Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Diperdaya Agung


__ADS_3

~Jalan hidup tidak ada yang tahu~


Sengaja Rully mengambil waktu untuk menghindari berpapasan dengan Djarot, kendati ia akan merasa percuma dengan tindakannya kali ini. Sekuat apa dia mencoba untuk menahan diri, hari ini kecerobohannya menjatuhkannya sendiri. Sia-sia semuanya.


Wanita berparas ayu itu duduk termenung di atas roda kemudinya, membuka lebar-lebar kaca jendela mobil agar angin memberikan kesejukan atas segala kepelikan ini. Rully pasrah sebenarnya, dia sudah menyerah. Bukan untuk perasaannya pada Djarot, melainkan menyerah pada sikapnya yang terlalu penasaran dan ceroboh.


"Jika memang jodohku itu dia, pasti tidak akan kemana." Kepala Rully dihantamkan ke kursi pengemudi, terlihat sekali dia lelah.


"Tapi harus tetap diperjuangkan, Mbak Cantik." Agung entah dari mana asalnya, sudah membungkuk di sebelah Rully dengan gaya tengilnya yang biasa.


Rully berjengit kaget dan refleks menampar kepala Agung, "Buset, ni Bocah bikin jantungku copot!" wajahnya berubah bengis dan kasar.


Kekagetan Rully lebih banyak ke ucapannya yang didengar Agung. Bocah itu pasti akan bergosip setelah ini, mulutnya yang kelewat lebar itu pasti nyablak kalau sudah dikelilingi banyak perawat yang masih muda dan cantik. Dasar tukang caper!


"Mbak Cantik harus jadi wanita yang memperjuangkan jodoh, kecuali aku ya," kata Agung yang di anggap Rully melantur dan bisa ngeplot twist endingnya. Pintar memutar balikkan ucapan. Kelamaan bareng Gian jadinya begitu, selain gila dia juga sok bijak.


"Kenapa gitu?" Rully anehnya selalu penasaran pada ending dan maksud terjauh ucapan unfaedah Agung.


Agung mengisyaratkan untuk duduk di samping Rully. Sebenarnya, ini modus saja, Agung kehabisan uang untuk ongkos pulang. Dia bukan orang yang kaya, untuk bisa sampai di posisinya sekarang banyak yang dia lakukan. Kini Agung harus mengembalikan biaya pendidikan yang sebagian besar adalah hasil hutang. Kenyataan yang cukup miris sebenarnya untuk status dokter yang di sandangnya. Agung tidak kekurangan, hanya sedang berusaha untuk tidak banyak menghamburkan uang.

__ADS_1


Rully menimbang baik buruknya mempersilakan Agung masuk. Kemudian karena memang dia butuh teman bicara, dan yah ... sengaco apapun ucapan pria itu, kadang ketika Rully berdiam diri, ucapan Agung kerap ia renungkan dan ia merasa ucapan Agung tak bisa ditelan bulat-bulat begitu saja.


Setelah diizinkan, bukan malah menjawab tetapi malah berlama-lama dan membuat gerakan tak penting dalam perjalanan memutari bagian depan mobil Rully. Mata itu tampak mengagumi, merekam, dan mencetaknya benar-benar dalam bentuk gerakan yang abstrak. Agung seolah sedang mengukur bentuk body mobil dan juga mengukur jarak permukaan lantai dengan bamper depan.


"Bocah itu ngapain?" gumam Rully. Ketika akhirnya Agung selesai, Rully menanyakan keheranannya.


Agung terkekeh sebelum menjawab, "memilih bentuk mobil untuk keluarga sebelum jalan ke showroom." Tangan yang begitu ramping dan kuat itu meraih sabuk pengaman dan mengenakannya.


Rully menaikkan alisnya. "Kayaknya banyak brosur mobil di meja resepsionis, deh. Kenapa repot-repot memeriksa mobil? Biar kelihatan kaya detektif atau terlihat pintar?" sindir Rully. Aneh sekali bocah satu ini, batin Rully.


"Aku nggak mau kemakan sama yang manis-manis di depan, tapi berakhir zonk. Kaya pernikahan Pak Gian yang pertama." Agung menoleh ke kanan dan kiri. Tak fokus pada Rully yang makin dibuat bingung oleh Agung. Tapi itu benar, kan? Selebaran itu hanya menunjukkan kelebihan tanpa menyertakan kelemahan yang tetap mengandung unsur promosi. "Cantik, indah, romatis, tapi akhirnya cerai."


Rully seperti disentak mendengar ucapan Agung. "Ya Tuhan, Mayang pasti lapar." Bungkusan plastik besar dia tarik dari belakang, "mereka belum makan, kan, Gung?" Rully panik dan bersiap turun.


"Sebenarnya mereka sudah sarapan, katering datang tepat setelah Mbak Cantik pergi." Agung membuat gestur yang ambigu. Seperti paham, tapi tak mampu mengatakan. "Kami sarapan bareng dan kekenyangan menurutku sampai Bu Mayang masuk kamar setelah Pak Harris pulang. Lalu Pak Gian langsung nyuruh saya cari Mbak Rully, tanpa bilang Mbak Rully harus buru-buru kembali, atau setidaknya Pak Gian khawatir sama Mbak."


Agung melirik Rully seraya mengibaskan rambut japrakya yang tinggi dengan sebelah tangannya seolah ada setan yang membuat isi kepala Agung geli dan memikirkan sesuatu yang indah diantara dua manusia yang terpisah lama. "Tidak ada sama sekali wajah jutek itu mengkhawatirkan Mbak usai kejadian tadi."


"Bener itu?" Rully menjatuhkan rasa bersalahnya, rasa kesal kemudian timbul. "Bisa ya mereka jadikan aku alasan biar bisa berduaan!"

__ADS_1


Kantung plastik itu terjatuh di kaki Agung, "Kita sudah dewasa untuk mengartikan ucapan kangen dari pasangan menikah yang terpisah sebelumnya." Pria itu terkekeh lagi. Puas sekali hatinya.


"Jadi apa aku harus jadi orang baik dengan menurut saja apa mau Gian dan Mayang?" Rully tak butuh jawaban. Dia membuka pintu mobil dan menjejakkan kakinya di paving parkiran yang penuh.


"Jangan Mbak!" cegah Agung yang mulai ketar ketir. Dia sampai menahan tangan Rully agar wanita itu jangan mengacaukan rencananya. Gian memang menyuruhnya mencari Rully, yang sudah terlalu lama keluar jika hanya beli pecel sebungkus. Tapi Agung memanipulasi untuk kepentingannya sendiri. Dia hanya sedang melebih-lebihkan makna dari kejadian yang dilihatnya.


"Mereka nggak boleh begitu, lah!" Rully kesal entah urusan yang mana.


"Nanti Mbak juga akan merasakan bila sudah menikah. Ketika Mbak sudah ngasih kode buat produksi, tapi suami Mbak masih ada tamu, pasti Mbak dongkol bin gondok segede telur burung unta."


Rully terdiam. Menimbang sejenak lalu membuang napas, ia patuh pada ajakan Agung dan masuk kembali ke dalam mobil. "Jadi kita harus kemana?" Setidaknya, mereka berdua harus kembali setelah urusan Gian dan Mayang selesai dalam keadaan bersama. Itu baik untuk Agung agar terlihat amanah.


"Mbak kan lagi galau, tapi masih laper, jadi mending cari tempat buat makan pecel ini," usul Agung seraya mengaitkan telujuknya yang panjang ke ujung kantong kresek di dekat kakinya.


"Galau juga butuh tenaga, berjuang itu butuh strategi. Jadi perut harus kenyang, pikiran harus senang." Agung memakaikan sabuk pengaman pada Rully. "Okey, Mbak Cantik yang udah aku anggap bagai tanteku sendiri!"


"Kakak baru benar, dasar tengil!" Rully anehnya tertawa, bukan marah ketika Agung secara mengatai Rully tua. Malah ia menoyor kepala Agung dengan gerakan pelan. "Weslah, bubrah nek ambi awakmu!"


Agung meledakkan tawa. "Aku ada tempat yang bagus buat makan dan memuaskan perasaan galau. Mau tau?"

__ADS_1


"Boleh!" Rully dengan perasaan ringan menyalakan mobilnya dan meninggalkan parkiran klinik Gian. Yang merah gambar Soekarno, tidur tenang dalam kantong celana, berdesakan dengan bon dari koperasi klinik. Agung terkekeh senang. Benar-benar polos perawan berumur ini.


__ADS_2