Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
New Problem


__ADS_3

Sementara itu tak jauh dari rumah Kuro, tepatnya di tempat yang biasa digunakan untuk latihan, terjadi pertempuran lainnya yang tak kalah dahsyat.


Jinn bertarung dengan Asura lagi. Mereka sedang berlatih untuk mengisi waktu luang sementara menunggu Kuro sadar.


Jinn bertarung dengan kekuatan penuh. Dia bahkan menggunakan Knight Gear, tapi daripada menggunakannya, lebih tepat jika terpaksa karena dia tak bisa menggunakan Magic Arm miliknya lagi. Mungkin ini adalah salah satu kerugian dari kekuatan yang dia dapatkan.


Berbeda dengan Jinn, Asura masih bertarung dengan memakai tangan kosong.


Tapi meskipun dalam kekuatan Jinn lebih unggul, atau bahkan lebih kuat daripada saat terakhir mereka bertarung, Jinn justru adalah pihak yang terpojok dan hampir kalah.


"Ha ha ha..."


Jinn terengah engah. Keringat mengalir deras di balik armor yang menutupi tubuhnya. Jinn menatap Asura yang berdiri di depannya.


Berbeda dengan Jinn, Asura terlihat baik baik saja. Dia bahkan tak terengah engah atau bahkan terlihat serius menghadapi Jinn.


"Jinn, sudahi saja pertarungan ini. Dengan dirimu yang sekarang, berkali kalipun kau mencoba kau akan kalah."


"Tsk!!"


Selama berhari hari, mereka terus berlatih bertarung. Dalam sehari mereka bahkan bisa bertarung sebanyak 5 kali, tapi selama itupula Jinn tak pernah menang sekalipun dari Asura.


"Jinn, sampai kapan kau seperti ini?"


"..."


"Aku tak tahu apa yang telah terjadi di Dragonia, tapi satu hal yang pasti.... Jinn yang kukenal bukanlah orang lemah seperti dirimu!"


Mendengar itu, Jinn langsung saja maju dan mengeluarkan pedang yang merupakan senjata Knight Gear.


Jinn bergerak dengan kecepatan tinggi seperti sebuah peluru. Asura tak merasa takut atau gentar. Asura justru mendesah berat seperti melihat suatu yang memuakkan.


Tiba tiba tangan Asura dipenuhi oleh aura putih. Itu adalah Ki.


Asura langsung saja menghadapi Jinn tanpa ragu hanya bermodalkan tinju, tapi-


"Guahh!!"


Jinn terpental dengan keras dan membentur dinding yang berada jauh dari tempat latihan. Knight Gear yang dia pakai hancur dan pedang miliknya juga hancur. Beberapa saat kemudian Knight Gear menghilang dan menunjukkan sosok Jinn yang mengalami luka memar di seluruh bagian tubuhnya.


Tubuh Jinn kemudian terjatuh ke tanah dengan cukup keras.


Beberapa remaja langsung menuju ke arah Jinn dan membawanya ke tempat terbuka untuk mendapatkan pengobatan.


Sementara itu, Asura turun dari tempat latihan dengan wajah tak puas. Di bawah, Charlmilia dan Knox sudah menantinya.


Keduanya memakai pakaian berbahan kulit sama seperti Laila. Hanya saja tampilan Charmilia sedikit berbeda karena rambut panjangnya.


"Selamat atas kemenangannya, Asura."


"Aku tak pantas mendapatkan selamat dari pertarungan seperti itu."


Charlmilia hanya tersenyum kecil.


"Dan sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu, aku bukan anak kecil lagi."


"Kau memang masih kecil."


Charlmilia menarik Asura dan langsung mendekapkan kepalanya di kedua dadanya yang besar.


Wajah Asura langsung memerah dan matanya berputar putar. Asap mengepul dari kepalanya dan akhirnya tubuhnya tak bergerak seperti jiwanya ditarik oleh dewa kematian.


"Aaha ha, dia memang masih anak kecil."


"Berhentilah mempermainkan hati pria polos seperti dirinya, kita punya suatu yang lebih penting."


Charlmilia lalu memanggil teman Asura dan membiarkan mereka membawa Asura ke samping Jinn. Jika ditanya siapa yang terkuat, mungkin Charmilia lah orangnya.


"Suatu yang penting? Apa maksudmu?"


"Berhentilah berpura pura, kau tahu apa yang terjadi jika terus seperti ini kan?"


Senyuman langsung menghilang dari Charlmilia. Dia lalu menatap Jinn.


"Tentu aku tahu."


"........"


"..tapi mau bagaimana lagi. Kita tak punya kekuatan untuk merubah semua yang telah terjadi. Aku terbiasa dengan hal semacam ini, tapi tampaknya Jinn tak bisa melakukannya."


Charlmilia tertawa kecil dan melangkahkan kakinya pergi. Knox mengikutinya.


Mereka berjalan menelusuri jalan berbatu yang menuju ke arah sungai bawah tanah.


Setelah pertarungan di Dragonia selesai, Charlmilia, Knox dan Jinn memaksa Aldest untuk berkata jujur tentang apa yang ada di balik pertempuran itu.


Mereka memang menang, tapi kemenangan itu terasa hampa.


Sadar menyembunyikan lebih lanjut hanya akan membawa dampak buruk, Aldest akhirnya menyerah dan menceritakan semua yang dia tahu.


Pertama, misi yang sebenarnya bukanlah membantu Dragonia mengalahkan Necromancer, tapi menghancurkan senjata terbaru Dragonia. Pihak kekaisaran sudah lama tahu kalau Dragonia mengembangkan senjata baru yang mematikan, jika digunakan untuk perang, apa yang terjadi?


Charlmilia dan lainnya tahu betul seberapa kuat Dragon Arm, karena itulah mereka merasa tak aneh jika senjata seperti itu pantas dihancurkan.


Kedua, mencari tahu apa hubungan Dragonia dengan Liberia. Organisasi misterius yang sampai sekarang masih belum diketahui tujuannya, tapi mereka adalah dalang di berbagai konflik di seluruh dunia.


Dari penyelidikan itu, diketahui hubungan Dragonia dengan Liberia tidaklah dangkal.


Ketiga, meskipun terlihat seperti Cross berada di balik semua konflik di Dragonia, tapi dalang yang sebenarnya adalah pangeran kedua, Louis.


Sebagai seorang yang mengandalkan otak daripada otot, Knox tak merasa aneh jika Louis dalang di balik semuanya, tapi bagi Charlmilia, ini suatu yang mengejutkan.


Louis adalah orang di balik ide pembuatan Dragon Arm dan juga orang yang memberikan ide untuk mencoba kekuatan Dragon Arm dengan melawan Deon.


Jika Dragon Arm bisa mengalahkan salah satu orang terkuat di Dragonia, bukankah berarti mereka menciptakan senjata yang bisa menggantikan penyihir dalam perang?


Pertempuran di Dragonia memang membuat mereka mengalami kerugian besar, tapi kerugian ini akan menjadi keuntungan besar suatu saat nanti. Hanya waktu yang akan menjawabnya.

__ADS_1


Dan ini hanya akan menjadi sebuah awal.


Sebagai murid sekolah sihir yang kebetulan terlibat dengan masalah rumit itu, mereka tak bisa berbuat apapun. Dan meskipun mereka ingin melakukan sesuatu, menuduh tanpa bukti hanya akan membuat mereka dalam masalah.


Satu satunya yang tak bisa tinggal diam hanyalah Jinn. Dia terus bertingkah tak seperti biasanya sejak pulang dari Dragonia.


Banyak yang mengerti perasaan Jinn. Apalagi dia adalah seorang yang mewarisi keinginan salah satu warga yang mempercayai pemimpin mereka sampai mati, tapi pada akhirnya mereka hanyalah sebuah bidak yang disingkirkan setelah tak berguna.


"..lalu bagaimana denganmu?"


"Maksudmu?"


"Kenapa kau bisa begitu tenang dengan situasi seperti ini? Kita berhasil mengalahkan musuh, tapi kita tak memenangkan pertarungan yang sesungguhnya. ...bagaimana perasaanmu?"


"....."


"Kau sungguh pria yang aneh. Aku tak bisa menebak apa yang kau pikirkan. Dan entah mengapa aku merasakan ada kesamaan dirimu dengan Kuro. ...Knox mungkinkah kau..."


Knox terdiam membisu tak ingin menanggapi dugaan atau teori Charlmilia.


Knox tak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain. Dia mempunyai sebuah tujuan dalam kehidupannya. Bahkan dia akan mencurahkan semua yang dia miliki demi itu.


Pertarungan di Dragonia hanyalah sebuah batu loncatan. Jika dia gagal dan mati dalam pertempuran itu, itu artinya dia memang tak pantas mendapatkan apa yang menjadi tujuannya.


♦️♦️♦️


Di tempat lain, Lairo juga bertarung, tapi bukan bertarung melawan penduduk klan Blad. Dia sedang melawan ayahnya sendiri.


Keduanya memiliki Magic Arm berwujud pedang besar yang mirip untuk golok untuk menebas monster dalam sekejap. Keduanya juga memiliki elemen sihir yang sama, yaitu elemen suara.


Dengan kemiripan itu, tak mengherankan jika memiliki pola serangan yang hampir sama.


"Haaaa!!!!!"


Lairo berteriak dan bersiap menyerang dengan tebasan. Berbeda dengan Lairo, ayahnya terlihat tak serius bertarung.


Strauss menghindari tebasan Lairo hanya dengan gerakan minimal.


"Ada apa, kenapa kau semakin lambat saja? Apakah hanya segini kemampuanmu?"


"Kuh!!"


Mendengar provokasi ayahnya, Lairo langsung meningkatkan kecepatan serangannya, meskipun begitu dia masih belum bisa mengenai ayahnya.


"Hmm.... lebih baik, tapi masih belum cukup. [Sonic Cannon]"


Tangan Straus yang bebas langsung memunculkan sebuah bola angin transparan. Bola itu ditembakan ke arah Lairo seperti sebuah bola besi.


Lairo sudah sering melihat serangan itu sejak kecil, karena itulah dia tahu cara mengatasinya. Lairo menggunakan sisi lebar pedangnya untuk menahan serangan, tapi sesaat sebelum bola mengenai pedang Lairo, Straus menjentikan jarinya dan bola itu langsung meledak bagai bom.


Mata Lairo terkejut dengan serangan yang tak terduga itu. Tubuhnya terpental dan akhirnya terjatuh dengan keras.


Melihat itu, Strauss justru tertawa senang.


"Aha ha.. aku terkejut kau masih hidup dengan kekuatan seperti itu? Tapi aku cukup senang karena kau lebih kuat, ...tapi Lairo, bisakah kau melindungi orang yang berharga bagimu dengan kekuatan seperti itu?"


"Kuh....."


Tak jauh dari tempat itu, Aldest tersenyum melihat Lairo kalah dari ayahnya dengan memalukan.


♦️♦️♦️


Disaat yang sama, ibukota kekaisaran Houou, kota Phoenix.


Ruangan dengan cahaya minimal dipenuhi oleh aura berat dan tak menyenangkan. Sebuah meja bulat dengan 7 kursi mengelingi meja. Di salah satu kursi itu, Electra duduk dengan wajah serius, tapi dia juga menunjukkan senyuman nakal.


Di kursi lainnya ayah Laila, Leon terlihat sedang menahan amarah, tapi dia juga menunjukkan ekspresi rumit. Orang yang duduk di kursi lainnya tak jauh berbeda. Tapi pandangan berbeda dari satu kursi yang kosong.


"Leon, apa pendapatmu mengenai hal ini?" tanya salah satu pria tua bernama Takioz.


Sama seperti Leon dan Electra, dia adalah salah satu paladin yang memiliki usia cukup tua.


Semua yang duduk hampir semuanya adalah Paladin, tapi tidak dengan dua orang lainnya. Tapi keduanya tak kalah penting dengan semua Paladin.


Saat ini mereka sedang rapat rahasia. Meskipun mereka berada di tempat yang sama dalam ruangan, tapi itu bukanlah wujud mereka yang sebenarnya. Mereka menggunakan sihir untuk memproyeksikan tubuh mereka.


"Keh, kita tak perlu tanya pendapatnya."


Salah satu paladin lainnya terlihat tak senang dengan semua yang terjadi di Dragonia.


"Dia sudah merencanakan semuanya dari awal. Dia bahkan menggunakan putrinya sendiri untuk memperlancar rencananya. Sebaiknya kita laku-"


"Aramiz, diam!!"


Paladin bernama Aramiz langsung terdiam menuruti salah satu dari orang yang bukan paladin.


"Jika kau mengatakan tanpa bukti, kau tahu artinya kan?"


"Khh..."


Aramiz hanya bisa menahan emosinya. Dia tak bisa menentang orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi darinya.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan, dengan semua data yang ada, normalnya kita akan berpikir Leon merencanakan sesuatu dengan menggunakan keturunan Demon King. ....sayangnya jika Leon ingin berkhianat, dia cukup menggunakan kekuatannya. Kau tahu sendiri di adalah orang terkuat di negeri ini. Jika dia menginginkan kekuasaan, dia pasti sudah melakukannya dari dulu tanpa harus menggunakan keturunan Demon King."


Semuanya berpikir hal yang sama dengan pria itu. Hal itulah yang menjadi bukti Leon tak bersalah.


"Tapi kita memang tak berdiam diri dengan situasi sekarang ini. Fakta putri Leon adalah calon Queen adalah suatu yang tak kita perkirakan sebelumnya."


"Kurasa itu tidak benar, Kaisar."


Tiba tiba Electra menyela.


"Putri Leon menjadi Quenn sudah lama tertulis dalam takdir. Meskipun kita berusaha mencegah mereka bertemu, kita tak akan bisa mencegah mereka."


"Itu hanya alasanmu saja kan?" ucap Aramiz dengan nada sinis. "Kau yang pertama kali menemukan keturunan Demon King. Kau juga yang membuat mereka bersama. Sebenarnya apa yang kau rencanakan, B*tch?"


Electra hanya tersenyum kecil.

__ADS_1


"Rencana? Apa maksudmu? Apa kau punya buktinya?"


Aramiz langsung terlihat lebih kesal dari yang sebelumnya.


"Tch... dasar iblis betina."


Ketegangan mulai terjadi. Ini suatu yang sering terjadi jika para Paladin berkumpul. Meskipun bukan dengan tubuh asli mereka.


"Tenang semuanya. Kita sudah keluar dari topik yang ingin kita bahas." ucap Takioz. "Kita memang tak bisa mengabaikan keturunan Demon King dan Laila, tapi kita tahu kesetiaan Leon. Dia pasti akan melakukan sesuatu untuk masalah ini. Lagipula bukankah ini urusan keluarganya? Kurasa kita tak perlu ikut campur kecuali mereka melakukan suatu yang berada di luar batas, benarkan?"


Semuanya terdiam. Tak ada yang membantah atau berusaha menentang perkataan Takioz.


"Kalau begitu masalah keturunan Demon King akan kuserahkan kepadamu, Leon."


"Serahkan padaku, Kaisar."


Pria yang dikenal sebagai kaisar kembali menunjukkan tatapan serius.


"Electra, aku sudah membaca laporan mengenai pertempuran yang terjadi di Dragonia. Jujur saja aku sedikit terkejut, tapi apakah kau menemukan sesuatu yang lain mengenai musuh kita?"


"Ah... mengenai itu, aku memang menemukan suatu yang menarik."


Tiba tiba di tengah mereka layar mana muncul. Layar itu bertuliskan data yang cukup panjang.


Semuanya membaca dokumen itu, dan setelah selesai, mereka menunjukkan reaksi yang sama, yaitu terkejut.


"Electra, apakah semua ini benar?"


"Ya. Tak ada yang salah dengan semua itu."


Semuanya langsung berkeringat dingin.


"Liberia lebih menakutkan daripada yang kita kira. Jika kita tak cepat bertindak, mereka akan mencapai tujuan mereka. ...dan kurasa tak ada satupun orang di ruangan ini yang menginginkan hal itu terjadi, benarkan?"


"Electra, mungkinkah ini alasan kenapa kau..."


Electra hanya tersenyum kecil. Senyuman kecil yang penuh dengan misteri.


♦️♦️♦️


Sementara itu, di desa klan Blad. Tepatnya di kamar Kuro, Kuro selesai menyantap makanan yang telah dipersiapkan Yui. Meskipun dia sudah menyantap menu spesial, tetap saja itu tak membuatnya kenyang secara raga.


"Sudah selesai? Sini aku bereskan."


Kuro memberikan piring kotor kepada Laila. Laila menerimanya dan langsung keluar dari kamar Kuro.


Kuro tersenyum senang. Dia senang melihat Laila yang semakin mirip seorang istri. Sayangnya senyuman itu langsung menghilang.


Kuro perlahan bangkit keluar dari kamarnya. Dia menemukan Laila yang sudah kembali.


"Apa kau mau keluar?"


Kuro mengangguk.


"Aku sudah lama tak menggerakan tubuhku. Tubuhku saat ini terasa kaku seperti mayat."


"Kalau begitu tunggu aku. Aku ikut bersamamu."


"...baiklah, tapi kau benar benar menjadi istriku."


Pipi Laila langsung memerah karena malu.


"Ara.. kau baru sadar? Kau tak tahu betapa beruntungnya dirimu mempunyai orang yang mencintai dirimu seperti aku fu uf ufu.."


"Iya iya. Aku adalah pria paling beruntung di dunia, ..sayang aku sedikit ragu dengan masakanmu."


"Gu.. aku memang tak bisa memasak, kenapa kau membahas itu.. moooooo...."


Kuro tertawa kecil. Disaat yang sama dia ingat sesuatu yang penting.


"Oh iya. Laila, apa kau melihat Lic?"


Kuro belum melihat pedang putihnya. Jadi dia menanyakannya.


"Lic.."


Laila justru menunjukkan ekspresi rumit. Hal itu membuat Kuro langsung berpikir telah terjadi sesuatu dengan pedangnya.


"Errr.. mengenai Lic.."


"Hm?"


Tiba tiba Kuro merasakan bajunya ditarik oleh seseorang dari belakang. Yang membuatnya heran, Kuro tak merasakan hawa keberadaan seorang di belakangnya.


Kuro langsung menoleh ke belakang dan diapun menemukan seseorang gadis mungil.


"..........."


Tapi gadis mungil itu bukan gadis mungil biasa. Kuro bisa langsung tahu hanya dari penampilannya saja.


Gadis itu seperti gadis berusia 5 tahun. Memiliki rambut putih yang sedikit melingkar seperti Laila dan juga memiliki mata merah seperti api yang membara sama seperti Laila.


"Papa."


Gadis itu juga memiliki suara yang imut. Tapi kenapa gadis itu memanggil Kuro dengan sebutan "papa"?.


Kuro langsung berkeringat dingin dan menoleh ke arah Laila.


Laila juga menunjukkan tatapan rumit.


"Laila, ...siapa..anak ini? Mungkinkah dia..."


Anak mereka? Dengan rambut putihnya, gadis itu hampir sama dengan keduanya jika digabungkan. Kemungkinan itu ada meskipun tak masuk akal.


"...ya. Seperti yang kau duga, ...anak itu adalah..."


"........"

__ADS_1


"..Lic."


"..............................................................huh?"


__ADS_2