Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Saya Punya Segalanya


__ADS_3

"Ini ijasah saya, saya foto ... boleh saya share di grup keluarga Putranto?" Ia meraih ponsel Djarot dan bersiap mengirimkan berkas.


Namun ia urung melakukan, ketika semua mata mengarahkan perhatiannya pada ponsel mereka. Tak terkecuali Murdyo. Ia langsung membuka grup keluarganya.


"Selain ijasah SMA, perlu akte atau berkas lain? Rekening atau foto tempat kerja saya? Siapa tau kalian begitu penasaran pada kehidupan wanita biasa seperti saya. Jelas anda semua adalah wanita hebat dan berkelas, tentu hal-hal remeh seperti makan dipinggir jalan atau membersihkan rumah adalah hal luar biasa. Sementara saya bahkan tidak ingat caranya menyapu."


Apa itu karena hidup Rully yang keras? Pikir Rustina.


Sebab ruangan ini hening, Rully tersenyum.


"Baik ... Saya kirim ijasah saya saja. Yang lain pasti tidak penting."


Djarot dengan sayang menyampirkan tangannya di pinggang Rully dalam gerakan lambat dan ringan. Yang paling meradang adalah Putri, sementara yang lain, hanya biasa saja. Toh ini hanya memanas-manasi Rully, bukan sebaliknya.


"Tunggu!" teriak Putri. "Tolong sertakan riwayat pendidikan anda." Matanya sudah menguarkan permusuhan yang kental. Sekalipun ia tahu dialah Doktor di sini. Jelas tak ada yang menyamai prestasinya.


Rully tersenyum, lalu mengirimkan beberapa foto mengenai riwayat pendidikannya. Ini sangat berguna, sebab Djarot memintanya mempersiapkan diri. Dan ini yang akan dia tunjukkan sebagai bukti absah, bukan sebuah omongan tak berdasar dan membuat mereka terus mendebat.


Denting notifikasi mulai membuat mereka menatap ponsel. Lalu berbarengan membelalakan mata.


Rully juga bergelar Sarjana, lulusan dari sebuah sekolah tata rias terkemuka. Putri masih menang di sini. Rully hanya perawan tua yang keganjenan memikat Djarot. Dia sudah peyot.


"Kenapa anda belum menikah? Pilih-pilih?" Jelas maksudnya adalah pilih-pilih pria yang paling mapan dan paling kaya.


"Untuk jodoh, saya pilih-pilih, Mbak."


"Kenapa harus Mas Lingga?"


"Dia yang memilih saya."

__ADS_1


Putri meremas ujung dress tanpa lengannya. "Kamu menggodanya!"


"Dia yang ngejar saya."


Melly melihat itu pun menjadi sangat kesal, lalu ia juga ikut menyela. "Boleh lihat tempat kerjamu?" Ia masih kalem untuk pemanasan.


Rully mengangguk. Lalu mengirim link video dari akun youtube miliknya. "Silakan dibuka."


Rully mengambil kesempatan ini untuk minum, dia sangat haus.


Melly melihat itu beberapa detik awal, lalu ia mengangkat wajahnya dari ponsel. "Tunjukkan saldomu!"


Rully tersenyum, lalu menyodorkan ponselnya sendiri yang menerakan saldonya. "Saya tidak punya sebanyak adik saya, adik ipar saya, apalagi Mas Djarot. Saya ini pemalas."


Rahang siapa yang tak jatuh kala melihat saldo di rekening Rully.


Murdyo merasa ini sudah keterlaluan, lalu ia memutuskan untuk muncul. Dengan deheman keras, ia duduk di bagian ujung meja oval ini.


Tatapan Djarot begitu lembut dan itu membuat Murdyo mengerti. Anak sulungnya jatuh cinta pada wanita yang belum sadar akan keberadaannya ini.


Diantara mereka selain kakaknya Rus, Rus, dan Murdyo, saldo sebanyak itu belum pernah mampir ke akun bank mereka. Jadi dia bekerja dibagian apa?


"Saya tidak ngantor, karena saya hanya memiliki satu salon dan akan mengembangkan klinik khusus kecantikan dengan produk saya sendiri. Saya tidak bisa masak, karena adik saya punya tiga rumah makan dan satu kafe. Saya tidak pernah membersihkan rumah, karena saya punya pembantu rumah tangga. Saya lupa cara menyapu karena sudah pakai vakum cleaner. Saya ingin memudahkan hidup saja, menghemat waktu, bekerja efisien, dan memakai tenaga dan otak saya untuk memajukan usaha saya. Untuk urusan perut dan rumah, saya serahkan pada orang yang memang terbiasa melakukan itu."


Rully menyudahi pidatonya ketika tatapannya bertemu dengan bapaknya Djarot. Ia malu sendiri akhirnya.


"Jadi kapan kalian menikah? Perlukah besok Bapak panggil Pak Penghulu kemari?"


Ucapan Murdyo membungkam semua mulut yang ada, kecuali Djarot yang tersenyum senang. "Tidak masalah, lagipula kalian yang minta saya bawa calon dan segera kasih sumbangan cucu. Jadi kenapa tidak?"

__ADS_1


Ia menatap Rully dalam, lalu mengecup kening Rully pelan. "Kamu siap, kan, Sayang?"


"Kalau itu yang terbaik, kenapa tidak?"


"Bapak apa-apaan?" Rus berdiri. Menatap suaminya dengan tatapan marah. Bisa-bisanya dia langsung usul nikah. Ini masih perlu penjajakan.


"Apa? Anak kita sudah waktunya menikah kan, Bu? Apalagi yang kita tunggu? Nunggu mereka bubar dan Lingga ndak mau nikah selamanya? Atau jadi punya orientasi yang menyimpang? Itu maunya Ibuk?" Murdyo melebih-lebihkan ucapannya agar Rus overthinking dan tidak bisa memutuskan dengan benar.


"Lingga ndak bakal kaya gitu. Ada Melly atau Putri atau Cintya, Pak... Mereka Putri keluarga terpandang, masak cuma dia yang bukan siapa-siapa?" Rus berkata menahan amarah. Tak seorangpun bersuara. Dia sendirian menentang.


"Yang mau nikah memangnya kamu, Buk? Kamu hanya perlu tutup mata kalau tidak suka, biar yang menjalani yang merasakan. Lagian menikah bukan perkara dia anak siapa, kan? Buat apa punya besan yang merepotkan dan suka merengek. Apa hebatnya wanita yang suka merendahkan wanita lain? Apalagi jelas mereka hanya mengandalkan harta dan nama orang tua. Ibuk mau memangnya punya mantu manja dan merepotkan?"


Rus terdiam, dia masih belum terima. "Pak... kali ini dengarkan Ibuk."


"Dari tadi memangnya saya ngapain kalau ndak denger Ibuk ngoceh?" Murdyo memutar tatapannya ke arah Rully dan Djarot yang tertawa.


"Kamu sudah baik dengan tidak membalas mereka dengan kata-kata kasar. Saya suka kamu, saya suka wanita yang lugas dan tidak berbelit-belit. Anak saya pasti akan bahagia sama kamu. Karirnya akan cemerlang sebab istrinya bukan wanita manja yang menyusahkan."


Rully mendadak dadanya menghangat. "Saya senang Bapak menerima saya apa adanya."


"Pasti, Nak ... Tolong jangan terpengaruh, ya ...," ujar Murdyo seraya menggenggam tangan Rully untuk menyakinkan sebagai calon mertua.


"Ish ... Bapak!" Djarot menampik tangan Murdyo, "saya aja baru pegang hari ini satu kali, masa udah Bapak pegang-pegang juga? Cukup dari tempat Bapak menilainya, jangan dekat-dekat!"


Hanya Rully yang tertawa. Yang lain hanya diam dan menundukkan wajah.


Putri jelas yang paling tidak terima, jadi ia segera berdiri dengan muka masam. "Maaf saya ada acara yang harus saya hadiri. Terlalu lama saya menghabiskan waktu berharga saya di sini."


Murdyo sama sekali tidak melihat wajah Putri. Wanita manja itu sangat tidak tahu sopan santun dan menghargai orang lain. Dia hanya anak seorang ASN biasa, jauh dibawah Murdyo yang merupakan ketua dewan perwakilan rakyat daerah.

__ADS_1


Melly juga ikut berdiri meski ia enggan meninggalkan menu makanan yang mengeluarkan bau yang sangat mengundang liur menetes. "Saya juga undur diri."


Mereka mundur teratur, membuat Rus kelabakan sendiri untuk mencegah mereka. Karena gagal, ia kembali ke kursinya seraya membeliak ke arah suami, Rully, dan juga Djarot. "Ini semua gara-gara kalian!"


__ADS_2