
Hari ketiga. 10 hari lagi sebelum Ringblood Moon terjadi.
Laila terbangun dari mimpi indahnya. Tapi ketika mencoba menggerakkan tubuhnya, dia tak bisa. Bukan karena tubuhnya belum lebih baik. Jika dibandingkan sebelumnya, tubuhnya kini terasa normal dan kembali sedia kala. Dia benar benar sudah pulih.
Dia harus berterima kasih kepada Yui yang telah mengobati lukanya. Meskipun cara Yui sedikit tidak normal, namun itu tak mengubah fakta Yui yang mengobatinya.
Alasan kenapa dia tak bisa bangun karena ada seseorang yang menindihnya. Jika tubuh Yui, maka dia akan bisa bergerak. Hanya ada satu orang di dunia ini yang berani melakukannya sambil telanjang.
"Jeezzz.. Kuro, bangun. Sampai kapan kau akan memelukku seperti anak kecil?"
Kuro mulai bangun dan bergerak. Tapi Kuro justru semakin memeluk Laila dan mengecupnya di bagian perutnya.
"Hya! Jangan melakukannya tiba tiba. Aku merasa kau akhir akhir ini semakin menjadi jadi. Yah.. bukannya aku menolak, ta- hya.. hey hentikanโผ"
Kuro akhirnya menunjukkan sosoknya dari bawah selimut. Kuro tersenyum tipis sekaligus meraba tubuh Laila. Dia benar benar bersemangat hari ini.
"Hya.. ah... nnn...."
Laila mendesah dengan erotis, dan itu membuat Kuro semakin tak bisa menahan godaan iblis di dalam diri dan pikirannya.
Tanpa peduli dengan pendapat Laila, ia mencium dan mencumbu tubuh orang yang paling berharga baginya. Tak hanya itu, Kuro kembali ke dalam selimut dan mencium di tempat yang paling sensitif bagi Laila.
"Hnn.. Ku..ro.. Henti- hyaaa... "
Laila menggeliat. Meskipun dia berteriak dan menolak, namun Kuro tahu Laila menikmatinya.
Wajah yang merah merona dan malu merupakan tanda bagi Kuro.
"Ku..ro... ha.. ha.. hent..ti..kan.. aku.. sud..ah..."
Setelah merasa cukup dan memuaskan Laila, Kuro berhenti. Dia kembali muncul dari bawah selimut dan mengecup leher Laila hingga meninggalkan bekas kemerahan.
Kuro lalu bergerak ke telinga Laila yang kini memerah bagai tomat dan berkata;
"..aku mencintaimu, Laila."
"Ha.. ha.."
Nafas Laila masih belum teratur, tapi dia tersenyum. Dia bisa merasakan detak jantung Kuro yang kini berdebar kencang. Kehangatannya, kasih sayangnya, cintanya, kemesuman dan nafsu bercampur menjadi sosok yang paling dia cintai.
"..aku juga mencintaimu, Kuro. Tapi... kau tahu bukan saatnya untuk melakukan hal ini kan?"
Mendengar itu, Kuro menunjukkan wajah tak peduli dan justru menuju dada Laila dan menggunakannya sebagai bantal.
"Aku tak peduli. Saat ini aku hanya ingin melakukan ini. ..apa kau tak suka?"
Tentu Laila menyukai momen yang menyenangkan dan penuh dengan cinta. Tapi-
"Aku tak pernah mengatakan itu, hanya saja aku rasa ini bukan saat yang tepat. Lagipula kenapa kau manja sekali hari ini? Apa kau anak kecil?"
"Baiklah, aku anak kecil. Sekarang bolehkah aku minta susu?"
Wajah Laila langsung merah padam. Disaat yang sama Kuro sudah melakukan hal yang dilakukan seorang bayi.
"Hya...โผ aaaa.. ah nn... jangan lakukan itu. Dadaku belum mengeluarkan susu dan kenapa kau bertingkah seperti ini?"
Kuro berhenti dan menatap Laila dengan lembut. Tatapan yang penuh kehangatan dan cinta.
"..aha ha... kenapa kau masih menanyakannya?"
Senyuman itu langsung menghilang berganti dengan senyuman yang penuh kemarahan.
... dia punya firasat buruk mengenai senyuman itu. Dan dugaan itu langsung terbukti saat Kuro kembali berbisik dan berkata;
"Laila, aku tahu kau menggunakan Magic Art yang berbahaya, ..bolehkah aku mendapat penjelasannya?"
".....aaahh...benar."
Laila ingat Kuro adalah tipe orang yang menghormati keputusan orang lain. Karena itulah dia membiarkan Laila bertarung, belatih, atau bahkan melakukan hal hal aneh. Tapi bukan berarti Kuro tak mempunyai batas.
Dan Laila telah melanggar batas itu.
Karena itulah Kuro marah. Sayangnya Kuro bukanlah orang yang akan memukul jika sedang marah, tapi justru melakukan hal sebaliknya dan menghukum dengan kata kata yang tajam dan menusuk.
Bagi Laila itu adalah siksaan batin yang paling tak menyenangkan.
"Jika kau sudah mengerti, kenapa kita tak membicarakan hal ini lebih detail dan serius? Dan tentu saja agar kita bisa mencegah suatu yang tak diinginkan terjadi. Oh.. jika kau tak mengerti hal yang tak diinginkan terjadi, mungkin aku akan memberikan contoh yang paling mudah."
Kuro berhenti sesaat dan tersenyum sekali lagi. Senyuman itu yang lebih menakutkan daripada sebelumnya.
"Kau pasti tahu kalau aku mempunyai uang yang sangat banyak, karena kau pintar, kau pasti bisa menebak apa yang akan kulakukan dengan uang sebanyak itu jika aku sedang marah, ..iya kan?"
Jika punya uang banyak yang cukup untuk membeli sebuah negara, apa yang akan kau lakukan? Laila tak pernah punya uang sebanyak itu, jadi dia tak pernah memikirkannya. Tapi pertanyaan yang tepat adalah apa yang dilakukan seseorang seperti Kuro jika berniat menggunakan uang sebanyak itu untuk melakukan hal buruk.
"..Err.. apa kau mengancamku?"
"Tidak. Kau salah jika menganggap aku mengancammu, tapi seharusnya kau tahu seberharga apa dirimu bagiku. Jika kau sakit, aku lebih sakit. Jika kau terluka, aku lebih terluka. Dan tentu kebalikannya. Tapi... tampaknya kau tak mengerti itu."
Benar. Apa yang semua Kuro katakan benar.
Apa yang Kuro rasakan juga Laila rasakan. Karena itulah dia mengerti apa maksud dari semua perkataan Kuro.
Air mata perlahan keluar dari kedua mata Laila. Dia tak bersedih. Dia hanya sadar ketika dirinya terluka, ada yang lebih terluka daripada dirinya.
"Maaf Kuro. Ta-Tapi aku ingin menjadi lebih kuat agar bisa bertarung bersamamu. Aku sudah muak menjadi beban dan hanya bisa bergantung kepadamu. Semua ini terjadi karena aku tak cukup kuat. Aku bahkan tak bisa mengalahkan Yui."
"...kau lebih kuat daripada yang kau pikirkan. Kau bukanlah beban. Kau salah jika beranggapan seperti itu. Di dunia ini selalu ada yang lebih kuat daripada kita. Jika kau berpikir bisa mengalahkan semua musuh hanya dengan kekuatanmu, maka itu adalah sebuah kesalahan besar. Aku selalu berusaha agar tak menasehatimu karena aku yakin kau akan mengerti dengan sendirinya, tapi kau sudah keterlaluan kali ini."
"Errrr...... semarah itukah kau?"
Kuro tak hanya marah. Dia juga kawatir.
"Yeah.. sekarang hentikan tangisanmu dan kita bicarakan mengenai magic art yang kau rahasiakan dariku. Jika kau ingin menjadi lebih kuat, kurasa kita harus membahas ini dengan serius."
Magic art yang tak hanya kuat, namun juga bagaikan pedang bermata dua. Jika Laila tak segera menguasai magic art itu, dia tak akan pernah bisa menggunakannya dalam pertempuran.
(Meskipun dia tak ingat tentang kekuatan yang dia gunakan sebelum dia pingsan, namun kurasa itu semacam kekuatan tersembunyi Laila. Hmm... Kurasa aku harus mencari tahu mengenai hal ini.)
Kuro tak memiliki petunjuk, namun dia bisa menebak siapa yang punya.
"Baiklah. Aku juga ingin tahu cara menggunakannya agar bisa lebih baik. Tapi kali ini kau harus serius. Aku tak ingin magic artku dibilang bom ikan lagi."
Laila cemberut. Dia ingat betul saat Kuro meremehkan magic art terkuatnya. Meskipun Re;Break magic art yang membahayakan tubuhnya, namun sepertinya itu membuat Kuro terkesan.
Ini suatu kebanggaan tersendiri bagi Laila.
"Iya iya...."
Kuro tersenyum kecil. Dia sudah tak menunjukkan kalau dia marah.
Dia lalu bangun, tapi tiba tiba dia mengangkat Laila dan menggendong Laila seperti tuan putri. Masih telanjang, keduanya keluar dari kamar mereka.
"...kemana kita?"
"Karena kau tidur seharian kurasa aku harus memandikanmu. Sudah lama aku tak melakukannya he he he.... Selain itu, aku ingin membicarakan beberapa hal denganmu."
Melihat senyuman lebar yang penuh dengan kemesuman, Laila bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Hari ini mungkin hari yang liar.
๐ ๐ ๐
Disaat yang sama, di bawah istana kekaisaran. Sebuah sihir teleportasi telah aktif.
Setelah cahaya menghilang, beberapa sosok kini terlihat. Riana yang mengaktifkan sihir teleportasi mendekat dan menyambut kedatangan beberapa sosok yang tiba.
"Selamat datang. Aku putri ketiga, Riana Levt Vermilisst menyambut kedatangan kalian berempat."
๐ ๐ ๐
"Ya ampun, aku tahu kalian berencana menikah, tapi bisakah kalian tak melakukan itu di depanku?"
Yui menunjukkan tatapan kosong. Dia marah, namun dia tak menunjukkannya secara langsung. Dia tetap berusaha bersabar dengan apa yang dia lihat di depan matanya.
"Katakan itu kepada Kuro. Kau tahu semesum apa dia. Aku juga tak menyangka dia akan memandikanku seperti anak kecil."
Laila melirik ke arah Kuro yang sedang berendam tak jauh dari keduanya. Tak seperti keduanya, dia menujukkan wajah puas. Terlalu puas.
Yui dan Laila tentu tahu apa yang menyebabkan itu.
"Ngomong ngomong, kenapa kau ada di sini?"
"Aku tentu sedang berendam air panas." Jawab Yui dengan nada datar. "Bukankah aku yang lebih dulu datang disini dan kalian memaksaku melihat kejadian tadi?"
Pemandian air panas di rumah itu bukanlah hal yang mengejutkan. Jika mengingat kejadian dulu, semua ini sangat wajar. Suasana dan dekorasi sekitar pemandian juga sama seperti dulu. Dipenuhi pohon bambu dan bebatuan sehingga seperti mandi di alam. Hanya saja ukuran pemandian hampir selebar lapangan basket cukup membuat Laila terkejut.
Wajah Laila memerah padam.
"Jangan mengingatkanku dengan kejadian memalukan tadi. Kami memang sering mandi bersama, namun baru kali ini aku merasa malu seperti tadi."
__ADS_1
"..sial. jangan membuatku iri dengan menceritakan kemesraan kalian. Aku tak mendengarnya. Aku tak mendengarnya."
Yui menutup telinganya dan berusaha lari dari kenyataan.
"Hm.. tapi apakah kondisi kak Laila lebih baik?"
Yui mengganti topik agar bisa bertahan.
"Ya. Terima kasih, berkatmu aku hampir pulih. Tapi jangan lakukan itu lagi, aku tak ingin membuat Kuro cemburu. Kau tak ingin melihat Kuro saat seperti itu."
Yui bisa menebaknya. Dia lalu tersenyum masam.
"Dia paling hanya akan memperkosamu berjam jam. Ya ya ya.. aku bisa membayangkannya..." ucap Yui dengan nada sinis.
"Jangan mengatakan hal seperti itu. Jika orang lain mendengarnya, itu akan menjadi masalah."
"Ibu, Ayah. Aku yakin kalian tak lama lagi akan mendapatkan cucu. Aku yakin kalian akan bahagia."
Yui menatap langit dan membuat pose berdoa seperti seorang sister di gereja. Laila hanya bisa tersenyum kecut melihatnya.
"Terima kasih atas doanya, Yui. Tapi ada hal yang menggangguku dari tadi. Kenapa kau biasa saja telanjang di depan Kuro? Apa kau tak punya malu?"
Sementara itu, Kuro tiba tiba menghilang entah kemana.
Hal itu tentu membuat Laila merasa curiga. Dia memang merasa kalau hubungan Kuro dan Yui sedikit tak normal jika dibandingkan dengan saudara lain. Mungkin itu dikarenakan keduanya bukan saudara kandung, tapi tetap saja ada yang mengganggu Laila.
"Aku akan malu jika dilihat oleh orang lain, tapi kita sedang membicarakan kak Kuro. Dia adalah orang yang tak ragu mengajak orang yang baru dia kenal mandi bersama. Kau pasti bisa menebak apa yang terjadi saat kami kecil. Sekarang sudah terlambat untuk mengatakan malu."
"Ho.."
Tentu Laila bisa membayangkannya. Hal itu pernah terjadi kepadanya.
"Ah.. sedikit info untukmu. Pemandian di desa kami sangat kecil, kurasa kau bisa tahu apa yang terjadi saat dua orang memasukinya. Benarkan, ...kak Kuro?."
Yui menggunakan sihirnya dan mengikat tubuh Kuro dengan air panas. Lalu dengan cepat menyeret Kuro di depan mereka.
Kuro lalu muncul seperti buaya.
"....saat itu kita masih kecil dan ..bukankah kau yang selalu masuk bak mandi padahal aku menggunakannya?"
"Gu.."
Wajah Yui memerah karena mengingat kejadian saat kecil.
Dia tahu Kuro bukanlah kakak kandungnya, namun dia tak peduli dengan itu. Saat itu perasaan cinta belum tumbuh di hati Yui.
"Yah seperti yang kau lihat sendiri Laila. Jangan terlalu percaya dengan apa yang dikatakan Yui."
Meskipun mempunyai pembelaan, namun Laila tak menunjukkan amarahnya mereda. Dia justru terlihat semakin marah.
"Laila?"
"...ah kak Kuro, apa kau lupa sekarang kita mandi bersama. Dan tak seperti dulu, kita sudah dewasa. Ha ha.. bagaimana pendapatmu tentang perubahanku?"
Yui langsung berdiri dan menunjukkan semua bagian tubuhnya tepat di depan mata Kuro.
"Apa sekarang aku membuatmu terkesan? Lihat ini, aku sexy kan? Dalam hal kecantikan, aku tak akan kalah dengan kak Laila?."
Yui tanpa ragu berpose sexy untuk menggoda Kuro. Dia terlihat percaya diri dengan apa yang dilakukannya.
Tubuh basah dan tak tertupi oleh sehelai benangpun akan membuat lelaki manapun tergoda, tapi-
"....aku tak berminat dengan tubuh adikku sendiri." Jawab Kuro dengan nada datar.
Menerima penolakan secara langsung, Yui bagaikan tersambar petir. Dia syok dan langsung memutih.
Yui lalu terjatuh ke air panas dan tak terlihat lagi seperti kapal karam.
"...."
Kuro lalu melirik Laila yang masih menunjukkan wajah tak senang. Dia tersenyum lalu mendekat ke samping Laila.
"Hey, jangan cemberut begitu. Mungkinkah kau cemburu? Ha ha.. seharusnya kau tak cemburu, bagaimanapun juga aku tak akan berpaling darimu... Lai..la?"
Kuro lalu bersiap mencium Laila, namun dia bukannya menerima ciuman, namun sebuah tamparan keras.
Meskipun keras, bukan berarti itu akan melukai Kuro. Hanya saja perasaannya sedikit menerima serangan.
"..Kuro, aku senang kau tak berpaling dariku, tapi bisakah kau tak mempermainkan perasaan orang lain?"
Yui tiba tiba muncul dengan wajah bersemangat. Penolakan Kuro seolah bukan apa apa baginya. Mungkin itu karena dia lebih sering ditolak sehingga dia sudah terbiasa?
"Yay.. kak Lailaย memihakku. Kak Kuro , ayo cepat kita membuat bayi he he he..."
Kuro memeluk Laila dengan erat dan bertingkah manja. Tak mau kalah, Yui juga melakukannya. Entah mengapa ada aura persaingan dari Yui dan Kuro untuk merebutkan Laila.
".....kenapa jadi seperti ini?"
Laila hanya bisa mendesah dalam.
๐ ๐ ๐
Setelah mandi dengan suasana aneh dan kacau. Laila dan dua bersaudara aneh sarapan. Kuro di sampingnya sedangkan Yui di seberang.
Meskipun meja makan besar biasanya ditemukan di rumah mewah, namun mereka makan di meja kecil dengan makanan yang dibilang cukup untuk mereka bertiga.
Guila dan 5 pelayan lainnya bersiap siaga di sekitar mereka.
Laila sudah terbiasa dengan suasana makan di rumah mewah, jadi ini hal normal. Dia juga mengerti kenapa Kuro memilih meja makan yang kecil daripada besar. Kebersamaan adalah yang terpenting.
"...oh iya, kau bilang ingin membicarakan hal penting?"
Karena situasi aneh dan tak terkendali, akhirnya Laila tak sempat mendengar apa yang ingin Kuro bicarakan.
Kuro menelan makanannya dan menjawab;
"Benar juga. Mumpung Yui ada disini, kurasa tak ada salahnya meminta bantuanmu."
"Serahkan semuanya padaku. Hm.. mungkinkah kau ingin membicarakan perkembangan pencarian Lic?"
Kuro mengangguk.
Karena Yui juga seorang Shadow Knight, informasi tentang kehilangan Lic wajar sudah dia ketahui.
"Benar. Aku masih belum tahu dimana Lic, tapi aku menemukan hal yang sama pentingnya. Hal itu juga bisa menjadi jalan untuk menemukan Lic."
Setelah itu Kuro menceritakan semuanya. Mengenai ritual sihir kuno yang bertepatan dengan Ringblood Moon. Musuh yang belum diketahui, dan kemungkinan adanya katalis lain selain Lic.
Tapi dia tak menceritakan siapa yang kemungkinan akan dibangkitkan. Semua itu masih dugaan, jadi dia tak ingin mendahului sebelum semuanya pasti.
"Dengan begitu, meskipun kita belum bisa menemukan Lic, namun jika kita tahu katalis lainnya, maka musuh pasti juga ingin mendapatkannya."
"Itu artinya. Jika kita berhasil merebut terlebih dahulu, maka sudah menggagalkan semua rencana mereka kah.."
"Ritual sihir yang menggunakan Ringblood Moon. Jika mereka gagal, itu artinya mereka harus melakukannya dua ratus tahun lagi. Kurasa tak ada orang yang bisa menunggu selama itu, dengan kata lain mereka akan melakukan segalanya agar ritual ini berhasil."
Bagaikan membangun menara dengan ujung terlebih dahulu. Bisa dibilang itulah situasi musuh.
Tapi itu juga berarti musuh akan melakukan hal yang tak mereka duga. Itulah yang membuat mereka lebih berbahaya daripada musuh biasa.
"Tapi kak Kuro, kita masih belum tahu apa saja katalis ritual sihir itu kan?"
Kuro tak berusaha membantah. Meskipun tahu tujuan musuh, namun selama mereka tak tahu apa yang musuh butuhkan, semua itu akan sia sia.
"...sebenarnya aku ingin segera ke perpustakaan untuk mencari tahu, tapi seseorang di sini membuatku tak bisa melakukannya."
Laila tak cukup bodoh untuk tak mengetahui maksud Kuro.
"Aku tak marah. Selain itu kita masih punya cukup waktu untuk mencari. Aku juga sudah mengerahkan semua anak buahku dan kenalanku untuk membantu. Cepat atau lambat kita akan mendengar kabar dari mereka."
"Tapi aku tak suka jika harus menunggu. Aku juga ikut mencari petunjuk. Bagaimanapun Lic putriku."
Laila penuh semangat. Meskipun itu terdengar sedikit aneh di telinga, namun selama ada motivasi, maka itu sudah cukup.
"Kita cukup mencari ritual sihir yang sama dengan gambar itu kan?" tanya Laila.
"Aku senang dengan semangatmu, Laila. Aku tak akan berusaha mencegahmu, namun jika kau mencari, kau harus ditemani Yui."
Kuro melirik untuk memberi tanda. Yui merespon dengan anggukan tanda mengerti.
"Eh? Kenapa aku haru dikawal? Apa kau meragukan kekuatanku?"
Kuro tak menjawab dan justru menunjukkan wajah rumit. Bagi Laila, itu bukan pertanda bagus.
"..Kuro?"
"Kak Kuro, ...mungkinkah kau tak memberi tahu mengenai kalau dia tak bisa menggunakan sihir untuk sementara?"
Lailapun hanya bisa melebarkan matanya.
__ADS_1
๐ ๐ ๐
Siang harinya, Laila dan Yui pergi ke perpustakaan Aste yang berada di pusat kota. Mereka pergi naik kereta yang dikendalikan oleh Guila.
Alasan kenapa mereka melakukan itu, tentu karena rumah Laila berada di depan rumah Kuro. Meskipun ada rencana untuk pulang dan bertemu dengan orang tuanya, namun dia merasa saat ini masih terlalu awal. Selain itu kondisinya saat ini yang bisa dikatakan tak baik hanya akan membuat kedua orang tuanya kawatir.
Saat melewati depan rumahnya, ada perasaan bersalah di hati Laila. Dia hanya bisa meminta maaf dalam hati.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Jika kau ingin bertemu mereka, aku yakin kak Kuro tak akan melarangmu."
Kereta terus maju dengan lembut dan perlahan mulai meninggalkan rumah Laila dan Kuro.
"...tidak. Sebaiknya aku menemui mereka setelah menemukan petunjuk mengenai Lic. Jika tidak, perasaanku belum tenang. Selain itu, apa yang harus kujelaskan kepada mereka mengenai hubunganku dengan Kuro?"
Hubungan tak wajar telah dia jalin dengan Kuro. Dia tak menyesalinya dan merasa bahagia dengan hubungannya saat ini.
Tapi sampai sekarang dia masih belum mendengar respon dari keluarganya. Hal itu membuat dirinya cemas.
"....uh.. tenang saja. Aku akan membantumu. Aku akan memberi tahu semua yang kutahu tanpa ada yang kukurangi sedikitpun."
"Kau tak bisa menyembunyikan niat burukmu itu."
Laila memegang Yui dan mulai menggelitiknya.
"Kau pasti akan menceritakan kejadian tadi pagi kan... aha ha.. apa kau ingin aku mati karena malu?"
"Ah.. aku menyerah aku menyerah. Aku sensitif di bagian itu..."
Laila mengabaikan Yui. Dia ingin membalas perlakuan Yui terhadapnya.
Ini adalah tanda baik kalau mereka akan menjadi saudara yang akur di kemudian hari.
Sekitar satu jam, Laila dan Yui tiba di perpustakaan Aste. Setelah menaruh kereta di tempat yang disediakan, Guila ikut menemani mereka ke dalam pepustakaan.
Saat melihat bangunan besar dan megah, Laila mengingat kembali kenangan saat bertemu Kuro di tempat itu.
Jika bukan berkat Kuro, dia akan menikmati kare kegelapan guru mereka.
"...kenapa kau tertawa sendiri?"
"Bukan apa apa. Aku hanya mengingat sesuatu."
Mereka naik tangga dan mulai memasuki perpustakaan.
Meskipun Laila merupakan salah satu putri Paladin, namun tampaknya dia tak terlalu menjadi pusat perhatian orang disekitarnya.
Salah satu alasan mungkin karena saat ini Laila diketahui sedang berada di kota Areshia, jadi mana mungkin dia ada di ibukota. Kedua, sebagai penyihir peringkat S, Laila memancarkan tekanan mana yang lebih kuat daripada penyihir biasa. Sedangkan saat ini dia hampir tak memancarkan tekanan mana sekecilpun.
Tapi hal ini juga berlaku sebaliknya.
"...."
Sebelum memasuki perpustakaan, Laila berbalik dan melihat pemandangan orang yang berlalu lalang.
Dia tak bisa merasakan sensasi yang biasa dia rasakan. Sensasi saat dia merasakan energi kehidupan yang disebut mana dari orang di sekitarnya. Inikah rasanya menjadi orang biasa?
Tidak. Meskipun dia tak bisa merasakan tekanan mana dan tak memancarkan tekanan mana, bukan berarti itu membuat dirinya orang biasa seperti Kuro.
Laila memejamkan matanya sesaat. Dia berkonsentrasi dan memikirkan siapa Kuro.
Kuro orang biasa spesial yang menggunakan kekuatan ki. Laila tahu apa yang disebut ki, namun dia tak pernah bisa merasakannya.
Disaat itulah keinginannya untuk mengetahui apa itu sebenarnya ki muncul.
Jika aku tak bisa menggunakan sihir selamanya, mungkinkah aku bisa menggunakan ki?
"...."
Laila lalu tertawa kecil. Hal itu membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Kak Laila, apa yang kau lakukan? Apa kau lupa tujuan kita kemari?"
Laila kembali fokus dan melanjutkan langkahnya memasuki perpustakaan Aste. Meskipun kemungkinan kecil, namun ini adalah salah satu cara agar dia bisa mendapatkan kembali Lic. Demi keluarganya, dia akan dengan senang hati meluangkan waktu yang dipenuhi kebosanan.
--Di waktu yang sama, Kuro saat ini sedang menuju tempat penyelidikannya. Tak seperti Laila dan Yui yang menaiki kereta mewah, dia justru melompati atap bangunan seperti seekor kera.
Dia memakai topeng yang dia gunakan saat menjadi Shadow Knight dan Akashi. Alasan dia melakukannya adalah agar dia lebih leluasa dalam mencari informasi.
Tak lupa dia membawa Crystal Box yang berfungsi untuk menyimpan kedua pedang putihnya.
"Baiklah, siapa yang terlebih dahulu?"
Dengan menggunakan data penyelidikan Froy, Kuro saat ini menemukan petunjuk beberapa orang yang terlibat dalam kejadian ini.
Dia mengaktifkan Cristal Age. Data orang yang dia cari muncul di depannya.
Yang pertama memiliki nama panggilan Berdi. Nama aslinya Benyamin Dust. Berusia 35 tahun. Orang biasa. Dia memiliki perusahaan yang melayani jasa antar barang. Bisa dibilang dia menyalurkan barang dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Usahanya bisa dibilang cukup sukses dan terkenal.
Sekilas tak ada yang aneh, namun Kuro tahu itu hanyalah luarnya.
Kuro lalu membaca data mengenai orang lainnya. Mereka semua tak jauh berbeda dengan Benyamin. Orang biasa dan memiliki sebuah usaha yang cukup terkenal. Ada yang mengolah pertambangan logam langka, kerajinan, mengolah sayur sayuran dengan kualitas baik dan semacamnya.
Akan butuh waktu untuk menyelidiki semuanya, namun saat Kuro melihat data yang terakhir, dia langsung mendapatkan sebuah firasat buruk.
Orang terakhir benar benar berbeda dari semuanya.
"Ini buruk... Aku kenal seperti apa dia. Aku tak menyangka dia akan terlibat dalam hal ini."
Kuro melompat dan terus melompat. Awalnya dia menuju salah satu tempat usaha Benjamin, namun dia berganti arah.
Tapi disaat itulah dia menyadari kalau bukan hanya dirinya saja yang ingin ke tempat itu. Atau tidak...-
(Musuh?)
Pertanyaan Kuro langsung terjawab saat sebuah cahaya melesat ke arahnya bagai sebuah peluru.
"?!"
Ledakan besar terjadi di langit kota sehingga membuat panik dan menjadi pusat perhatian.
Alarm langsung berbunyi tanda adanya bahaya. Penduduk dengan cepat mengambil langkah untuk ke tempat evakuasi.
Setelah beberapa menit, kota yang ramai kini menjadi sepi seperti kota hantu. Yang tersisa hanyalah Kuro yang berdiri di puncak penangkal petir yang berukuran sekecil stik drum.
"...Ya ampun, bisakah kalian tak terlalu mencolok?"
Kuro hanya bisa mendesah dalam saat melihat sosok yang muncul di depannya.
Seorang lelaki kekar dengan topeng putih aneh di wajahnya. Topeng itu bahkan tak memiliki lubang untuk melihat. Dari auranya, Kuro tahu dia bukanlah penyihir biasa.
Dari tangan pria itu muncul pedang besar yang hampir seukuran manusia. Bisa dibilang sejenis Greatsword. Itu merupakan magic arm milik lelaki itu.
"Mengabaikanku kah..."
Kuro mendesah kecil. Dia tak menggunakan pedang putihnya dan hanya bersiap dengan posisi bertahan.
Alasan utama kenapa dia tak menggunakannya, saat ini dia tak menggunakan identitas Kuro, namun Akashi. Jika Kuro orang biasa yang memiliki kekuatan setara Master, namun Akashi hanyalah pemuda kaya yang pandai dalam ilmu bela diri.
Alasan kedua adalah saat ini dia berhadapan dengan musuh yang masih belum dia ketahui identitasnya dan alasan kenapa lelaki itu menyerang dirinya.
"...."
Kuro melirik ke bawah. Tampaknya mereka sudah menarik perhatian Knight yang berada di wilayah itu.
Knight yang mendekat berjumlah 12. Empat di antara mereka sudah memanggil magic arm mereka. Sedangkan sisanya kemungkinan tipe Contractor, namun itu belum pasti. Tapi bukan itu yang menjadi masalah.
Masalah yang sesungguhnya adalah apakah lelaki di depannya merupakan musuh atau seorang di pihak pemerintah seperti Knight. Kuro tak membutuhkan waktu lama untuk mengetahuinya.
Lelaki bertopeng itu melesat maju ke arahnya dan menyerang. Saat itu pedangnya bercahaya, Kuro masih tak tahu sihir seperti apa yang dimiliki lelaki itu, namun yang terpenting dia harus menghindar.
Dengan kecepatannya, Kuro berhasil menghindari serangan, namun lelaki itu tak berhenti mengayunkan pedangnya.
"?"
Dengan kecepatan Kuro, dia bisa melihat seolah gerakan lelaki itu menjadi lambat. Dengan kecepatannya pula Kuro berpikir dan memprediksi serangan setiap lawannya. Saat itulah dia tahu apa yang dilakukan lelaki itu, yaitu menyerang Knight yang datang mengganggu.
Pedang itu melesatkan cahaya seperti pedang angin yang biasa Kuro gunakan, namun memiliki kecepatan yang berbeda. Knight yang sadar akan adanya serangan langsung bergerak menghindar, namun salah satu dari mereka memilih menggunakan magic art Shield untuk bertahan. Sayangnya, Knight itu terbelah menjadi dua.
Saat melihat salah satu rekannya mati secara mengenaskan, Knight yang masih hidup menunjukkan kemarahan mereka dan melompat ke atap untuk menyerang lelaki itu. Knight tipe User menyerang dari dekat, sedangkan tipe Contractor mengerahkan magic beast mereka.
Dengan perbedaan jumlah, kemenangan Knight sudah dipastikan. Mereka sering memberikan serangan ke lelaki itu. Bahkan salah satu dari Knight berhasil memotong tangan lelaki itu, tapi lelaki itu tak menunjukkan ekspresi apapun dari balik topengnya.
Semua Knight sadar saat ini mereka seperti bertarung dengan orang mati.
"...."
Kuro yang hanya mengamati pertarungan kini dia mulai bergerak. Bukan karena kemenangan sudah dipastikan, namun jumlah musuh semakin bertambah.
Dari berbagai tempat muncul sosok mengenakan topeng yang sama dengan lelaki yang pertama. Menyadari jumlah musuh bertambah, para Knight berhenti menyerang satu musuh dan membentuk formasi melingkar.
__ADS_1
Dalam pertarungan awal mereka menang jumlah, namun sekarang kondisi berbalik. Merekalah yang terkepung.
Pertarungan antara Knight dan musuh bertopeng memasuki babak baru