Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Kesialan Tak Berkesudahan


__ADS_3

Kesialan tidak berkesudahan menyapa hidup Lea. Pagi ini, ramai sekali orang membicarakan video Lea yang diviralkan oleh pengunjung tokonya soal pemerasan dan pemaksaan.


Video itu diunggah usai kejadian kemarin dan cepat sekali berkembang karena menandai pemerintah daerah setempat agar mengawasi penjual makanan khas seperti Lea. Persaingan usaha diharapkan sehat agar kejadian yang menimpa pengunggah tidak terjadi pada pengunjung lain.


"Kotanya bagus, pantainya indah, tapi sayang, kelakuan oknum penjual makanan khas yang ramai digembor-gemborkan sangat minus. Kaya kurang berpendidikan dan nol attitude. Miris memang, mana masih muda, tetapi seperti orang jaman dulu yang suka aji mumpung. Untuk pemkab kota @P, mohon ditindak dan diberikan edukasi para pedagang di kawasan ruko sebelum pintu masuk wisata keluarga pantai yang di kelola Pt. El**** meresahkan sekali. Mana makananya sampai rumah sudah tidak layak makan lagi. Sungguh mengecewakan. Video lengkap terlampir."


Disertai tanda pagar lain, yang langsung melewati beranda pengguna berbagai lini media sosial dan media berita online.


Berita itu pertama kali Ferdi lihat dari sekelumit obrolan tetangga kos yang membicarakan Lea saat wanita itu masih tidur. Dan ia sangat terkejut melihat ulah Lea yang begitu mirip preman ketimbang penjual. Lalu di kolom komentar membanjir pula video Lea tengah di marahin Mayang. "Astaga, Lea!"


Ferdi mengusap wajah dengan frustrasi, ia lelah. Kepalanya penuh dengan masalah yang seolah berebut ingin diselesaikan terlebih dahulu. Ia ingin marah, tetapi ia sadar, Lea adalah istri dan tanggung jawabnya. Yang mana selama ini tak pernah ia beri bimbingan, yang tidak pernah ia beri petunjuk ke arah yang benar. Dia terkesan membiarkan.


Tetapi, ini sungguh keterlaluan, Ferdi tak sanggup menghadapi tuntutan dan kemarahan dari banyak pihak. Ferdi sungguh tidak mampu. Lea sudah tidak bisa ia kendalikan dengan kemampuannya yang rapuh.

__ADS_1


Sehingga ia memutuskan untuk mengambil jalan yang berat. Mungkin ini jawaban atas doa-doa yang ia pintakan. Ferdi segera melesat meninggalkan kos.


Lea terbangun kala mendengar pintu kamar menutup. Menjelang pagi ia baru bisa memejamkan mata. Semalaman penuh ia mengenang dan memandangi suaminya dengan air mata berderai sehingga kini matanya bengkak parah.


"Tumben nggak bangunin aku," gumam Lea seraya bangkit dan merapikan tempat tidur. Hal sepele yang mungkin sudah lama tidak dikerjakan oleh tangan cantiknya.


Lea dengan sadar diri membersihkan kamarnya, ia ingin menjadi lebih baik dengan dimulai hal terkecil. Sungguh Lea ingin terlihat mirip Mayang yang baik hati. Ia menata hati agar sifat Mayang merasuk ke dalam jiwanya. Lea tau sedikit banyak soal Mayang dan sikapnya.


Agak siangan ia menuju toko yang entah mau dia apakan setelah kejadian kemarin. Rasanya mempertahankan tokonya ini amatlah sulit. Ia berharap ada Rena yang bisa membantunya kali ini. Namun, sikap dingin Rena ketika ia datang sungguh membuat Lea ciut. Harapannya pasti akan segera menguap.


"Aku mundur, Le ... aku udah ambil sebagian bagianku, kalau yang masih ada disini, selama toko ini masih milik kita, aku masih berhak atas inventaris di sini sesuai dengan modal yang belum kembali. Aku tau kamu kesusahan, makanya aku nggak mau bikin beban kamu makin banyak. Aku harap kamu bisa mengelola ini dengan baik, Lea. Jika nanti kamu ingin jual, bilang padaku, aku akan membantumu. Saat ini aku ingin fokus pada usaha suamiku dulu." Rena menjelaskan dengan jujur apa yang menyebabkan dirinya hengkang dari skuad mereka.


Lea hanya bisa menatap kepergian sahabatnya itu, tanpa bisa mencegahnya. Masih baik Rena tidak seperti Arista yang mengosongkan seluruh hasil penjualan agar modalnya kembali sesuai komitmen awal.

__ADS_1


Wanita berusia dua puluh empat tahun itu mendesahkan napasnya untuk memompa sabar. Dia harus sabar seperti Mayang. Mayang dulu tidak pernah marah, Mayang hanya diam kala mendapatkan perlakuan buruk dari semua orang.


"Selamat pagi, Bu Lea," sapa seseorang yang berseragam dinas saat Lea baru akan masuk ke dalam tokonya.


"Pagi, Pak." Lea menyambut baik pria itu. "Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya dari dinas pariwisata, Bu ... dan ini teman-teman dari lembaga perlindungan konsumen." Mereka memperkenalkan diri, membuat Lea pias, darahnya seakan terserap habis oleh kemungkinan terburuk kejadian kemarin.


*


*


*

__ADS_1


Udah 3 bab ya ... kalau nggak capek nanti saya update lagi😄


__ADS_2