
"Kak Laila, di sana!"
Laila mengangguk tanda mengerti.
Keduanya berlari menuju pusat pohon kristal. Dari jauh mereka sudah melihat kalau itu adalah pohon yang indah, tetapi saat tiba, mereka harus mengganti kesan itu.
"Ini lebih besar daripada yang aku duga."
"Selain itu juga keras. Aku tak mengerti bagaimana bisa seperti ini."
Pohon kristal dengan diameter 10 meter dan menembus langit. Jika mengingat sebesar apa yang membentang di atas permukaan, pohon kristal itu bagaikan pohon raksasa.
"Pertama kita coba hancurkan saja. Lic berada di atas pohon ini. Jika kita hancurkan, dia pasti akan bebas."
Keduanya mengangguk tanda mengkonfirmasi. Lalu mereka bersiap dengan serangan terbaik mereka.
"Scarflare, [Giganflare Torn]"
Puluhan Scarflare muncul dan menyatu menjadi pedang besar. Ini adalah salah satu Sacred Magic Art milik Laila yang digunakan untuk menebas benda besar. Tetapi kali ini berbeda dengan pedang yang biasa dia buat. Tak hanya besar, namun juga berbentuk seperti gergaji.
Laila lalu menebas pohon kristal dengan kekuatan penuh.
"Tarian ke tujuh, [Dragon Bite]"
Yui mengalirkan ki ke dua belatinya sehingga menjadi pedang panjang. Lalu dia menembakkannya seperti menciptakan pedang angin.
Kedua serangan tepat mengenai satu titik di bagian sisi pohon. Ledakan keras terjadi dan kristal hancur berceceran ke semua tempat.
"?!"
"?!"
Tetapi itu tak cukup untuk menghancurkannya apalagi menebangnya.
Keduanya lalu melompat mundur untuk menjaga jarak. Keduanya mengamati apa yang terjadi setelah serangan mereka.
"Sial. Kristal itu beregenerasi. Jika seperti ini kita tak bisa membebaskan Lic."
"Jadi itu benar. Semua serangan sihir tak akan berpengaruh dan justru menyerapnya. Tunggu dulu. Sihir?"
Keduanya memiliki pemikiran yang sama.
"Yui aku mohon."
"Aku mengerti."
Dengan senyuman lebar, Yui menyiapkan serangan selanjutnya. Kali ini dia dalam posisi seperti mengambil ancang-ancang. Sama seperti sebelumnya, dia menyalurkan ki pada kedua belatinya sehingga membuatnya menjadi pedang besar.
"Tarian ke 12 [Mantis Spear]"
Yui berlari maju dan tiba tiba berhenti. Kemudian dia menembakan dua pedang ki seperti melempar sebuah tombak.
Sekali lagi pohon kristal hancur dan bergetar hebat tanda kekuatan Yui yang dahsyat.
(Jika sihir tak mempan, maka gunakan ki. Meskipun tadi pohon itu menyerap sihir kak Laila, namun bagaimana jika hanya ki?)
Meskipun butuh waktu, namun jika mereka bisa menebang sedikit demi sedikit, mereka pasti akan bisa membebaskan Lic.
Sayangnya, semuanya tak selalu seperti apa yang mereka harapkan.
"...Sial!!"
Laila menggertakkan giginya karena merasa kesal. Pemandangan yang dia lihat tak bisa dia percaya.
"Kenapa ki juga tak mempan?"
Tak hanya Yui, namun juga Laila yang terkejut.
Kristal kembali tumbuh dan menutup bagian yang hancur sebelumnya.
"Kalau begitu sekali lagi."
Yui menyerang dan menyerang dengan pedang ki. Tetapi tak ada perubahan sama sekali.
"Yui, sebaiknya kau berhenti menyerang. Aku tahu kau juga ingin segera melepaskan Lic, namun kita tak boleh gegabah."
"Tapi-"
"Kita harus tenang dan melihat situasi terlebih dahulu. Pasti ada suatu yang bisa kita lakukan."
Laila mendekati pohon kristal dan sekali lagi menebas dengan Scarflare. Dia mengamati apa yang terjadi dengan seksama lalu melangkah kembali ke dekat Yui.
"Pohon ini sepertinya terbuat dari sihir dan ki yang mengeras. Ini seperti saat kita menciptakan magic arm dan magic beast. Tetapi untuk dalam jumlah besar seperti ini, aku rasa tak ada penyihir di dunia ini yang mampu melakukannya."
"Kak Laila, kau terlalu banyak berubah. Apa yang sebenarnya kau alami di Parallel Field?"
Laila yang lama pasti akan menyerang dengan kekuatan penuh. Tak peduli apakah berhasil atau tidak kecuali ada seorang yang menghentikannya.
Tetapi saat ini dia terlihat lebih tenang dan lebih memikirkan apa yang akan mereka lakukan jika dalam situasi yang tak diuntungkan. Bisa dibilang dia sekarang lebih menggunakan otaknya.
"Aku hanya memiliki guru yang tepat. Itu saja. Tak ada yang terlalu spesial dalam latihanku. Bukankah kau juga sama? Maksudku bertemu dengan salah satu True Dragon King?"
"True Dragon King?"
Yui memiringkan kepalanya.
Bukankah hanya ada 13 Dragon King? Meskipun hampir mirip, tapi Yui sadar kalau Laila menyebut nama makhluk yang benar benar berbeda dari Dragon King.
"Apa ada makhluk seperti itu di dunia ini?"
"Huh?"
Kali ini giliran Laila yang memasang wajah bingung.
"Baiklah. Aku rasa kita bahas itu nanti. Sekarang kita harus mencari tahu bagaimana kita bisa melepaskan Lic."
".. Tapi apa yang harus kita lakukan? Kita tak mungkin menebasnya dengan pedang raksasa. Tunggu, kita pernah mencobanya. Cara itu tak akan berhasil."
"Sudah kuduga aku rasa kita harus melakukan sesuatu dengan ritual sihir yang menciptakan pohon ini. Tapi bagaimana?"
Laila dan Yui berkeliling untuk menemukan petunjuk. Bisa dibilang mereka melakukannya dengan pelan dan perlahan, tetapi mereka masih punya cukup banyak waktu. Terburu buru bukan pilihan yang tepat.
"Tak bagus. Aku sama sekali tak mengerti dengan formasi rune dan formula mantra yang ada di lingkaran sihir ini. Apa kau tahu?"
"Aku tak bersekolah. Aku hanya belajar bertarung, bukan membuat suatu yang rumit seperti ini."
"Kenapa Kuro tak membiayai dirimu bersekolah?"
"Aku yang tak mau bersekolah."
"Kenapa?"
"Kak Laila, kita bahas itu nanti. Kita punya suatu yang lebih penting."
"Aku tahu. Tapi ini juga masalah penting. Kapan kapan sepertinya aku harus bicara dengan Kuro mengenai hal ini."
Yui hanya mendesah kecil. Dia berterima kasih atas perhatian Laila, tetapi itu suatu hal yang tak seharusnya mereka bahas di situasi sekarang.
"...jika melihat situasi saat ini, aku rasa ini adalah semacam sihir yang mengambil energi dari Dragon Vein (Urat Naga). Itu menjelaskan kenapa mana yang mengkristal berjumlah luar biasa."
"Apa yang kau maksud mereka mengambil energi dari dunia ini untuk menggunakan sebagai bahan bakar ritual sihir?"
Yui mengangguk.
"Aku tak tahu apakah ada tujuan lain mereka menggunakan energi dari Dragon Vein, tetapi selama kita tak menghancurkan sihir itu, maka kita tak bisa menyelamatkan Lic."
"Jadi yang kita lakukan hanya perlu menghancurkannya saja kah. Itu mudah. Scarflare,-"
Laila menciptakan lima Scarflare lalu menghancurkannya. Kemudian dia menciptakan bola api besar, tetapi bola itu semakin mengecil hingga Laila bisa menggenggamnya.
"Yui, menyingkir. Ini akan menjadi lebih meriah. "
Laila melempar bola api itu ke bagian bawah pohon dimana lingkaran sihir berada. Cahaya bersinar terang dan ledakan dahsyat terjadi hingga Yui terdorong ke belakang hanya dengan gelombang kejutnya.
Tak berapa lama kemudian yang terlihat hanyalah pohon kristal yang hancur setengah. Bahkan terlihat seperti akan tumbang. Tetapi pohon kristal kembali tumbuh dan kembali ke bentuk asalnya.
"Masih tak berhasil kah..? Bagaimana kalau aku coba dengan kekuatan penuh? Meskipun itu akan membuat tempat ini rata dengan tanah, aku rasa kita bisa selamat."
Laila mengatakan hal yang berbahaya dengan nada polos.
"Aku tahu kau sekarang bisa menggunakan sihir tingkat tinggi dengan mudah, tetapi aku rasa itu tak akan menyelesaikan masalah kita."
"Kau benar. Sebagian besar lingkaran sihir sudah hancur, tetapi pohon sialan ini masih berdiri kokoh. Sudah kuduga sepertinya aku harus menggunakan kekuatan penuh."
"Tolong jangan lakukan itu."
Jika hanya dengan sebagian kecil sudah memiliki kekuatan perusak yang dahsyat, Yui tak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukan dengan kekuatan Laila yang sekarang.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Aku rasa musuh sudah memperkirakan hal ini, jadi mereka pasti menyiapkan semacam rencana cadangan. Aku ingat kalau ritual sihir kuno seperti ini memang rumit dan butuh banyak waktu persiapan, namun tak mudah dihancurkan."
__ADS_1
"Aku tahu itu. Untuk menghancurkan ritual sihir kuno, kita harus menghancurkan inti ritual. Tetapi kita tak tahu letak dan jumlah pastinya. Ini akan memakan waktu."
"Kita tak memiliki banyak waktu untuk melakukan itu. Kita harus menemukan cara tercepat untuk menemukan inti ritual dan menghancurkannya."
Keduanya menatap satu sama lain. Mereka lalu mengangguk dan berpencar ke arah yang berlawanan.
Tanpa harus menggunakan kata, mereka tahu apa yang dipikirkan masing masing.
(Siapa yang menghancurkan lebih cepat, dia yang menang)
(Siapa yang menghancurkan lebih cepat, dia yang menang)
Setelah berpisah, Laila menggunakan kemampuannya untuk melihat apapun yang terbuat dari sihir, Magic Perception. Sementara itu Yui menggunakan sihir pelacak Magic Wave. Semua informasi di sekitarnya terlihat seperti sebuah pantulan sonar.
"Di sana.."
Yui menemukan salah satu yang mereka cari. Di sebuah tiang terdapat semacam lingkaran sihir yang rumit. Dia tanpa ragu menghancurkannya lalu berlari menuju ke tempat selanjutnya.
(Formasi lima inti kah.. Aku yakin kak Laila sudah menghancurkan yang lain. Aku harus cepat)
Tetapi apa yang dia temukan setelah tiba hanyalah reruntuhan dan sebuah pedang merah.
"Ah.. Dia curang."
Laila mampu mengendalikan pedangnya seperti peluru kendali. Dulu Yui jangkauan kekuatan Laila hanya sekitar 30 meter, namun sekarang dia tak tahu sejauh mana Laila bisa melakukannya.
(Aku mulai takut dengan peningkatan kekuatannya. Dia mulai menjadi suatu yang mengerikan)
Yui mendesah kecil. Seberapa banyak dia memikirkannya, itu tak akan membuat perubahan. Dia lalu memutuskan kembali ke tempat pohon kristal berada.
Di sana Laila sudah menunggunya.
"Yui."
".....Kau tak perlu mengucapkannya."
Di depan mereka tak hanya pohon kristal yang menanti mereka, namun juga makhluk menyerupai golem yang terbuat dari kristal. Mereka memiliki senjata dan terlihat seperti seorang ksatria penjaga.
"Kita benar benar bodoh."
"Kita benar benar bodoh."
Sebuah jebakan yang aktif jika mereka menghancurkan inti ritual. Rencana yang sederhana, namun efektif.
Keduanya lalu berlari ke arah musuh yang jumlahnya mencapai puluhan, tidak. Bahkan lebih banyak. Serangan para golem cukup kuat untuk menghempaskan 10 orang lebih, namun keduanya bertahan dari serangan golem kristal seolah menerima serangan dari orang kurus.
Setelah bertahan mereka menebas satu persatu bagian tubuh musuh hingga menjadi bongkahan kristal.
"hyaaaa!!!"
Yui tak hanya menebas dengan teknik dan kecepatan, namun juga tendangan keras. Gerakannya yang indah bagaikan penari pedang yang menghancurkan setiap musuh.
"Terima ini, "
Dari kaki Yui muncul air yang membesar hingga membentuk sebuah gelombang besar. Dari gelombang muncul puluhan naga air yang menyerang golem kristal seperti memangsanya.
Golem kristal bertahan dengan membentuk formasi, tetapi itu tak cukup untuk menghentikan serangan Yui.
"Kalian benar benar membuatku jengkel. Aku rasa harus serius."
Yui menyimpan salah satu belatinya. Dia lalu mengangkat tangannya ke atas. Cahaya berkumpul lalu tombak besar yang terbuat dari air tercipta.
""
Yui tanpa ragu menembakkannya dengan kekuatan penuh. Tombak air dengan diameter 5 meter menerjang ke arah golem tanpa ada yang bisa menghentikannya.
Semua yang berada di jalur serangan hancur berkeping keping tak tersisa. Serangan Yui lalu mengarah ke arah pohon kristal.
"Hancurlah!!"
Tentu Yui tak terlalu optimis dengan serangannya akan bisa menghancurkan pohon kristal, tetapi dia tak menyia-nyiakan serangan.
"?!"
Tetapi disaat itulah serangannya berbelok ke arah lain sehingga menghancurkan golem kristal.
"Siapa kau? Beraninya kau menghalagiku!"
Serangan Yui tak berbelok dengan wajar. Sebuah sosok mengarahkannya ke arah lain.
Sosok menyerupai monster dan robot yang pernah dia lawan sebelumnya, namun kali ini dia tahu ada yang berbeda dengan sosok itu.
"Ya ampun. Aku tak menyangka kalian bisa sejauh ini. Sepertinya kami memang tak boleh meremehkan kali-oops. Bukankah tak baik menyerang saat orang lain bicara?"
"Aku tak punya waktu bicara dengan mayat sepertimu. Menyingkir dari hadapanku, Sampah!"
"Kenapa kau memanggil orang yang baru kau temui seperti itu? Kau benar benar tak memiliki sop-"
Sosok gadis tiba tiba muncul di belakang kepalanya.
"Matilah "
Laila menendang kepala monster tanpa ampun. Tubuh monster terpental dengan keras bagaikan sebuah bola ringan ke dinding.
"Fuuh.. Yui, berhentilah bermain main!"
"Aku tidak."
Golem kristal kembali muncul, tetapi Laila menendangnya ke arah pohon kristal hingga hancur berkeping keping.
"Kita harus memikirkan jalan lain untuk membebaskan Lic."
Laila menyilangkan tangannya dan berpikir.
Golem kristal kembali menyerang. Mereka terkepung, tetapi Laila menciptakan bola api lalu menghancurkan mereka tanpa bergerak dari tempatnya.
Melihat pemandangan itu, Yui hanya bisa mendoakan Kuro agar tak membuat Laila marah di kemudian hari.
"Kita menghancurkan inti ritual, tetapi masih belum hancur. Mungkinkah mereka melakukan suatu cara agar tak mudah hancur."
"Lagipula jika semua berakhir hanya dengan menghancurkan inti ritual, bukankah itu terlalu mudah?"
Laila mengangguk.
Dia lalu melihat ke arah monster yang bangkit dengan kepala yang hangus terbakar. Dengan tatapan dingin yang lebih dingin daripada es.
"Dia masih hidup, bagaimana kalau kita bertanya padanya?"
Laila berjalan menuju monster. Dia memanggil Scarflare di tangannya.
"Benar juga, pasti ada alasan kenapa dia melindungi pohon kristal itu."
Yui mengalirkan ki ke belatinya sehingga menjadi sebuah pedang.
Mereka bagaikan seorang iblis yang bersiap menghancurkan apapun yang menghalangi mereka.
Tahu dalam bahaya, monster mulai bergerak untuk memberikan perlawanan.
""
Seekor putri duyung muncul dengan harpa di tangannya. Sayangnya bukan putri duyung yang cantik jelita, namun putri duyung yang berwarna hitam kelam.
"Hanya karena kalian lebih kuat, bukan berarti kalian bisa meremehkanku. Marina "
Putri duyung mulai memainkan harpanya dengan suara merdu, namun tak ada yang bisa menikmati keindahannya. Lalu bola bola gelembung hitam muncul menyerang ke arah Yui dan Laila.
"Yui"
"Aku tahu."
Yui berhenti lalu menciptakan naga air.
"Maju "
Naga air sembilan kepala menelan gelembung gelembung hitam dengan mudahnya. Namun terjadi ledakan besar di dalam perut naga air. Lalu naga air berubah menjadi hitam sebelum menghilang.
"Apa apaan itu tadi?"
Tak hanya Yui, namun Laila juga menyadari keanehan serangan sihir musuh. Mereka berdua mengurungkan niat untuk segera menghabisinya.
"Hahahaha... Sudah kuduga kalian hanyalah orang bodoh yang tak tahu apapun. Yah.. Tapi ini wajar, bagaimanapun juga sudah lama dihapuskan dari sejarah dunia ini."
Monster bangkit dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Corruption Soul?"
"Tch.. Kenapa aku harus repot repot menjelaskan ini pada bocah seperti kalian. Marina "
Tiba tiba air mengurung mereka berdua. Mereka tak sempat bereaksi dan tak bisa merasakan serangan musuh.
"Sial!"
__ADS_1
Monster maju dan mendekati keduanya. Kedua tangannya berubah menjadi pedang raksasa yang bersiap memotong leher keduanya.
Tetapi-
"Kuh.. Dasar Mon...ster!"
Sebuah pedang merah membara menembus leher monster. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Laila.
Lalu dengan pedangnya, Laila memotong bola air yang mengurungnya dengan tatapan tak tertarik.
"Aku benar benar sudah tak ingin bermain main lagi."
Laila menciptakan puluhan Scarflare di udara lalu menyerang monster yang masih tak berdaya. Dalam sekejap, puluhan pedang merah menembus tubuh monster bagaikan sebuah kuburan pedang.
Tak berapa lama kemudian, tubuh monster tumbang tak bergerak bersamaan dengan magic beast yang menghilang.
"Aku tak peduli apakah di matamu aku adalah seorang monster atau bukan. Yui, sepertinya kita tak punya pilihan lain."
"Apa kau yakin bisa menghancurkannya dengan sekali serang?"
"Tentu saja."
Mereka kembali mendekat ke pohon kristal. Tak hanya sudah pulih, namun juga jumlah golem kristal sudah kembali seperti semula.
Melihat itu, Laila dan Yui hanya tersenyum.
"Kak Laila, lakukan sesukamu."
Yui berlari menyerbu musuh sendirian. Sedangkan Laila berada di tempatnya untuk bersiap siap.
Laila mengangkat tangannya.
"Scarflare "
Pukulan Scarflare yang muncul membentuk formasi lingkaran lalu bergabung menjadi sebuah bunga besar.
""
Bunga Scarflare lalu berputar dengan kecepatan tinggi bagaikan sebuah gergaji pedang api.
"Ma-!?"
Boooomm!!
Sebelum dia melempar pohon kristal dengan gergaji Scarflare, ledakan keras terjadi tepat di bagian pohon kristal hingga hancur berkeping keping.
Yui bahkan juga terkejut dengan apa yang terjadi. Dia bertahan dari gelombang kejut dengan menyilangkan tangannya. Sementara golem kristal hancur lebur tak tersisa oleh kedahsyatan ledakan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Laila membatalkan serangan. Dia tak tahu apa yang terjadi, namun tujuan telah tercapai, jadi dia tak perlu mernyerang.
"...huh?"
Setelah debu menghilang, yang mereka adalah sebuah sosok yang menyerupai orang sekarat. Tubuh penuh luka berat dan darah memehuni sekujur tubuhnya. Pelindung yang dia kenakan hancur di berbagai tempat tak berbentuk lagi.
"Ah..kak Kuro benar benar menghajarnya. Aku tak menyangka dia benar benar membuat kakak semarah ini."
"..."
Yui menaruh jarinya di mulut seperti gadis polos yang terkejut dengan apa yang terjadi pada Itsuki. Sedangkan Laila hanya terdiam tanpa memberi komentar.
Lalu tiba tiba Laila menoleh ke sebuah sudut. Di sana, dia menemukan sosok yang dia cintai, tetapi entah mengapa dia tak terlihat senang.
"Kak Laila?"
Yui menatap ke arah yang sama.
Lalu dia tak punya pilihan selain melebarkan matanya dengan keringat dingin.
"Ka-kakak ke-kenapa kau..?"
Yui gemetar dengan penuh ketakutan. Dia seolah melihat iblis yang datang mendekat.
Tidak. Iblis mungkin memang mendekat.
Di tempat yang mereka lihat, Kuro berjalan mendekat ke arah Itsuki berada. Aura hitam di seluruh tubuhnya dan pedang hitamnya membuat dia terlihat bagaikan dewa kematian. Tetapi yang lebih mengejutkan adalah sepasang sayap hitam yang terbuat dari aura menakutkan.
"Kalian tunggu sebentar lagi. Aku akan segera membereskannya."
Kuro melewati keduanya tanpa berkata lebih. Aura dingin yang keduanya rasakan seolah membekukan hingga jiwa terdalam mereka.
Keduanya ingin berbicara lebih dan menghentikannya atau setidaknya menyapa, namun keduanya tak mampu bergerak dari tempat mereka.
Lalu teriakan terdengar. Itu adalah suara Itsuki yang tangannya diinjak Kuro hingga hancur.
Bersamaan dengan itu pohon kristal mulai tumbuh, namun aura hitam di sekitar Kuro menyerapnya tak tersisa.
"....Itsuki, sudah saatnya kau mati. Apa kau punya kata terakhir?"
Kuro menghunuskan pedangnya ke leher Itsuki.
Seolah tak merasa takut, Itsuki justru tersenyum lebar.
"...kata terakhir huh? Baiklah. Bagaimana kalau 'kenapa kau berpikir sudah menang?'"
"Apa maksudmu?"
Itsuki tertawa keras hingga terdengar ke seluruh ruangan. Itu bukan tawa seorang yang kalah dalam pertarungan.
"Senior, kau pasti sadar kalau tempat ini sudah terasa aneh sejak awal kalian memasukinya. Aku salah?"
"..."
Ruang bawah tanah menjadi labirin sejak awal sudah terasa aneh. Bisa dibilang itu adalah sebuah jebakan yang dipersiapkan untuk menghadang mereka, namun jika hanya seperti itu, itu terlalu mudah bagi Laila dan lainnya.
Itsuki pasti sadar sejak mereka mengalahkan Demon pertama kali, Demon sama sekali tak bisa menghentikan mereka. Namun hal itu terus terjadi sebelum mereka melawan monster wanita.
Jika ini semacam permainan, pasti Kuro dan lainnya sudah memasuki babak terakhir. Mereka akan menang. Tetapi Itsuki tetap tak mengakui kekalahannya.
"'Persiapkan rencana 5 langkah sebelum bertarung melawan musuh' bukankah itu yang selalu kau ajarkan pada kami? Jadi kenapa kau berpikir ini adalah akhir bagiku?"
"Tidak. Kau mungkin bisa memindahkan jiwamu pada tubuh lain, tetapi semuanya tetap sama saja. Aku hanya perlu membunuhmu. Sebanyak apapun yang diperlukan. Sekarang, terimalah nasibmu."
Tanpa ragu, Kuro memenggal kepala Itsuki, tetapi disaat itulah cahaya bersinar terang sebelum kepala Itsuki putus.
Lalu yang terlihat hanyalah sosok Kuro belaka.
"Tch.. Dia melarikan diri."
Setelah mengatakan itu, sayap hitam Kuro menghilang bersamaan dengan aura hitam yang menyelimutinya. Kuro kini kembali seperti Kuro yang Laila kenal.
Tetapi Kuro tiba tiba tersungkur dan menggunakan kedua pedangnya sebagai tongkat. Nafasnya terengah-engah dan keringat bercucuran dengan deras. Meskipun Kuro pemenangnya, namun dia dalam kondisi yang buruk.
Laila dan Yui mendekat dengan tatapan khawatir.
"Kuro."
"Kak Kuro, kau baik baik saja?"
Tak berapa lama kemudian, Kuro pun tumbang. Disaat itulah luka di sekujur tubuhnya terlihat. Bahkan luka tusukan pedang yang membuat darah Kuro mengalir bagai sungai.
Kuro akhirnya tak sadarkan diri. Dia tertelan kegelapan abadi.
💠💠💠
"Bibi Electra, semua persiapan telah selesai. Aku mengerti apa yang kau rencanakan, tetapi apakah ini akan berhasil?"
Putri Riana bertanya pada Electra yang sedang melihat pemandangan pohon kristal dari jendela istana.
"Kita tak akan tahu sebelum mencoba. Kekuatan kakakmu sebagai penyihir suci akan sangat berperan penting dalam pertempuran kali ini. Dia pasti saat ini sedang sangat bersemangat."
"Aku tahu kakak Victoria maniak bertarung, tetapi dalam masalah ini aku tak punya pilihan selain memiliki pendapat yang sama."
Riana mendekati jendela dan menatap hutan kristal dengan tatapan khawatir.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, tetapi kita hanya bisa percaya pada mereka hingga detik terakhir."
Di langit, cahaya merah mengancam menyinari seluruh dunia malam. Ada banyak legenda yang menyebutkan tentang malam merah darah. Ada yang baik, ada pula yang buruk.
Begitu indah namun di saat yang sama menakutkan.
30 menit tersisa hingga waktu yang ditentukan. Satu satunya harapan mereka adalah keberhasilan Kuro dan lainnya mengalahkan musuh sebelum ritual dilaksanakan.
Tetapi semua itu tak terjadi.
Sosok pemuda dengan pelindung bersinar merah darah muncul dan memulai ritual. Untuk menghentikannya, Victoria menyerang dengan tombak suci Longinus yang mampu menghancurkan segala yang terbuat dari mana. Tetapi kenyataan berkata lain, tombak suci itu tak mampu menembus pertahanan lawan.
Pada akhirnya mereka semua hanya bisa melihat sosok yang telah dibangkitkan. Sosok cantik yang mengalahkan kecantikan malaikat manapun di dunia. Sosok yang dulunya dikenal sebagai pahlawan penyelamat dunia dunia dari kegelapan.
Ratu pertama kekaisaran Houou, Holy Maiden Maria telah kembali ke dunia.
__ADS_1
"Bukankah aku bilang 'kita beruntung jika Demon King yang dibangkitkan'. Aku merasa kita benar benar tak beruntung hari ini."