
Kuro, Yui dan Laila, tak lupa dengan Arthuria menuju ke tempat kristal tumbuh. Dari jauh mereka bisa melihat keindahan dari kristal yang memantulkan cahaya mentari, tetapi mereka tak lupa kenapa alasan benda indah itu menjadi ancaman.
"Kau masih ikut dengan kami?"
"Tentu. Kenapa aku harus meninggalkan adikku dan calon adik iparku di medan pertempuran ini? Kau tahu aku lebih berguna jika di sisi kalian kan?"
Arthuria tersenyum dengan hangat. Dia bagaikan sebagai pencair suasana tegang sebelum pertempuran. Tentu itu akan lebih efektif jika Kuro dan lainnya adalah seorang yang tak berpengalaman bertempur.
"Aku tahu kau bisa diandalkan, kakak. Tetapi sebelum kau bergabung dengan kami, ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu."
"Aku akan menjawab setiap pertanyaan adikku tersayang. Tetapi satu hal yang harus kalian tahu, aku berada di pihak kalian. Aku sedih jika saudaraku sendiri tak percaya dengan diriku."
Kuro dan lainnya hanya terdiam.
Meskipun kemungkinan kecil, namun tak ada salahnya waspada. Kuro dan lainnya tak mudah percaya begitu saja karena mereka ingat pengalaman saat di Dragonia.
Sang pangeran justru berada di pihak musuh. Meskipun mereka tahu itu, namun tak ada yang mereka perbuat. Yang sekarang mereka lakukan hanyalah menunggu.
"Aku mengerti. Sungguh, jika kalian bersikap seperti itu terus, aku benar benar sedih. Tentu aku sadar memang pantas dicurigai karena datang tiba tiba, tetapi aku punya bukti agar kalian bisa percaya padaku."
"Tunjukan."
"Aku datang atas permintaan Ayah."
Mendengar itu, ketiganya tersentak bersamaan.
"Ya. Beberapa hari yang lalu saat aku berada di Alfheim, aku menerima pesan agar segera kembali jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Laila, kau tahu apa yang kumaksud kan?"
Arthuria mengambil sesuatu dari celah lehernya. Itu adalah sebuah kalung dengan kristal berwarna merah.
"Biasanya berwarna hijau, ketika berwarna merah, itu artinya aku harus kembali. Dan begitulah bagaimana dan kenapa aku ada disini."
Ketiganya lalu melirik satu sama lain dan mengangguk setelah mengkonfirmasi apa yang harus mereka lakukan terhadap Arthuria.
"Tentu aku juga punya alasan lain kenapa aku pulang. Salah satunya tentu melihat perkembangan kalian semua."
"...kami?"
Ya. Arthuria tak hanya menyebut Laila, namun juga Kuro dan Yui. Tentu bisa juga termasuk keluarga atau hanya Laila dan Clara.
"Kita akan mengobrol nanti. Jika kau ingin bergabung, silahkan saja. Tetapi kau harus menuruti setiap perintahku."
"Okay." jawab Arthuria dengan senyuman.
Mereka kemudian tiba di dekat kristal. Meskipun mereka sadar banyak yang mengawasi dari berbagai tempat, namun selama tak mengganggu, itu bukan masalah.
Kuro mengambil dua pedangnya dengan posisi bersiap bertarung.
"Aku akan membuka jalan. Karena akan segera beregenerasi, kalian harus cepat."
Tanpa memberi perintah atau konfirmasi lebih lanjut, Kuro bersiap menggunakan tekniknya.
Dua pedang putih memunculkan aura, kemudian aura itu membentuk seperti tornado kecil.
Kuro tanpa berhenti dan melakukan tebasan.
"Cursed Blade Art "
Kuro mengayunkan pedang ke arah kristal dan tornado muncul menghancurkan semuanya membentuk lubang dengan diameter dua meter.
"Serangan dengan menggunakan murni ki. Kau memang selalu bisa mengejutkan semua orang."
Meskipun terlihat kagum, namun disaat yang sama Arthuria menunjukkan apa yang dilakukan Kuro biasa saja. Tentu bukannya dia tak mengerti kesulitan teknik yang Kuro lakukan, hanya saja saat ini mereka membahas Kuro. Tak ada yang mengejutkan darinya.
"Cukup bicaranya atau kami akan meninggalkanmu."
"Hey.. Tunggu aku. Kalian terlalu terburu buru."
Arthuria mempercepat larinya. Bersamaan dengan itu, kristal mulai beregenerasi dan mulai menutup. Tetapi semuanya sadar, regenerasi kristal kali ini lebih lambat dari biasanya. Hal ini membuat seolah musuh mengundang mereka untuk datang.
Tentu Kuro dan lainnya menyadari itu. Tetapi tak ada alasan untuk mundur karena saat ini mereka memang menuju ke tempat musuh berada.
Hanya saja, tanpa mereka ketahui, tiga sosok bayangan menyusul mereka dari belakang sebelum lubang menutup sepenuhnya.
💠💠ðŸ’
Mentari sangat indah. Membentang di langit dengan cahaya hangat ke seluruh dunia.
Hari ini sangat cocok untuk berjalan jalan. Mungkin inilah yang dipikirkan setiap orang saat melihat cuaca hari ini.
(...ini seperti hari itu..)
Tetapi, bagi seseorang, cuaca hari ini mengingatkannya pada sebuah kenangan indah, namun disaat yang sama juga kenangan buruk. Awal dari segalanya.
(Semuanya mungkin sudah melupakanmu. Tidak, kau menghapus eksistensimu seolah dirimu tak pernah ada di dunia ini. Tetapi... Aku..)
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
(Tidak, kami selalu mengingatmu. Sebagai salah satu Queen yang pernah kau pilih, aku bersumpah tak akan pernah melupakanmu)
Sang gadis memejamkan matanya dan mengingat kembali semua kenangan sebelum berpisah dengan orang yang dia sayangi. Seorang sahabat yang tak akan pernah kembali seberapa banyak dia mencoba mengatakan bahwa semua itu hanyalah mimpi.
Apakah hari itu akan terulang kembali?
__ADS_1
Tidak. Tidak akan. Dia tak akan pernah membiarkan semua itu terjadi selama dia masih bernafas.
Ia akan melakukan segalanya. Dia tak akan membuat dirinya menyesal untuk ketiga kalinya selama masih hidup.
"Bibi Electra, kau disini rupanya."
Sang gadis, tidak, mungkin lebih tepat jika disebut sebagai seorang nenek. Meskipun penampilannya muda, namun itu tak lebih dari topeng yang dia kenakan di masa lalu.
Electra tersadar dari lamunannya dan melihat kehadiran putri Riana. Tak hanya Riana, ada sosok lain yang bersamanya.
"Putri Riana.. Dan putri Victoria.... Apa yang membuat kalian berdua datang kemari?"
"Hmm.. Saat kau tiba tiba menggunakan nada sopan seperti itu, kau selalu membuatku terkejut bibi Electra"
Electra tertawa kecil dan kembali ke eskpresi biasanya. Gadis muda yang dikenal sebagai pembuat ulah.
"Aku di sini hanya menikmati waktu luang sebelum bertempur. Lagipula aku tak tahu lagi kapan bisa menikmati cuaca seindah ini."
"Memang dari jendela istana kita bisa menikmati pemandangan indah setiap hari.." Riana terdiam sesaat sambil melirik ke arah taman kristal yang membelah kota. "Tetapi saat ini yang terlihat hanyalah medan perang. ...Kenapa ini terjadi?"
Tentu sebagai sebuah negara besar, memiliki musuh bukanlah hal aneh. Tetapi kali ini musuh berasal dari dalam negeri sendiri.
"Tentu karena setiap orang memiliki tujuan hidup yang berbeda, putri Riana. Entah itu tujuan baik atau buruk, semua itu tergantung masing masing. Tetapi yang terpenting dari semua itu adalah merugikan orang lain atau tidak. Dan tentu keberanian untuk melakukan segalanya demi tujuannya."
"Dan saat ini kita berhadapan dengan tipe orang yang berani melakukan semuanya kah.... Ini sungguh menarik."
Victoria terlihat semakin bersemangat. Sebagai tuan putri ini suatu tindakan yang tak pantas, tetapi tak ada yang berusaha menegurnya.
"Ya.. Sayang sekali kita akan menghadapi tipe orang yang paling merepotkan di dunia ini. Dan bukankah dia mengingatkan kita pada seseorang?"
Riana hanya mendesah karena tahu betul apa yang dimaksud Electra.
"Apa kalian membicarakan Witch Reaper?"
"Sudah kubilang nama dia Kuro Kagami, kak Victoria. Aku tahu kau hanya ingat dengan nama keduanya (julukan), tapi aku tak menyangka kau tertarik dengan Kuro"
"Aku tentu tertarik dengan seorang yang akan aku lawan di kemudian hari. Aku memang mendengar dia adalah petarung yang kuat meskipun dia orang biasa, tetapi semua itu tak penting bagiku. Yang terpenting adalah bisa bertahan dari diriku atau tidak."
Riana tak punya pilihan selain mendesah.
Selain dikenal sebagai Princess Knight, Victoria juga dikenal sebagai Berserker Princess. Ada alasan kenapa dia diberi nama itu. Selama ini tak ada yang bisa bertahan lebih dari satu menit saat bertarung dengannya. Tak peduli apakah musuhnya penyihir atau bukan, mereka akan bernasib sama.
Tak diragukan lagi, dalam hal kekuatan tempur, Victoria dikatakan sebagai tuan putri yang mewarisi kekuatan Holy Maiden.
"Haha.. Aku yakin Kuro akan membuatmu menikmati pertarungan yang kau idamkan. Tetapi, sebelum itu kita harus melewati malam ini."
"Bibi Electra seolah berkata kita semua tak akan selamat malam ini. Apakah karena malam ini Demon King akan bangkit?"
Electra justru tersenyum.
"Eh..?"
"Bangkit atau tidak, semuanya bergantung kepada mereka bertujuh. Kita hanya bisa menunggu dan melihat."
Tetapi, semuanya berjalan tak seperti yang diharapkan semua orang.
Waktu terus berlalu dan hingga akhirnya malam telah tiba. Langit gelap yang dipenuhi bintang kini berganti dengan cahaya merah bagaikan darah kental.
Dan seperti semua yang ketahui, kehadiran bulan merah adalah sebuah tanda buruk.
Perlahan kristal menyerap cahaya rembulan dan menjadi merah darah. Kemudian perlahan kristal hancur, tetapi cahaya kini berkumpul pada satu titik, yaitu bunga yang kini perlahan mulai mekar.
Tiba tiba sebuah sosok muncul dengan pelindung baja putih dengan kondisi hampir hancur lebur. Darah berceceran membuatnya bagaikan mayat hidup. Karena pelindung bagian kepala hancur hingga setengah, semua bisa melihat sosok yang berada di dalam armor itu.
Sosok itu tak diragukan lagi adalah Kuro. Tidak. Lebih tepat jika sosok yang menyerupai Kuro.
Dia mengambil sebuah kristal hitam dan tanpa ragu menghancurkannya. Dari kristal hitam muncul cahaya kecil.
Cahaya itu perlahan terbang dan berubah menjadi sosok seorang wanita dengan rambut putih dan memancarkan cahaya suci.
Semuanya tahu sosok wanita itu. Mereka yang mengenalnya akan langsung memujanya, tetapi kali ini mereka tak akan melakukan itu.
Dari sudut kota, sebuah cahaya melesat bagaikan meteor. Itu adalah sebuah tombak suci. Tombak itu mampu menembus pertahanan apapun, apalagi pertahanan yang terbuat dari sihir. Tak butuh waktu lama hingga tombak itu menembus dan menghancurkan sosok itu,-
Tetapi, seperti sebuah ilusi, tombak suci itu menghilang.
Disaat yang sama, sosok wanita itu membuka matanya. Mata yang kosong seolah bagaikan tanpa jiwa. Memang.
Semua kristal hancur dan hanya meninggalkan sosok Lic yang telanjang bulat dengan aura putih terpancar darinya.
Sosok Lic perlahan berubah menjadi sebuah pedang. Bukan sebuah pedang putih, tetapi sebuah pedang emas yang memancarkan cahaya bagaikan mentari kedua.
"Hahahahaha... Dengan ini, semuanya akan selesai.. Keinginanku untuk menghapus semua sihir di dunia ini akan terkabul."
Dengan sebuah senyuman, Itsuki melakukan ritual terakhir.
Sebuah lingkaran sihir raksasa muncuk di langit ibukota. Lingkaran sihir itu terbuka bagaikan sebuah pintu. Dan dari pintu itu, sebuah sosok putih turun menuju wanita dengan pedang emas di tangannya.
Mata yang semulanya kosong, kini memiliki cahaya. Sosok wanita itu kini sama dengan sosok yang terlukis di buku legenda.
Sosok penyelamat dunia yang dikenal sebagai seorang pahlawan yang dikenal sebagai Holy Maiden.
Sang penyelamat.
__ADS_1
-----
Sebelum berperang melawan Demon King 400 tahun yang lalu, umat manusia terpecah belah karena terjadi peperangan besar antara negara. Bisa dibilang perang dunia yang terbesar dan paling kejam dalam sejarah tanah Orladist.
Datang dengan tiba tiba, Demon King muncul sebagai pihak ketiga dalam perang itu.
Dengan pasukan monster, iblis, bahkan sesuatu yang berada di luar nalar manusia muncul membunuh dan merebut sedikit demi sedikit tanah Orladist. Semua itu bukan karena pasukan Demon King lebih kuat atau lebih unggul. Jika pihak Demon King memiliki monster atau iblis, maka manusia memiliki Paladin yang mampu menahan mereka semua.
Tetapi, kenapa Demon King terus menang?
Alasannya sederhana. Umat manusia terpecah belah karena perang sebelumnya. Dan dengan memanfaatkan itu, Demon King menyerang.
Manusia akhirnya berada di ujung tanduk. Tingkat kejahatan meningkat dan keputusasaan menyebar luas seolah menunggu kematian datang menjemput.
Tak ada harapan untuk menang.
Tetapi, disaat semua harapan hampir sirna, munculah sebuah harapan.
Dimulai dari sebuah kisah penyelamatan kecil yang dilakukan seorang wanita, kisah itu menyebar luas bagaikan sebuah pandemik.
Penyelamatan seorang putri dari seorang jendral iblis dengan kekuatan misterius yang menghancurkan sihir apapun. Itulah awal cerita dari kisah sang Holy Maiden.
Tak ada yang tahu dari mana dia berasal atau dia berada di pihak mana. Tetapi yang jelas dia tak berada di pihak Demon King. Semua pemimpin negara mencoba untuk menjadikan Holy Maiden di pihak mereka, tetapi tak ada satupun yang berhasil.
Tetapi kemanapun dia pergi, dia akan selalu menghabisi pasukan Demon King dan menyelamatkan setiap tempat yang dia singgahi. Perlahan tapi pasti, harapan mulai membesar.
Dengan harapan yang mulai tumbuh, manusia mulai berkumpul dan bersatu melawan Demon King. Tak peduli asal muasal, warna kulit, pendek atau tinggi semuanya bersatu. Bahkan yang semulanya musuh kini saling berpelukan dan saling bahu membahu untuk bertempur melawan kejahatan.
Bukan demi kemenangan, tapi demi masa depan.
Pasukan yang semulanya sedikit dengan cepat bertambah. Bahkan ada yang datang dari jauh hanya untuk bergabung. Dengan bersatunya manusia, sedikit demi sedikit manusia berhasil merebut kembali wilayah dari Demon King.
Bersamaan dengan itu, pesona Holy Maiden semakin membesar dan menyatu dengan hati semua orang. Dia bagaikan pahlawan yang muncul dalam legenda. Tidak. Dia memang pahlawan.
Dengan alasan itu, banyak orang penting yang ingin menjadikannya sebagai seorang istri atau pendamping. Ini wajar. Selain kuat, dia juga cantik. Bahkan banyak yang mengatakan malaikat akan malu jika berhadapan dengannya. Inilah salah satu pesona dari Holy Maiden.
Tetapi, sebanyak lamaran yang datang, sebanyak itu pula penolakan diterima. Sebagian beranggapan Holy Maiden menolak karena dia ingin fokus dengan pertempuran dan tak ingin terlibat dalam urusan asmara.
Sayangnya semua itu salah.
Alasan Holy Maiden menolak bukan karena dia tak tertarik. Dia juga tertarik karena dia manusia biasa. Dan itu juga merupakan jawaban dari pertanyaan itu.
Holy Maiden sudah mencintai seseorang.
Tak ada yang tahu siapa yang beruntung mendapatkan cinta Holy Maiden, tetapi satu hal yang pasti. Orang itu mendapatkan kutukan dari semua pemuja Holy Maiden.
Dan setelah waktu berlalu. Pertempuran antara kedua belah pihak mencapai puncaknya.
Daratan yang dikenal sebagai ibukota Phoenix, merupakan tempat terjadinya pertempuran terakhir.
Holy Maiden memimpin umat manusia. Dengan pedang suci yang menghapus semua kejahatan di dunia, dia menghunuskan pedang ke arah musuh.
Di sisi lain, Demon King memimpin pasukan iblis dan monster. Dengan armor hitam kelam yang memancarkan kegelapan abadi. Tetapi, anehnya dia menggunakan sebuah pedang putih yang tak sesuai dengan pelindungnya.
Pertarungan terjadi hingga seminggu lebih. Tak ada yang berhenti hingga salah satu musnah.
Dan pada akhirnya Holy Maiden berhasil mengalahkan Demon King.
Umat manusia bersuka cita atas kemenangannya. Kedamaian kembali datang dan saatnya memulai kembali harapan baru.
Tetapi, semua tak semudah seperti dalam cerita.
Pertempuran baru kembali untuk merebutkan tanah tanpa tuan. Persatuan yang ditunjukan pada perang sebelumnya kini bagaikan ilusi belaka.
Dan sekali lagi, Holy Maiden pun bertempur. Dengan kekuatan yang sudah hampir mencapai batas. Dia menghentikan pertempuran bodoh antar umat manusia.
Pada akhirnya, dia mengambil keputusan untuk menjadi seorang Ratu. Ratu negeri dengan tanah terluas dan terbesar di Orladist. Tanah yang sekarang dikenal sebagai Kekaisaran Houou.
Dalam waktu singkat, Kekaisaran Houou menjadi negeri yang kuat dan disegani negeri tetangga.
Tetapi, tetap saja ada sebuah masalah.
Kekaisaran Houou tak memiliki kaisar.
Lamaran kembali menyerbu Holy Maiden, tetapi semua itu langsung menghilang saat Holy Maiden mengandung.
Tak ada yang tahu siapa ayah dari bayi yang dikandung Holy Maiden. Bahkan banyak yang menganggap itu adalah bayi suci yang diberikan oleh tuhan.
Sama seperti ibunya, bayi lelaki yang terlahir memiliki kekuatan yang sama dengan ibunya. Bayi itulah yang dikenal sebagai kaisar pertama kekaisaran Houou.
Bahkan sampai saat ini, kaisar pertama itu masih memimpin negeri yang diciptakan dari kerja keras ibunya.
Meskipun 350 tahun lebih berlalu, sang kaisar masih ingat betul dengan wajah lembut sang ibu yang telah melahirkannya ke dunia.
Tetapi, saat melihat sosok yang telah dibangkitkan oleh musuh, dalam hatinya yang terdalam dia mengutuk orang yang telah melakukan semua itu kepada ibunya.
Namun semarah apapun dirinya. Sebenci apapun dirinya kepada pelaku dari semua ini, dia tak akan berbuat apapun.
Bukan karena dia tak berdaya.
Tetapi dia tahu siapa yang lebih marah daripada dirinya.
Dan dia tahu, orang itu akan melakukan apapun demi menghancurkan pelaku di balik semua ini.
__ADS_1
Inilah rahasia besar yang selama ini disimpan oleh lelaki tua bernama Sei Yamato. Sang kaisar pertama. Dan seorang yang mengetahui rahasia di balik King dan Queen.