
Untuk yang tercinta, Gian sangat maklum. Kondisi mungkin sedang kurang baik untuk Mayang, sehingga ia memilih memanggil orang untuk membersihkan mess yang sudah sangat lama ia biarkan terbengkalai. Kendati Agung dengan senang hati mengajukan diri ingin menempati, Gian merasa masih sangat butuh tempat itu untuk beberapa waktu ke depan.
Gian pergi bukan tanpa alasan, hari ini dia ada pertemuan dengan seseorang yang diharapkan mau menjadi investor untuk pengembangan rumah sakit yang Gian semenjak beberapa waktu lalu sudah mulai ia garap. Namun, banyak kendala yang dihadapi Gian selain modal.
Investor itu memang sudah berkecimpung di dunia medis sejak lama. Rumah sakit miliknya sudah sangat tersohor, bahkan Gian sudah melihatnya sendiri meski hanya sebagai pelamar kerja waktu itu.
Gian membuang napas saat investor tersebut masuk ke ruang rapat, rasa percaya diri Gian menyusut drastis melihat betapa sempurnanya pria tersebut. Dalam kepalanya, ia mengandaikan Mayang sedang memberikan dukungan untuknya hari ini. Meski hati terus merosot jika ingat kenyataan sebenarnya. Gian mengeluh diam-diam.
"Saya datang tanpa senjata, Pak Dokter," seloroh investor tersebut saat mendapati Gian tampak tertekan.
Gian tercengang sesaat, tetapi kemudian bibirnya tersenyum dan menundukkan kepala. "Saya sedang menyusun kalimat yang paling baik untuk membujuk anda, Tuan."
Harris Dirgantara tertawa mendengar itu, hatinya senang sebab ia mendapat rekan yang pandai membaca arah bicaranya. "Sayangnya, saya tidak perlu dibujuk dengan kata-kata tanpa bukti nyata, Pak Dokter. Saya datang kemari karena saya memang butuh orang yang kompeten dan tempat yang strategis. Saya melihat itu pada diri Pak Dokter."
Gian benar-benar tercengang, sama sekali tak menyangka kalau akan dipermudah semua urusannya kali ini. Padahal sepagian ini dia dibuat senewen dengan memikirkan senjata yang paling baik untuk mendapatkan perhatian dari seorang Harris yang tampak tak tersentuh. Malah terkesan, Harris telah menawarkan kerja sama.
"Saya belum sebaik itu, Tuan ... oleh karenanya saya butuh anda untuk mengarahkan dan membimbing kami." Gian mencoba untuk rendah hati, padahal saat mendengar pujian terselubung tadi, hidung Gian sudah mengepakkan sayap dan siap terbang. Hei, ini Harris loh, dan memuji seorang Gian, mimpi saja Gian belum sempat semalam. Sudut bibirnya membentuk senyuman simpul.
"Anda tau saya hanya seorang pebisnis, Pak Dokter, ucapan anda berlebihan," kata Harris santai. Pria itu duduk tanpa di persilakan. "Djarot pasti sudah banyak bicara tentang saya dan untuk siapa saya melakukan kerja sama dengan anda—ah, mana si botak itu, ya? Kenapa dia belum tiba?"
__ADS_1
Gian lagi-lagi tak bisa berkata banyak, melihat senyum santai dan gaya bicaranya yang to the point, rasanya Gian berlebihan sudah mempelajari poin-poin kerja sama sampai menelantarkan Mayang. Djarot yang sudah mengenal seorang Harris sejak bertahun-tahun lalu tentu tak akan
"Tapi, Tuan—maksud saya, Djarot mungkin agak terlambat, dia sedang mengurus kasus perceraian yang rumit." Gian gugup, sampai bingung akan menjawab pertanyaan Harris yang mana.
"Anda tidak ingin melihat sejauh mana, dan apa rencana saya soal rumah sakit ini?" Gian menyisipkan kepalanya miring, takut sendiri dengan ucapannya barusan. Memangnya pencapaiannya sejauh mana? Kenapa dia percaya diri sekali di hadapan orang besar semacam Harris?
"Saya yakin sekali pada pria yang mendebat seisi rumah sakit pemerintah, melawan putusan pemerintah daerah, dan memilih berdiri sendiri. Bersaing dengan pemerintah itu sangat sulit di negara ini, dan anda membuktikan anda masih tegak berdiri bahkan ada rencana melampaui batas atas yang dicapai rumah sakit daerah. Itu bagus, dan dari kaca mata bisnis itu menguntungkan. Bayangkan, untuk kembali sehat, berapa banyak yang mampu diusahakan seseorang? Saya yakin akan banyak roda perekonomian yang tergerak jika memiliki rumah sakit yang mumpuni di kota ini."
Gian mengangguk setuju, meski bingung. Ini sebenarnya yang butuh investasi siapa sih?
"Saya membawa rekomendasi beberapa dokter spesialis untuk paru-paru dan jantung, Pak Dokter. Selain itu anda bisa merekrut lebih banyak dokter yang berkompeten. Fokus anda adalah menjalankan rumah sakit, saya akan membuka semua jalan yang sulit. Suatu saat anak cucu saya akan ada yang menetap di sini, jadi saya ingin jika saya sudah tiada, kesehatan mereka tetap saya jamin."
Tatapan tajam itu membuat Gian menelan ludah. Dia merasakan benar betapa kecilnya seorang Gian dihadapan pria ini. Betapa besar cintanya sampai ia memikirkan generasi yang bahkan dia sendiri mungkin tak akan melihatnya.
Gian hanya bisa mengangguk. Tangan besar pria itu pasti mampu menggerakkan banyak pion. Iya, setinggi apapun kekuasaan orang sini, pasti akan tunduk dengan tatapan seorang Harris.
"Anda menjadi sangat diam, apa saya terlalu banyak meminta dan itu memberatkan anda?" Harris sejurus memberikan tatapan tajam.
"Ti-tidak—tentu saja tidak, Tuan. Saya hanya merasa takjub, anda begitu mudah dan murah hati memberikan saya banyak jalan keluar. Padahal saya sudah pusing berbulan-bulan sampai hari ini, memikirkan betapa saya ini begitu kecil dan tak berdaya untuk keinginan angkuh saya itu." Gian masih memposisikan dirinya rendah di hadapan Harris.
__ADS_1
"Itu bukan angkuh, tapi anda memikirkan sesuatu yang besar. Kota yang begitu jauh dari mana-mana seperti kota ini, layak punya pusat kesehatan yang memadai. Ketimbang pusat hiburan yang malah membawa maksiat, bukankan keinginan anda jauh lebih mulia? Ketimbang pusat perbelanjaan, bukankah layanan kesehatan jauh lebih diutamakan? Jika anda sehat, anda bisa kemana-mana untuk menghibur diri, lalu jika anda sakit, percuma kan punya sarana hiburan? Toh, anda tidak akan mampu berjalan ke sana."
Gian menyengir tak sopan. Dia pernah berkata seperti itu dulu, dan ditertawakan. Tetapi siapa sangka Harris yang kakinya telah menjejak penjuru dunia, memikirkan hal yang sama dengannya. "Seharusnya saya merekam ucapan anda tadi dan melemparkan itu pada orang-orang yang menertawakan saya."
"Saya bersedia mengatakan itu ribuan kali di hadapan orang-orang yang menyangkal niat baik anda, Pak Dokter." Harris tersenyum penuh canda saat ini, dan itu membuat Gian akhirnya tertawa kecil alih-alih melepaskan dengan keras. Ia tak mau jika Harris kehilangan rasa percaya karena tingkah somplaknya muncul.
"Saya akan berada di sini beberapa hari ke depan, jika anda mengalami kesulitan, boleh main ke rumah saya. Maksud saya rumah saudara istri saya," ralat Harris buru-buru.
"Jadi istri anda berasal dari kota ini?" Gian takjub kembali. Wanita macam apa yang bisa membuat hati Harris bucin begitu? Mana dari desa pula?
"Istri dan menantu saya berasal dari kota ini, Pak Dokter." Harris berdiri. Meyakinkan Gian kalau dia tak salah dengar. Kalau tidak ada beberapa orang kesayangannya akan sering kemari, dia berpikir dua kali untuk menerima tawaran Djarot. Tetapi memang benar, kota ini butuh sarana kesehatan memadai. Juga dengan sumber daya manusianya.
*
*
*
Ehem ... mon maaf, saya baru update, temans.🙏
__ADS_1
Di sini saya munculkan Harris ya, biar pada nggak lupa sama cinta pertama saya ini😄
Happy reading, maaf udah bikin kalian lama nungguin🙏🤗