
"Kamu kelewat percaya diri dan sombong." Putri tidak bisa mengatakan betapa selama ini Djarot hanya menganggapnya orang lain. Dia tidak bisa sejengkal lebih dekat, atau setitik lebih intim dengan pria itu. Dihadapan semua orang, Djarot memasang tembok yang amat tinggi, dingin bagai gunung es, dan sekeras batu karang. Siapa memangnya yang diizinkan mengetahui apa isi hati pria itu?
Putri menatap Rully penuh kesombongan. Di hadapannya, pernikahan ini hanyalah pernikahan. Cinta hanya omong kosong yang dikatakan orang yang tidak tahu diri.
Rully menerima tatapan itu senang hati. Dia tahu, musuhnya belum menyerah.
"Kau tidak kenal Mas Lingga sebaik aku mengenalnya. Kamu bisa saja hanya wanita yang terlalu lelah dikatakan perawan tua, sehingga mengembat pria mana saja yang ada di depanmu. Mas Lingga mungkin hanya korban," kata Putri dengan kejam.
"Kamu sedang membanggakan berapa lama kamu kenal suamiku, dan menganggap aku menyerobotmu, begitu?" Rully memajukan badannya.
"Lebih tepatnya, kamu merebut dia dariku!"
Rully tertawa meremehkan. "Kau kenal dia hanya sejauh yang ibunya tekankan, bukan? Sejauh apa kata ibunya, tanpa kamu bisa kenal Mas Lingga-mu secara personal."
Rully tidak tahan untuk tidak melirik remeh selanjutnya. "Sayangnya, aku dan dia yang seumur jagung usia saling mengenal, dan tepat sasaran. Itu lebih baik, ketimbang bertele-tele mengambil hati orang tuanya, lalu akrab dan dianggap keluarga sendiri, tetapi si pria sama sekali tidak menganggap. Dalam kasus Mas Lingga-mu, kamu salah strategi. Dia butuh dikenali secara pribadi, soal orang tua ... Itu tergantung pintar-pintarnya kamu menghadapi situasi."
Putri mendengus marah. "Orang tua pria mu harus dihormati, kau jangan meremehkan mereka!"
"Tidak—Aku tidak meremehkan orang tua priaku. Tapi sebagai orang dewasa, sikap yang membabi buta menyukai seseorang, dan menutup mata pada orang lain itu, sangatlah tidak sopan. Dan bagiku, mudah saja menerima asal orang yang ku sayang bahagia. Bukankah itu orang tua yang baik?" Rully mencoba memberikan Putri kelapangan pikiran.
__ADS_1
"Tante Rustina hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Dan jodoh terbaik mereka pilihkan demi masa depan yang bahagia." Putri kukuh membela Rustina. Seseorang yang pasti akan mendukungnya jika kudeta ini berhasil. Setidaknya, semua orang akan memihaknya nanti.
Rully kembali mengembangkan senyumnya. "Ku pikir, pergi ke belahan dunia yang lain membuat pikiran seseorang terbuka lebar, tetapi nyatanya tidak juga, ya ... Aku baru melihatnya sekarang."
Putri mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas taplak meja yang halus dan mengkilap. Dia merasa tersindir. "Kau ...!"
Rully tidak terpengaruh dan melanjutkan. Dia mulai lelah dan mengantuk. "Tidak semua pilihan orang tua bisa membahagiakan hati anak nya, tidak semua anak dan orang tua punya keinginan yang sama. Anak sejauh apapun kamu memaksa, mereka punya hati dan pilihan sendiri, dikendalikan oleh otak dan naluri sendiri. Seharusnya, sebagai orang tua yang baik, mengikuti kemauan anak selagi tidak menentang kesopanan dan moral, tidak ada salahnya untuk menerima dan lapang dada pada apapun keputusan anak. Tidak lantas seperti ini, yang mendatangkan malu dan permusuhan di hari bahagia anaknya."
Ketika itu, Rustina berada tak jauh dari mereka berdua. Itu benar adanya. Dan Rustina terlalu angkuh untuk mengakui kalau Rully benar adanya. Dia hanya umurnya yang banyak, hanya sebutan orang tua yang tersemat, sementara pikirannya masih anak-anak, dan sama sekali tidak mampu berpikir sesuai usianya. Yang putih dan menua hanya fisiknya, jiwa mengayomi dan panutan tidak ada dalam dirinya.
"Tolong yang sopan kalau berbicara!" Putri berdiri dengan menahan air mata. Haruskah dia mulai bermain mantan yang tersakiti? Mantan apa? Mantan kesayangan ibu dari pria yang disukainya?
"Kau mempermalukan aku dan mertuamu! Jangan mengelak!" Putri benar-benar menangis. Dia tidak sempat berpikir bagaimana bermain peran yang bagus. Perhatian kadung terpatri padanya. Pada suaranya yang barusan menggelegar.
Rully mengerti. Dia hanya menyingkirkan botol minum yang masih utuh, yang hanya merupakan sinyal, betapa tidak pentingnya obrolan dengan wanita muda labil di depannya ini.
Rully tertawa kecil. Dia sama sekali tidak memperhatikan sekeliling, termasuk Djarot yang sedang minum kopi dan merokok di bagian pinggir pojok ruangan, bersama rekan yang baru bergabung dengan firma hukumnya. Tak kurang lima orang di sekeliling Djarot terus menunjuk Rully dan memandang Djarot bergantian. Mereka gagap dan terus mengatakan; i-itu, i-itu, secara berulang.
"Ya, dia calon bos kita. Secara resmi, dia akan memerintah kita mulai besok." Djarot tak bisa menyembunyikan senyum bangganya. Melihat ini, rasanya penantian bertahun-tahun akan seorang wanita yang pas mendampinginya, tidak sia-sia. Rully amat sangat pantas menerima gelar kehormatan menjadi pendamping satu-satunya dalam hidup seorang Djarot.
__ADS_1
"Wah, aku tidak tahu kalau direkrut oleh bawahan saja! Ku pikir kamu bosnya, ternyata kamu tidak lebih dari seorang budak cinta," komentar salah seorang temannya saat melihat raut berseri pria kaku ini.
"Dia menanti dari bayi untuk bisa dapat yang seperti itu. Dia bermeditasi dan menyepuh kemuliaan di gunung yang tak tersentuh untuk dapat wanita sehebat dia." Salah seorang rekan Djarot menyimpulkan. Dia teramat kagum.
Djarot terkekeh seraya menjentikkan abu rokoknya. "Dia membuatku pusing setiap waktu."
"Pusing karena lupa bagaimana cara pakai celana ... hahahaha!" sahut temannya.
Djarot terkekeh, seraya menghisap dengan kejam rokok di sela jemarinya. Dia sudah tidak tahan kembali ke kamar dan menggagahi wanita itu. Sesuatu mulai hidup di sana. Sial!
Sebagai pelampiasan, ia menatap Rully yang masih berdebat dengan Putri. Dia sangat panas.
Kata-kata Rully selanjutnya sungguh membuat siapapun yang mendengarnya malu dan memilih menunduk.
"Sebelum aku membuat mereka malu, mereka yang mempermalukan diri sendiri, Putri. Aku pikir, aku sudah melakukan pendekatan dan berinisiatif mendatangi mereka, tapi kamu harus paham, tidak baik meletakkan impian terlalu tinggi, kadang realita itu sangat kejam dan membuatmu kehilangan pikiran. Ini saja harusnya membuatmu berpikir, sebaik apapun usahamu, sekeras apapun kamu menaruh kegigihananmu, tapi kau kalah pada kenyataan. Realita bahwa, akulah yang Lingga-mu pilih. Akulah yang memenangkan hati dan raganya. Akulah pemenang yang kau anggap tidak layak itu, Putri. Kau yang tidak kenal Lingga-mu, kau tidak kenal aku dan bagaimana usahaku mendapatkan dia. Atau setidaknya, aku tidak melihat bagaimana usahamu, untuk memenangkan hatinya. Kau hanya sibuk memenangkan hati calon ibu mertuamu, yang sayangnya itu tidak berguna sama sekali. Karena bukan dengan mereka kau akan hidup, tetapi dengan pria yang kau abaikan pendekatannya. Kau salah strategi jika begitu, Lingga-mu butuh dimengerti secara pribadi, bukan melalui orang lain yang sama sekali tidak memahami."
Putri belum pernah mendapatkan malu sebesar ini. Di mata Rully, dia tak lebih hanya sebuah olok-olok. Padahal, dia sudah menampilkan yang terbaik, sisi paling pintar yang mampu ia tunjukkan, sisi paling ditakuti oleh semua wanita yang pernah bersaing mendapatkan cinta Djarot. Sayang bagi Rully, semua itu hanya debu dan tidak akan mampu menggulingkannya dari sisi Djarot. Cinta sebesar apa yang dimiliki wanita itu pada Lingga-nya?
Putri baru menyadari. Mengenal lama bukan jaminan untuk bisa memiliki, mencintai selama apapun, kalau hanya sendirian itu tidak akan pernah bisa sampai. Djarot mendatanginya, bertemu dengannya, bukan karena keinginan atau bahkan perasaan cintanya, melainkan karena dorongan orang lain. Dirinyalah yang selama ini terlalu percaya diri dan angkuh. Menggunakan kedekatan dengan orang paling dekat sebagai senjata menghalau musuhnya. Sayang, semua itu mental sekarang.
__ADS_1
Putri mundur dengan wajah tertunduk dan merah padam. Kini dia berlari keluar dengan air mata kekalahan. Sungguh pilihan buruk saat memutuskan datang kemari dan berniat memperjuangkan. Dia sangat terlambat. Bahkan Lingga-nya tidak melirik dia sama sekali. Saat ini pun, saat dia sedang dalam kondisi terburuk dalam hidupnya.