
Dengan hamilnya Mayang, Gian tidak lagi membiarkan Mayang sibuk dan kelelahan. Ia secara teori tahu betapa berat hamil kembar yang sedang dialami Mayang. Memang Mayang belum muntah-muntah parah, tetapi dia mulai menghindari beberapa bau yang membuat hidungnya mengerut.
Undangan cetakan baru telah tersebar. Gian memanfaatkan kemudahan transportasi dan percetakan bersedia membantu menyalurkan untuk kawasan terdekat. Gaun Mayang disesuaikan agar tidak terlalu menekan perut Mayang yang belum terlihat menggembung.
Segala sesuatu Gian atur agar Mayang santai dan nyaman. Baik pelaminan, gedung, dan banyak hal lain. Ia lebih mementingkan Mayang dan bayinya tentu saja.
"Mas aku kuat loh, kalau bantuin kamu urus resepsi." Ketika malam hari dan larut sekali, Gian baru pulang usai mensurvei lokasi gedung yang baru. Gian agak rewel namun tetap bisa dimaklumi EO.
Gian melihat Mayang turun melewati tangga, tampak datar meski nada suaranya penuh protes. "Kamu urus yang mudah saja. Besok aku kasih beberapa ide soal souvenir."
"Pokoknya ajak aku tiap kamu buat keputusan, Mas ... karena ini pernikahan kita. Bukan kamu saja." Mayang menyambut tangan Gian, lalu melabuhkan tubuhnya di dada Gian.
Gian tersenyum. Mayang banyak berubah hanya karena Gian menyempurnakannya sebagai wanita. Tau begini, dari pada kayak orang gila memikirkan bagaimana cara menaklukan Mayang, Gian lebih baik menghamili Mayang saja sejak kemarin-kemarin. Dengan hamil, tentu orang yang meragukan keabsahan Mayang sebagai wanita tulen bungkam dan tak berkutik. Ah, Gian kurang praktis berpikir.
__ADS_1
"Aku kangen, Mas." Mayang bergumam di atas dada Gian. Matanya memejam sehingga Gian yang melihatnya menganggap Mayang mengigau.
"Kapan kamu nggak kangen sama aku, sih, Mai?" Gian menusuk ujung hidung Mayang dengan gemas. "Kemarin saja kamu jual mahal sama Mas, sekarang kamu obral-obral di depan Mas."
"Abisnya aku cuma diem, lihatin Yeni dan Nika kerja, banyakan mikirin kamu dan sikap kamu selama ini ke aku ... kadang aku rindu cara kamu ngejar aku, Mas."
"Sekarang kita tinggal merayakan saja, Sayang ... nggak ngejar-ngejar lagi, selain ngejar keberkahan dalam pernikahan kita." Gian mengecup kening Mayang.
"Aku akan memperjuangkan kamu dengan cara yang lain. Akan membahagiakan kamu dengan menjadi ayah dan suami yang baik. Akan berusaha menjaga pernikahan kita tetap adem ayem, Mai. Ini juga tantangan loh," kata Gian seperti menimang-nimang istrinya itu.
"Mas anggap, kamu sudah bisa nerima aku sebagai priamu." Gian menarik dagu Mayang, menghadapkan wajah itu agar dia jelas bisa menatapnya. "Menerima Mas sebagai cinta terakhirmu."
Mayang tersenyum malu. "Saya sudah bilang kalau mau mencoba, artinya saya sudah menerima Mas Gian sejak hari itu. Bagiku, cinta itu ya berbakti dan melayani. Dan saya sudah melakukannya dengan senang hati. Mas Gian sepenuhnya sudah memiliki saya. Kuharap, Mas Gian juga memiliki rasa yang sama seperti saya."
__ADS_1
Gian belum pernah merasa dadanya penuh dan siap meledak seperti sekarang. Mayang benar-benar seperti kembang api yang sewaktu-waktu bisa memuntahkan percikan indah yang membuat Gian merasa tak tertandingi.
"Sejak kapan itu, Mai?" Kini tangan Gian menangkup kedua sisi kepala Mayang, yang bola mata jernihnya memantulkan sinar lampu. Gian bahkan punya perasaan liar. Ingin menelan Mayang bulat-bulat. Jujur Gian ingat kapan Mayang mengatakan itu, tapi dia ingin memastikan. Ia takut kalau hanya berasumsi saja. Jika benar, maka tidak ada yang kebetulan, tentu ada Sang Penggerak Hati yang memudahkan semua langkahnya.
"Malam pertama kita, Mas." Mayang merona. "Waktu itu aku banyak berpikir. Apa aku akan terlihat murahan kalau menyerah padamu hari itu, atau justru kamu akan kesenangan melihat aku datang. Apa aku ini terlihat wanita plin plan, atau kamu mau menerima aku yang masih menganggap penikahan kita coba-coba. Tapi, aku hanya yakin, hanya pria baik yang mau berjuang sungguh-sungguh untuk wanita cacat seperti aku, Mas. Aku tahu aku tidak istimewa, tapi dimata pria yang tepatlah, seorang wanita biasa terlihat luar biasa dan istimewa."
Gian tersenyum puas. Mayang tahu akhirnya.
"Jadi akulah pria yang paling tepat bagimu, meski kamu tahu kamu masih ragu?"
"Ya ... aku bertaruh semuanya. Tapi benar, ketika aku melepaskan semuanya, keyakinan itu datang. Aku yang memilih bahwa kaulah pria itu. Pria terakhirku. Aku tidak mau pria lain selain kamu, Mas."
*
__ADS_1
*
*