pria adalah penyumbang semangat terbesar. "Ah, Mai ... kamu polos sekali, sih." Gian melamun.
"Cari obat kuat ini kayaknya." Gian terkekeh geli. Semoga tidak ada gangguan saat mau melaksanakan niatnya.
*
*
*
*
__ADS_1
Dosa lah aku seharian😄