
Siapa yang tidak marah, saat harga diri mereka direndahkan? Siapa yang tidak luka saat melihat mantan bahagia dengan orang lain?
Hanya Lea dan Ferdi yang begitu. Jika Lea memang masih dendam dan tidak terima, Ferdi lain halnya, dia begitu menyesal. Sesalnya bertumpuk-tumpuk sampai ke langit.
Sisa hari itu Ferdi lewati dengan hampa. Pikirannya kosong, hanya terisi oleh senyum Mayang. Tak bisakah waktu sekarang, dialah yang membuat Mayang begitu bahagia? Bukan pria itu ....
Sementara, Lea yang sudah tak lagi bisa membendung rasa kesalnya, memilih pulang dan mengamuk. Pot di teras rumah ia tabrak, ditendang, dan dibanting. Lalu ia masuk ke dalam rumah, mulai mengacaukan seisi ruang tamu.
Teriakan dari bibirnya hanya berisikan "Mayang", "sialan", dan "gila", selebihnya tidak ada.
Marini di rumah tetangga, dibuat kaget dengan suara ribut di rumahnya, lalu ia minta izin pulang lebih dulu.
"Bu Mar kasihan, mantu barunya kaya orang stress."
Para tetangga yang sedang arisan, menatap kepergian Marini dengan iba.
"Punya mantu baik dan kaya, malah dibuang, gantinya kaya jaranan dor(sejenis kuda lumping)."
"Jaman sekarang, karma dibayar kontan, Buibu, jadi ati-ati kalau bertindak, bisa-bisa abis zolim, kita malah apes berkali-kali lipat."
"Nah, iya ... Bu Mar selama ini sombong, karena keluarganya kaya semua, sama kita ndak butuh, sekarang apa? Sodaranya ndak ada yang nolong pas dia lagi kesusahan."
Mereka mengangguk pelan, membenarkan perkataan temannya tersebut.
"Udah, yuk, dikocok arisannya, siapa yang keluar, lumayan bisa beli panci baru." Seseibu yang paling heboh, mengayukan tangannya kemayu. Sementara si pemegang arisan segera melakukan apa yang dipinta anggotanya.
Marini nyaris pingsan melihat tanaman hiasnya yang ia minta dari saudara-saudaranya hancur berantakan. Langkah Marini terayun cepat ke dalam rumah.
__ADS_1
"Oalah, lah aku kok miara kuda lumping di rumah." Marini membeliak. Dia marah, sangat marah, sampai tak bisa berkata-kata dan tubuhnya lemah. "Gusti, ini rumah milikku, dia hanya numpang, tapi barang-barang yang kubeli pakai uangku sindiri dihancurkan setan kuda lumping," ratap Marini. Tubuhnya ambruk, tangannya meraih hiasan keramik yang sudah hancur lebur.
Lea menata napasnya yang besar-besar dan kasar terembus. Mata wanita itu masih melebar, bibirnya pucat, tangannya terlihat gemetaran. Mau membalas Marini saja dia masih belum bisa, saking sudah habis dan kering tenggorokannya.
"Ini kenapa saya ndak suka sama kamu, Lea. Sikap kamu yang kurang ajar ini yang buat saya benci kamu sampek ke tulang sumsum." Marini berkata datar, tetapi tetap tak bisa menyembunyikan betapa kecewa dan marahnya dia pada Lea, juga Ferdi.
"Kamu anggap rumah peninggalan orang tuaku adalah milikmu? Baik ... silakan kamu akui, tapi saya mau laporkan kamu ke Pak Lurah, karena merusak rumah yang jelas-jelas atas nama saya." Marini kali ini tak mau kalah dengan Lea, tidak peduli wanita itu mau mengamuk atau membunuhnya sekalipun. Marini sudah tak tahan lagi. Dia bisa peroleh keadilan berbekal surat tanah yang dimilikinya.
Marini melangkah masuk, tanpa bisa diberhentikan Lea yang tiba-tiba menemukan lagi sejumlah kata sarat kemarahan.
"Terserah kamu mau apa, nenek peot! Yang jelas aku tetap bisa menguasai rumah ini! Karena ulah anakmu yang bodoh itu!"
Marini mengepalkan tangan, ia bertekad. Tak peduli Ferdi, dia sudah bulat memutuskan, yang tidak patuh padanya, akan didepak dari sini.
Lea masih mengamuk hingga malam hampir menjelang, sementara Marini menelpon RT, RW, agar melapor ke Pak Lurah, bahwa di rumahnya ada orang gila yang mengamuk.
Ferdi yang tak peduli mau dipecat atau diapakan, memilih pulang karena masih begitu terluka dengan pernikahan Mayang. Dia dibuat terkejut dengan keadaan rumah yang ramai oleh para tetangga yang mengerumun di luar pagar.
"Ada apa, ya, ini?"
Yang disibak tak ada yang menjawab, hanya menatap Ferdi dengan tatapan tak terbaca, tetapi sebagian memang begitu sinis dan meremehkan.
Ferdi mempercepat langkahnya, ia melihat aparat desa, Marini, dan Lea bertengkar hebat, sehingga tetangga tahu keadaan rumah tangganya yang busuk.
"Itu juga uang hasil mencuri di rumah makan Mayang!" Suara Marini menggelegar.
"Jangan ngaco, Buk ... mana buktinya? Itu tanah dan uangku adalah hasil tabunganku dari awal ikut Mayang!" balas Lea tak mau kalah.
__ADS_1
"Mana mungkin punya tanah ratusan juta, tabungan ratusan juta, perhiasan mewah, hanya sebagai pelayan restoran biasa? Kalau kamu bisa bohongi orang, tapi aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, dengar pake telingaku yang masih sehat ini, semua ucapanmu dan rencanamu menjatuhkan Mayang." Marini berapi-api mempertahankan opininya sampai dadanya yang rata naik turun.
"Itu semua bohong, saya nggak pernah mencuri atau berencana menjatuhkan Mayang! Itu semua akal-akalan Ibuk biar bisa mengusirku dari rumah ini dan bercerai dengan Mas Ferdi! Bapak-bapak jangan percaya omongan dia, jelas dia tua dan pikun. Omongannya melantur kemana-mana." Lea menuding Marini dengan telunjuknya.
"Oh, baiklah kalau aku pikun. Jadi bagaimana kamu menjelaskan bagaimana saya masih bisa pake hape begini kalau saya sudah pikun?" Marini mementahkan pernyataan Lea dengan mudah kala menunjukkan ponsel androidnya yang sudah agak usang. "Bapak silakan percaya sama Lea, tapi bukti kalau dia akan menghancurkan Mayang ada di dalam ponselnya. Bapak bisa melihatnya sendiri betapa jahatnya Lea ini." Marini menuding balik, yang langsung membeliak marah.
"Ibu Marini dan Mbak Lea, mohon jangan ribut sendiri, kepala saya jadi pusing ini. Jadi begini saja, benar disini tertulis kalau rumah ini dihibahkan orang tua Bu Marini kepada Bu Marini. Untuk itu Mbak Lea tidak punya hak atas rumah ini—"
"Tapi saya menantu di sini, Pak ... dan-dan tanah saya terjual karena kebodohan anak dia!" Lea menuding Marini. "Saya hanya minta ganti rugi atas kesalahan anaknya."
Pak Lurah tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Kalau gitu, minta ganti ruginya sama anaknya Bu Marini, dong, kalau ke Bu Marini mintanya, ya, jelas salah Mbak Lea ini."
"Tetap saja, dia ikut bertanggung jawab!"
"Ndak bisa, Mbak ... Mbak Lea hanya bisa meminta ganti rugi kepada anak Bu Marini yang tak lain adalah suami Mbak Lea. Lagian, itu bisa diselesaikan dengan mudah, kok ... pake acara ribut segala kaya begini." Pak Lurah mencandai dan disambut tawa renyah yang lain.
"Haduh, ada-ada saja, orang berkeluarga jaman sekarang. Yang kaya kita—sudah tua—minta ganti rugi ya, ke pasangan, masa ke Ibunya, mana udah tua lagi. Sesimpel ini masalah kalian. Dan Mbak Lea harus sopan sama mertua. Udah dikasih anak laki-laki kok begitu sikapnya." Pak Lurah menambahkan.
"Namanya juga suami hasil colongan, Pak ... ya, enaknya cuma pas nyolong, kalau diajak berumah tangga benaran, diajak susah, dan melarat pasti ndak maulah, Pak!" celetuk seseorang yang jauh dikerumunan sana. Tetapi bisa di dengar sampai ruang tamu yang hening ini. Seketika Lea memerah, kala seluruh perhatian tertuju padanya.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Siang semuanya🥰🥰🥰 untuk MP Gian ntar malem aja, ya, meski nggak haredang, tapi cukuplah buat otak saya traveling😄 takut batal🤭