Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Feel So Sexy


__ADS_3

Rully menepati janji dengan datang pada Jum'at sore. Sebelumnya dia berpamitan pada Mayang dan Gian yang sayang sekali tidak bisa hadir di acara ngunduh mantu yang diadakan oleh pihak Djarot. Rully dan Djarot memahami hal tersebut, tetapi keduanya merasa ada yang disembunyikan Gian perihal kondisi Mayang, yang mereka berdua juga bisa melihat kalau Mayang seperti sedang hamil puluhan bayi.


"Mayang kira-kira kenapa, ya, Mas?" tanya Rully seraya bergerak di belahan dada Djarot yang membentuk lekukan bak sungai. Mereka berdua sedang berada di perjalanan menuju rumah Djarot dengan Roni sebagai pengemudi.


"Melihat kegelisahan Gian, Mayang sepertinya mengalami masalah yang serius soal kandungannya." Djarot mendadak berpikir. Dia juga berulah yang bisa membuat Rully mengalami kondisi seperti Mayang. Sepertinya, punya anak itu dua sisi yang saling bertolak belakang. Ada kebahagiaan yang lahir dari sebuah kesakitan dan pengorbanan yang sangat panjang juga melelahkan. Mata Djarot melirik Rully dan tubuhnya yang mungil. Bertanya-tanya apa perut kecil itu mampu memuat beberapa kilogram bayi?


"Tapi Gian kan dokter, masak nggak tahu bagaimana kondisi istrinya sendiri." Rully agak sewot mengatakan itu. Kalaupun ada masalah, tentunya Gian lebih cekatan dengan membawanya ke dokter yang lebih berpengalaman daripada dia. Atau setidaknya, Gian sudah tahu kondisi Mayang dan memberitahunya.


"Justru kerena dia tau dan yang divonis adalah orang yang dicintainya, makanya Gian jadi emosional. Dia jauh lebih dilema pada saat menjatuhkan vonis adalah istri dan calon anaknya. Kalau ada apa-apa dengan istri dan anaknya, kan, Gian merasa itu salahnya. Perlu jiwa besar dan juga mental yang kuat, Yang."


"Gitu, ya?" Rully berpikir, apa kira-kira yang membuat kehamilan adiknya itu bermasalah. Apa cobaan terdahulunya belum cukup menyakitkan?


Rully melepas pelukan dan menatap Djarot. "Mas ... kita harus bantu Mayang menghadapi cobaan ini."


"Dengan cara apa?" Pikiran Djarot mulai waspada. Dia tidak akan terkejut jika jawaban Rully adalah dengan cara mengganti bayi Mayang jika tidak selamat, alias Rully yang akan hamil secepatnya. Pasti Rully akan mengajak Djarot lebih giat latihan push-up. Atau Rully scout-jump di atas lipatan kakinya.


Djarot mendadak pening. Bukan dia tidak menikmati, melainkan ... dia tidak akan punya waktu untuk bekerja. Pikirannya melayang terus pada istrinya tersebut. Mungkin kata orang benar, momen pengantin baru bawaannya selalu begitu.


Rully segera duduk dengan benar, lalu berkata dramatis. "Kita kawal kehamilan Mayang sampai lahiran. Aku akan membantu dia momong bayinya yang kembar tiga itu nanti, jika mereka selamat semua."


"Lah kalau kamu sendiri hamil?" Djarot bertanya alih-alih menunjukkan senyum gelinya.


Rully menoleh dan bertekad. "Kita tunda dulu hamilnya, Mas ...."


Djarot tidak tahan untuk menaikkan alisnya. Menunda hamil harusnya direncanakan sebelum berhubungan pertama kali, kan? Ini sudah puluhan kali terjadi, siapa yang menjamin salah satu perbuatan mereka tidak ada yang menghasilkan bayi? Ada-ada saja, Rul!


Diamnya Djarot mengisyaratkan Rully betapa enggan suaminya tersebut menunda kehamilan, sehingga dia mengatakan maksud jelas soal menunda memiliki bayi.


Dia menggeser duduknya lebih dekat merapat ke perut ramping Djarot. "Kita menunda pembuahan dengan cara alami saja, Mas ... pake Dureks misalnya, atau dikeluarkan di luar. Kalau prosesnya mah, tetap lanjut—"


Djarot membeliak kaget. Lantas dia menendang kursi kemudi dan berkata keras-keras. "Besarkan volume earphonemu, Ron!"


Roni terlonjak kaget, "sudah, Pak!" tapi dia merengut seraya menaikkan sedikit volume musik yang dia dengar. Sial sekali, padahal obrolan mereka asyik banget di dengar.


"Itu masih nyahut!" Djarot bersungut-sungut.


"Nanti kalau saya diem, di omelin juga. Jadi saya mesti gimana, Pak?" Roni mengerling lewat spion dengan wajah muramnya.

__ADS_1


"Kamu harus jadi tuli saat saya sedang bicara sama istri saya!" perintah Djarot egois.


"Orang yang ndak bisa dengar aja pake alat bantu dengar, kok ... saya yang diberi anugrah pendengaran baik, malah di suruh tuli. Aneh Bapak ini." Roni bergerak mengeraskan volume musiknya secara penuh dan brutal, tanpa melepaskan kekesalan yang bersarang di dadanya.


Djarot tidak peduli, dia hanya tidak suka kalau obrolan yang intim itu didengar orang lain. Entahlah, dia merasa kalau apa yang diinginkannya dulu sebelum menikahi Rully, tidak pernah tercapai. Balas dendamnya tak pernah terlaksana, sebab Rully dengan senang hati menantangnya.


"Jadi gimana, Mas?" Rully melihat dalam kabin kembali tenang, lantas meminta kepastian suaminya. Itung-itung dia berlatih mengurus bayi, sebelum dia punya bayi sendiri. Mayang pasti kerepotan dengan tiga bayi.


"Gian pernah cerita, bayinya ada empat, Yang." Djarot akhirnya mengungkapkan dengan berat hati. Ini harusnya jadi rahasia antara dirinya dan Gian, sebab selain belum pasti, itu hanya spekulasi Gian saat mempelajari foto USG Mayang, lalu Gian mengonfirmasi dugaan tersebut dengan dokter yang dipercaya Gian.


"Wow ...!" Rully takjub. "Serius Mas?" Dia menyambar pipi Djarot dan menempatkan wajah itu menghadapinya. Rully tak tahan untuk berbinar-binar. Dia sangat senang. Bahkan dia ingin datang ke depan mantan mertua Mayang, lalu meneriakkan kabar gembira ini.


"Kapan aku bohong sama kamu?" Djarot melepas tangan Rully dari pipinya, lalu berpaling keluar. Ia meminta maaf pada Gian dalam hati atas kecerobohan mulutnya.


Rully girang sendiri, lalu menepuk kursi Roni. "Ron, cari toko atau apotek, aku mau beli sesuatu dulu."


Roni mengangguk, sementara Djarot menoleh buru-buru ke arah Rully.


"Kamu nggak malu beli itu siang-siang begini?"


Sekali lagi, Djarot menekan keningnya. Rupanya selain tidak takut pada siapa saja, istrinya ini punya bakat tidak tahu malu. Ya ampun! Apa ini namanya paket lengkap?


Di toko yang ditentukan Rully turun dan membeli sekantong penuh karet pengaman dengan merek pasaran dan konon katanya paling tipis dan paling romantis. Lalu melemparkan bungkusan itu ke dalam tasnya.


"Secepatnya kita jalankan misi, Mas ... kasihan Mayang nanti, walau ada pengasuh tambahan."


Djarot hanya menghela napas, membiarkan Rully melakukan apa saja yang dia mau. Dia penasaran, bagaimana cara Rully menghabiskan barang tersebut.


Kediamaan Murdyo terlihat ramai dengan dekorasi sederhana tetapi sangat berkilauan. Ruang duduk telah disulap menjadi sebuah ruangan longgar dengan tirai menjuntai di bagian ujung sebagai tempat berganti pakaian. Cermin berdiri di beberapa tempat, dan lampu-lampu putih bersih dinyalakan.


Murdyo mengecek langsung segala persiapan di gedung resepsi. Rustina mengkoordinasikan semuanya malam ini, sehingga banyak tamu dan kerabat yang berdatangan.


Ketika Rully tiba, semua orang berdiri menyambut dan menyalami Rully. Mereka terlihat antusias. Tatapan mereka takjub dan terpesona melihat Rully yang polos dan ramah, tidak terlihat kalau dia adalah wanita yang sangat pecicilan. Ini berbeda sekali dengan pertama dia bertemu dengan Rustina.


"Beneran kaya masih SMA," komentar salah satu istri dari anak buah Murdyo.


"Anak SMA saja kalah muda dibanding dia, ya." Yang lain menimpali.

__ADS_1


"Lingga beruntung, Jeng Rus." Beberapa orang sepakat dan Rustina tersenyum penuh kepuasan.


"Lingga ndak salah pilih istri. Kamu punya menantu kualitas unggul."


Dan kalimat itu membuat hati Rustina mongkok. Tetapi dia tidak mampu menjawab selain tersenyum. Senyum yang canggung. Dia menyalahkan mata dan nalurinya yang buta sampai tidak lihat apa yang bersembunyi di balik wajah dan tingkah ceria Rully.


Atau memang dia terlalu mendikte putranya dalam memilih pasangan. Mengabaikan perasaan anaknya sendiri, sehingga Djarot memilih tidak segera menikah dan mengulur waktu. Hingga sekarang, barulah dia memutuskan menikah walau penuh drama. Ah, untung saja, Djarot masih lurus dan tidak berontak atas semua ulahnya.


Rully diantarkan oleh dua adik Djarot ke kamar Djarot yang telah ditata sedemikian rupa sampai rasanya Rully ingin muntah dengan aroma harum menusuk dari melati asli yang memenuhi ruangan.


"Ini Ibuk loh, Mbak, yang milih bunganya, yang mengawasi proses dekornya, yang nentuin warnanya, dan semua yang ada di sini, semua dipegang oleh Ibuk." Ajeng menjelaskan. Dia adik Djarot yang usianya sepantaran dengan Rully.


Sementara, Yunda, adik Ajeng dari tadi menggelayuti lengan Rully. Dia hanya mengangguk-angguk dan manja pada sangat kakak ipar.


Ajeng memandang adiknya itu jengkel. "Kamu ada mau apa sampai sebegitunya sama Mbak Rully?"


"Ndak ada, hanya suka sama parfum Mbak Rully yang wangi dan khas. Padahal ini kemeja Mas Lingga, tapi pas dipakai Mbak Rully aromanya beda." Yunda nyengir seraya mengendus pundak Rully, membuat Rully yang awalnya takjub dengan dekorasi kamarnya tertawa geli.


Ajeng mendadak memperhatikan penampilan Rully yang imut dengan kemeja kebesaran dan celana yang kedodoran pula.


"Iya, ya ... Aku lihat tiap VC sama Mas Lingga, Mbak pakai kemeja mulu? Style ya?" Ajeng curiga.


Rully bingung menjelaskan. "Ini aku hanya suka aja bahan kemejanya yang adem, tadi kebetulan bajuku basah dan pakai pakaian Mas Djarot seadanya." Rully bersungguh-sungguh seolah ucapannya tadi adalah kejadian nyata.


"Ku pikir, karena Lingerie kini agak ketinggalan jaman, jadi kemeja suami terasa lebih seksi dan menggoda." Yunda menyeletuk, dan mendapat pelototan dari Ajeng yang langsung merah dan malu.


"A ...." Rully hanya bisa menganga tanpa bisa berkata-kata. Karena semua itu benar. Kemeja membuat dirinya mudah memprovokasi Djarot. Sungguh dia merasa seksi dan intim di dalam balutan pakaian suaminya ini.


*


*


*


Maksa jabarin outline yang ada, ygy, maafkan typo yah🙏


Terjawab ya, Mayang baby nya berapa.😁

__ADS_1


__ADS_2