
Bukan hanya Mayang yang sibuk mencari Rully dan Djarot, melainkan Gian yang bingung saat dicecar oleh beberapa orang terkait dekorasi dan hal lain. Sepasang pengantin yang belum genap dua jam sah itu raib bagai ditelan bumi.
"Ya Allah, ini kok jadi malah ngerepotin orang kayak gini, ya?" gerutu Gian seraya berusaha menghubungi ponsel Djarot. Namun, gerakan tangan Mayang, membuat Gian melepaskan ponselnya ke depan muka.
"Hape mereka ada di sini semua, Mas!" kata Mayang keras-keras.
Gian frustrasi. Ia membuang pandangan ke segala penjuru tempat ini, dan matanya jatuh pada Roni, yang duduk santai di atas kok sebuah motor tak jauh dari lokasinya berdiri.
"Nah, itu pawangnya, pasti tahu bosnya ada dimana." Gian melangkah pasti ke arah Rini seraya memanggil nama pria muda itu.
"Pak Gian ganggu saja! Ada apa?" Roni menoleh dengan wajah juteknya. Pria itu terganggu sebab sedang sibuk membalas komentar atas live dan juga postingannya barusan. Ya, Roni dengan akunnya, menjual nama Djarot pada kesempatan ini dan dia mendapatkan uang yang tidak ternilai. Djarot tidak mempermasalahkan, toh semua orang harus tahu kenyataan ini.
"Bos kamu kemana?" Gian menyenggol bahu Roni hingga pria itu oleng ke kanan. "Di cariin kang dekor tuh, sama mau foto studio katanya, kok dia ngilang?" Mata Gian terarah pada sepasang orang tua yang berdebat sengit di pinggir jalan. Mereka hanya bertemu Sigit sebentar sebelum keluar dengan alasan yang ambigu. Gian tersenyum, rupanya mereka punya malu. Sementara rombongan besan masih asyik di dalam menikmati makanan yang disediakan.
"Saya kan di sini, Pak ... mana saya tahu mereka kemana!" Roni terlihat kesal. "Saya aja tadi diusir sama Pak Djarot, kayaknya dia marah sama Bapak Ibunya!" Dagu Roni ikut menujuk Murdyo dan Rustina di tepi jalan dekat mobil mewah mereka.
Gian tiba-tiba merasa percuma repot-repot datang kemari, ternyata anak buah Djarot ini juga sama menyebalkan seperti bosnya.
"Dia tidak bilang apa-apa?"
"Boro-boro! Dia narik kerah baju saya, Pak ... trus lemparin Bu Rully kaya sekantong kerupuk. Saya dilempar keluar, dianya pergi sama Bu Rully." Roni memperagakan bagaimana dia ditarik keluar dan bagaimana Djarot melemparkan Rully ke kursi.
Gian meringis. "Kasar kaya gitu?"
"Iya! Nih, ya, Pak ... Pak Djarot itu pernah bertekat ingin mencabik-cabik Bu Rully kapanpun mereka resmi menikah. Mungkin sekarang Bapak sedang melaksanakan aksinya!" Roni bercerita.
"Seriusan kamu?" Gian merespons aktif. Otaknya mulai kemana-mana. Matanya melirik Mayang yang mungkin pernah merasakan namanya tercabik di malam pertama. Roni mengangguk, dan Gian memilih kembali ke sisi Mayang. Ini tidak baik untuk diteruskan. Sisi lelakinya memahami.
Ya, memang Djarot sekarang memang mirip serigala kelaparan diatas tubuh kecil Rully. Awalnya, karena kondisi Rully yang masih memakai cunduk mentul dan paes di keningnya, Djarot meredam kembali apa yang semula mendesak-desak keluar. Ini tidak bagus juga untuk Rully saat resepsi nanti malam. Ia mempertimbangkan bagaimana bentuk Rully nanti setelah keluar dari homestay yang riuh dengan debur ombak pantai ini.
__ADS_1
Akan tetapi, pria mana yang menolak daging segar menari di depan mata dengan nakalnya? Ya, Rully selesai membersihkan diri segera menggoda Djarot. Katanya; kalau kemarin dia berani menggoda Djarot dalam keadaan belum halal, kenapa saat halal dia menjadi tidak lebih berani? Dan, persetan dengan omongan orang betapa mereka terlihat mementingkan kebutuhan itu, dan membuat mereka terlihat tidak bisa mengendalikan diri.
Jadi kenapa itu jadi masalah? Mereka sama-sama dewasa dan saling mengerti soal itu. Tidak perlu lagi kan, drama-drama ala gadis mudah minim pengalaman? Meski hanya masih seputar teori, tapi mereka bisa belajar bersama. Ini bagi Rully, ya ... untuk Djarot semoga ini juga kalo pertama melakukan hal seintim ini.
Kedua belah tangan Djarot yang besar, sepertinya memang kurang puas dengan proporsi tubuh Rully yang kecil, sehingga pria itu terlihat rakus dan tidak sabar. Cetakan jelas bilur merah di bagian tertentu yang mendapat tekanan terlihat.
Bibir Djarot yang begitu dominan, terus menelusur sampai Rully seperti cacing kepanasan. Djarot cukup kasar, meski ia sudah berusaha selembut mungkin.
"Bilang kalau aku nyakitin kamu!" Ketika Djarot telah siap membelah tubuh kecil itu, dia menatap miris pada lekukan tubuh pujaan hatinya. Astaga, Djarot ingin berhenti. Jujur saja, dia takut menikah karena ini. Dia memang tidak bisa menahan emosi.
"Ah ... ng-nggak, kok!" Rully menggeleng dengan perasaan merana. Wajahnya sudah merona. Ini terlalu nanggung, tapi Rully hanya mempersilakan dengan gerakan kakinya yang lembut, dia tidak berani lebih jauh. Setiap dia membuka diri dan meminta, Djarot seperti lepas kendali. Dia ... sejujurnya agak takut.
Seperti macan keluar dari sarangnya.
"Ini hanya soal waktu, kan? Sekarang atau nanti malam, semua akan terjadi," kata Rully takut-takut. Djarot sepertinya melihat ketidakjujuran Rully, sehingga dia bersiap meredam dirinya kembali.
"Yah, lakukan saja sebagaimana biasanya. Aku tidak apa-apa, Mas." Ah, persetan dengan terlihat murahan.
Djarot menghela napas dan memposisikan diri diantara dua kaki Rully yang sedari tadi menahannya untuk pergi. Dia menyeringai nakal saat melakukan gerakan yang sensual. " Kamu boleh mengumpat, Sayang."
Dia tahu kalau dirinya terlalu besar untuk Rully, dia tahu kalau ini akan menjadi sebuah trauma bagi Rully. Dan memang diawal selalu menyakitkan, tapi kalau tidak dimulai, kapan lagi memangnya? Lalu tugas siapa, baik hari ini atau nanti, kalau bukan dia?
Rully menahan napasnya penuh rasa penasaran. Dia memejamkan mata dan memikirkan seberapa sakit rasa yang dia terima.
"Sayang, aku masuk!"
Itu suara siapa, sih? Seksi sekali? Rully mengangguk dan menggigit bibir dalamnya. Dia menggeram rendah, lalu meninggi menjadi sebuah teriakan yang memekik.
"Ouhh, sorry, Sayang."
__ADS_1
Kedua tangan Rully mencengkeram tangan Djarot yang meremukan pinggangnya. Gusti barusan sakit sekali.
"Tahan, Honey!" Geraman Djarot terredam rendah dan tidak sabar. "Nanggung, baru setengah."
Rully mengerling, ludahnya tertelan kasar. Apa? Se-setengah?
"Hey, kamu lembut sekali." Djarot jatuh dan terpesona, ia mencium Rully saat ... yah, sudah mentok. Pria itu sungguh tidak bisa bertahan untuk diam. "Kamu memabukkan, Sayang."
Rully benar-benar tidak tahu Djarot punya sisi yang lemah seperti di hadapannya sekarang. Wajah beringas itu tampak lain. Rully menatapnya di sela ciuman yang membuatnya pusing.
Jadi begini kalau dia lagi dalam mode ....
Rully tertawa dalam hati. Lantas ia memilih mengalungkan tangan di sekeliling leher kekar itu. Sudahlah, sebaiknya dia menikmati.
"Aku baru tahu kalau kamu itu semenyenangkan ini, Sayang." Djarot memacu kasar dan kuat.
"Nyeselkan, nggak nikahin aku dari dulu." Rully sempat menjawab meski terbata-bata.
"Sedikit ... kamu—"
Djarot tidak mampu berkata-kata lagi. Dia tidak tahu kalau semua latihan staminanya, akan seburuk ini hasilnya. Astaga, baru juga beberapa menit, kenapa ...?(¹)
*
*
*
(¹) jawabannya ada di judul bab✌😄 wkwkwkwkwkwwkkw
__ADS_1