
Gian selesai memeriksa keadaan Lea setelah beberapa saat lamanya, kondisinya memang sedikit lebih baik, tetapi ini juga tidak membantu. Gian menyarankan untuk melakukan tindakan pembersihan rahim, tetapi Lea harus melakukan CT scan dan MRI terlebih dahulu mengingat ini adalah sepsis tahap lanjutan yang sudah parah.
Lea sejak kemarin menunda CT scan dan MRi karena terkendala biaya. Gian sudah mencoba membantu dengan beberapa saran, namun agaknya Lea enggan melakukan apa-apa pada dirinya. Ia memilih merasakan sakit yang amat menyiksa itu.
Gian membuang napasnya. Menghadapi pasien keras kepala seperti Lea memang harus dibenturkan pada beberapa kenyataan yang paling buruk, seperti tidak akan punya keturunan. Dan memang jika kondisi seperti ini dibiarkan, nyawa Lea juga diambang bahaya. Infeksi bisa menyebar ke organ lain jika tidak ditangani dengan benar.
"Awasi dia dan kabari saya perkembangannya, Han ... sementara saya akan berkonsultasi dulu dengan dokter senior saya," pesan Gian pada Hani yang mengekor di belakangnya dalam diam.
"Baik, Pak ...," jawab Hani seraya kembali ke stasiun tempatnya bertugas. Gadis itu langsung menenggak setengah botol air mineral untuk melegakan dahaganya.
Gian kembali ke ruangannya, duduk kembali di depan kopinya yang sudah dingin. Ia menyesapnya perlahan. Sesaat kemudian Ella datang dan menutup pintu di belakangnya.
"Mungkin nggak sih, dia takut di diagnosis menderita sakit yang parah?" Ella menatap hasil test darah dan beberapa hasil pemeriksaan yang sejak kemarin ia pelajari.
"Bukannya dengan diperiksa kita bisa mencegah penyakit lain timbul? Apa yang ditakutkan? Bukannya nggak enak ya, nahan kram perut sampai pingsan begitu? Itu sakit yang levelnya tak bisa ditahan tubuh." Gian meraih satu lembar kertas berisi test darah. Sejauh ini, Lea hanya mengalami infeksi lokal, belum menyebar. Namun untuk lebih jelas Lea harus dibawa ke rumah sakit besar untuk CT Scan dan MRi.
"Wanita akan mudah down jika berurusan dengan rahim, kau tidak tahu?" Ella menatap lurus Gian yang seharusnya paham soal ini. "Tanpa rahim atau rahimnya terganggu, wanita tak akan sempurna. Dia merasa bukan wanita sejati, apalagi Lea adalah wanita sehat yang pernah merasakan hamil."
Gian jadi teringat sesuatu. "Dia membunuh anaknya kan? Aku menilai dari sifatnya yang tempramental dan mampu melakukan apa saja untuk melukai orang lain, aku yakin Lea sengaja melenyapkan bayinya saat keguguran dulu."
"Kau bilang itu kecelakaan?" Ella juga ingat saat itu.
__ADS_1
"Tak ada jejak obat-obatan, aku pikir ya, terjatuh atau bagaimana lah ...," ungkap Gian yang waktu itu tidak berpikir Lea sangat jahat dan manipulatif.
Ella membuang napas, "aku pikir ini adalah hukuman. Tapi semoga bisa disembuhkan dan dia bisa punya anak lagi."
"Aku harap juga begitu, selagi dia mendapatkan pertolongan secepatnya. Aku akan telpon Dokter Yoga dulu, siapa tahu aku bisa sedikit bantu kendala Lea." Gian mulai menggulir layar ponselnya, tanpa melepaskan lembaran hasil tes. Ia menghubungi Dokter Yoga yang biasanya punya solusi paling baik untuk kesulitan Gian.
Sementara Lea perlahan mulai bangun dan merasakan tubuhnya sangat lemas dan seringan kapas. Sesaat tadi napasnya berhenti mengaliri tubuhnya, jantungnya menggila, tubuhnya menggigil, bahkan panas tubuhnya terasa hampir mendidih.
Air matanya mulai mengalir penuh kepedihan. Ia takut kalau menderita sakit yang parah dan tak bisa disembuhkan. Ia takut sakit yang sedemikian hebat ini pada kenyataannya akan membuat dia kehilangan kesempatan punya anak lagi. Lea sungguh takut.
"Le ...," panggil Ferdi. "Sudah bangun?" Tangan Ferdi terulur untuk memeriksa panas tubuh Lea di kening. "Panasnya sudah turun."
"Tidak semua penyakit akan membawa kita pada kematian, lagian kamu akan segera diobati ... kenapa harus sampai membicarakan kematian?" Ferdi duduk dan menatap Lea lesu.
Pandangan Lea mulai kabur penuh air mata. "Kita pulang aja, Mas ... aku bisa berobat jalan kalau begitu. Dan Ibuk siapa juga yang akan menjaga kalau kamu di sini ngurusin aku?"
"Kita menunggu hasil pemeriksaan dulu, Lea ... soal Ibuk jangan khawatir. Ada bulik-bulik yang mau jaga Ibuk selama aku di sini. Makanya kamu cepat sembuh dan jangan melawan apa kata dokter." Ferdi merasa terkadang hidupnya lebih baik setelah ia menerima Lea kembali. Tetapi sekaligus menyesal, kenapa dia sangat terlambat menyadari penyakit Lea yang sejak bersamanya kerap melihat Lea sakit perut parah. Andai saja Lea mengakui sakitnya dan diperiksa sejak awal, pasti tidak akan sampai diharuskan dirujuk ke rumah sakit besar dengan rujukan pemeriksaan yang kedengarannya mengerikan.
"Maafkan aku, ya, Mas ... gara-gara aku semuanya berantakan dan kacau. Andai aku dulu nggak menyiksa anakmu, mungkin aku nggak akan kena hukuman kaya begini." Lea mulai terisak. Satu-satu dosanya mulai diakui, agar jika dia mati sewaktu-waktu ... beban dosanya bisa berkurang dengan mendapatkan ampunan.
Ferdi membuang napasnya dengan menahan nyeri. Dia tahu apa yang terjadi waktu itu sebenarnya, dan tidak bisa menyalahkan Lea. Hanya ketika masa lalu diungkit, seperti rasanya seluruh luka yang mengering disayat kembali. Urutan kejadian waktu itu terangkat naik kembali. Hal itu mengingatkannya pada Mayang.
__ADS_1
"Kita bisa melewatinya, Lea ... jangan minta maaf lagi. Aku sama bersalahnya sepertimu, bahkan sebagai lelaki aku jauh lebih banyak melakukan kesalahan ketimbang kamu. Kalau harus dihukum, itu harusnya aku ... bukan kamu."
"Mas ...," rintih Lea di sela isakannya. Kalimat itu begitu menyentuh hati Lea yang mulai rapuh dan takut.
Ferdi mengusap lengan kurus dan pucat membiru hingga berhenti pada telapak tangan Lea yang dingin. "Aku akan selalu bersamamu, Lea ... jika ini hukuman kita, aku harap kita bisa tabah menjalaninya. Atau mungkin ini jalan terang yang akan membawa kita pada hidup yang lebih baik."
Lea membawa tangan Ferdi ke pipinya, lalu memejamkan mata di bawah usapan tangan hangat itu. Sungguh Lea ingin memberikan harapan pada hati dan dirinya sendiri bahwa ini akan membawanya pada kesempatan kedua yang lebih baik.
Ini juga memberikan efek lega pada perasaan Ferdi. Sekalipun bebannya dua kali lipat dari beban sebelumnya, tetapi dengan menghadiahkan bahu untuk mengambil semua kesalahan berpindah padanya, setidaknya itu akan membuat Lea tidak memikirkan banyak hal. Biar dia fokus pada kesembuhannya. Dan dia percaya Gian akan melakukan yang terbaik juga bekerja secara profesional.
Pintu ruangan terbuka pelan, menampakkan perawat yang membawa infus baru untuk mengganti infus yang telah habis.
"Bagaimana, Bu Lea?" tanya perawat itu setelah memberikan penghormatan pada Ferdi, dan kemudian sibuk mengganti infus. Memberi jeda keduanya bersikap normal. "Masih sakit seperti tadi?"
"Sudah lebih baik, Sus ... hanya badan saya lemas." Lea berkata dengan suara parau.
"Bagus sekali ... setelah ini Ibu makan yang banyak biar tenaganya pulih. Sakit seperti itu memang menguras tenaga, Bu." Perawat itu berkata cerah dengan senyum paling ramah menghibur Lea. Ia selesai mengatur kecepatan aliran cairan infus dan siap berpamitan.
"Dokter Gian menunggu anda di ruangannya, Pak ... ada yang perlu Pak Dokter sampaikan."
"Saya akan segera kesana, Sus ...," kata Ferdi dengan ekspresi sedikit terkejut. Pikirnya mereka akan bicara di sini, bukan diruangan pribadi dokter dan empat mata. Kepercayaan Ferdi seketika menciut dan susut.
__ADS_1