
Pagi itu, Rully berjalan gontai saat pergi mandi. Kantung mata wanita itu terlihat menggantung hitam, matanya setengah terbuka, dan rambutnya berantakan.
Bukan karena perbuatan Djarot melainkan ulah empat bayi Mayang yang tidak mau tidur malam tadi. Bima, Bian, Bhiwa, dan Bryna sama sekali tidak mau diturunkan dari gendongan.
Jika salah satu menangis, yang lain ikut menangis. Gian bahkan sampai bingung menghadapi bayinya. Meski pada akhirnya mereka diam, tetapi tidak bisa ditidurkan di ranjang.
Djarot terkekeh, lalu membopong Rully dan membantunya mandi.
"Mas, aku lelah. Aku pengen tidur saja seharian ini." Rully bersuara pelan dan tidak jelas. "Bayi kok begitu, ya ... kadang anteng, kadang pulas, sekalinya nangis, rewel bikin semua orang kalang kabut."
"Jadi masih ingin punya bayi cepat-cepat?" Djarot menyiram rambut Rully yang sudah penuh busa sampo. Memijatnya pelan agar istri tercintanya kembali segar. Jika sudah segar, tentu dia yang akan kesenangan.
Mata Rully terbuka lebar. "Aku udah tua, Mas ... sekarang atau nanti nggak ada bedanya. Paling tidak punya dua dulu."
Djarot tertawa tanpa suara. "Satu saja dulu, kalau kamu tahan, nanti aku tambah lagi ...."
Djarot ganti membasuh badan Rully dan menyabuninya. Tentu dia senang bagian ini. "... selusin."
Rully mengerucutkan bibir. "kaya beli donat aja, Mas ... selusin."
"Bukannya mudah kalau untuk aku dan kamu? Abis lahiran hamil lagi kan bisa?" Djarot tidak tahan untuk memberikan tekanan di dada Rully yang kini sedikit mengembang. Ujungnya mencuat kencang. Warnanya jauh lebih cerah.
Rully melenguh pelan. "Mas aku lemes banget, jangan sentuh-sentuh di situ, ugh!"
Djarot tidak peduli, lalu segera membilas tubuh Rully dengan cepat. Menyambar handuk dan membopong tubuh Rully ke ranjang. Segera saja, Djarot mengakahì istrinya tersebut. Menikmati dengan rakus aroma wangi yang keluar dari wanita tersebut.
"Mas—àh!" Rully pasrah. Selain nyawanya belum kembali sepenuhnya, dia juga selalu terbuai oleh kekuasaan suaminya tersebut. Permainan menjadi sangat seru dan panas karena ulah nakal Djarot.
Mereka saling beradu napas panas dan membagi kenikmatan, saling memanjakan sehingga beberapa puncak nikmat mampu mereka gapai dalam setengah jam permainan. Tentu hanya sekali untuk Djarot. Waktu mereka terbatas, tetapi tetap puas.
__ADS_1
Pukul sepuluh pagi, para tamu undangan yang sebagian besar adalah karyawan Mayang, Gian, Djarot, dan Rully telah memadati tenda-tenda yang telah disediakan. Ke empat buah hati Mayang dan Gian tidak bisa dihadirkan langsung di sini, mengingat mereka bayi yang rawan terkena virus. Sebagai ganti, Gian memasang layar besar dengan video bayinya dalam berbagai ekspresi dan posisi. Bagaimana mereka ada di dalam inkubator dan ketika pertama kali bertemu Mayang juga dihadirkan di sana.
Gian menangis melihat video tersebut. Walapun sudah berulang kali melihatnya, tetapi Gian masih saja terbawa perasaan jika mengingat bagaimana perjuangannya selama berbulan-bulan ini.
Hadyan tampak hadir menyalami tamu. Pria itu dengan bangga menceritakan betapa hebat sang mantu dan betapa mengesankan cucu-cucunya.
"Kok anak Pak Gian dengan Bu Anggi tidak ada Pak?" Seseorang menyeletuk. Dari tadi pria itu celingukan mencari anak Gian dengan Anggi.
Hadyan berdehem. "Qila tinggal dengan ibunya. Hak asuh anak jatuh pada Anggi dan Gian mengunjunginya sesekali. Saya rasa, Anggi yang membatasi, Pak. Tapi Gian tetap berusaha menafkahi Qila, saya sendiri yang memastikan."
Pria itu manggut-manggut. "Bu Anggi katanya sudah menikah lagi, Pak. Dengan Pak-Pak Mardian—iya, saya lupa namanya saking lamanya nggak baca novel ini."
Hadyan tersenyum kecil. "Bapak mengerti kan kenapa Qila tidak ada di sini sekarang? Mereka tinggal jauh dari sini sekarang, Pak. Anggi yang meninggalkan Gian karena Gian hanya pria biasa yang bergaji kecil. Biduan biaya hidupnya mahal."
"Oh, jadi mereka yang tidak mau dekat dengan Pak Gian lagi?"
Hadyan hanya tersenyum menanggapi.
"Gian yang beruntung punya istri Mayang. Mayang jauh diatas Gian. Segalanya. Anak saya malah kelihatan masih kanak-kanak kalau sama Mayang. Di sisi Mayang, Gian bisa mencapai segalanya. Dukungan Mayang membuat Gian mampu di posisi sekarang. Saya tidak bisa menutup mata soal itu."
Dua orang itu manggut-manggut. Si istri yang sedikit iri dengan keberuntungan Mayang yang beruntun, tampak tidak bisa berword-word karena Hadyan tidak membeberkan keburukan Mayang. Malah terkesan merendahkan Gian. Istri pria itu melirik Hadyan yang berpuas diri menatap Gian yang berwajah cerah.
"Hidup mereka terlalu sempurna. Bahkan mertua Mbak Mayang sayang banget sama dia," batin wanita itu.
"Èm ... ngomong-ngomong, lahiran pakai bpjs tidak, Pak?" wanita itu kembali bertanya.
Hadyan menaikkan alisnya. "Tidak Bu ... Gian tidak mau."
"Habis berapa?"
__ADS_1
"Satu M khusus untuk biaya rumah sakit. Kurang lebihnya segitu." Hadyan terpaksa spill biaya karena dirasa wanita tadi butuh asupan gosip. "Mereka memang sudah tahu bayinya akan kembar empat, jadi mereka menabung untuk biaya lahiran."
Wanita tadi membeliak, tapi kemudian tertawa kecut. "Tidak heran sih, Pak ... Bu Mayang kaya banget."
Hadyan terkekeh, tetapi tidak menanggapi.
"Nama cucunya unik-unik ya, Pak." Suami wanita tadi berkomentar.
"Mereka ribut hanya soal nama sejak bayi masih di perut." Hadyan mengenang.
Di layar memang tertera nama-nama bayi beserta fotonya. Panggilan mereka unik juga meski terkesan pasaran.
Gian dan Mayang terus berdebat hingga akhirnya nama tersebut berhasil di sepakati. Perlu sebulan agar nama itu tercatat di akta kelahiran.
Abhimata Jiayestu Aqsha
Abhiandra Jiayestu Azma
Abhiwara Jiayestu Aazid
Adbryna Jianayestu Nawlaa
Bhima, Bhian, Bhiwa, dan Bryna ... anak-anak Gian dan Mayang yang lahir membawa keberkahan.
*
*
*
__ADS_1
Maaf baru update, ya. Susah cari mana bayi euy😭 kapok aku bikin kembar empat😌besok2 kembar 10 ngapa😌 biar kasih nama 1-10😌 biar mudah😌