Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Hancurnya Kesombongan


__ADS_3

Mobil putih itu mengeluarkan sesosok yang sejenak membuat Rully berpikir untuk kabur. Kakinya sudah ancang-ancang, hatinya sudah tergerak.


Namun, kesadaran segera mengetuk pintu otaknya. Kenapa juga dia harus takut? Di sini yang hampir celaka adalah dia, dan pria itu yah harus enyah. Ini jalan umum, dia merasa terganggu dan terancam bahaya, naik ke pengadilan juga bukan masalah. Siapa takut?


Segenap keangkuhan berkumpul di wajah Rully yang bersemu-semu, bagaimanapun, bias dari perasaan berdebar perlahan merambat naik. Sungguh perasaan yang tidak tahu kompromi.


"Mobil Bapak menghalangi jalur saya, nyaris membahayakan saya, dan saya bisa menuntut Bapak jika Bapak tidak segera memindahkan mobil Bapak ... Atau saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya!"


Djarot ... bagaimana dia tidak jatuh cinta melihat wanita yang begitu berapi-api dan membara di depannya ini?


Siapa juga yang rela bajingan kecil seperti Agung menikungnya? Pastikan saja, Djarot berubah haluan dalam selera, jika membiarkan itu terjadi.


Seutas senyum terukir samar di sudut bibir pria itu. "Bahkan saya bisa menyudutkanmu sampai jalan manapun di dunia terblokir untukmu!"


Rully tersulut untuk mendebat, ia mengabaikan posisi mereka yang berada ditengah jalan, ditonton berpasang-pasang mata pengguna jalan yang melintas. "Saya tahu dunia ini milik anda, jadi pantas anda begitu sombong. Tapi kali ini, kesombongan anda berakhir di saya. Saya bisa melakukan apa saja agar jalur saya lega, agar kesombongan tumbang, biar seluruh dunia tahu, tidak selamanya memiliki segala hal di dunia, membuat anda bertindak sesuka hati."


Jika ada mata dalam keadaan marah tetapi sangat indah, tentu itu mata Rully. Lapisan bening matanya berkilat-kilat, seakan memanggil dan menantang. Seketika Djarot tersihir. Meski ini bukan kali pertama Rully mengatakan sesuatu yang penuh kesungguhan, tetapi di bawah cerahnya langit, kemilau itu sangat nampak dan dalam. Bagai sumur ditengah lautan yang hitam dan dalam.


"Biar saya buktikan betapa saya tidak pernah main-main dengan apa yang sudah saya ucapkan!"


Djarot tidak menahan langkah Rully yang mulai memasuki mobilnya, tetapi ia mengikuti. Tepat ketika Rully hendak menutup pintu, Djarot menahannya.


Rully menarik pintu itu sekuat tenaga, tetapi kekuatan otot keras Djarot tidak mampu ia kalahkan begitu saja. "Lepaskan!"


Mata Rully sungguh ingin melompat dari rongganya saat ini. Semakin marah dan kesal pada Djarot yang membuatnya terhina.


"Saya lepaskan tapi kamu geser dulu duduknya!"


"Baiklah, jangan lepaskan, dan saya akan menyeret anda di posisi itu. Pasti akan jauh lebih menyenangkan." Rully meraih kunci mobilnya yang masih menggantung, eh, tunggu .... Rully meraba tempat kunci mobil diletakkan, tetapi hingga matanya menyusul kemana arah jari jemarinya, ia tak menemukan apapun.


Rully terus mencari dan secara refleks, karena tidak ketemu juga, ia menoleh ke arah Djarot yang sudah setengah jalan menggeser posisinya.


"A-apa-apaan ini?" Rully melotot tidak terima. "Jauh-jauh dari saya, Pak! Atau saya teriak kalau Bapak mau melecehkan saya!"


Djarot masih tak ramah, tetapi santai. "Teriak saja! Bukannya kamu udah pernah memohon malam itu untuk—"


"Jangan berani Bapak sebut lagi kejadian hari itu!" Rully kepalang malu bercampur marah. Waktu itu sungguh waktu yang paling memalukan dalam hidup Rully, jika bisa, dia ingin menghilangkan kejadian waktu itu dari timbunan memori otaknya.


Ya Tuhan, bisa-bisa dia memohon untuk diapa-apakan Djarot. Apa yang ada dipikirkannya waktu itu? Semabuk itukah Rully pada Djarot saat itu?


"Geser makanya!" Djarot menaikkan kakinya, tubuh besarnya langsung memenuhi kursi kemudi, berhimpitan dengan Rully yang akhirnya melipat kaki, tetapi menolak untuk pindah ke kursi sebelah.


"Anda jangan semaunya sama saya, ya, Pak ... mentang-mentang—hmp!"

__ADS_1


Mata Rully melebar, napasnya naik turun dengan cepat. Kesan laki banget, langsung menyapa Rully. Ini ada aroma mint bercampur nikotin yang khas. Tanpa sadar Rully menggerakkan bibirnya.


Namun, Djarot dengan nakal melepaskan diri. "Nanti akan ku beri lagi setelah kamu nurut sama aku!"


Nada itu penuh perintah. Harusnya Rully menolak, tetapi matanya begitu lekat menatap mata Djarot. Begitu menyihir dan menghipnotis. Ditambah usapan di kepalanya, membuat Rully mabuk.


Agak mustahil memang, tapi Rully bergeser tanpa melepaskan tatapannya dari Djarot.


"Gadis baik," ucap Djarot dengan senyumnya yang itu. Yang sungguh mampu mengalihkan dunia Rully.


Djarot segera melajukan mobil milik Rully dengan senyum kemenangan terukir di setiap sudut bibirnya. Sementara mobilnya sudah kabur duluan sejak ia turun tadi.


Rully baru menyadari kalau kemarahannya menguap entah kemana. Bahkan menyadari kalau dirinya begitu mudah jatuh oleh ciuman yang sesederhana itu. Padahal, dia membayangkan sesuatu yang jauh lebih intim dan menyentuh.


"Jangan dipikirkan ...," kata Djarot seolah memahami kegalauan hati Rully. "Menerima ciuman seseorang tidak akan membuatmu buruk. Lagian, aku bukan orang yang suka mengatakan hal-hal yang menyangkut privasi seseorang."


Itu kalimat macam apa?


"Kita bahkan tidak punya hubungan, belum menikah, dan—"


"Itu juga alasanku menolakmu malam itu." Djarot menukas perkataan Rully seraya menoleh. "Tidak peduli kamu bakal marah atau merasa rendah, terhina ataupun membenci saya."


Djarot menarik perhatiannya dari Rully yang tegang, ke jalanan di depannya. "Malah saya akan menjadi pria paling buruk jika menuruti mau kamu malam itu. Saya menghargai wanita, saya menjunjung tinggi ajaran agama saya meski saya suka bicara yang kurang ajar. Lebih baik saya dicap sombong, daripada saya menjajah wanita yang datang pada saya."


"Tuhan tidak tidur untuk mengawasi umatnya, kan?"


Rully serta merta menoleh, menatap pria disampingnya yang mendadak berjuta-juta kali lipat jauh lebih menarik ketimbang sebelumnya.


"Pak Djarot tidak sedang berusaha membodohi saya, kan?"


Djarot tersenyum. "Saya bukan pria tadi, Mbak Rully." Ia berpikir memanggil Rully lebih formal dan sopan. Tidak lagi memakai panggilan alay yang Roni ajarkan.


Rully mengibaskan tangannya. "Rully saja ...."


Djarot mengendikkan kepalanya dengan bangga. Jurusnya selalu manjur.


"Ya, saya bukan Agung, Rully ... Saya akan mengatakan apa yang harus saya katakan sebagai pria. Pria itu tidak memanfaatkan wanita, bagaimanapun kondisinya. Itulah mengapa saya bekerja keras."


"Dari mana Pak Djarot tahu kalau Agung memanfaatkan saya?" Kening halus itu mengerut. Seingatnya dia belum cerita. "Bapak membuntuti saya?"


Tidak ada gunanya berbohong kan?


"Pria mana yang rela calon istrinya pergi bersama pria lain?" Kali ini, Djarot berekspresi jenaka. "Sampai saya rela dimaki klien saya."

__ADS_1


Tangan kiri Djarot menarik ponsel dari celananya. Ia mengotak atik sebentar, lalu menunjukkan chat berisi makian klien tersebut pada Rully.


"Tidak masalah kehilangan satu pekerjaan, asal tidak kehilangan calon teman tidur."


Mendadak hawa di dalam mobil menjadi panas. Rully menjadi sangat tidak fokus dan mengipasi mukanya. Entah kenapa dia merasa wajahnya sangat panas.


"Sayang dia masih begitu dingin padaku."


Rully seketika menoleh. Apa dia masih bersikap begitu dingin? Ini sudah paling hangat dan ramah.


"Jadi saya harus gimana, Pak? Agar bisa Bapak terima sesuai keinginan Bapak?"


Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Kelihatan sekali dia sangat berharap.


Mereka telah tiba di kawasan rumah Rully, Djarot berbelok ke arah rumah Rully.


"Tidak ada ....Jangan lakukan apa-apa. Biar saya yang usaha. Mungkin saya yang kejam sama kamu selama ini. Biar saya yang ngalah sama kamu." Djarot berkata sangat ringan dan lembut. Itu menyentuh sekali.


Rully seketika menunduk. Ia yang biasanya cuek dan tak peduli jika orang lain mengalah untuknya, kini ia merasa malu sendiri. " Apa hebatnya saya sampai Bapak mau melakukan itu untuk saya?"


"Tidak ada—"


Mobil berhenti tepat di car port rumah Rully.


Rully merasa tertekan akan ucapan itu.


Djarot mematikan mesin mobil kemudian menatap Rully lekat-lekat.


"Tidak ada wanita yang menandingi kamu dalam segala hal. Setidaknya wanita yang mendekatiku, yang pernah aku lihat, belum ada yang seperti kamu. Entah itu galaknya, sombongnya, terlebih lagi cantiknya."


"Bapak berlebihan." Rully benar-benar salah tingkah. "Tapi memang benar saya galak dan sombong. Nggak ada tandingannya."


"Jadi boleh dong, kamu jadi calon istri saya?" Djarot tersenyum. Setelah dipikirkannya matang-matang sebelum menikung Rully tadi, Djarot memang sudah mantap untuk memaksa Rully, mendesak dengan kesombongannya, lalu menyentuh dengan kelembutannya. Itu sangat berhasil. Meski ciuman tadi sama sekali tidak ada dalam rencananya. Mungkin setelah ini dia akan bersujud lebih lama.


"Saya menikah bukan hanya dengan Bapak saja. Saya ingin mengenal Bapak, keluarga Bapak, dan orang-orang dekat dengan Bapak. Tidak adil kan Bapak tau saya, tapi saya tidak tahu Bapak sama sekali?"


"Boleh ... kita ke rumahku sekarang."


Djarot siap menyalakan mobil, tetapi Rully segera menahan tangan Djarot.


"Saya ganti baju dulu, Pak."


"Tidak usah ... kamu cantik pakai baju kasual seperti ini. Saya ingin kamu dilihat orang tua saya apa adanya. Biar mereka memahamimu, menerimamu seperti kamu apa adanya."

__ADS_1


__ADS_2