Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Tolong Rahasiakan


__ADS_3

Ketika Rully menelpon, Mayang sedang duduk selepas melakukan USG bersama Dokter Ella.


"Dokter, saya terima telpon kakak saya dulu, ya ...," pamit Mayang pada Ella yang sejak tadi seperti memikirkan sesuatu.


"Silakan," jawab Ella seraya menaikkan wajahnya, senyum hangat terukir di kedua sudut bibir dokter wanita itu.


Mayang mengangguk, lalu mengusap paha Gian sebagai tanda minta izin. Gian mengangguk, lalu mengikuti gerak langkah Mayang yang meninggalkan ruangan.


"Gian ... Aku ingin bicara beberapa hal soal kehamilan Mayang." Ella menatap Gian lekat-lekat.


"Ada masalah kah? Soalnya dia mood swing-nya lumayan mengerikan. Ditambah beberapa waktu lalu dia merasa perutnya seperti menggumpal. Aku nggak paham, sih, maksudnya apa ... soalnya aku hanya dengar dari Mbak Rully."


Ella menggelengkan kepala dan itu membuat Gian lega juga bingung. "Lalu apa dong?"


"Jadi ada tiga kantong janin yang terlihat di dalam uterus Mayang. Kemungkinan Mayang akan memiliki tiga bayi sekaligus." Ella menjeda ucapannya, tanpa bisa menyembunyikan senyum bahagia di wajahnya.


Gian terbiasa mendengarkan, sekalipun lawan bicaranya berhenti. Pertama karena menghormati Ella sebagai dokter untuk istrinya, kedua ia takut akan ada kejutan lain, bisa saja itu buruk, sehingga ia hanya diam dan memperhatikan Ella secara penuh.


"Kalau kita sebagai orang medis, tentu ada beberapa hal yang kita bisa menyikapi karena pengetahuan yang kita punya, tetapi kalau Mayang, dia bisa saja merasa lelah dan berat membawa tiga bayi yang nantinya akan menendang-nendang lebih kuat dari bayi kembar dua maupun tunggal. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah mengedukasi Mayang tentang hamil dan betapa beratnya kehamilan kembar ketika mencapai trimester ke tiga."


Gian mengangguk, "Sorry, tapi adakah komplikasi yang berbahaya? Membahayakan Mayang terutama?"


Ella mengulurkan kertas USG ke depan Gian. "Tidak ada, hanya aku terganggu pada satu titik ini."


Ella menunjukkan tiga bulatan berisi bayi, lalu satu bulatan yang agak samar. "Ini mengindikasikan apa? Aku sudah ambil dari berbagai sisi, dan tetap saja itu samar."

__ADS_1


"Mungkin Mayang menderita kista atau apa gitu sebelumnya?" tanya Ella hati-hati.


"Tidak tahu juga ... orang sama aku dia tidak mengalami menstruasi, dan langsung hamil kok. Mana kutahu dia sakit apa atau mengidap apa? Kamu tahu betapa susahnya deketin dia dulu kan?" Gian mencoba mempertegas lagi bagaimana ia mengusahakan Mayang dulu. Jadi untuk hal-hal semacam itu, dia tidak tahu, lebih tepatnya tidak sempat bertanya. Lagian, dia bukan abdi negara yang mengharuskan calon istrinya mendapatkan pemeriksaan penuh.


"Oke, soal kondisi Mayang secara keseluruhan itu baik, sangat baik, dan baik sekali. Meski muntah, tapi dia tidak malas untuk makan, mungkin karena dia tahu hamil kembar, makanya dia berusaha yang terbaik untuk anaknya. Kemudian persoalan persalinan yang mungkin bisa maju beberapa hari bahkan minggu, jika benar dia hamil triplet, jadi aku sarankan kamu mengedukasi dia soal ini. Lalu, sebaiknya secepatnya kamu bawa Mayang ke dokter Yoga, semua akan jelas di tangannya, aku yakin itu."


Kedua pasang mata mereka saling bertaut, seolah sudah mengerti kemana arah tujuan perbincangan mereka.


Gian menelan ludah, lalu mengangguk. "Oke kalau begitu ... Aku akan atur semuanya."


Napas Gian terhela berat, tetapi dia senang terlepas satu bulatan misterius lainnya. Di sini sudah bisa melakukan usg 3 dimensi, akan tetapi karena usia kandungan Mayang belum cukup, jadi sementara ia hanya melakukan usg 2 dimensi saja. Baik Ella maupun Gian sama-sama tahu dan mempertimbangkan tindakan usg yang terlalu sering juga tidak bagus untuk janin.


Gian sekali lagi memperhatikan gambar hasil usg tersebut. Dan sejenak ia meyakini, itu adalah sesuatu yang baik, dari pada sesuatu yang buruk. Namun Gian enggan mendahului kepastian, ia tak mau menggantungkan kelangsungan hidup anak dan istrinya hanya karena intuisi seorang calon ayah yang amatir sekelas Gian.


Ella menepuk lengan Gian sebagai bentuk dukungan, "Aku yakin semua akan baik-baik saja. Hanya kita tidak boleh terlalu percaya diri. Selama ada second option and opinion, kita wajib coba ... Kita lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan."


"Apa ada masalah, Dok?" Mayang masuk. Semula dia tampak senang, namun mendengar obrolan Ella dan Gian, ia menjadi takut.


Gian menoleh, Ella segera duduk kembali ke posisinya.


"Tidak ada, kami membicarakan orang lain yang hamil kembar 3." Gian menyiapkan tempat duduk untuk Mayang. Lalu memaksa istrinya itu duduk. Langsung saja, perut Mayang terlihat jauh lebih besar ketimbang hamil kembar dua pada umumnya.


Gian mendadak merinding. Entah bagaimana dia bisa mencetak tiga bayi dalam satu masa ovulasi. Ah, dia lupa ... dia adalah maniak yang merampok tubuh Mayang. Menghisap sampai seluruh sari pati Mayang memenuhi dirinya.


Mayang melihat kemana arah tatapan Gian. "Dokter, apa aman kalau kita berhubungan?"

__ADS_1


Segera saja, Mayang memberanikan diri bertanya. Ia tak mau menggantung Gian lama-lama, meski ia tak yakin. Ini saja dia harus menahan rasa mual jika memikirkan Gian.


"Untuk sekarang belum dulu, May ... Lagian katanya kamu jijik dan muntah kalau deketan sama Gian?"


Mayang nyengir, "Saya akan menahan jika memang sudah diperbolehkan."


Gian mengerutkan hidungnya. "Jangan saya yang dipakai buat alasan. Bilang kalau kamu sebenarnya juga mau."


Mayang merengut, ia seketika menutup mulut kala membayangkan bagaimana suasana indah saat mereka bertempur.


"Nah, baru bayangin aja udah mabok. Gimana bisa kita melakukannya?" Gian menunjuk keadaan ini sebagai biang masalah. Mayang berlari tanpa permisi menuju kamar mandi di ruangan Ella.


Ella menahan tawa, antara kasihan dan juga geli. "Bayimu nanti bakal mirip kamu semua."


Gian hanya menaikkan bahu. Entahlah, Gian hanya mau anaknya sehat, ibunya selamat. Jangankan memikirkan bagaimana bentuk bayinya, memikirkan beratnya Mayang hamil kembar tiga saja, Gian sudah kesakitan. Pasti akan sangat berat.


"Aku hubungi Dokter Yoga dulu, ya ... siapa tau beliau ada waktu buatku dalam waktu dekat. Dan tolong rahasiakan semua ini sampai waktunya tepat. Aku takut dia syok dan bingung." Gian mengacu keraguan akan bulatan ke empat. Akan lebih baik jika dia menjelaskan ketika keakuratan bukti sudah didapatnya.


Gian izin keluar, ke ruangannya sendiri, tetapi sebelumnya, ia meminta izin pada Mayang yang ada di kamar mandi.


Sementara itu, di kabin mobil Rully, suasana begitu cair dengan obrolan ringan Djarot dan Rully. Mereka seolah telah melepaskan beban sebesar tronton, sehingga mereka banyak tertawa.


Namun, sebenarnya ... Djarot melakukan itu karena dia sendiri sedang berusaha menyakinkan diri tentang reaksi orang tuanya. Terutama sang ibu.


Pernahkah Rully membayangkan sekilas saja bagaimana Ibunya Djarot jika Djarot saja seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2