
Di rumah, Mayang memiliki ruang kerja yang berfungsi sebagai kantor, seorang karyawan yang mengurusi keuangan, dan satu orang yang mengurusi karyawan. Belajar dari pengalaman, Mayang memilih orang yang mengerti di bidangnya. Dia menghargai setiap kejujuran dan kesetiaan, agar karyawannya tidak punya niat seperti Lea.
Hari ini, Mayang merasa lebih baik setelah kemarin sempat uring-uringan. Kepalanya selalu penuh dengan ucapan Dokter Gian yang Mayang sebut sebagai mulut cabe. Setiap ingat Gian, Mayang langsung badmood.
"Hah!" Mayang meletakkan pulpen di tangannya, lalu membuang muka ke arah luar jendela ruang kerjanya. Hal ini membuat dua orang yang sedang bekerja tak jauh dari Mayang menoleh.
"Kenapa, Buk?" tanya Nika sesaat setelah dia dan Yeni beradu pandang. Mereka takut kalau pekerjaan mereka tidak sesuai dengan apa yang Mayang mau.
"Ndak apa-apa," kata Mayang seraya mengibaskan tangannya. Beberapa saat Mayang masih termangu, memikirkan tindakan Gian, lantas ia menghadap dua anak buahnya. Mungkin mereka bisa ditanyai sesuatu.
"Kalian udah punya pacar?" tanya Mayang sambil menatap Nika dan Yeni bergantian.
Kedua gadis itu tersenyum simpul lalu menunduk.
"Ini ndak ada hubungannya sama pekerjaan, tapi saya sedang menghadapi orang rese yang sok tau. Kira-kira apa motifnya nyerang saya di depan banyak orang? Padahal seingat saya, saya ndak pernah melakukan apa-apa sama orang itu," papar Mayang.
Nika langsung mengangkat wajahnya untuk menatap Mayang. "Perempuan apa laki-laki, Buk?"
__ADS_1
Mayang menarik napas, Nika ini pintar tapi kurang konek kalau diajak ngomong.
"Bu Mayang jelas nanyai kita pacar, ya, udah pasti itu laki-laki, Oneng!" Yeni menukas ketus.
"Oh ...." Nika nyengir tanpa dosa. "Pasti KTS tuh ...," celetuknya enteng, yang membuat Yeni dan Mayang mengerutkan kening.
"Apaan itu?" tanya Mayang dan Yeni serempak.
"Kasih tak sampai, Buk ... dia itu suka sama Ibuk tapi nggak kesampean. Mungkin dia masa lalunya Ibuk, trus Ibuk tinggal nikah. Makanya dia patah hati dan sekarang jadi oposisi, karena dia nggak tau Ibuk udah pisah sama suami Ibuk," papar Nika sok tahu.
Yeni menggumamkan opininya yang berupa cibiran dan ucapan 'sok tahu' lalu Mayang menaikkan alis seraya menganalisis. Benarkah demikian? Tapi tak ada kisah masa lalu antara Gian dan Mayang. Lagipula, Gian sudah punya Saira, dan kedengarannya mereka sudah sangat intim. Ah, tidak, matanya juga sudah melihat sendiri.
"Idih, nggak gitu konsepnya, Buk ... Ibuk tuh nggak jelek, Ibuk cantik, dia yang nggak kesampean mau suka sama Ibuk. Jadi buat nutupin perasaan kalahnya, dia begitu itu." Nika masih kukuh dengan opininya, sementara Yeni, yang memang dasarnya pemikir dan pendiam, hanya tersenyum tipis. Ada-ada saja si Nika ini.
"Buk ... ada yang menghubungi saya kemarin, katanya mau ajak Ibuk join bikin franchise keripik kentang." Yeni menyudahi topik soal lelaki yang kasihnya tak sampai menurut Nika, yang tampaknya masih enggan mengakhiri diskusi tersebut. Nika merengut dan menirukan perkataan Yeni.
"Siapa?" Mayang sebenarnya tidak tertarik, dia takut ditipu. Marak yang latah membuat usaha yang sering disebut franchise ini, itu tidak mudah setahu Mayang. Kurang long lasting, ibarat kata perawatan wajah. Kalau bercinta kurang tahan lama. Astaga, jadi ingat Ferdi jika bicara soal tahan lama. Ini—durasi, kerap Mayang baca kala dia tak kunjung hamil dan Ferdi memang loyo saat bersamanya. Mayang sudah over thinking, namun belakangan, dia percaya diri akan kemampuannya yang itu. Not bad, karena dia memang kurang pengalaman. Tapi ke depannya, Mayang akan berusaha lebih baik lagi jika punya pasangan. Meski entah kapan.
__ADS_1
"Bu Arista dan gengnya," jawab Yeni seraya menujukkan bukti chat wanita bernama Arista agar Mayang membacanya sendiri. "Sudah di sertakan pembagian keuntungannya, Buk ... jika Ibuk berminat."
Mayang segera mentas dari bayangan buruk kisa cintanya, lalu ia mulai membaca chat dari Arista di ponsel Yeni. Lama Mayang membaca, lalu sampailah pada anggota geng Arista. Mayang tersenyum.
"Aku ikut ... katakan pada Arista untuk menghubungi saya langsung. Saya harus tahu dengan jelas bagaimana sistemnya." Mayang menyerahkan ponsel Yeni. Terlihat sekali Mayang sangat yakin.
"Buk ... tapi itu ada—"
"Ya, saya tahu, makanya mari kita adu siapa yang paling jago berjualan." Mayang tersenyum penuh keyakinan. Wanita itu hanya kerikil bagi Mayang, dan Mayang yakin, dialah yang mengusulkan Mayang bergabung.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Halo selamat siang, maaf baru sempet update lagi, saya usahakan sore atau malam update lagi, ya ....🙏 makasih udah setia nungguin🙏