
[Seperti biasa kita bisa melihat teknik yang tidak manusiawi jika memperhatikan Kuro. Tetapi lawannya juga menunjukkan teknik yang tak kalah tidak manusiawi. Entah mengapa ini membuatku pusing. Putri Norn, aku pikir kau bisa menjelaskan lebih baik daripada aku.]
{Aku pikir apa yang dilakukan mereka masih dalam standar apa yang bisa dilakukan manusia. Hanya saja, keduanya adalah pengecualian.}
Pertarungan antara Serge dan Kuro memasuki babak baru. Insectmera yang merekam pertarungan mereka hanya bisa melihat dampak setelah pertarungan karena kecepatan mereka melebihi kemampuan Insectmera untuk mengambil gambar.
Meskipun tak bisa melihat dengan jelas, tetapi semua yang melihat bisa tahu kalau itu adalah pertarungan tingkat tinggi yang luar biasa.
[Bukankah itu sama saja?]
{Pengecualian di sini yang aku maksud adalah dalam usaha mereka mendapatkan kekuatan. Kuro tak bisa menggunakan sihir, tetapi dia menguasai memanipulasi ki dan juga menguasai banyak teknik dari aliran pedang yang berbeda. Sedangkan lawannya bisa menggunakan sihir, tetapi dia tak memiliki bakat dalam sihir. Dia juga akhirnya mengikuti jalan yang sama dengan Kuro dalam teknik berpedang. Dan sekarang kau bisa melihat sendiri apa yang bisa mereka lakukan dalam panggung ini.}
[Apakah anda ingin bilang kalau keterbatasan bukan halangan untuk menjadi kuat?]
{Bagi orang yang memilih untuk menyerah pada keadaan, tak diragukan lagi mereka adalah pengecut. Banyak yang menyalahkan orang lain karena kelemahan mereka sendiri. Pertanyaannya, sebelum melakukan itu, pernahkah kau bertanya pada diri sendiri. 'apakah aku sudah berusaha?'. Kita tak tahu itu sebelum mencoba.}
[...]
{Di dunia ini, kemampuan penyihir bisa diketahui dengan pemeriksaan. Tetapi salah jika berpikir itu adalah sebuah batas dan menggunakannya sebagai alasan untuk berhenti bekerja keras. Hal yang sama juga berlaku pada non penyihir. Memang tak ada standar ukuran untuk kemampuan mereka, tapi justru karena itulah mereka bisa berkembang melebihi para penyihir.}
Bukti yang paling nyata adalah banyaknya non penyihir yang lebih berprestasi daripada penyihir. Memang dalam kekuatan individu penyihir lebih kuat, tetapi bukan berarti mereka sempurna.
{Pertarungan keduanya tak hanya menunjukan bagaimana sebuah kerja keras bisa mengubah nasib seseorang, tapi juga sebuah bukti kalau penyihir atau bukan, mereka bisa menjadi kuat selama mereka mau berusaha}
Dalam hati Norn mengakui kalau eksistensi Kuro dan Serge adalah pengecualian dan di saat yang sama mereka adalah eksistensi unik.
Meskipun ada yang berusaha mendapatkan kekuatan sama seperti keduanya, belum tentu mereka akan mencapai level yang sama.
Tetapi pertarungan keduanya menjadi salah satu bukti kalau penyihir maupun orang biasa tak jauh berbeda. Dengan ini setidaknya Norn berharap kesenjangan di antara keduanya bisa berkurang.
Norn tak tahu sampai kapan orang biasa akan takut pada penyihir, tapi dia percaya suatu hari akan ada hari di mana penyihir dan orang biasa akan hidup berdampingan tanpa memandang status.
💠💠💠ðŸ’
Serangan terasa begitu berat dan kuat. Setiap kali berusaha bertahan, tubuhnya terasa mulai kehilangan kekuatan dan terpukul mundur.
Dia berusaha melawan balik, tetapi serangannya selalu tertahan oleh pedang yang sudah bersiap.
Kuat. Inikah kekuatan orang yang ingin dia raih? Kenapa kau sekuat itu?
Ini sama seperti dulu. Saat dia melihat orang itu berada di arena hanya dengan sebuah pedang putih. Awalnya dia meremehkannya.
Orang biasa yang berusaha untuk menjadi seorang pemenang dalam pertarungan antara monster. Hanya orang bodoh yang melakukan itu. Tak hanya dirinya, orang orang di tempat itu juga memiliki pemikiran yang sama.
Tetapi seolah tak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan, orang itu terus maju dan membuktikan kalau dia adalah seorang pemenang.
Dengan teknik pedang yang indah dan di luar pemikiran manusia, orang itu akhirnya menjadi juara dan mendapat sebuah gelar kehormatan.
Bagaimana kau bisa sekuat itu?
Ingin sekali dia menanyakan itu secara langsung kepadanya, tetapi dia mengurungkan niat itu karena harga dirinya.
Semua orang memiliki batas dalam hidup mereka. Sama seperti dirinya yang seorang penyihir dengan peringkat C. Normalnya dia bisa dibilang seorang penyihir dengan kemampuan rata rata, tetapi wujud magic arm miliknya membuatnya lebih rendah daripada penyihir biasa.
Meskipun itu kenyataan pahit yang tak ingin dia terima, tetapi hanya itulah yang hanya dia miliki.
Tetapi, saat itulah dia mendengar suatu yang mengubah hidupnya.
"Ketika kau menyebut tak bisa mengalahkanku, maka di saat itulah kau sudah kalah bahkan sebelum bertarung. Memang setiap orang memiliki batas, tapi apa karena itu kita harus berhenti untuk melangkah maju?"
Perkataan itu mengubah semuanya. Dia akhirnya mengerti semua yang dia pikirkan selama ini salah.
Dalam hati dia terus bertanya. Apakah aku sudah berusaha untuk menghancurkan dinding di depanku?
Tidak. Setiap kali bertemu dengan dinding, dia melangkah mundur.
Dengan tekad baru itu, Serge memulai perjalanannya.
Dalam usahanya untuk menghancurkan dinding di depan matanya, dia tak menemukan jalan mudah. Kekuatan sihirnya terbatas dan dia tak bisa menggunakan sihir dengan baik. Jadi dia memilih jalan lain, yaitu jalan pedang.
Jalan yang sama dengan orang itu.
Sayangnya, ini juga bukan jalan yang mudah. Untuk menjadi pendekar pedang yang kuat, perlu banyak latihan dan waktu.
Tetapi sebuah harapan baru terlahir dari usahanya itu. Dia sadar ternyata dia memiliki bakat yang luar biasa dalam aliran pedang.
Jalan yang dia kira sulit menjadi lebih mudah daripada yang dia perkirakan. Dia bahkan menjadi kuat tanpa dia sadari.
Setelah hampir dua tahun hidup dalam jalan pedang, dia ingin membuktikan kalau usahanya selama ini bukanlah jalan yang salah.
Dia mengikuti turnamen yang selama ini dia anggap sebuah lelucon untuk menghibur saja. Selain itu, dalam turnamen ini, dia akan bertemu dengan orang itu.
Lalu saat berhasil menang, dia akan mengatakan 'terima kasih' padanya yang telah mengubah jalan hidupnya.
Tetapi orang yang dia nantikan tidak datang. Tak hanya dirinya, banyak orang yang menantikan pertarungan orang itu lagi.
Kenapa? Kenapa kau tidak datang?
Tekadnya kini menjadi suatu yang lain, itu adalah kemarahan.
Dalam turnamen itu dia menjadi pemenang, tetapi itu adalah kemenangan yang hampa. Selama dia belum mengalahkan orang itu, gelar yang dia miliki tak lebih dari gelar kosong. Palsu.
Pada akhirnya dia memutuskan untuk menemui orang itu. Dia tak ingin menunggu.
Dia tahu kalau orang itu berasal dari kekaisaran Houou. Jadi dia pergi ke sana meskipun itu bukanlah suatu yang mudah mengingat dia berasal dari negeri lain.
Tetapi keinginannya itu sekali lagi menemukan jalan buntu. Orang yang dia cari tak mudah dia temui. Ini aneh mengingat dia adalah orang yang terkenal.
Sebagai orang luar, dia memiliki batas waktu. Jika dia terlalu lama, dia akan mendapatkan masalah yang tak dia harapkan.
Beruntung, entah apakah itu karena takdir berpihak kepalanya, dia bertemu dengan seorang yang membuat jalannya menjadi lebih mudah.
Orang itu adalah Gustav.
Seorang yang membuat keinginan terbesarnya kini terkabul. Demi orang itu dan dirinya sendiri, Serge akan mengalahkan orang yang ingin dia capai.
💠💠💠ðŸ’
"Haaa!!!!!"
Gelombang kejut terjadi hingga menyapu apapun di sekitar mereka. Serge menyerang lagi dan lagi dengan teknik yang selama ini dia kuasai. Tak ada trik, hanya tebasan pedang yang begitu jujur dan kuat.
(Apa kau mengerti apa yang ingin aku sampaikan dengan pedangku ini?)
Teknik aliran pedang Light Saber, Sword Flash. Teknik aliran pedang Death Phantom , Killer Shadow. Teknik aliran pedang River Fall, Silent Water. Itu hanyalah beberapa teknik aliran pedang yang Serge gunakan untuk menyerang Kuro.
Sayangnya, semua teknik tingkat tinggi itu tak berguna di hadapannya. Bukan hanya karena Kuro mengaktifkan kekuatan penuh Eyes of Origin, tapi juga karena Kuro bisa menggunakan semua teknik itu. Tak aneh jika Kuro bisa mengatasinya.
"Kau kuat, tapi ada kekosongan dalam kekuatanmu itu."
"Daripada memikirkan itu, kenapa kau tak sekalipun menyerang?"
Sejak babak kedua dimulai, hanya Serge saja yang terus menyerang. Kuro hanya bertahan atau mengalihkan serangan Serge ke arah lain.
Jika melihat dari kursi penonton maka sekilas terlihat Kuro selalu menghindar, tetapi itu sebaliknya.
Setelah mengaktifkan Eyes of Origin secara penuh, dia bisa melihat semua serangan Serge dengan jelas. Tetapi, bisa melihat belum tentu bisa menahan. Semua ini karena tubuhnya tak bisa menuruti kemauan Kuro.
Inilah kelemahan besar yang tak ingin dia tunjukan pada lawannya kali ini.
Yang mengesankan adalah kemampuan Limit Break yang digunakan Serge. Tak hanya membuat serangan Serge menjadi lebih kuat dan cepat. Lalu ditambah dengan teknik dari berbagai aliran pedang, membuat kemampuan Serge ini melebihi kemampuan berpedang Maria dulu.
Untuk mengatasi serangan Serge, Kuro memanfaatkan teknik berpedangnya. Dia cukup beruntung karena bisa menahan semuanya dengan baik.
"Aku hanya belum menemukan kesempatan saja."
"Jangan kau pikir aku akan memberikannya!!"
__ADS_1
Apa yang dikatakan Kuro tak sepenuhnya bohong, tetapi pada kenyataannya dia memang sulit menemukan celah untuk menyerang balik.
Hal ini berkaitan dengan kekuatan sihir Soul milik Serge yang belum jelas. Kuro takut jika dia menyerang, Serge akan menggunakan kesempatan itu untuk menyerang balik.
(Tapi bukan hanya itu saja)
Sejak tadi Kuro merasakan suatu yang aneh. Meskipun Serge mampu menggunakan Limit Break yang membuat kekuatannya meningkat pesat, hanya itu saja yang spesial. Teknik pedang yang digunakan Serge juga dikuasai Kuro, karena itulah Kuro mampu membaca gerakan selanjutnya.
Sebagai seorang yang mampu menjadi peserta Battle War, seharusnya tak sebatas ini.
"Kuh!!"
"Tch!!"
Keduanya beradu pedang dan saling terdorong hingga jarak terjadi di antara keduanya.
Tentu saja mereka tanpa ragu lagi akan sekali lagi beradu.
"Supreme Break!!"
"!?"
Tiba tiba Serge menjadi lebih cepat. Kuro secara reflek bertahan dan di saat itulah tubuhnya terlempar ke udara dengan keras.
(Gawat!!)
Serge tiba tiba sudah di belakang Kuro dan dalam posisi menebas. Tidak. Lebih tepat jika bersiap dengan salah satu teknik aliran pedang.
"Heaven Slicer!!!"
Cahaya bagai kilat menelan Kuro. Bersamaan dengan itu, daratan pulau Avalon terbelah menjadi dua sepanjang 1 kilometer lebih.
Tak hanya para penonton yang terkejut dengan apa yang terjadi, tapi juga peserta lain yang bertarung tak jauh dari keduanya.
(Dia bukanlah orang yang akan kalah dengan itu!!)
Meskipun begitu, ada satu orang yang tak percaya Kuro akan mudah dikalahkan hanya dengan teknik seperti itu.
Jika Kuro kalah, maka dia sama sekali tak pantas menjadi orang yang ingin Serge capai.
"!?"
Serge memutar tubuhnya dan menangkis serangan yang diarahkan padanya dari titik buta. Di saat itulah dia melihat sosok yang ingin dia kalahkan.
Anehnya, dia sama sekali tak terkejut saat Kuro sama sekali tak terluka. Tetapi, bukan berarti serangannya tak memberikan efek.
"Apa kau lelah?"
Wajah Kuro terlihat pucat dan nafasnya terengah-engah. Meskipun Serge tahu kalau Kuro akan mengalami dampak balik yang besar jika menggunakan kekuatan Eyes of Origin, tetapi ini melebihi yang dia perkirakan.
Dengan kata lain, ini adalah efek samping dari teknik yang Kuro gunakan untuk menghindar.
"Kau sungguh lawan yang kuat."
"Terima kasih..."
Kuro mulai terdesak oleh kekuatan Serge. Perbedaan kekuatan dan kecepatan antara Limit Break dan Supreme Break sangatlah besar.
Sejauh ini Kuro berhasil bertahan karena menggunakan kekuatan Eyes of Origin untuk memprediksi masa depan, tapi tubuhnya tak bisa terus bertahan dengan perbedaan kekuatan seperti itu.
"Aku ingin sekali mengalahkan seseorang, karena itulah aku ingin menjadi kuat dan nomor satu."
"Hmm... Untuk orang yang ingin menjadi nomor satu, kau cukup ceroboh."
Jika ingin memenangkan Battle War seharusnya Serge lebih bijaksana untuk menggunakan kekuatannya, tetapi tak ada tanda niat itu.
Dengan semua yang terjadi, Kuro tak cukup bodoh untuk tahu tujuan Serge yang sebenarnya dalam Battle War kali ini.
"Tidak. Demi mengalahkanmu, apapun akan aku lakukan."
Tiba tiba aura meluap dari tubuh Serge. Aura itu cukup kuat untuk menghempaskan apapun yang berada di sekitarnya.
Ini adalah tanda Serge memutuskan untuk mengakhiri pertarungan mereka.
Kuro pun juga tak mau kalah. Dia menggunakan kekuatan yang tak ingin dia gunakan sebelum melawan Victoria, tetapi lawannya kali ini pantas menerima itu.
<>
400 tahun yang lalu, Maria menjadi pahlawan dengan mengalahkan Demon King Shiroyasha. Itu benar, tapi itu hanya sebatas menghancurkan tubuhnya saja.
Jiwa Shiroyasha yang masih tersisa kini bereinkarnasi dengan tubuh baru. Sosok itu adalah Kuro.
Berbeda dengan dulu, kekuatan Shiroyasha tak bisa digunakan dengan tubuh manusia biasa.
Tetapi selain itu, ada satu hal lagi yang membuat Shiroyasha tak bisa menggunakan kekuatannya. Itu karena adanya segel kuat yang sanggup menahan kekuatan Shiroyasha.
Apa yang dilakukan Kuro saat ini adalah menghancurkan segel itu.
<>
Tak ada keraguan dari Kuro. Sejak awal dia sudah tahu resiko dari penggunaan kekuatan yang melebihi batas tubuhnya itu.
Semua proses itu hanya berlangsung kurang dari satu detik.
"Cursed Break!!!"
Aura besar dikeluarkan tubuh Kuro. Tak seperti Serge, kekuatan hempasan itu berkali kali lebih kuat.
Bersamaan dengan itu, udara di sekitar menjadi dingin hingga menusuk tulang. Bahkan bagi Serge yang berulang kali merasakan tekanan kuat, ini pertama kalinya dia merasakan tekanan seperti itu.
Tubuhnya gemetar. Tetapi, dia sama sekali tak merasa takut.
Justru sebaliknya, apa yang dia rasakan adalah kebalikannya.
"Hahahaha!!! Ya. Seperti itu!!! Tunjukan semua kekuatanmu. Dan di saat itu pula aku akan melampauinya!!!"
Serge bersiap menggunakan Heaven Slicer sekali lagi. Tapi tak seperti sebelumnya, kali ini dia akan menggunakan semua apa yang dia miliki.
Tubuh Serge menghilang. Dia bergerak dan terus berakselerasi dengan kecepatan melebihi kecepatan suara di sekitar Kuro.
Kemudian dalam waktu yang tepat, dia berhenti dan menggunakan momentum itu untuk menggunakan teknik terkuat yang dia miliki.
"Heaven Slicer Ex!!!"
Tapi tak hanya itu saja. Serge menggunakan kekuatan Soul miliknya untuk membuat tubuhnya berada di seluruh tempat dan mengeksekusi serangan yang sama.
Hasilnya adalah serangan terkuat dari semua arah kini mengepung Kuro.
Dengan satu serangan sudah sanggup membelah daratan sepanjang 1 kilometer. Apa jadinya jika Serge menggunakan serangan seperti itu dengan jumlah banyak dan dengan kekuatan yang lebih besar?
Cahaya menelan semuanya. Bersamaan dengan itu ledakan keras yang sanggup membuat seluruh pulau Avalon bergetar kini terjadi.
Tak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Kuro yang menerima serangan itu secara langsung. Tetapi, setelah cahaya menghilang, sosok Kuro akhirnya terlihat.
"Ya ampun. Sepertinya aku masih belum cukup."
Setelah melihat sosok Kuro yang sama sekali tak terluka, Serge merasa terkejut, namun di saat yang sama dia senang.
Senang bukan karena Kuro sama sekali tak terluka, tapi senang karena sadar Kuro memang orang dia bayangkan.
"!?"
Tiba tiba tubuh Serge kehilangan semua tenaganya. Tubuhnya lemas dan dia sama sekali tak bisa menggerakkan tubuhnya.
Dia kehilangan kekuatan untuk berpijak di udara dan akhirnya perlahan jatuh.
Jatuh atau tidak, tubuh Serge sudah mencapai batas. Tak akan aneh jika Doll miliknya kini sudah hancur.
__ADS_1
Dia hanya bisa menerima nasib. Meskipun kalah, dia sama sekali tak menyesal karena sudah bertarung dengan semua yang dia miliki.
"Ya ampun, karena inilah orang sepertimu sungguh merepotkan."
Sebelum tubuhnya membentur tanah dengan keras, tubuh Serge dihentikan oleh Kuro.
"Haha.. pada akhirnya aku tetap diselamatkan olehmu kah..."
"Jangan salah paham. Aku tak menyelamatkanmu. Kau hanya memiliki waktu sedikit lagi."
"Ah...begitu."
Doll milik Serge hampir rusak sepenuhnya. Dan karena rusak bukan karena terkena dampak serangan, Serge masih memiliki waktu.
"Aku tak begitu mengerti kenapa kau bertarung sejauh ini, tapi aku hanya bisa mengatakan kalau kau benar benar bodoh."
"Aku tak ingin mendengar itu darimu. Tapi jika dipikir pikir, aku memang bodoh."
Serge ingin menjadi kuat sama seperti Kuro walaupun mereka memiliki batas. Tapi kini dia sadar, batas yang dimilikinya berbeda dengan batas milik orang lain. Selain itu dia juga sadar kalau Kuro adalah eksistensi yang tak bisa dia mengerti.
"Tapi kebodohan yang kau miliki membuatku ingat dengan seseorang."
"..."
"Demi satu orang, dia melakukan segalanya. Tak peduli apakah apa yang dia lakukan melanggar takdir yang sudah ditentukan dan melanggar hal tabu."
Mata Kuro menatap langit dengan tatapan penuh nostalgia. Dia seperti orang yang mengingat masa lalu yang kelam, tapi di saat yang sama begitu indah.
"Sekarang, karena tujuanmu sudah tercapai. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"..."
Serge tak bisa menjawab.
Selama ini dia hanya ingin bertarung dengan Kuro untuk mengucapkan terima kasih karena membuat dirinya berubah.
Tetapi setelah tujuan itu tercapai, dia sama sekali tak memikirkan hal itu.
"Apakah kau akan kembali?"
"Aku pikir tidak. Aku tak memiliki alasan untuk melakukannya."
"Kalau begitu, apakah kau memiliki orang yang berharga bagimu?"
"..."
Sekali lagi Serge terdiam. Dia tak bisa memikirkan satu orangpun, tapi seseorang langsung terlintas di kepalanya.
"Syukurlah. Sepertinya kau punya. Jika kau ingat dengan dirinya, kau tak akan pernah tersesat meskipun berada di tengah kegelapan abadi."
Tubuh Serge perlahan bercahaya dan menghilang. Meninggalkan Kuro yang tersenyum sendirian.
<>
💠💠💠ðŸ’
Setelah pertarungan melelahkan dengan Serge, tubuh Kuro tersungkur ke tanah. Dia masih bisa bertahan dengan menggunakan pedangnya sebagai penahan.
Pelepasan segel membuat Kuro sanggup menggunakan satu Authority tanpa perlu mengaktifkannya. Dengan kata lain, pengaktifan sementara.
Sayangnya, pengaktifan seperti memiliki dampak balik yang besar pada tubuhnya.
Kuro bahkan saat ini tak bisa menggerakkan tubuhnya.
Dan tentu saja situasi seperti ini sangat dinanti oleh peserta lain yang mencari kesempatan.
Serangan berupa peluru sihir ditembakkan ke arahnya. Peluru sihir itu tak memiliki kekuatan yang besar, tapi dengan kondisi Kuro yang sekarang, itu sudah cukup.
Tetapi Kuro memiliki seorang yang ia percaya untuk menjaga punggungnya.
"Laser Cannon!!"
Meriam sihir ditembakkan ke arah peluru sihir yang mengincar Kuro. Kekuatan peluru sihir kalah dan menghilang.
Tak berapa lama kemudian, Laila tiba dengan sebuah meriam besar berada di tangan kanannya. Itu adalah meriam sihir dari Meteor Cannon Blade yang sudah dia perkecil kekuatannya.
"Kuro, kau sungguh bodoh."
Yang pertama kali Kuro dengar adalah sebuah omelan dari istri tercinta.
"Maaf, tapi ini suatu yang harus aku lakukan."
Laila terlihat jengkel, tapi itu membuatnya terlihat lebih manis. Daripada takut, Kuro ingin sekali menciumnya.
Laila lalu mendesah dan membantu Kuro berdiri.
"Ya ampun, seharusnya tanpa menggunakan cara itu pun kau bisa mengalahkannya. Tak ada gunanya menggunakan kekuatan yang terlalu beresiko."
Laila tahu apa yang dilakukan Kuro. Bisa dibilang ini adalah salah satu kartu truf yang ingin mereka simpan. Tetapi dengan mudahnya Kuro menggunakannya hanya demi lawannya.
"Tidak apa apa. Lagip---"
"Gggrrr!!!"
"Baiklah, aku minta maaf karena membuatmu khawatir dan aku juga minta maaf karena gagal mendapatkan barang untuk kita."
Barang yang dikirimkan untuk Kuro dan Laila hancur akibat pertempuran Kuro dan Serge.
"Tapi kau tahu apa isinya kan?"
Kuro hanya tersenyum.
Bagi mereka isi dalam koper itu bukan suatu yang penting, tapi isinya sudah cukup memberikan apa yang mereka inginkan.
"Dugaan kita tepat. Tidak, aku rasa jika lebih tepat melebihi apa yang kita perkirakan. Pulau Avalon ternyata bukanlah pulau biasa. Pulau ini adalah sebuah altar."
"Altar?"
"Aku akan menceritakan lebih detail nanti. Pertanyaanku adalah, apakah kau merasa ada perubahan dalam tubuhmu?"
Laila memiringkan kepalanya dengan tanda tanya.
"Kalau tak ada, itu kabar baik. Yang penting bagi kita sekarang adalah bergabung dengan lainnya."
Rencana awal mereka adalah bertempur secara terpisah dengan tujuan untuk melihat keadaan dan situasi. Jika apa yang mereka butuhkan sudah cukup, mereka akan bergabung dengan lainnya dengan tujuan untuk memperkuat posisi dalam Battle War.
"Kau tahu posisi mereka?"
"Charlia dan Fila sedang bertarung dengan peserta lain yang berada tak jauh dari sini. Kita akan membantu mereka."
Mereka mengangguk bersamaan dan pergi menuju lokasi Fila dan Charmilia.
Tiba tiba mereka merasakan tekanan energi yang cukup kuat.
"Tekanan sihir barusan..."
"Laila, apa ada yang salah?"
"Tidak, tapi tekanan sihir tadi terasa menakutkan. Entah mengapa aku merasakan firasat buruk. Kuro, ayo cepat."
Kuro dan Laila mempercepat langkah mereka. Suara pertempuran yang memenuhi tempat kini mulai terdengar sepi.
Kemudian, aura yang tak menyenangkan perlahan mulai terasa lebih kuat. Mereka kemudian berhenti dan terkejut karena melihat suatu yang tak mereka sangka.
"Apa apaan ini...?"
Di depan mereka, hutan putih yang dipenuhi salju berganti oleh hutan hitam gelap yang penuh dengan aura menakutkan.
__ADS_1