Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Another Reincarnator


__ADS_3

"Haa.. Kuro memang selalu memberi kejutan. Siapa sangka dia bisa seakrab itu dengan ayah."


"Ya... Jujur saja ini baru pertama kalinya aku mendengar ini. Aku tahu dia memiliki banyak rahasia, tapi ini sangat mengejutkan."


"Tetapi begitulah Kuro. Meskipun hanya sebentar, aku merasa mulai terbiasa dengan hal ini."


Kemudian, ketiganya mendesah secara bersamaan dengan kompak.


Langit begitu cerah. Kedua bulan sudah tak memancarkan cahaya merah mengancam yang menakutkan seolah dunia memberkati pesta perayaan mereka.


"Ada yang memiliki petunjuk apa yang mereka bicarakan."


"Entahlah. Tapi jika dilihat dari percakapan mereka, mungkin ini menyangkut masalah hadiah untuk Kuro."


"Ugh.."


Riana menunduk dengan wajah memerah. Dia mengingat kembali apa yang diberikan Sei pada Kuro, yaitu dirinya.


Tentu ini bukan masalah yang sepele. Jika dilihat dari status, maka Kuro menikah dengan Riana adalah suatu yang mustahil. Tetapi Kuro adalah orang yang banyak berjasa dan menjadi pahlawan dalam pertempuran sebelumnya, jika dia dianugerahi hadiah (Riana) maka dia bisa menikah. Tentu itu juga membuat Kuro menjadi bangsawan Kekaisaran Houou.


"Jangan bahas itu, Charlmilia. Kau tahu, aku bukanlah orang yang suka jika melihat Kuro bersama dengan orang lain."


"Laila, kau itu terlalu posesif. Lagipula selama ini Kuro sudah menolak gadis lain selain dirimu. Kau seharusnya bisa percaya dengannya."


"Selain itu ini baru pertama kalinya kami mendengar kau sudah memiliki seorang anak. Siapa namanya? Apakah dia mirip dengan Kuro?"


"Riana, jika kau berusaha mengalihkan perhatian, itu percuma. Tetapi benar juga. Aku sekarang seorang ibu dari anak yang manis dan lucu. Sama seperti Lic, dia bagaikan gabungan kami berdua. Hanya saja dia tampan. Uehehehe.. Aku sudah kangen dengannya."


"..."


"..."


Riana dan Charmilia menatap satu sama lain.


"Yah.. Aku tahu kalau kalian iri, jadi cepat cari suami dan membuat anak dengan mereka. Aku yakin kalian juga akan segera bisa mengerti apa yang aku rasakan."


"Apa apaan itu."


"Siapa suami yang kau maksud?"


"Ahaha.. Aku lupa kalian menyukai Kuro. Wajar saja kalian sulit menerima kenyataan yang ada. Yah.. Intinya hanya satu. Tolong menyerahlah."


Untuk pertama kalinya, Laila tersenyum lebar bagai seorang pemenang besar.


Sementara itu, bagi orang lain.


"Hey.. Apakah baik baik saja membiarkan mereka seperti itu?"


"Mereka hanya mengobrol di beranda sambil menikmati cahaya rembulan dan minum teh. Kenapa harus menghentikan ini?"


"Knox, aku sungguh tak bercanda. Ini bagaikan berperang setelah berperang."


"Bodoh. Kau bahkan tak ikutan dalam perang mereka. Aku peringatkan, jika kau ingin hidup jangan mencoba mendekat. Setidaknya kau bisa berpura pura tak melihat seperti mereka berdua."


Jinn menoleh ke arah Arthuria dan Victoria yang melanjutkan  pesta dengan berdansa. Orang lain juga tak terlalu peduli dengan urusan ketiganya. Atau lebih tepat tak berani.


"Ha.. Aku harap bisa menemukan seorang yang bisa diajak berdansa seperti mereka. Sayang sekali tak ada orang yang beb-"


Di saat itulah matanya bertemu dengan Otome.


"Knox, aku tak percaya kau ternyata memiliki selera terhadap wanita yang lebih tua."


"Jika kau mengatakan itu lagi, aku akan membunuhmu."


_____________________


____________


____


Sementara itu, Kuro dan Sei tiba di ruang Kaisar. Ruang ini dilindungi oleh sihir berlapis lapis dan hanya orang tertentu saja yang bisa masuk. Bahkan tuan putri tak bisa masuk jika tak diijinkan.


Tetapi kali ini situasi berbeda untuk Kuro


"Wow ruangan ini sungguh membosankan. Aku rasa ruangan ini butuh beberapa dekorasi."


"Kau berkata seolah kau baru pertama kali datang ke ruangan ini. Kau mau anggur atau vodka?"


"Aku lebih memilih vodka."


Sementara Sei menyiapkan minuman dari bar kecil di sudut ruangan, Kuro duduk di sofa.


Normalnya membiarkan kaisar membuatkan teh sungguh tak sopan, namun ini sudah menjadi kebiasaan di antara keduanya. Lagipula Kuro secara teknis adalah tamu.


"Silahkan menikmati. Ha.. Akhirnya aku bisa bebas untuk sementara. Menjadi pemimpin sungguh tak memiliki banyak waktu luang."


Sei menyandarkan tubuhnya ke belakang dan melemaskan otot yang mulai kaku. Meskipun dia sudah tua, bukan berarti dia memiliki tubuh yang lemah, hanya saja dia tak memiliki waktu untuk santai.


"Aku tak ingin mendengar itu dari seorang yang menjadi kaisar selama 300 tahun lebih. Sudah terlambat untuk mengeluh."


"Yah.. Kau benar. Sudah terlambat untuk mundur. Karena itulah aku akan melakukan yang aku bisa sebelum menemukan penggantiku. Lagipula aku menjadi seperti ini berkat seseorang yang sangat egois."


"Haha.. Apa itu yang kau keluhkan padaku? Ngomong ngomong, apa kau tak melepaskan sihir penyamaranmu itu?"


"Tidak. Melepaskan kulit tua ini mudah, namun memasangnya kembali sungguh merepotkan. Apa kau tahu, karena aku lengah, sosokku pernah terbongkar oleh putriku sendiri."


"Siapa?"


"Victoria."


"Ah.. Aku bisa membayangkan apa yang terjadi."


Sei mendesah seperti mengingat hal buruk.


"Suatu hari dia ingin sekali menemuiku, jadi dia mendobrak pintu dengan paksa hingga hancur. Dan di saat itulah dia melihat wajah asliku. Kau bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya?"


"Tidak. Beritahu aku!"


"Tak ada apapun yang terjadi."


"Apa?"


"Dia hanya terdiam mematung beberapa saat dan pergi. Aku takut dia memberitahu semua orang tetapi itu tak terjadi. Hanya saja setelah itu hubungan kami mulai sedikit aneh."


"Ah.. Aku mulai bisa menebak arah pembicaraan ini. Maaf, jujur saja aku tak tertarik dengan masalah percintaanmu. Sebaiknya kita selesaikan basa basinya dan mulai ke masalah serius. Kenapa kau menyuruhku bertunangan dengan Riana?"


Sei terdiam sesaat. Setelah mendesah kecil, dia memasang wajah serius.


Sama seperti Kuro, Sei adalah seorang yang melakukan segala sesuatu dengan alasan yang jelas dan kuat. Karena itulah Kuro bingung dengan apa yang Sei lakukan.


"Sebelum menjawab pertanyaan itu, aku ingin membicarakan tentang masalah Liberia."


Kuro ikut serius setelah mendengar nama itu.


"Apa kau mau bilang kejadian yang menyangkut Maria ada kaitannya dengan mereka? Jika iya, bukankah mereka tak menunjukan diri?"


"Memang, tetapi mereka hanya melihat dari jauh."


"!?"


"Saat pertarungan, aku mendapatkan laporan kalau ada dua sosok yang menonton pertarungan dari jarak jauh. Dan yang lebih mengejutkan mereka menonton sambil makan popcorn. Jika tak ada hubungannya, kenapa mereka bisa sesantai itu?"


"Jangan bilang kau mengambil kesimpulan dari itu. Tolong, jangan bercanda."


Kuro mendesah berat. Dia meneguk vodka mahal dan mewah, setelah itu dia kembali fokus.


"Tentu ada alasan lain. Kau pikir dari mana Itsuki bisa mendapatkan Dainsleif?"


"..."


Kuro terdiam karena tak bisa membantah.


Dainsleif merupakan Cursed Arm yang sangat berbahaya. Bahkan lebih berbahaya dari Skulia Crystal. Karena alasan itulah Dainsleif memiliki cara penyegelan yang berbeda.


"Dainsleif tersegel dalam reruntuhan kuno di bagian paling dalam. Untuk mencapainya orang itu harus memiliki kekuatan setara dengan diriku atau paling tidak minimal sekuat Leon. Lalu dari orang yang memiliki kekuatan sekuat itu, selain kami berdua hanya kau dan Alice saja yang bisa melakukannya. Karena aku tahu siapa kau, maka kau tak mungkin melakukannya. Sisanya hanya satu... Ya, sama seperti yang kau pikirkan, Liberia berada di balik semua ini."


Kuro tak bisa membantah. Meskipun hanya analisa dari kenyataan yang ada, namun karena itulah dia tahu kesimpulan Sei tepat.


Pertanyaannya adalah-


"Untuk apa mereka melakukan sejauh ini?"


Sei terdiam sesaat, kemudian dia bicara.


"Entahlah. Tetapi jika Liberia  ingin benar benar menghancurkan ibukota, maka kejadian pasti akan lebih buruk daripada ini. Seolah mereka membiarkan Itsuki melakukan apapun yang dia mau, tetapi masih dalam batas yang bisa dihentikan olehmu. Fufu.. Bukankah ini mirip dengan  yang terjadi di Dragonia?"


"..."


Kuro sekali lagi tak bisa membantah. Walaupun dua kejadian  itu memiliki orang yang berbeda sebagai dalang, namun mereka memiliki satu garis yang sama.


Keduanya melibatkan Liberia.


Jika dipikirkan dengan baik, Kuro juga akan menyadarinya. Hanya saja saat ini dia terlalu senang dengan kebahagian yang dia peroleh. Hal ini membuat Kuro sadar harus memikirkan kembali semuanya dari awal.


"Kedua kejadian itu lebih mirip sebuah ujian daripada sebuah pertarungan. Kau pasti bisa merasakannya."


"Ujian, maksudmu untuk kami?"


"Tepat. Kedua kejadian itu tak akan selesai tanpa kalian. Lebih tepatnya kau dan Laila pasti akan melibatkan diri dan  menghentikannya. Dan seperti yang terlihat, kalian menunjukan pertarungan dahsyat yang mungkin menyamai pertarungan tingkat paladin. Kejadian kemarin membuatku sadar dengan itu."


Sebuah pemikiran buruk muncul di kepala Kuro.


"Jika seperti itu, bukankah berarti tujuan musuh adalah membuatku menggunakan kekuatan sebagai seorang King?"


Kekuatan yang hanya dimiliki oleh seorang King seperti Kuro. Salah satunya adalah Eyes of Origin dan Assimilate. Dan dalam pertarungan sebelumnya Kuro menggunakan kekuatan ketiga, yaitu Darkness.


Setiap kekuatan dalam Authority merupakan kekuatan khusus yang tak bisa dianggap remeh. Tergantung penggunanya, kekuatan itu bisa menghancurkan keseimbangan dunia, tetapi kekuatan itu bukanlah kekuatan yang bisa digunakan tanpa adanya resiko.

__ADS_1


Sejauh ini Kuro hanya menggunakan sedikit kekuatan Authority. Meskipun begitu, efek samping yang dia terima sudah membuat dirinya hampir mati.


"Mungkin ya, mungkin saja tidak. Kekuatanmu bukanlah sebuah kekuatan yang harus dibangkitkan. Kekuatan yang kau miliki hanya bisa kau gunakan saat kau menginginkannya. Sama seperti diriku, aku yakin Alice juga sudah mengetahui hal ini."


"Benar juga. Orang yang hidupnya lama pasti mengetahui tentang rahasia dunia ini. Tetapi jika bukan aku, siapa yang dia incar?"


"Ayolah, kau lebih pintar dari ini."


Setelah memikirkan kejadian yang terjadi akhir akhir ini, Kuro menyadari satu hal yang dia lupakan.


Matanya melebar karena kemungkinan itu adalah suatu yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya.


"Jangan bilang kalau yang dia incar adalah-".


"Tepat sekali. Alice mengincar Laila. Atau lebih tepat jika dia mengincar kekuatan yang dia miliki."


"..."


Kuro terdiam termenung.


Kepalanya menunduk dan tangannya menyatu dengan mata menutup seolah memikirkan suatu yang sangat rumit dan bermasalah.


"....aku mengerti. Dengan menggunakan kekuatan Laila mungkin membuat mereka bisa membangkitkan Demon King, tetapi itu saja tidak cukup."


Kekuatan Laila, <> merupakan kekuatan yang merubah takdir seseorang dan membuat takdir bertindak seperti yang Laila inginkan. Dengan kekuatan inilah Laila bisa menyelamatkan Lic.


Tetapi sama seperti di masa lalu, kekuatan ini bukanlah kekuatan yang bisa digunakan sembarangan. Selain mana yang dibutuhkan sangat besar, namun ini juga mengurangi energi kehidupan penggunanya. Singkatnya kekuatan itu membuat umur Laila menjadi pendek.


Kuro berharap Laila tak akan menggunakan kekuatan itu lagi, tetapi dia tak bisa menjamin hal itu tak akan terjadi mengingat situasi mereka masih belum stabil.


"Aku tahu apa yang kau maksud. Membangkitkan Shiroyasha adalah suatu yang mustahil mengingat dia disegel oleh 15 Dragon King dan ibuku. Kekuatan satu orang saja tidaklah cukup. Tetapi bagaimana jika tujuan Liberia bukanlah membangkitkan Shiroyasha?"


"!?"


"Aku tak punya bukti, namun tindakan mereka terlalu aneh jika hanya ingin membangkitkan Shiroyasha. Selain itu, aku mendapat laporan kalau petinggi Liberia sudah tewas."


Kejutan lainnya datang dari Sei.


"Tunggu, sejauh mana kau tahu tentang Liberia?"


"Hampir semuanya. Bahkan kami bisa menghancurkannya kapan saja jika kami mau, tetapi sepertinya kami keduluan."


Sei memasang wajah rumit lalu  melanjutkan;


"Mata mata yang kami kirim memberi laporan kalau mereka semua dibantai. Bahkan kematian mereka cukup mengenaskan. Untuk lebih detailnya aku akan berikan datanya padamu. Yang menjadi masalah sekarang adalah siapa Alice yang sebenarnya?"


"Aku mengerti. Tetapi apa maksudmu dengan siapa Alice?"


"Apa benar kau ingin aku mengulangi pertanyaanku? Aku menanyakan ini karena kau mungkin satu satunya orang yang tahu siapa dia sebenarnya. Aku salah?"


Kuro tak menjawab dan kembali termenung.


"Mungkin kau hanya tak ingat. Tapi satu hal yang pasti, Alice adalah seorang yang telah membuat kontrak dengan Yamiris."


"!?"


"Ya, dia adalah True Darkness Queen."


_____________________


___________


___


"Laila, apakah kau ingin menantang kami?"


"Tidak tidak. Aku hanya ingin bilang cinta Kuro hanya untukku seorang, karena itulah kalian tak perlu repot repot membuang waktu untuk mencuri cintanya."


"Fufu.. Kau sepertinya sangat percaya diri dengan itu. Aku mengerti. Jika itu yang kau inginkan, aku dengan senang hati akan menuruti permintaanmu, tidak, lebih tepat jika undangan perang darimu." ucap Charlmilia.


Mendengar itu, Laila hanya tersenyum kecil dengan penuh misteri. Tak ada yang apa yang dia pikirkan di balik senyumannya.


Tetapi jelas, saat ini dia memprovokasi Charlmilia dan Riana.


"Fufu.. Undangan perang? Kau salah. Kalian bahkan sudah kalah sebelum bertarung."


Apa yang dikatakan Laila benar, tetapi keduanya tak kehilangan semangatnya.


"Begitu, kalau begitu kita hanya perlu mencari pemenang kedua dan ketiga. Itu saja kan?"


"Itu ide yang bagus, namun aku ragu itu bisa terjadi, Riana"


"Kalau begitu kita hanya perlu membuktikan kalau akan ada pemenang kedua dan ketiga."


Kemudian keheningan terjadi di antara ketiganya. Meskipun begitu, ini adalah tanda pertarungan lainnya telah dimulai.


__________________


_________


__


Bahkan jika mau, seorang True Queen memiliki kekuatan menghancurkan dunia.


Tetapi saat ini bukan itu yang membuat Kuro tertarik.


"Ini aneh, aku tak mendengar kalau Yamiris telah membuat kontrak."


"Aku juga baru mengetahuinya akhir akhir ini. Tetapi jika menanyakan kapan, ini terjadi kurang lebih 10 tahun yang lalu. Bukankah waktu itu memiliki arti yang banyak bagimu?"


Kuro memejamkan matanya sesaat, lalu dia berkata;


"Tentu saja. Itu adalah waktu di mana aku bangkit ke dunia ini sebagai King yang terakhir."


King. Eksistensi unik ini menjadi suatu yang masih menyimpan banyak misteri. Bahkan tak ada catatan resmi berapa banyak King yang saat ini sudah ada. Tidak, lebih tepatnya eksistensi King terhapus dari catatan sejarah. Tak hanya sejarah, namun juga dari ingatan semua orang.


Hanya beberapa orang saja yang masih memiliki ingatan mereka. Dan Sei adalah salah satunya. Karena itulah dia merupakan salah satu orang yang mengetahui kebenaran tentang dunia.


"Yah.. Kita tak bisa merubah itu. Lalu mengesampingkan masalah itu, sebenarnya ada banyak kejadian yang berhubungan dengan masa itu. Salah satunya adalah Laila yang ingat tentang kehidupan masa lalunya dan membangkitkan Clocflare."


Mendengar itu, Kuro tersenyum.


"Sekarang aku mengerti kenapa aku bangkit di waktu itu. Semua ini tak kebetulan."


Sei mengangguk.


"Lalu kejadian lainnya juga terjadi saat itu, dan inilah alasan sebenarnya kenapa aku ingin kau menikah dengan Riana."


"Hm..?"


"Pertama, kenapa kau tak membiarkan aku bertemu dengan jiwa ibu yang masih ada dalam dirimu?"


"Aku rasa ini memang saatnya untuk sebuah reuni keluarga."


Kemudian, yang terjadi selanjutnya adalah suatu yang pantas disebut hal yang sebaiknya tak diketahui.


Sekitar satu jam dia mengobrol dengan Sei, akhirnya dia keluar dari ruangan kaisar dan kembali menuju Laila yang sudah menunggunya.


Entah mengapa, saat tiba dia merasakan atmosfer yang berat dari tiga orang gadis.


"Kuro. Kau sudah selesai. Bagaimana hasilnya?"


"Aku pikir tidak buruk." jawab Kuro sambil menoleh ke arah Riana. "Kau pasti juga terkejut dengan apa yang dikatakan Sei tentang pertunangan kita. Satu hal yang ingin aku ketahui, apa kau baik baik saja dengan ini?"


Riana melirik ke Charlmilia untuk meminta bantuan, tetapi Charlmilia memberi tanda ini adalah suatu yang harus dia selesaikan sendiri.


"Err.. Bagaimana denganmu?"


Riana menunduk dengan wajah memerah. Tak diragukan lagi dia memiliki perasaan terhadap Kuro.


"Sebelumnya aku minta maaf, tetapi aku belum menerima pertunangan ini. Karena hal ini aku dan Sei berdebat panjang. Tetapi pada akhirnya dia membuat keputusan kalau aku bisa membatalkan pertunangan kita jika aku memenangkan Battle War yang akan datang. Singkatnya ini hanya menambah alasanku untuk menang."


"...begitu."


Riana terlihat sedih dan bahunya menurun. Apa yang dikatakan Kuro adalah suatu hal yang paling tak ingin Riana dengar.


Dengan menggunakan pertunangan mereka sebagai sebuah kompetisi, itu artinya Kuro sangat menentang pertunangan mereka.


Tetapi ini suatu yang sudah diduga. Bagaimanapun juga Kuro mencintai Laila. Bahkan saat ini mereka sudah memiliki buah hati dari cinta mereka. Memikirkan melakukan pertunangan dengan orang lain adalah suatu yang tak mungkin akan dilakukan Kuro.


"Kuro, kau pernah berkata tak pernah membuat orang yang berharga menjadi sebuah kompetisi, namun kenapa kau  melakukannya? Meskipun kau menolak bertunangan dengan Riana, bukan berarti kau harus melakukan ini."


Wajar saja jika Laila marah. Kejadian ini hampir sama dengan apa yang dia lakukan saat mereka memulai hubungan cinta. 


Tetapi-


"Maaf Laila, tetapi aku tak punya pilihan lain. Hanya sekali ini saja, biarkan aku melakukan ini."


Laila terdiam sesaat, kemudian dia mendesah berat.


Dalam hatinya dia paham kalau masalah ini tak bisa diselesaikan dengan mudah. Bisa dibilang saat ini Kuro tak memiliki kesempatan untuk menolak.


"Kau pasti memiliki alasan yang kuat. Baiklah. Tetapi aku tak ingin kau mempermainkan perasaan Riana, bagaimanapun juga dia sudah seperti saudara bagiku."


"Aku mengerti."


Kuro kemudian kembali menatap Riana.


"Apakah kau merasa keberatan?"


"..."


Riana tak menjawab. Namun dia menunjukan wajah rumit.


"Maaf, tetapi inilah jalan yang harus terjadi di antara kita. Jika kau menolak ini, kau bisa mengatakannya pada Sei. Tetapi bagaimanapun juga ada satu hal yang ingin sekali aku tanyakan padamu."


"...apa yang ingin kau tanyakan?"

__ADS_1


Kuro terdiam sesaat lalu berkata;


"Siapa kau?"


""""...!?""""


Tak hanya Riana, namun semua yang mendengar itu terkejut.


_Tepat tengah malam, pesta yang juga sekaligus menjadi upacara pemberian penghargaan selesai. Satu persatu mulai pulang. Tentu termasuk Laila dan Kuro.


Pesta kali ini memberikan  kesan mendalam bagi keduanya.


"Aku masih tak mengerti kenapa kau menanyakan itu tadi, tapi aku merasa kau mengharapkan jawaban berbeda dari Riana."


Jawaban Riana dari pertanyaan Kuro cukup membuat orang sedih.


Riana, sebelum dia seorang putri Kekaisaran, dia adalah anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan.


Dia tak ingat kapan dia diangkat menjadi tuan putri, namun dia juga tak mengingat betul masa kecilnya.


Meskipun jawaban Riana merupakan suatu yang biasa dan sudah diketahui oleh banyak orang, namun Kuro menunjukan kekecewaannya seolah mengharapkan jawaban lain  dari Riana.


Pada akhirnya pesta dilanjutkan dengan suasana canggung.


"Begitulah... Aku hanya berharap tak membuat kesalahan."


"Maksudmu akan menerima pertunangan jika kita kalah?"


"Tidak. Aku akan menang, karena itulah aku tak akan menerima pertunangan ini. Aku lebih memikirkan apa yang kau rasakan."


Mendengar itu, Laila hanya tersenyum penuh misteri.


Tak berapa lama kemudian mereka tiba di rumah dan disambut oleh pelayan dan  Scarlet.


"Nenek, bagaimana kabar mereka?"


Apa yang ditanyakan Laila tentu kabar tentang kedua anaknya.


"Tentu mereka baik baik saja. Riku saat ini tertidur pulas. Yah.. Meskipun aku harus mengganti popoknya tadi, namun aku senang karena dia cukup pintar. Aku merasa kalau dia anak yang cukup spesial."


Laila tersenyum lebar.


"Tentu dia spesial. Dia adalah putra kami."


Scarlet tahu betul Laila begitu bangga dengan putranya, karena itu dia ikut tersenyum.


"Lalu bagaimana dengan Lic?"


"...mengenai Lic, dia.."


Mata Laila melebar karena terkejut dengan apa yang dikatakan Scarlet.


Tanpa pikir panjang dia berlari ke arah kamar di mana Lic tertidur. Dia membuka pintu dan menemukan Lic yang saat ini terbangun.


"..."


Kedua mata mereka bertemu.


Lalu tanpa alasan kedua mata Laila mengeluarkan air mata deras bagai sungai. Bukan karena sedih, namun bahagia.


"....Lic.."


Tanpa sadar dia memanggil nama putrinya.


Wajar saja, seorang yang penting dalam hidupnya telah membuka matanya dari tidur panjang.


"....Mama.."


Dan sama seperti Laila, air mata bahagia juga mengalir di mata Lic.


"Mamaaaa..."


"Lic...."


Keduanya tak bisa menahan diri. Lic bangkit dan melompat tepat ke arah Laila.


Keduanya berpelukan dan saling menunjukkan kasih sayang mereka sebagai orang tua dan anak.


"A-aku senang kau sudah baik baik saja, Lic."


"Uwa.... Mama, maafkan aku..."


Lic ingat semua perbuatannya. Karena itulah dia merasa menyesal dengan apa yang terjadi. 


"Aku memaafkanmu, Lic. Mana mungkin  aku tak memaafkanmu."


"U...uwaaaa....."


Lic menangis dengan keras hingga memenuhi seluruh ruangan.


Kasih sayang dan cinta dari keluarga terlihat jelas dari keduanya. Mungkin  orang yang akan melihat kejadian ini akan menangis karena terharu.


Sedangkan Kuro, dia hanya ikut tersenyum senang karena anggota keluarganya telah kembali.


"Lic, selamat datang."


__________________


___________


_____


Di waktu yang sama, istana kaisar.


Di beranda paling atas istana, Sei sedang duduk sendirian sambil menikmati anggur di bawah rembulan. Tak ada pengawal atau orang di sekitarnya. Bukannya mereka tak ada, namun sejak awal sebenarnya itu tak diperlukan.


Bagaimanapun juga dia adalah salah satu penyihir terkuat di dunia.


"Ha... Aku harap melakukannya dengan baik. Semua ini membuatku merasa umurku bertambah lebih cepat."


Dia tak menyangka kejadian besar datang bertubi tubi. Seolah ada seseorang yang memaksa ini terjadi.


Sayangnya, saat ini dia tak memikirkan itu.


(Sudah aku duga spertinya aku sudah terlalu lama memimpin. Aku harus segera mencari seorang pewaris.)


Tetapi siapa?


Menurut pengetahuan umum, seorang penyihir mewarisi kekuatan dari orang tuanya. Itu memang benar, tetapi itu tak berlaku pada penyihir elemen suci. Bahkan sebenarnya setiap penyihir elemen suci terlahir dari orang biasa dan mereka selalu perempuan.


Inilah yang membuat eksistensinya sebagai penyihir elemen suci laki laki begitu spesial.


Dan alasan inipula yang membuatnya tak bisa memilih seorang kekasih (permaisuri) untuk membuat keturunan.


"...yah.. Tapi semuanya tak seburuk kelihatannya."


Sambil melihat langit, dia tersenyum dan meneguk anggur mewah.


Disaat itulah sosok datang.


"Riana, kenapa kau belum tidur?"


"Ayah, ada yang aku ingin bicarakan."


Melihat ekspresi Riana yang cemberut dan tidak senang, Sei tahu betul apa yang ingin dibicarakan Riana.


"Apa kau terlalu senang dengan keputusanku sehingga tak bisa tidur?"


"W-wha.. Moou.. Bukan itu. Yang aku bicarakan adalah kenapa ayah melakukan hal memalukan itu? Apa ayah tak peduli dengan perasaan Laila?"


Begitu rupanya. Sei paham karena tahu hubungan antara Riana dan Laila.


"Haha.. Aku pikir bukan masalah besar. Selain itu apakah Laila benar benar menentang keputusanku ini? Jika iya, dia pasti sudah protes saat aku mengumumkannya."


"...eh?"


Jika diingat ingat, Laila protes pada Kuro, bukan pada Sei. Selain itu, dia juga tak benar benar menentang pertunangan mereka, dia hanya memastikan apakah Kuro menerima atau tidak.


"Riana, sebagai seorang Queen yang dipilih oleh King, Laila tahu betul akan banyak orang yang mencintai Kuro. Karena dia juga seorang perempuan, maka dia hanya bisa membiarkan Kuro yang memutuskan. Tetapi dia juga seorang yang akan cemburu jika orang yang dia cintai melirik gadis lain. Itu suatu yang normal dan manusiawi. Seharusnya kau bisa mencontoh Laila. Dia selalu jujur dengan perasaan yang dia rasakan, karena itulah yang membuat dia begitu spesial di mata Kuro. Jika kau ingin Kuro melirikmu, yang pertama kau lakukan adalah harus jujur dengan dirimu sendiri."


"....Si-siapa yang ingin dilirik Kuro? Selain itu aku tak mem-"


"Jika benar, maka kau tak akan membuat ekspresi seperti itu, Riana. Sudah aku bilang kau harus jujur dengan apa yang kau rasakan, jika tidak kau tak akan pernah bisa melangkah maju. Selain itu, aku memiliki banyak alasan kenapa aku ingin kau menikah dengannya."


"...apakah ini karena dia King? Seorang yang dipilih oleh dunia?"


"Tidak. Sebenarnya ini hanya keinginan egoisku saja. Singkatnya, aku ingin segera melihat seorang cucu."


"Wha-"


Wajah Riana memerah padam. Siapapun bisa menebak apa yang Riana pikirkan saat ini.


"Riana, kau tahu, penyihir suci tak akan pernah melahirkan penyihir suci. Bahkan mereka akan melahirkan orang biasa."


"Aku tahu itu. Lalu apa hubungannya dengan Kuro?"


"Hanya dengan menikah dengan King, maka kau akan bisa melahirkan penyihir suci. Inilah salah satu alasan kenapa King begitu spesial. Setiap kali mereka menikah, anak mereka pasti akan mewarisi kekuatan ibu mereka. Bahkan termasuk untuk penyihir suci. Aku adalah contoh nyata dari hal itu."


"..."


"Lalu mengenai alasan lainnya, aku hanya ingin kau bahagia. Dan ini juga merupakan caraku untuk membalas budi pada orang yang telah melahirkanku."


Setelah mendengar alasan terakhir Sei, Riana tak bisa berkata apa apa lagi.


Bagaimanapun juga dia tahu betul semua itu ada hubungannya dengan dirinya.


Seorang yang memiliki nama sihir Michael. Sang malaikat terkuat yang menghancurkan ibukota.

__ADS_1


Ya. Meskipun masih belum ingat tentang masa lalunya, Riana juga sama seperti Laila. Di kehidupan sebelumnya, dialah yang disebut sebagai Holy Maiden dan ibu dari Sei Yamato.


Dan mengenai siapa ayah Sei, itu suatu yang sudah terjawab.


__ADS_2