Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Jangan Bahas Soal Fisik


__ADS_3

Mereka sarapan seadanya. Banyak hal terlupa kala mereka asyik membicarakan soal cinta. Sampai tak ingat jika di sini tidak ada apa-apa. Gian maupun Mayang tak punya orang kepercayaan atau asisten, sehingga ketika Gian mandi, Mayang membeli sendiri beberapa menu sarapan.


"Maaf, Pak ... yang penting perut kenyang dulu," kata Mayang kala Gian menatap satu meja penuh dengan menu sarapan, mulai dari lontong pecel, gorengan, telur ceplok, nasi goreng, ayam goreng, kerupuk, dan peyek udang.


"Bapak makan kaya begini, ndak?" tanya Mayang takut-takut. "Kalau ndak, saya beli sesuai kemauan Bapak."


"Apa saya terlihat mirip alien sampe nggak makan beginian?" Gian menyeringai, ia mengisyaratkan agar Mayang mendekat—semula Mayang berada di seberang Gian.


Mayang mendekat meski ia agak ragu. Apa Gian akan memukulnya? "Ya, ndak juga. Kok Bapak lihatnya horor gitu."


Gian duduk, lalu menarik Mayang dalam pangkuannya. "Pak!" Mayang berjengit, ia siap menarik dirinya menjauhi Gian, tetapi Gian memeluk perut Mayang erat-erat.


"Kamu tadi nunggu aku mandi buat beli semua ini?" Gian berkata di punggung atas Mayang. Mayang mengangguk, memilih memendam 'kenapanya' dalam-dalam. Ada yang salahkah, jika dia yang membeli sarapan?


"Harusnya aku yang beli, kamu tinggal makan aja, besok-besok gitu, ya ... soalnya ini kesalahanku yang nggak nyiapin kebutuhan kamu untuk memasak." Gian melanjutkan.


Mayang menoleh sedikit, "harus gitu, ya, Pak?" Ia menarik pandangannya kembali ke depan. "Kan sama aja, biar cepet, lagian aku bisa kok kalau cuma beli makanan di depan."


"Harus kalau sama saya, mah." Gian menegaskan. "Kan saya ini kepala keluarga, yang memenuhi semua kebutuhan kamu, kamu hanya harus patuh sama perintahku."


Mayang membuang napas, lalu menarik dirinya untuk duduk di sebelah Gian. "Pak ...." Mayang menatap Gian kalem sambil memegang tangan suaminya itu. "Kalau patuh, saya akan patuh sekali sama Bapak, sebagai suami, tetapi kebahagiaan istri itu ya, melayani suami. Lalu diapresiasi usahanya, misal saya masak, Bapak kasih tahu saya apa kurang dan lebihnya, misal saya mau nemenin Bapak ke acara Bapak, saya harus pakai apa, pokoknya kita sama-samalah, membangun keluarga yang harmonis."


Gian tersenyum dan membalas genggaman di tangannya. "Ya, saya tau soal itu. Tapi saya hanya minta kamu tidak terlalu mandiri, selagi saya ada. Biar saya yang melakukan semuanya, dan kamu tinggal lihat dan menikmatinya."

__ADS_1


"Oke, kalau gitu, saya berhentikan pembantu saya. Tapi nanti kalau Bapak ngeluh, akan saya bales Bapak pakai kata-kata Bapak ini." Mayang menantang. Dipikir kerjaan rumah tangga itu sedikit?


"Boleh!" Gian tanpa pikir panjang menyanggupi. Halah, palingan apa? Cuma nyapu, bersih-bersih, dan nyuci. "Saya kan, laki. Saya bisa melakukan semuanya."


Bibir Mayang mencibir, lalu ia mulai bersiap membuka bungkus makanan yang ia beli. "Sekarang, Bapak sarapan dulu. Abis ini Bapak kerja lagi apa ganti shif?" Tangan Mayang tetap bekerja, sementara matanya menatap Gian. Mungkin bagus mengerjai Gian hari ini.


"Mungkin jam sembilan saya sudah pulang." Gian bergerak rajin ke meja, "kamu cuma pecel saja, nggak pake nasi atau lontong?" Gian bertanya setelah melirik bungkusan makanan Mayang yang hanya berisikan sayur dan sambel kacang.


"Nanti lontongnya disuapin Bapak."


Gian berhenti. Terdiam, terpaku. Apa-apaan itu maksudnya coba? Kan Gian kemana-mana pikirannya.


"Kamu mau—disuapin lontong?" Gian berkedip-kedip menatap Mayang.


"Kenapa lihat sayanya, begitu? Salah lagi saya?" Mayang menatap Gian yang sedang memandangnya dengan bibir terbuka.


Gian tergagap. Ia kesal sekali dengan pikirannya yang menjadi miring gara-gara Mayang. "Bukan, itu loh, kamu makannya dikit, kenapa nggak dikasih sendiri-sendiri aja. Nanti kamu nggak kenyang," kilah Gian.


"Saya takut gendut lagi," jawab Mayang enteng. "Nanti saya ditinggalin lagi."


"Nggak akan, Mai ... aku nggak seperti itu orangnya, bagiku fisik itu nomer dua, yang pertama adalah sikap dan kebaikan." Gian sudah kembali menguasai diri. Ia mulai menyantap makanannya.


Mayang meminum air putih sebelum menyahuti Gian. "Dulu, Mas Ferdi juga bilang begitu, nyatanya apa?" Perkataan Mayang terdengar serius dan penuh luka.

__ADS_1


Gian terdiam, Mayang memang bukan orang yang percaya begitu saja omongan pria. Dia sudah terlalu banyak mengenyam gombalan yang benar-benar bulshit.


"Abis ini saya langsung pulang, Pak ... anak-anak pasti sudah menunggu saya." Mayang mengemas bekas makannya, lalu beranjak tanpa mengindahkan Gian.


Gian tampak canggung menghadapi Mayang yang terkesan menghindari bahasan soal makan, gendut, dan gombalan klise. Gian harus ingat ini.


Seorang Gian pandai berkelit, sehingga dalam hitungan detik, ia sudah menemukan cara agar Mayang lupa soal tadi dan alih-alih meminta maaf yang terkesan kaku. Bergegas ia menyusul Mayang ke dapur.


"Mai ... anak-anak dan aku mau ucapin makasih atas kiriman makanan dan kopinya. Mereka senang, tapi sayangnya mereka menyangka aku yang membelinya. Setelah ini, kamu ikut aku ke ruang kerjaku buat ngenalin kamu secara formal."


Mayang memutar tubuhnya usai mencuci tangan. "Harus sekarang gitu, Pak ... saya ndak pakai bedak."


"Saya belikan dulu kalau begitu, atau mau aku panggilkan Mbak Rully biar make up in kamu," Gian menggoda Mayang.


*


*


*


*


maaf seharian nggak bisa ngetik, lagi ada acara bukber keluarga. Insya Allah, besok rutin lagi🙏

__ADS_1


__ADS_2