
"Kalian berdua telah menghasut anak saya! Kamu!" Telunjuk Anggi menunjuk Mayang. "Membuat saya malu dan terhina di sini! Apa yang kamu bisikkan pada Qila, ha?"
Mayang menghela napas. "Aku malah belum sempat bilang apa-apa, Mbak! Aku hanya bilang pada Qila untuk jujur, bukan menghasutnya. Lagian kalau mau nyembuyiin kenyataan, orang-orang dekat juga dibungkam, biar ndak kaya ember bocor mulutnya."
Anggi merangsek ke depan untuk menekan Mayang. Namun Gian segera menariknya kuat-kuat hingga Anggi terhuyung mundur. "Nggi, selagi aku masih bisa nahan diri, kamu sebaiknya pergi. Aku tidak tahu gimana akan bawa kamu keluar dari sini jika kamu terus bikin kerusuhan di sini!"
Rully yang sejak tadi memang duduk di bawah pelaminan, matanya sibuk mengawasi pintu masuk karena mengharapkan kedatangan seseorang, datang dan membantu Mayang. Pun Hadyan yang sedang berbincang dengan tamu di area prasmanan. Kedua orang itu sigap melindungi Mayang.
Anggi tampaknya masih tidak terima dengan perlakuan ini sehingga dia masih bergeming dengan wajah yang tegang.
"Udah Nggi, kita pulang!" Asih menahan malu saat menarik tangan Anggi. "Qila, ikut Nenek pulang, Sayang. Jangan merepotkan Tante dan Om Gian, ya ...," bujuk Asih lembut.
"Nenek janji akan melindungi Qila dari Mama." Asih akhirnya melepaskan kata yang selama ini belum pernah ia ucapkan untuk Qila. Ia terlalu takut pada Anggi, sehingga ia membiarkan Anggi mencuci otak Qila, membuat Qila tertekan dan takut. Kini Asih bertekat melindungi Qila dari tekanan Anggi.
Qila ragu-ragu turun dari kursi pelaminan. Matanya terlihat enggan mengikuti perintah neneknya itu.
"Qila ...." Mayang akhirnya angkat bicara menyikapi ketakutan gadis itu. "Qila harus jadi anak yang berani. Harus jadi gadis yang kuat yang bisa melindungi diri sendiri. Akan ada nenek yang akan jaga Qila nanti, ya ... Qila tetap boleh main sama Tante dan Om Gian, kok. Sekarang Qila pulang, ya."
__ADS_1
Qila akhirnya turun dan menyalami Gian juga Mayang. Gadis kecil itu turun digendong neneknya, sementara Anggi berjalan di depan Asih. Ibu Anggi itu terus saja mendorong tubuh Anggi seolah Anggi itu anak yang nakal dan tidak menurut padanya.
"Maaf atas kejadian yang kurang mengenakkan tadi." Gian membungkuk kepada semua orang yang masih terpaku pada adegan yang mulai jelas mereka pahami.
Resepsi berlanjut, mereka tampak tidak terganggu, seolah kejadian tadi tak pernah terjadi di acara ini.
Sementara, Asih diluar langsung menampar Anggi kuat-kuat, sampai Anggi jatuh ke trotoar.
"Kamu gila ya, Nggi? Apa otakmu itu ndak mikir gimana pikiran orang terhadap kamu? Untuk apa kamu ngelakuin ini, ha? Kamu marah Gian dapat pengganti kamu yang jauh lebih baik dari kamu?"
Mata Asih berkilat-kilat marah menatap Anggi yang masih tersungkur. "Itu karena kamu yang bodoh! Itu semua kamu yang ndak ada otak dan sombong waktu minta cerai sama Gian. Kamu yang jadi wanita itu matre dan mau enaknya saja. Kamu pikir kamu itu siapa? Mencampakkan Gian seperti kamu ini putri saja. Ndak sadar kalau kamu itu hanya rumput yang dipungut Gian!"
"Kalau salah ngapain di bela? Jelas disini kamu yang kurang ajar, Nggi. Dan kalau kamu ndak bikin ulah, pasti sekarang Ibuk masih bekerja! Sekarangpun, Ibuk ndak mau lagi kamu kasih makan dari uang hasil nikung suami orang itu. Haram, Nggi kasih makan anak dari uang ndak berkah! Banyak mengandung sumpah dan tulah!"
Asih langsung pergi dari depan Anggi ke taksi yang ia pesan tadi, dengan Qila di dalamnya. Ia tak mau Qila melihatnya memaki Anggi. Tanpa peduli lagi pada Anggi, Asih meninggalkan halaman gedung resepsi Gian. Perasaannya lega, setidaknya, kini ia bisa melangkah untuk membesarkan dan mendidik Qila dengan baik, agar dia tidak menjadi seperti Anggi.
Sementara Anggi hanya bisa menggeram kesal. Dia tidak terima dicampakkan dengan begitu hina oleh Gian. Dipermalukan sedemikian hebat dimuka umum. "Sial mereka berdua," umpat Anggi seraya menyurai rambutnya ke belakang. Langkahnya terayun kembali ke dalam ruangan dimana ia meninggalkan barang-barangnya.
__ADS_1
Namun, belum sampai kaki Anggi menyentuh lobi gedung, langkahnya terhenti oleh teguran pemilik band yang memakai jasanya kali ini.
"Mbak Anggi!" Pria berbadan tambun itu mendekati Anggi dengan tatapan tak ramah. Di belakang pria itu ada seorang teman Anggi yang mengulurkan tas dan perlengkapan milik Anggi.
"Ini pertama dan terakhir kali saya make jasa Mbak Anggi. Makasih udah buat performa band saya jatuh seketika. Saya pikir, dengan Mbak Anggi memaksakan diri ikut dalam rombongan saya, akan menjadi daya tarik tersendiri, tetapi ternyata saya salah. Saya baru sadar, ternyata nama Mbak Anggi tenar karena sokongan tangan Pak Mardian. Bukan karena Mbak Anggi ini kualitasnya bagus." Pria itu terlihat tenang, tapi sungguh menyakitkan kata-katanya.
Lantas ia menarik sebuah amplop dari kantungnya. "Saya rasa ini lebih dari cukup untuk mengganti bedak sama buat bayar londrian baju. Setelah ini jangan pernah coba hubungi saya, Mbak! Saya tidak mau kerja bareng lagi sama kamu."
Pria pemilik band itu meninggalkan Anggi usai menyerahkan honor Anggi, bahkan ia tak memberikan Anggi kesempatan memberikan pembelaan diri. Bagi pria itu, bussiness is bussiness, harus pro, urusan personal tidak boleh terlibat di dalamnya.
Anggi kembali menghentakkan kakinya kuat-kuat, matanya mengeras menahan air mata. Karir yang susah payah diusahakan runtuh begitu saja. "Aargh ...!"
"Oh, jadi kamu simpanan suami saya?!"
*
*
__ADS_1
*