
Gian dan Mayang masih bercanda soal yang lurus dan bengkok ketika Rully masuk. Tawa dari dalam kamar mambuat Rully berhenti di depan kamar dan memanggil Mayang. Baru ketika dia dipersilakan masuk, Rully dengan perasaan sungkan menuruti apa kata Mayang. Pikiran Rully sudah kemana-mana membayangkan dua orang yang sudah lama tidak berjumpa melakukan apa di sana. Akan tetapi ketika pandangan Rully jatuh pada tiang infus, Rully segera bersikap santai.
"Ada ya, minta ditemani, tapi malah ditinggal pergi." Rully duduk di kursi plastik seberang Mayang, ketus menatap adiknya dan Gian bergantian. Mayang tersenyum sungkan penuh rasa bersalah. "Robot bisa roboh juga?"
Gian terkekeh tanpa merasa tersinggung sama sekali. "Dosis vaksin harian nggak mencukupi buat dukung tubuhku tetap tegak."
"Buruan gih, vaksin sampe teler." Rully mendengus seraya memalingkan wajahnya yang agak panas. Rully paham kemana arah bicara Gian.
"Mbak yang buruan nikah, biar tahu rasanya divaksin. Aku mah udah kenyang, hanya berkurang saja akhir-akhir ini." Gian menaikkan alisnya ke arah Mayang. Selain meminta dukungan untuk menyuruh Rully segera menikah, Gian juga memberikan kode bahwa ada asupan gizi Gian yang kurang.
Mayang bingung menanggapi, tetapi ia segera mengalihkan seluruh atensinya pada Rully yang siap menyanggah Gian. "Pak Djarot masih susah dideketin, ya?"
"Apaan, sih?" Rully jelas tidak suka rahasianya dikuliti begitu saja oleh Mayang yang diharapkannya bisa mengnci mulut. Tak taunya malah begini.
"Aku sudah tahu, Mbak ... nggak usah begitu sama Mayang." Gian terkekeh seraya memberikan tatapan yang mengejek Rully, seakan menunjukkan bahwa sejauh dan sedalam apa mereka menyembunyikan rahasia, Gian mampu menebak dengan benar, tak meleset.
Rully mendongkol sehingga kedua tangannya bersedekap. Bibirnya mengerucut lucu meski marah.
"Parahnya, dia diblokir Pak Djarot, Mas," kata Mayang sedikit berbisik dan mengendik ke arah Gian.
"Apaan sih, May." Rully membekap mulut Mayang. Rully jumpalitan. Harusnya semua tidak terbongkar begitu saja seperti ini. Dia tidak siap dipermalukan. RIP harga diri dan gengsi Rully yang tinggi.
"Kenapa gitu?" Gian penasaran. Ia tak menyangka bagaimana semua itu terjadi., sebelumnya, tampaknya mereka akur dan memang ada pancaran tak biasa diantara dua manusia itu. Gian maklum akan sikap keras Rully, tapi kalau Djarot sampai memblokir Rully, setelah tatapan penuh damba di mata pria itu, sungguh sesuatu yang di luar dugaan.
Rully hanya membuang muka seraya melepaskan Mayang yang pasrah saat dibungkam. Ia takut kalau apa yang dilakukannya akan membuat Mayang kenapa-napa. Terlebih Mayang membawa penerus Gian yang kaku dan tak kenal ampun itu.
Mayang membenahi duduknya yang sempat melorot, lalu ketika sadar ruangan menjadi hening, Mayang segera berkata, "Mbak Rully sih ndak kasih tahu, Mas ... coba tanya Pak Djarot aja."
Rully membelalakkan matanya, "jangan berani-berani, ya, kalian!" Ia panik. Pasti Djarot akan membeberkannya bagai gelar persidangan kasus pembobolan wifi tetangga. Dilebih-lebihkan, padahal yang dibobol tidak seberapa. Kenapa tidak dianggap sedekah buat bekal di alam baka saja?
"Apa yang harus aku takutkan, memangnya? Kan hanya bertanya saja? Lagian sebentar lagi, mereka akan kesini." Gian menoleh ke arah jam yang bertengger di dinding. Kemudian meminta Mayang membantunya berdiri.
__ADS_1
"Mereka siapa?" Rully kelabakan. Siapa yang akan dibawa Djarot? Apa ini akan menjadi sebuah kejutan lamaran atau ... pernikahan? Sama seperti saat pernikahan Mayang dan Gian. Pipi Rully memanas sampai ke telinga dan leher. "Kamu nggak ngeprank aku kan, Gian?"
Rully sesaat kehilangan fokusnya, sampai-sampai Gian sudah berdiri, dan mencabut infusnya sendiri. Mayang bukannya membantu, tetapi malah berlari kencang ke kamar mandi dengan mulut terbungkam sepenuhnya.
"Apa aku sebau dan seburuk itu di perasaan anak-anakku sendiri?" Gian menggerutu, kemudian melangkah gontai seraya merayap di dinding. Rully hanya berdiri dari kursinya tanpa melakukan apa-apa, sungguh ia takut kalau akan membuat orang lain salah paham.
Seraya menanti Gian bersiap, Rully duduk di ruang tamu. Memainkan ponselnya tanpa fokus. Pikirannya masih dipenuhi tanya tentang siapa yang akan datang sebentar lagi. Dan juga takut kalau hukuman yang sudah berjalan ini harus diulang lagi karena bertemu Djarot di sini.
Mayang selain tergolek lemah dengan gelengan kepala saat ditanyai Rully, tidak melakukan apapun. Tubuhnya terlalu lemas, perutnya perih sekaligus lapar.
"Mbak belikan sarapan di luar ya, kamu pengen apa, May?" Rully merasa kalau Mayang bahkan tidak lebih lapar dari dirinya, juga tidak lebih lemas dari Gian, akhirnya berinisiatif. Sejenak rasa penasaran di benarknya menyingkir.
"Aku mau klepon, cenil, dan lopis ... sama pecel di warung dekat sini, Mbak. Lauknya sate telur puyuh, tempe goreng pakai daun bawang, sate jeroan, telor ceplok yang garing luarnya, jangan kasih kemangi tapi kasih mlanding(lamtoro) yang banyak, kalau sayurannya daun singkong jangan dikasih ya, em ... apalagi ya?"
Rully melotot, "itu pesenan apa gerbong kereta? Panjag banget."
"Hehehe ... sama teh anget ya, Mbak. Kalau ketemu tukang jualan keripik telo keliling--"
"Nggak ada. Nggak ada beli-beli keripik telo. Kaya muat aja perutmu itu, May ...," sela Rully dengan sinis. "Itu perut apa karet? Jangan bilang karung goni." Rully meraih ponselnya kemudian berjalan keluar dari kediaman Gian. Keramaian di luar mess Gian menjadi pemandangan Rully selanjutnya. Otaknya merekam apa yang diucapkan Mayang kemudian ia mengetikkan di ponselnya tanpa melihat jalan.
Dari arah berlawanan, datang serombongan orang yang dipimpin oleh Agung yang dengan riang memanggil Rully dengan suara medoknya.
"Mbak ... oey, Mbak Gaul," sapa Agung yang membuat perhatian Rully teralihkan. Mata indah Rully membelalak kembali sampai rasanya siap lepas dari rongganya.
Rully meneliti satu-satu pria dan wanita yang ada di seberangnya. Ia memastikan itu adalah Djarot. Tak peduli apapun, Rully langsung mengambil ajlan lain untuk bersembunyi. Hanya berharap Djarot yang sedang berbincang dengan beberapa orang itu tak sampai melihatnya,atau menyadari keberadaannya.
"Woey, Mbak Cantik, jangan lari!" Pikir Agung, Rully berlari menjauh karena menghindari dirinya, sehingga ia terkekeh kesenangan. Agung suka sekali menggoda Rully yang galak itu, katanya sebagai hiburan saat dia terlalu spaneng dengan tugas dari Gian.
"Siapa?" tanya Djarot yang terkejut oleh teriakan Agung dan memeriksa kemana pandangan dokter muda itu bermuara. Akan tetapi tidak ada siapa-siapa di sana selain udara kosong yang begitu hening.
"Itu Pak ... gadis yang kegeeran kalau saya godain. Maklum perawan belum terjamah, makanya polosnya nggak ketulungan meski galak. Cantiknya nggak kira-kira pokoknya. Kaya semua stok cantik untuk gadis lain di dunia ini habis mengguyur dia." Agung menjelaskan seraya bersuara rendah.
__ADS_1
"Seleramu lebay," Djarot tersenyum remeh. Hanya Rully yang punya kecantikan menyamai bidadari, sayangnya galak dan juga plin-plan.
"Ih, Bapak belum ketemu dia aja," jawab Agung tidak terima.
"Kenapa? Kamu godain dia agar dapet perhatian dia, kan? Bilang kamu naksir dia, anak muda. Itu bukan dosa," nasehat Djarot seraya terus melangkah.
"Apanya yang dosa, Pak" Agung mendadak blank.
"Menyukai dan mengungkapkan perasaan." Djarot menjawab enteng.
"Kalu ditolak?" Agung memikirkan banyak hal. Terlepas jarak usia yang begitu jauh, Rully layak diperjuangkan
"Bilang kalau lagi praktek nembak cewek pujaan hatimu lewat dia." Djarot menatap Agung serius, tetapi bahkan angin sedang menertawakan Djarot. Sementara dalam kepala Agung, jangkrik mulai mengerik, meyuarakan betapa garing guyonan Djarot.
"Dia nggak bakal percaya, soalnya dia udah dewasa seumuran Bapak!"
"Kalau gitu dosa," sambung Djarot selanjutnya.
"Kenapa bisa gitu?" Agung sampai mengerutkan kening dan alisnya.
"Kalau seumuran saya, pasti sudah laku dan bersuami, jadi dosa karena suka sama istri orang."
"Lah, Bapak aja masih setia sama gelar jomblonya, kok, bisa saja dia masih single ... mungkin saja dia juga belum nikah."
"Tanyain sana ... jangan singgung soal integritas saya sebagai jomblo kelas atas. Bisa jadi saya sedang otewe menuju hot uncle---"
"Atau sugar daddy?" potong Agung seraya berlari menjauhi Djarot.
*
*
__ADS_1
*
Maih dalam rangka kebut-kebut cantik, ya ... diriku lagi ngajari bocil ulangan. wkwkwkkwkwkwk