
Kamar sudah gelap kala Ferdi melongok ke dalam, onggokan selimut tampak bergerak teratur. Pikirnya Mayang sudah tidur, atau dia juga perlu waspada, jika saja apa yang Lea katak itu benar. Ferdi mengendap masuk, matanya bergerak liar mencari tas yang biasa digunakan Mayang.
Tas hitam cukup besar itu berada di kursi meja rias, dua langkah kaki Ferdi jaraknya dari ranjang. Hati-hati sekali Ferdi mengambil tas yang sudah mengaga lebar menampakkan isi di dalamnya. Hanya terdiri dari satu bagian kantung, dan saku kecil di depan, tas itu tampak kosong melompong. Hanya ada tablet yang tampaknya baru, ponsel mahal Mayang yang sepi, kartu post-it, perhiasan harian Mayang yang tak seberapa harganya, dan satu bendel nota, mungkin itu belum sempat Mayang lihat jadi dibawa pulang untuk dipelajari. Aneh dan perhitungan sekali dia sama kenaikan harga bahan masakan, toh untungnya banyak, jadi buat apa repot-repot dihitung detai.
"Tidak mungkin, kan, Mayang sampai melakukan apa yang dituduhkan Lea? Wanita ini kan meski marah dan kesel cuma di bibir saja. Dibujuk dikit, disenyumin pasti sudah meleleh," batin Ferdi dengan bibir melukis senyum sinis. Tangannya kembali bergerilya, menyusuri rak penyimpanan gantung, laci, dan bawah lipatan baju.
"Mas sudah pulang!" Lampu kamar menyala terang, membuat Ferdi melebarkan matanya meski sakit karena silau.
"Astaganaga!" Mulut Ferdi bergumam. Terkejut sampai ia mundur dalam gerakan melompat. "Yang ... ka-kamu bangun?"
Mayang menikmati wajah suaminya itu dengan senyum manisnya. "Mas berharap aku ndak bangun?"
"Ya-ya, bukan ... tapi aku terkejut saja! Pa-padahal aku sudah hati-hati agar tidak bangunin kamu." Ferdi meliarkan gerak bola matanya. Bingung mencari alasan yag pas.
Mayang bangkit dan mendekati suaminya itu, "ada-ada saja, Mas, tingkahmu ini." Ia meraih handuk dan menekankannya di dada Ferdi. "Untung ndak aku gebuk, karena aku pikir kamu maling--mandi sana."
Ferdi menahan napas selama Mayang di sekitarnya, baginya sikap Mayang yang santai ini malah agak menakutkan. Bahkan rasa dingin yang tidak ada kaitannya dengan udara malam seolah menusuk sampai ke hatinya. Ketika mendapat perintah menghela napas bebas lagi, Ferdi segera mengangguk dan melesat pergi. Namun tidak sebelum telinganya jelas mendengar perkataan Mayang yang cukup ambigu.
"Terkejutnya udah mirip maling ... memangnya dia mau nyuri apa dikamar sendiri? Atau memang sedang nyembunyiin sesuatu. Aneh!"
__ADS_1
Ferdi menutup pintu kamar mandi dan mengguyur badannya buru-buru, gerah sekali rasanya tadi. Mungkin tindakannya yang membuat Mayang mulai berpikir dan sadar. Jadi mungkin dia perlu terbuka agar Mayang makin percaya. Ponsel sudah diserahkan pengaturannya, Ferdi juga tidak membatasi Mayang menggunakannya. Akan tetapi, dia memang sudah mewanti-wanti pada Lea, jangan sampai menghubungi dirinya selama di rumah, kecuali alasan pekerjaan. Atau mungkin, Mayang sudah tahu tapi pura-pura tak tahu? Rekeningnya? Mungkinkah Mayang sudah tahu? Mayang menggeledah tasnya juga?
Ferdi setengah jalan menyabun badannya, menarik handuk, dan keluar kamar mandi tergesa-gesa. Bak melihat setan di kamar mandi, Ferdi terengah, matanya langsung jatuh pada tas yang masih anteng di tempat semula.
"Kenapa, Mas?" Mayang di atas tempat tidur, memandangi suaminya dengan tawa tertahan. Rambut penuh busa sampo, badannya penuh sabun, tangannya memegangi handuk, dan matanya mengerjap-ngerjap keperihan. Sebegitunya, ya, Bapack ....
Ferdi kelabakan, maju salah karena malah menunjukkan apa yang dikhawatirkan, kembali ke kamar mandi juga menanggung malu. Uh, sial! "Anu-itu ... aku tadi beli sampo baru, tapi entahlah, apa aku lupa naruhnya dimana," jawab Ferdi asal. Salah tingkah ia mengadapi senyum Mayang yang tampak memaklumi.
"Lupa naruhnya di rumah mana? Emang Mas punya uang buat beli sampo? Aku suruh beliin bakso sepuluh ribu di perempatan aja Mas bilang uangnya abis, kok, sampe beli sampo yang puluhan ribu harganya. Memangnya beli sampo rencengan?" cibir Mayang sarat gurauan.
Ferdi meringis tak jelas, antara ngilu, marah, terhina, malu, salah tingkah, dan juga gemas. Wajah polos Mayang agak beda malam ini. Apa karena udah lama tidak menggoyang wanita itu.
"Slamet, dia ngga curiga!" Ferdi mengusap wajahnya, lalu melanjutkan mandinya yang tertunda.
Bergegas Ferdi menyelesaikan mandinya, lalu menidurkan Mayang lebih cepat dan lebih lelap. Hantaman nikmat darinya biasanya manjur meski tidak selama saat bersama Lea. Ah, Lea ....
"Cepet banget mandinya, Mas? Takut samponya aku ambil? Ndak ada sampo di sana, kok! Mas boong ya?" Mayang kembali mengerjai suaminya. sampai pria yang berbalut handuk itu memerah wajahnya.
"Sampo terus yang dibahas," tukas Ferdi sewot, "seneng-seneng aja, yuk ... mumpung masih seger." Ferdi membuka handuknya, di sana tampak lemas. Alis Ferdi naik turun menggoda. "Lemes, Yang ... belum di semangatin ayangnya."
__ADS_1
Mayang mendelik jijik, melirik sekilas lalu pura-pura kecewa, "Aku halangan, Mas!"
Dalam batin Mayang muntah empedu, jijik, dan muak. Suruh semangati ayang Lea aja sana, aku sih, no, ya!
"Yah ... jadi kapan, dong? Penuh loh, ini ... udah beberapa hari, Yang."
"Jepitin pintu!" seru Mayang seraya menjatuhkan diri dan menutupi kepalanya.
"Yang ...," rengek Ferdi.
Namun, Mayang yakin dia hanya pura-pura merengek. Tadi sore udah beronde-ronde, sekarang dia bagian sisanya? Yang bener bae?
*
*
*
*
__ADS_1
Udah 4 bab, ya ... sekarang mau bocans dulu.