Balas Dendam Istri Gendut

Balas Dendam Istri Gendut
Soal Wali Nikah


__ADS_3

Menjelang siang, Mayang baru pulang dari Tiga Dara untuk memeriksa barang yang datang seperti biasa. Kini dia duduk di kantornya bersama dua orang karyawannya yang sedang sibuk bekerja. Mata Mayang terpaku pada layar komputer tanpa tahu apa yang sedang di bacanya. Hanya ada wajah Gian di sana. Seliwaran bersama obrolan dua orang di depannya ini.


"Kasbon banyak euy, hari ini ...," celetuk Nika. Ketukan jemari tangan wanita itu begitu berisik beradu dengan keybord.


"Maklumi lah, mereka butuhnya banyak dan mungkin mendadak. Masih untung disini, Bu Mayang gaji mereka setara UMR, kalau enggak, mereka pasti amsyong." Yeni menimpali.


"Cicilan motor, uang sekolah anak—eh, tapi uang sekolah bukannya gratis, ya? Bener, nggak, sih, Yen?" Nika menatap Yeni melalui atas layar laptopnya.


Yeni mengangkat wajahnya. "Mana aku tau, Nika ... aku masih gadis kok, ditanya soal anak, ya, nggak pahamlah!" Sedikit nyolot Yeni menjawab.


"Maksudnya aku, tuh ...." Nika menghentikan ketikannya, lalu menatap Yeni secara penuh. "... adik kamu kan sekolah, jadi kamu tau sedikit banyaklah, soal anak sekolah."


"Dia selalu bayar, kan sekolah swasta. Kalau negri nggak tahu." Yeni kembali menghadapi pekerjaannya. Namun sebelum itu ia mengerling sejenak ke arah Mayang. Sebenarnya, Yeni ingin memberitahu Mayang sesuatu.


"Sst ...!" Yeni menggeser tubunya ke samping laptop yang sudah dimiringkan sehingga menutupi wajahnya.


Nika terkejut langsung menatap Yeni, ia paham isyarat Yeni, sehingga ia merendahkan kepalanya seketika.


"Bu Bos kenapa senyum-senyum kaya gitu?" Yeni berbisik rendah. Matanya bergerak-gerak ke samping, ke arah Mayang duduk dan melamun dengan tangan menopang dagu.


Nika melongok ke arah Mayang, lalu menggeleng. "Gara-gara orang yang dia ceritakan kemarin kali, Yen ... nggak biasanya Bu Bos bahas orang lain saat sama kita," kata Nika sambil berbisik.


"Jadi Bu Bos jatuh cinta beneran?" Yeni mencoba menyimpulkan.


"Kurasa begitu ...."


Mereka berdua kembali tegak, melanjutkan pekerjaan usai bergibah singkat.


"Tapi aku mau mengatakan sesuatu ...." Yeni melambaikan tangan pada Nika, bibirnya bergerak mengeluarkan suara lirih.


"Ngomong aja ...." Nika menyilakan.


Yeni membeliak, "bantuin!" pintanya. Nika langsung mengulurkan tangannya ke arah Mayang, menyilakan Yeni bicara.

__ADS_1


"Bu May ...." Yeni memanggil, namun tak ditanggapi Mayang.


Pikiran wanita itu masih terpaku pada ucapan Gian tadi pagi.


"Saya ndak bisa nerima Bapak," jawab Mayang tadi pagi.


"Nggak apa-apa, Bu Mai, silakan Bu Mai menyembuhkan diri dari rasa trauma Bu Mai. Tapi saya harap, Bu Mai nggak menyuruh saya berhenti mendekati Bu Mai, saya akan bantu Bu Mai menilai pria dari cara lain. Saya akan menyembuhkan trauma Bu Mai dengan cara lain. Pria nggak semuanya jahat dan egois seperti mantan Bu Mai. Jika boleh saya sombong, saya punya semuanya yang mantan suami Bu Mai nggak punya. Dan saya nggak kasar sama wanita, meski wanita itu menyakiti saya. Saya memang galak dan kasar berkata-kata, tapi tidak dengan tindakan saya."


Bukan itu sebenarnya yang Mayang pikirkan. Tapi kakaknya. Rully jarang suka sama pria sampai sebegitunya. Sampai marah dan menegurnya. Rully juga berhak bahagia dengan pria yang disukainya. Tapi Gian jelas mengatakan kalau hanya dia yang dicintai Gian. Hati Mayang memang tersentuh. Gian memang beda. Dari caranya masuk ke hidup Mayang, menghiasi pikiran Mayang, dan caranya berterus terang. Mayang suka pria yang seperti itu. Mayang suka cara Gian mengejarnya, yang tidak memaksanya untuk menjawab iya. Gian hanya minta, Mayang menjadikannya pilihan terakhir. Itu susah bagi pria yang rata-rata selalu ingin dinomorsatukan. Gian tipe pria ikhlas tetapi tidak mau menyerah. Ia yakin Gian akan punya cara untuk mengejutkannya.


"Hah!"


"Astagfirullah!" teriak Nika dan Yeni yang menyerah memanggil Mayang dan kembali menghadapi pekerjaannya dengan tekun. Mereka terkejut bukan main, mendengar Mayang membuang napas keras-keras.


Mayang mengerutkan kening kala menatap mereka satu persatu secara bergantian. "Ada apa?"


"Ibuk membuat kami takut," jawab mereka serempak.


"Memangnya saya kenapa?" balas Mayang balik bertanya.


"Siapa?" Mayang bertanya-tanya. Namun, belum sempat Mayang mendapat jawaban, pembantu di rumah Mayang masuk.


"Buk, ada yang nyari di depan," lapor pembantu itu.


"Siapa, Mbak?" Mayang bangkit.


"Ndak tau, Buk ... katanya ada perlu sama Ibuk."


Mayang mengangguk lalu memilih mengikuti pembantunya ke depan. Lebih baik dia sendiri yang segera menemui daripada penasaran. Sungguh ia takut itu ulah Lea.


"Buk Mayang." Pria berusia sekitar lima puluh tahunan itu berdiri dan mendekati Mayang.


"Ada perlu apa, ya, Pak?" Mayang mengenali pria berwajah pucat itu sebagai tetangganya sewaktu Mayang masih serumah dengan ibunya.

__ADS_1


"Saya langsung aja, ya, Buk. Jadi saya butuh uang buat operasi anak saya, lima puluh juta, sebagai jaminan, saya tinggal mobil pick up saya di sini," ungkap Puji sedikit menundukkan tubuhnya. "Saya sudah bawa surat kendaraannya, Bu."


Tangan pria itu terulur untuk menyerahkan surat kendaraan yang sedari tadi dipegangnya.


"Saya akan ganti setelah anak saya sembuh, Buk ... saya janji nggak akan lama."


Mayang masih terkejut dengan semua itu, namun dia segera paham kalau pria itu memang sangat butuh bantuan. Segera Mayang melihat mobil di depan, dan memberikan uang yang seharusnya di setor ke bank.


"Saya percaya sama Bapak, semoga anak Bapak cepat sembuh." Mayang menyerahkan uang di tas kecil kepada pria bernama Puji itu setelah memastika bahwa mobil itu memang milik Puji.


"Makasih, Bu Mayang, kalau saya nggak bisa bayar, mobil itu jadi milik Bu Mayang," kata Puji seraya membungkukkan badan sebagai ucapan terimakasih.


"Sama-sama, Pak ...." Mayang menyalami pria itu dan mengantarkannya sampai ke pintu depan. Mayang baru saja berpikir untuk membeli mobil untuk pesan antar jarak jauh dan porsi banyak. Namun dengan adanya mobil ini, dia terbantu sangat banyak. Setidaknya, dia bisa memperkirakan untung rugi melakukan delivery service.


"Mobil baru, May?" Hadyan seperti biasa mengunjungi Mayang di jam-jam seperti ini.


"Oh, Pak ...." Mayang bergegas menyambut tamu hariannya ini. "Ndak kok, itu mobil milik orang yang digadaikan sama saya, Pak."


Hadyan manggut-manggut, lalu mengamati mobil yang masih tampak baru. "Masih bagus ini, May ... kamu gadai berapa? Kalau tujuh lima, Bapak juga mau."


"Lima puluh, Pak ...."


"Wah, keren itu." Hadyan tampak hanya mencari-cari topik obrolan. Terlihat pria itu sungkan untuk menanyakan sesuatu.


"Adik bapak kamu tinggal dimana, Yang?" cetus Hadyan tiba-tiba.


Mayang mengerutkan kening. "Memangnya ada apa, Pak? Apa hubungan mobil sama Paklik?"


Astaga, ndak bapak ndak anak anehnya sama, batin Mayang. Kalau ngomong suka ndak nyambung.


*


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2