Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Punishment Time


__ADS_3

(Sudah aku duga akan berada dalam masalah jika berurusan dengan wanita. Sial!!)


Sejak kecil Riku jarang sekali bergaul dengan laki laki. Lebih tepatnya orang di sekitarnya kebanyakan adalah para wanita.


Memiliki ibu lebih dari satu (satu ibu kandung dan lainnya ibu tiri), saudara perempuan lebih banyak daripada saudara laki laki, bahkan jumlah pelayan wanita 90 persen adalah wanita cantik.


Dengan pergaulan seperti itu, tak aneh jika dia dengan mudah akrab dengan para wanita.


Dia merasa itu suatu yang normal dan juga dialami oleh orang lain.


---tetapi seiring berjalannya waktu, dia mulai menyadari kalau dia dan keluarganya benar benar aneh dan tak normal.


Karena merasakan kejanggalan itulah dia mulai menjaga jarak dengan para wanita. Setidaknya, dia tak akan terlalu dekat dengan orang yang tak begitu dia kenal.


Sayangnya, siapa yang tahu kalau yang terjadi berkebalikan dengan apa yang Riku inginkan? Dan yang lebih parah, setiap hal itu terjadi, dia juga akan terlibat dengan masalah yang lebih besar.


Sudah tak terhitung lagi Riku terlibat dalam masalah hanya karena wanita. Karena tak tahan itulah dia mulai menghindar dengan cara pergi dari rumah dengan alasan mencari pengalaman di dunia luar. Sama seperti ayahnya waktu muda dulu.


Meskipun dia berhasil mengurangi masalah, setelah beberapa minggu, masalah kembali datang menghampiri seolah tak pernah habis.


---apa tuhan mengutuk dirinya untuk terlibat dalam masalah wanita terus menerus?


"Sial!!!"


Pada akhirnya dia tak memiliki kekuatan untuk merubah jalan takdirnya. Selain itu, situasinya sekarang tak mengizinkannya untuk memikirkan sesuatu yang tak penting.


"Flame Wolf!!"


Dua serigala api dengan tubuh dua meter lebih muncul di dekat Riku dan mulai menyerang tikus raksasa. Sementara itu, dia menyerang tikus raksasa lain.


Awalnya Riku mengira karena ukuran tubuh mereka yang besar, mereka bergerak cukup lambat, tapi Riku salah. Tak hanya kuat, tapi juga cepat.


Tikus raksasa tak hanya menggunakan cakar dan tubuhnya, tapi juga ekornya yang digunakan menyerupai cambuk.


"Jangan samakan mereka dengan para tikus biasa. Mereka memang lemah, tapi aku memberikan perhatian khusus agar mereka mampu melawan penyihir peringkat A. Luar biasa kan?"


"Kuh!!"


Riku tak memiliki waktu untuk mendengarkan perkataan pria kurus itu. Dia kewalahan menghadapi para tikus raksasa dengan ukuran abnormal itu.


Dengan kekuatannya sebagai penyihir peringkat B, mustahil baginya mengalahkan mereka.


(Apa aku harus melepaskan kekuatanku?)


Kekuatan Riku sebagai penyihir peringkat B adalah nyata, tapi di saat yang sama itu adalah kekuatan palsu yang membodohi mata orang lain.


Dia bisa melepaskan kekuatan yang lebih besar dengan melepaskan beberapa segel yang ada pada tubuhnya, tapi itu adalah sebuah jalan terakhir. Jika dia terburu buru melepaskan kekuatannya, itu tak akan menjadi latihan.


(Untuk sekarang, aku akan menggunakan semua yang aku miliki sebagai penyihir peringkat B)


"Flame Wolf"


Sekali lagi seekor serigala api muncul di dekat Riku.


Tapi bukan hanya itu saja.


"Flame Lion. Flame Eagle. Red Panther,"


Satu persatu makhluk buas yang tercipta dari api muncul di dekat Riku dan menyerang.


Pria kurus itu terkejut dengan apa yang dia lihat. Sebagai penyihir sanggup memanggil Beast adalah suatu yang biasa, tapi tidak dengan berbagai jenis seperti ini kecuali menggunakan sihir khusus.


Apa yang dipikirkan pria kurus itu tidaklah salah.


Sihir Riku yang mampu menciptakan makhluk hidup dengan elemen api bisa dikatakan sebagai sebuah sihir unik. Sebuah sihir yang hanya dia miliki seorang, Fire of Life.


Normalnya penyihir bisa menciptakan berbagai bentuk dengan elemen tergantung apa yang mereka inginkan, tetapi mayoritas merupakan benda mati.


Sedangkan sihir Riku berbeda. Selain menyerupai makhluk hidup, sihirnya juga terlihat hidup. Meskipun terlihat luar biasa, sebagai gantinya Riku sulit menciptakan bentuk benda mati. Lalu sihir Riku juga memiliki kelemahan besar. Selama makhluk ciptaannya masih ada, energi sihirnya akan terus berkurang. Mengingat dia hanya peringkat B, sihir uniknya cukup membuatnya dalam masalah.


(Aku harus menyelesaikan ini sebelum energi sihirku habis)


Selain itu, dia juga harus mengendalikan para monster api itu agar lebih efektif menghadapi musuh.


Roaarr!!! Bersamaan dengan raungan keras, salah satu tikus raksasa berhasil dibunuh.


Riku berencana menghabisi satu persatu dan menggunakan dirinya sebagai umpan. Cara ini berhasil, tapi mana mungkin musuh membiarkan Riku melaksanakan rencananya.


"Hehe...he.."


Pria itu tertawa seolah melihat apa yang dilakukan Riku sebagai suatu yang lucu.


Sebagai Monster Tamer, pria kurus itu sadar taktik Riku tidaklah salah. Sayang, itu berlaku jika para tikus raksasa itu tidak dikendalikan.


Pria itu lalu memberikan perintah melalui koneksi dengan para tikus raksasa.


"!?"


Riku sadar gerakan para tikus raksasa mulai berubah. Yang semula bertarung secara asal asalan, kini mulai bekerja sama menghadapi para monster api.


Ketika salah satu diserang, tikus raksasa lainnya membantu dan mengepung dari berbagai arah dan selanjutnya bisa ditebak, monster api berhasil dikalahkan.


"Tsk!!"


Riku menggigit bibir bawahnya saat melihat salah satu monster api dimusnahkan, tapi dia tak bisa membuat lainnya karena akan menguras energi sihirnya lebih cepat.


Apapun yang terjadi, dia harus bertarung dengan kondisi seperti ini.


Riku lalu mengubah strateginya. Daripada melawan satu persatu, lebih baik musnahkan mereka dengan sihir yang kuat.


--kapan terakhir kali dia berjudi dengan nyawa sebagai taruhannya? Ini sungguh konyol.


"Flame Lion, Flame Eagle, Flame Dragon. Hancurkan mereka semua!!"


Riku menambah jumlah makhluk ciptaannya. Dua ekor singa api, tiga burung elang api dan seekor naga api besar 10 meter lebih.


Pembantaian pun dimulai.


Seberapa banyak tikus raksasa yang menyerang, semuanya menjadi debu. Tumpukan mayat terus bertambah hingga membuat bau yang menyengat.

__ADS_1


Pertarungan sengit antara kedua belah pihak terus berlanjut. Riku lebih unggul, lebih tepat menang telak.


Sayangnya, waktu perlahan menjawab akhir pertarungan itu.


Dimulai dari naga api yang menghilang, makhluk ciptaan Riku satu persatu mulai menghilang. Lalu pada akhirnya hanya menyisakan Riku seorang di tengah tumpukan mayat.


Tubuh Riku terlihat begitu lelah dan nafasnya terengah-engah. Wajahnya juga terlihat pucat. Dia masih sanggup berdiri karena menggunakan pedangnya sebagai tongkat.


Para tikus raksasa yang melihat kondisi Riku mulai berisik seolah senang melihat kondisi Riku. Mungkin karena inilah yang mereka incar sejak awal.


Riku tahu dalam masalah, tapi masalah sebenarnya baru dimulai.


Tiba-tiba rombongan tikus raksasa terbelah seperti membuat sebuah jalan. Bersamaan dengan itu, suara langkah berat dari sosok besar mendekat.


Riku bisa merasakan tekanan yang begitu besar dari sosok itu. Tidak seperti para tikus raksasa, sosok itu berada di level yang berbeda.


Sosok itu akhirnya terlihat. Tinggi 3 meter hampir menyentuh bagian atas langit langit terowongan. Panjang tubuh melebihi 15 meter lebih. Tiga buah tanduk dan taring besar di bagian mulutnya bagaikan sebuah pedang besar yang sanggup mengoyak daging dengan mudahnya.


Riku tahu ada satu makhluk yang sesuai dengan sosok itu, tetapi seharusnya itu tak berada di sini.


(Ini buruk. Aku tak menyangka ada monster peringkat S berada di tempat ini)


Mammoth Rat. Monster peringkat S yang juga dikenal sebagai pembawa bencana. Monster ini memimpin tikus raksasa membentuk kawanan besar yang sanggup menghancurkan sebuah kota dalam semalam.


Riku masih tak memiliki petunjuk sejauh mana pria kurus itu melakukan rencananya, tapi jika dibiarkan, ibukota akan dalam masalah besar.


Pria itu lalu memerintahkan para tikus raksasa menyerang Riku dari segala arah secara bersamaan dengan Mammoth Rat sebagai pemimpin.


Dengan ini nyawa pemuda itu akan berakhir. Mayatnya akan habis tanpa menyisakan tulang.


"Ini berakhir..."


Melihat tumpukan tikus raksasa yang menyerang membabi buta, pria kurus itu tahu tak mungkin pemuda itu akan selamat.


Dia merasa tak tertarik dan akhirnya melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.


Rencana gagal, tapi bukan berarti akhir.


"?!"


Tapi dia menghentikan langkahnya saat merasakan hubungan antara dirinya dengan tikus raksasa satu persatu terputus. Dan dalam jumlah besar.


Pria tahu betul apa artinya. Tikus yang dia kendalikan mati.


Boom!! Ledakan keras terjadi dari arah tumpukan tikus raksasa yang menyerang Riku. Tubuh mereka tercerai berai, terbakar dan hangus.


Sementara itu, pelaku dari semua itu berdiri dengan pedang  bersarung yang dihunuskan ke arah pria itu.


Tetapi bukan itu yang mengejutkan pria itu. Berbeda dengan sebelumnya, tekanan sihir Riku meningkat pesat. Dan itu terus bertambah seolah tak memiliki batas.


Pria itu berkeringat dingin. Tekanan yang dia rasakan ini seperti saat berhadapan dengan sosok monster.


"S-siapa kau sebenarnya..."


Dia tahu pemuda itu bukan pemuda biasa, tapi ini melebihi perkiraannya.


"Siapa aku itu tidaklah penting.."


"Yang terpenting saat ini adalah bagaimana sebaiknya kau mati..."


Sarung pedang perlahan menghilang menjadi cahaya. Pedang yang tertutup menunjukkan sosoknya yang sebenarnya.


Pedang merah menyala yang indah bagaikan warna darah segar dengan hiasan naga. Bersamaan dengan itu, tekanan sihir Riku sekali lagi meningkat pesat seolah semua tadi hanyalah permulaan.


"K-kau..."


Pria itu langsung panik. Dia memang tak mengenal sosok pemuda itu, tapi dia mengenal betul pedang yang berada di tangannya.


Ini adalah mimpi buruk. Siapa yang menyangka misi mudah akan berakhir dengan bertemu orang yang paling dia hindari.


Dia harus lari. Sekuat apapun dia, dia tak bisa mungkin menang dari Riku.


Pria itu menggertakkan giginya. Dia menggunakan semua energi sihirnya pada sihir pengendalian.


Dia memerintahkan pada semua tikus raksasa yang untuk membunuh Riku, tidak. Lebih tepat jika mengorbankan diri agar dia bisa melarikan diri.


Mammoth Rat yang sebelumnya hanyalah salah satu dari beberapa Mammoth Rat yang dia kendalikan. Kini dia mengeluarkan semuanya tanpa peduli seberapa sulit dan waktu yang dia habiskan untuk mengendalikan mereka semua.


Baginya nyawanya lebih penting daripada boneka yang menuruti semua perintahnya.


Sementara itu, Riku yang telah mengaktifkan kekuatan sejatinya hanya tersenyum kecil saat melihat 7 Mammoth Rat dan ribuan tikus raksasa mengepung dirinya dari semua arah.


Baginya, dengan dirinya yang sekarang ini, sebanyak apapun jumlah musuh, dia masih bisa mengalahkan mereka dengan mudah.


"Dragon ....Breath Slash!!"


Semuanya menjadi debu, bahkan termasuk pria yang berada 500 meter dari tempat Riku.


Pertarungan dimulai dan di saat yang sama berakhir.


 


 


Di waktu yang sama, Lori dan Resla kembali ke gorong gorong bersama dengan 20 orang Knight. Awalnya tak ada yang percaya dengan cerita mereka berdua tentang jumlah tikus raksasa yang tak normal, tapi saat melihat jumlah tikus raksasa yang dikalahkan keduanya berserakan di gorong gorong mencapai 100 lebih, para Knight tak memiliki pilihan selain menganggap serius masalah itu.


Mereka semua berlari dengan kecepatan penuh karena Lori dan Resla memberitahu kalau ada teman mereka yang masih berada di gorong-gorong.


Mengingat situasi saat keduanya pergi, sebenarnya mengharapkan Riku masih hidup seperti sebuah mengharapkan keajaiban. Sebagai penyihir peringkat B Riku cukup kuat, tapi setiap orang memiliki batas. Apalagi dengan jumlah lawan yang tak terhitung.


Meskipun baru mengenal beberapa jam, dalam hati keduanya sosok Riku adalah sosok yang luar biasa. Mereka berhutang budi karena berkat dirinya keduanya masih bisa bernafas sekarang.


Meskipun tak selamat, setidaknya mereka bisa menemukan mayat Riku dalam keadaan utuh.


"Apa tempatnya masih jauh?"


Salah satu Knight bertanya.


"Tidak, sebentar lagi."

__ADS_1


Saat masuk memang mereka ceroboh tak begitu memperhatikan, tapi saat dipandu oleh kupu-kupu Riku, keduanya berusaha mengingat sebaik mungkin jalan yang mereka lalui.


Lalu ditambah dengan lokasi fasilitas pengolahan limbah, sebenarnya jika melihat peta, mereka bisa menemukan lokasi dengan lebih mudah.


Tak berapa lama kemudian, mereka semua hampir tiba di fasilitas, tapi dengan cepat salah satu Knight memberikan tanda kalau mereka harus waspada.


"Monster...?"


"Mungkin... "


Lori dan Resla tak begitu mengerti, tapi setelah mereka masuk lebih dalam lagi dengan penuh hati hati, akhirnya keduanya merasakan kenapa Knight waspada.


Tekanan sihir yang mereka rasakan begitu berat dan kuat. Nafas mereka saja menjadi sulit dan langkah terasa begitu berat.


"Sekuat apa musuh yang kita akan hadapi..?"


Dari tekanan sihir saja sudah sekuat ini, bagaimana jika bertemu dengan secara langsung?


"Kita hanya berharap kalau ini bukanlah berasal dari musuh. Ini lebih buruk daripada yang aku duga. Nona nona, jika situasi memburuk, kalian harus pergi apapun yang terjadi."


Keduanya mengangguk tanda mengerti.


Lalu para Knight yang membentuk formasi siap bertarung. Mereka perlahan maju dengan penuh kehati-hatian dan waspada.


Akhirnya mereka tiba. Dengan tanda dari salah satu Knight, semuanya maju secara bersamaan.


Tetapi semuanya kembali dikejutkan. Tak ada apapun di tempat itu.


"Di mana musuh? Mungkinkah sudah pergi?" Tanya salah satu Knight sambil melihat ke sekeliling.


"Lebih baik seperti itu. Bagaimanapun juga aku tak ingin melawan seorang yang memiliki tekanan sihir semengerikan ini."


Tak ada yang mencoba membalas.


Meskipun sosok misterius itu telah pergi (mungkin), tapi tekanan sihir masih begitu kuat di tempat itu.


"Kapten, lihat ini."


Pria kekar yang dipanggil kapten mendekati salah satu Knight yang memungut sesuatu di lantai.


"Abu?"


"Seluruh tempat ini dipenuhi oleh abu."


Kapten memperhatikan sekali lagi seluruh tempat. Dan memang, dia melihat abu yang cukup tebal di seluruh tempat seolah tak pernah terjamah oleh manusia beberapa tahun.


"Abu ini masih hangat, bisa disimpulkan abu ini bukan abu biasa. Lalu mengingat laporan tentang adanya tikus raksasa dan kita tak menemukan apapun di sini....."


"Ahaha... Itu sungguh lelucon yang bagus."


Knight itu menyampaikan logika yang paling masuk akal dalam situasi mereka sekarang, tapi justru ditertawakan.


Tapi tiba tiba ekspresi kapten menjadi serius.


"Apa kau bilang kalau ada penyihir yang sanggup menggunakan sihir tingkat lebih dari 5 dan hanya menyerang para tikus raksasa?"


"..."


Knight itu ingin mengangguk, tapi dia mengurungkan niatnya. Dia sadar banyak hal yang mustahil terjadi.


Pertama, sihir tingkat 5 ke atas adalah sihir yang tak bisa dilakukan dengan mudah dan membutuhkan proses yang cukup lama. Sihir tingkat 5 ke atas juga dikategorikan sebagai sihir pemusnah masal atau sihir yang sanggup mengubah peta.


Bagaimana mungkin dengan sihir seperti itu tempat itu masih baik baik saja?


"Daripada memikirkan hal yang mustahil, kita sebaiknya lakukan investigasi lebih lanjut. Aku juga akan membuat laporan agar pembasmian tikus raksasa segera dilakukan."


Kapten Knight terlihat tenang, tapi dia adalah orang yang paling panik di antara semuanya. Dia memang membantah ada sihir yang sanggup melakukan hal mustahil, tapi tidak jika itu dilakukan oleh orang yang tepat.


Dan karena tahu itulah dia ingin segera pergi dari tempat itu.


"Tunggu, sebelum itu bagaimana dengan teman kami?" Tanya Lori.


Meskipun dia senang karena tak ada tikus raksasa lagi, tapi itu tak menjadi bukti kalau Riku selamat.


"Kita hanya bisa berharap dia baik baik saja. Dan jika dugaanku tepat, mungkin saja dia diselamatkan oleh orang yang sanggup melakukan semua ini. Oh iya, dia seorang Worker kan? Jika dia ke tempat ini untuk melaksanakan misi, aku yakin dia akan kembali ke Guild untuk memberikan laporan. Sebaiknya kalian ke sana untuk mencari tahu."


"Terima kasih. Kami akan segera ke Guild. Resla, ayo.."


"Unn.."


 


Sementara itu, pelaku dari semua kekacauan itu saat ini menjadi pusat perhatian di jalanan. Bukan karena orang orang tahu apa yang dia perbuat di bawah tanah, tapi karena dia terlihat seperti orang yang sekarat.


Groowwwwll...


Suara keras bagai monster keluar dari perut Riku. Dia berjalan dengan menggunakan pedangnya sebagai tongkat seperti orang tua.


(Sialan.. karena aku menggunakan kartu andalanku, aku semakin lapar... Akan tidak lucu jika ada yang tahu aku hampir mati karena kelaparan)


Pandangannya mulai kabur. Dia bahkan mulai melihat berbagai macam ilusi. Bahkan dada wanita yang berlalu lalang berubah menjadi buah buahan yang nikmat.


(Aku harus bertahan ..)


Dia menguatkan tekadnya, tapi tubuhnya tak mau menurut.


Di saat itulah dia mendengar perkataan yang bagaikan undangan ke surga.


"Tuan muda, sepertinya anda lapar. Maukah anda mencicipi makanan yang baru saya buat?"


"Tentu saj..."


Dia tak memiliki alasan menolak. Tapi saat ingat suara itu tak asing di telinganya, dia sadar.


Undangan yang dia terima tak membawanya ke surga, tapi ke neraka.


"Tuan muda, jangan mencoba kabur. Kau tahu tak bisa kabur dariku kan?"


Gadis cantik menyerupai malaikat tersenyum, tapi senyuman itu sungguh mengerikan.

__ADS_1


"L-Lunaris..l-lama tak berjumpa..."


"Waktunya hukuman." Ucap gadis itu dengan senyuman bagai malaikat suci.


__ADS_2