
Mayang tersenyum kala memandangi satu unit mobil seharga tiga ratus juta ada di depannya. Inilah yang Mayang bicarakan kemarin melalui sambungan telepon. Siapa pula yang bilang mau beli Arumndalu? Halu pasti orang itu. Hadyan pasti sudah hilang akal jika menjual Arumndalu.
"Mas Ferdi, Mas Ferdi ... kenapa kamu ndak cek kebenarannya dulu, sih? Main iya-iya aja pula? Apa dia ndak mikir aku bakal curiga dari mana dia dapat uang sebanyak itu?" Mayang mengelus pintu mobil yang sebentar lagi akan membawanya membelah jalanan kota.
Mayang sementara waktu memang menjadikan rumah Rully untuk menyimpan semua hartanya. Mobil ini juga, sampai saat dimana surat cerai ada ditangannya. Sampai semua kekayaannya kembali.
Ponsel Mayang berdering, tanpa memandang, Mayang segera meraih ponsel yang ada ditasnya itu dan menjawabnya.
"Yang, gimana?"
Mayang tersenyum sinis, "ya, gimana, Mas ... kan kurang dua ratus, jadi aku belum bisa ke sana—"
"Aku usahakan dulu, ya, Yang ...."
Mayang terkekeh geli seraya memandangi ponsel. Ferdi memutuskan panggilan teleponnya cepat-cepat. "Kosongkan semua simpananmu, Mas ... kalau Lea mau menjandakan aku dalam lima hari, aku akan mendudakanmu dalam dua hari, dan memiskinkan kalian berdua secepatnya," janji Mayang.
Kemarin dia mendengar semuanya. Usai bertemu Hadyan guna meminta bantuan soal gosip Arumndalu, Mayang pulang tepat ketika Lea merayu Ferdi.
Semua itu tidak lagi menjadi masalah. Mayang sudah tidak punya rasa pada suaminya tersebut.
Belum sempat Mayang beranjak, Ferdi sudah mengiriminya pesan.
"Yang, uangnya tunai, kamu mau aku antar ke Arumndalu sekarang? Kita bisa ketemu di sana. Mas otewe."
Mayang menaikkan alisnya, "cepet banget." Kemudian Mayang mengirimkan iya-nya, tak kalah cepat. Lantas tanpa berpikir lagi, dia segera melajukan motornya, niatnya untuk test drive gagal total.
Jarak yang cukup jauh, membuat Ferdi sudah sampai lebih dulu ketimbang Mayang. Ferdi tampak berbincang akrab dengan Hadyan saat Mayang sampai di sana.
"Yang ...," panggil Ferdi cerah. Kentara sekali betapa norak suaminya itu kala memanggilnya.
__ADS_1
Mayang hanya tersenyum dan mendatangi tempat duduk mereka.
"Maaf, saya tadi lama." Mayang duduk setelah bersalaman dengan Hadyan.
"Minum dulu, Nak Mayang ...," tawar Hadyan murah hati. Akan tetapi langsung dipotong oleh Ferdi cepat-cepat.
"E ... sebaiknya kita mulai transaksinya. Saya sudah tidak sabar untuk memiliki tempat ini!"
Mayang dan Hadyan menatap Ferdi dengan pandangan heran. Sementara Ferdi yang menyadari ucapannya salah, segera meralatnya buru-buru.
"Maksud saya, saya harus kembali ke kantor."
"Transaksi milyaran itu ndak bisa dilakukan grasa-grusu, Mas ... jangan bandingin sama beli kangkung." Hadyan menyindir sebenarnya, tetapi ia mengemasnya dengan baik seolah itu adalah sebuah nasehat yang membuat Ferdi tersenyum dan manggut-manggut.
"Saya memang masih awam soal transaksi besar, baru setelah saya menikah dengan Mayang, saya bisa berbisnis. Dan membeli Arumndalu ini tujuannya adalah untuk belajar bisnis, Pak ...." Ferdi mulai membual—Mayang menarik bola matanya ke atas.
Hadyan tersenyum, lalu menaikkan kedua tangannya hingga saalin bertaut di depan mulut. Mungkin Hadyan sedang menahan tawa.
"Jadi sebaiknya kita mulai saja, sekarang?" Ferdi beneran tak sabar. Menatap Hadyan dan Mayang bergantian
"Mas ...," kata Mayang karena Hadyan tak juga menjawab. Ferdi menoleh dan memudarkan senyum kemenangannya.
"Pak Hadyan, kami minta waktunya sebentar." Anggukan dari Hadyan membuat Mayang segera menyeret Ferdi ke sudut lain tempat ini.
"Kita harus pakai notaris, harus disaksikan oleh saksi dari kedua belah pihak, harus ada hitam diatas putih, Mas mau lima ratus jutamu ilang begitu saja?" kata Mayang setelah mereka jauh dari jangkauan Hadyan. Sekilas, ia melihat dimana tas berisi uang dua ratus juta berada.
"Jadi kapan?" Ferdi mulai kesal.
"Nanti, kalau Pak Hadyan sudah siap dengan semuanya, kita akan bicara di waktu dan tempat yang privat, ndak kebuka dan banyak orang begini!"
__ADS_1
Ferdi sedikit bingung, pikirnya hari ini mereka akan tanda tangan surat jual beli, tetapi ternyata belum. Dia tahu soal transaksi jual beli, tapi untuk yang nominalnya fantastis, dia belum pernah sama sekali. Jujur saja dia takut kalau ditipu. Ini saja dia harus ribet mengantar Lea ke bank untuk menyelamatkan uangnya. Beruntung, bank percaya jika buku rekeningnya hilang.
"Mas bisa bawa uang itu kalau ndak percaya padaku. Uang Mas masih aku simpan dengan aman, jika yang ini mau Mas pegang, ya, silakan. Tidak masalah sama sekali."
"Tapi, tadi kamu bilang belum bisa kesini karena uangnya belum cukup, lalu sekarang?" protes Ferdi.
Mayang kini kesal sungguhan dengan suaminya itu. "Tadi siapa yang buru-buru matikan telepon? Yang ndak mau denger penjelasan aku selanjutnya, siapa?"
Ferdi tertohok dan malu, Mayang benar. Dia habis bertengkar dengan Lea akan uang dua ratus juta itu, sehingga dia tak lagi punya waktu untuk berpikir. Ya, memang dia punya—uang sebanyak itu, tapi sama yang ada di rekening Lea. Beruntung, Mayang yang bodoh ini tidak memblokir rekening Lea. Jadi Lea tetap bisa mengambil uangnya.
"Paham sekarang?" Mayang menekankan kata-katanya.
Ferdi mengangguk lalu berkata, "uangnya kamu aja yang bawa. Pasti akan banyak yang curiga jika aku yang bawa, Yang."
"Oke ...." Mayang mengisyaratkan agar segera kembali ke meja Hadyan lagi. Ferdi menurut patuh pada apa yang dikatakan Mayang. Dia hilang logika, yang penting Arumndalu ada di tangannya dalam waktu dekat. Mimpi jadi nyata, batin Ferdi.
"Pak ... karena saya buru-buru, semua saya serahkan pada istri saya. Kapanpun anda siap, saya juga siap," pamit Ferdi kala sudah berdiri di depan Hadyan.
Hadyan manggut-manggut dan mempersilakan Ferdi jika ingin pergi. "Senang ketemu sama anak muda yang bersemangat dan enerjik seperti kamu, Nak." Hadyan menepuk pundak Ferdi lalu dengan ramah mengantarkan Ferdi sampai ke mobilnya.
*
*
*
*
Anggap Mayang dah pinter nyetir, ya, gengs😄
__ADS_1