Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Reunion


__ADS_3

Sekolah sihir di kekaisaran Houou tak hanya ditujukan untuk melatih penyihir muda. Sekolah sihir juga digunakan sebagai pelatihan militer, tempat penelitian sihir, dan masih banyak hal, lainnya yang berhubungan dengan sihir.


Dari tujuh sekolah sihir, Seiryuu Academy merupakan sekolah sihir dengan peringkat terbaik (pertama).


Seiryuu Academy merupakan sekolah sihir khusus wanita. Itu artinya tak ada satupun laki laki di sekolah ini. Bahkan semua pengajar dan staff adalah perempuan. Meskipun begitu, Seiryuu Academy sanggup membuktikan sebagai yang terkuat meskipun tak ada lelaki di pihak mereka. Hal ini tak lepas dari keberadaan putri Victoria sebagai penyihir elemen suci dan prestasi yang dia raih.


Tetapi salah jika Seiryuu mendapatkan peringkat terbaik karena putri Victoria semata. Banyak penyihir muda lainnya yang juga memiliki bakat yang tak kalah hebat dari Victoria. Hanya saja mereka tak terlalu mencolok karena Victoria mendapatkan semua perhatian.


Dalam Battle War tahun ini, Victoria kembali menjadi peserta untuk yang ketiga kalinya. Dia berambisi menjadi juara tiga tahun berturut turut. Pasangannya sendiri merupakan seorang pemuda, tapi salah jika berpikir dia seorang lelaki. Sama seperti Charlmilia dulu, dia adalah seorang wanita tomboy yang menggunakan sihir untuk merubah penampilan.


Peringkat kedua adalah Kinryuu Academy. Berkebalikan dengan Seiryuu Academy, sekolah ini merupakan sekolah khusus laki laki. Kinryuu Academy terkenal dengan sebutan sekolah elit. Hal ini karena sebagian besar murid adalah anak dari bangsawan atau seorang yang memiliki jabatan besar di kekaisaran.


Sudah menjadi pengetahuan umum kekuatan seorang penyihir bergantung pada genetik atau orang tua mereka (faktor keturunan). Tak mengherankan jika banyak yang berpendapat kalau dalam segi kekuatan, Kinryuu Academy lebih unggul dari Seiryuu Academy.


Dan itu benar. Setiap tahun dalam Battle War, Kinryuu Academy akan mengirim peserta dengan kekuatan besar. Sayangnya, kekuatan besar saja tak cukup mengalahkan Victoria.


Persaingan antara Seiryuu Academy dan Kinryuu Academy sudah terkenal. Tahun ini mereka bertekad untuk menghentikan ambisi Victoria.


Sekolah sihir peringkat ketiga dan keempat adalah Knight Academy diikuti Shiryuu Academy.


Seperti namanya, Knight Academy lebih ditujukan pada penyihir yang suatu saat ingin menjadi Knight. Sebagian besar penyihir yang bersekolah di Knight Academy berkeinginan mendapatkan karir bagus dalam militer nanti.


Knight Academy terbagi menjadi dua divisi. Divisi pertama untuk penyihir tipe User dan lainnya untuk penyihir tipe Contractor. Hal ini dilakukan karena dua tipe memiliki ciri khas masing masing dalam bertarung.


Sebagian besar pelajaran adalah simulasi berperang dan pertempuran langsung. Di saat inilah dua divisi akan bergabung dan dituntut untuk bekerja sama dengan divisi lain.


Dalam Battle War, Knight Academy akan mengirim peserta yang memiliki kemampuan bertempur terbaik. Yang menarik, hampir setiap tahun peserta dari Knight Academy akan saling bekerja sama untuk mencapai satu tujuan.


Untuk Shiryuu Academy, sekolah ini merupakan sekolah campuran. Sekolah ini lebih fokus dalam pengembangan sihir. Tak heran jika jenis sihir yang digunakan oleh murid Shiryuu Academy lebih bervariasi dan lebih kuat.


Sayangnya, sebagai ganti dari itu kemampuan bertempur menggunakan Magic Arm dan Magic Beast tak terlalu efektif.


Dalam Battle War, peserta biasanya terdiri dari penyihir dengan kemampuan sihir di atas rata rata. Dan karena gaya pertarungan berbeda dengan peserta lain, peserta dari Shiryuu Academy biasanya menjadi incaran terlebih dahulu. Bukan karena mereka lemah, tapi sebaliknya. Sihir yang mereka gunakan biasanya sihir dengan kemampuan perusak yang besar. Bahkan ada rumor kalau untuk menjadi peserta Battle War, mereka harus menguasai sihir tertentu terlebih dahulu.


Peringkat kelima dimiliki oleh Ginryuu Academy. Sekolah ini lebih dikenal sebagai tempat penelitian teknologi sihir. Banyak murid yang memiliki kecerdasan di atas rata rata. Dan mungkin karena banyak yang lebih menggunakan otak daripada otot, maka wajar jika kemampuan tempur kalah jauh dari sekolah lainnya.


Hanya saja, peserta dari sekolah ini cukup diwaspadai karena sering menggunakan taktik yang berada di luar dugaan. Lalu mereka juga menggunakan teknologi dalam pertarungan seperti Automata dan golem.


Peringkat keenam adalah Rairyuu Academy. Sekolah ini lebih fokus dalam penelitian sihir kuno dan sejarah. Tujuan utama sekolah ini adalah menggunakan kembali sihir yang telah hilang. Dengan visi yang berbeda itulah sekolah ini juga dikenal sebagai sekolah untuk orang aneh.


Kemampuan bertempur murid Karyuu Academy bisa dibilang kalah jauh dari lainnya, tetapi berkat sihir kuno yang mereka pelajari, mereka bisa menggunakan sihir yang begitu unik meskipun mereka bukanlah penyihir peringkat S ke atas.


Dan sekolah dengan peringkat terendah, Kuryuu Academy. Sekolah ini dulunya merupakan salah satu sekolah terbaik. Hanya saja sekarang itu tak lebih dari masa lalu.


Karena letaknya yang jauh dan terpencil, sekolah ini memiliki murid paling sedikit dari sekolah lainnya. Sebagian besar murid adalah anak dari rakyat jelata sehingga kemampuan bertempur bisa dibilang tak spesial.


Tetapi dalam sejarah Kuryuu Academy, banyak murid dengan kemampuan luar biasa yang lulus dari sekolah ini. Bahkan mereka menjadi penyihir tingkat Paladin.


Dalam Battle War tahun ini, peserta cukup menarik perhatian karena salah satunya adalah putri dari sang Paladin terkuat. Tapi pasangannya juga tak kalah menarik.


Bagaimanapun juga dia adalah sosok yang dikenal sebagai Witch Reaper.


✡️✡️✡️


Seminggu berlalu sejak Charlmilia mendaftar. Itu artinya kurang dari seminggu babak ketiga Battle War akan dimulai.


Sejak saat itu pula kota Gehenna perlahan lahan mulai berubah. Bukan hanya pengunjung yang semakin ramai karena ingin melihat Battle War dari dekat, tapi juga pihak panitia yang mempersiapkan Battle War.


Dalam masa ini pengamanan diperketat. Ada bagian wilayah kota yang tak diperbolehkan dikunjungi oleh rakyat sipil karena adanya berbagai macam alat sihir yang penting dan berbahaya.


Semua alat itu tak lebih dari alat untuk memperlancar jalannya Battle War nanti. Sebagian besar merupakan perisai khusus dan alat perekam jalannya Battle War. Proses pemasangan ini cukup menarik untuk dilihat walau dari jauh.


Untuk kota Gehenna yang menjadi kursi utama penonton panggung Battle War, banyak bangunan baru yang dibangun untuk menampung pengunjung yang datang. Sebagian besar bangunan dibangun menggunakan sihir, tapi juga ada bangunan yang dibangun dengan proses pemindahan menggunakan alat sihir.


Proses ini begitu cepat, bahkan ada tim khusus yang diperuntukan untuk membangun bangunan. Dalam waktu seminggu, bangunan di kota Gehenna bertambah menjadi dua kali lipat.


Sayangnya, meskipun banyak membangun bangunan baru, bukan berarti semua orang bisa datang ke kota Gehenna. Jumlah pengunjung dibatasi dan lebih diperuntukan untuk tamu undangan dan pihak sekolah yang bertanding.


Untuk peserta Battle War sendiri, sebagian besar sudah mendaftar. Hanya tinggal beberapa pasangan yang belum. Kemungkinan mereka akan mendaftar di saat Battle War hampir dimulai.


Peserta yang melakukan ini dikategorikan sebagai peserta yang hati hati. Ini normal mengingat hanya dengan mengetahui nama, peserta lain bisa mendapatkan informasi mengenai kelemahan dan kekuatan. Waktu dua minggu yang diberikan pada peserta juga memberikan waktu untuk menyelidiki peserta lain dan menyusun strategi.


Benar. Battle War memang dikenal sebagai kompetisi 7 sekolah sihir, tapi bagi peserta Battle War, ini bisa diartikan sebagai perang.


Perang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.


✡️✡️✡️


"Oh.. aku belum pernah ke pulau melayang sebelumnya. Aku penasaran apa yang ada di sana hmm.."


"Jangan berdiri di dekat tebing seperti itu, Merlin. Kau bisa jatuh."


Gadis yang bernama Merlin hanya tertawa kecil dan mengabaikan gadis yang memperingatkannya.


Merlin memiliki tubuh kecil yang membuatnya terlihat seperti anak kecil. Sebuah lolipop di mulutnya menambah kesan itu.


Keduanya mengenakan pakaian hangat yang cukup tebal yang ditambahkan sihir penghangat tubuh.


"Ehehe.. tenang saja. Tapi bukankah lebih menarik jika terjatuh dari tempat seperti ini?"


"Tolong jangan bercanda! Sungguh, sampai kapan kau akan terus bermain main seperti ini?"


"Ayolah, Mitra. Kau terlalu serius. Lagipula aku tak bermain main. Seperti yang kau lihat sendiri, kita kemari untuk melihat dari dekat pulau Avalon. Ini juga termasuk bekerja."


Lokasi mereka saat ini adalah puncak gunung berapi yang menjadi sumber utama air panas kota Gehenna. Meskipun sudah ratusan tahun tak meletus, tapi bukan berarti gunung itu tak aktif.


Mereka bisa mencium bau belerang dan udara panas dari kawah yang ada tak jauh dari mereka. Ada bagian gunung yang tak dipenuhi salju karena terus meleleh.


"Yah.. awalnya aku berpikir ini ide yang bagus untuk melihat dari dekat pulau Avalon, sayang ini sama sekali tak ada hasilnya."


Pulau Avalon memang terkenal karena kemisteriusannya, tapi akses ke pulau melayang sendiri dibatasi oleh pemerintah. Butuh izin khusus untuk memasukinya, bahkan jika ketahuan hukuman yang menanti adalah kematian.

__ADS_1


Bahkan setelah penelitian yang dulu dilakukan, tak ada informasi baru mengenai pulau Avalon. Yang ada hanyalah peta lama dan informasi tentang hal umum seperti tumbuhan dan luas pulau.


Dengan semua alasan itu, menggunakan pulau Avalon sebagai tempat berlangsungnya Battle War terbilang cukup aneh dan tak masuk akal. Hal ini membuat munculnya pertanyaan baru, kenapa pemerintah menggunakan pulau Avalon?


Untuk mengetahuinya alasan itu, Mitra dan Merlin berusaha mencari tahu dengan cara melihat dari dekat pulau Avalon, tapi selain panitia yang melakukan persiapan, tak ada hal lain yang bisa dilihat.


"Yaah.. kita mengira pulau Avalon lebih rendah dari gunung ini, tapi ternyata lebih tinggi daripada yang aku kira. Jika melihat hasil, kita mendapatkan hal baru seperti pemandangan dari sini cukup menarik."


Sejauh mata memandang hanya ada salju putih. Itu bukan suatu pemandangan yang cukup bagus untuk dilihat.


"Hanya anak kecil yang senang dengan situasi seperti ini. Oh.. aku lupa, kau memang anak kecil."


Merlin bukan hanya terlihat seperti anak kecil, tapi dia memang anak kecil. Berbeda dengan Mitra yang sudah berusia 17 tahun, Merlin baru berusia 13 tahun. Dia dikategorikan sebagai anak yang jenius dalam sihir. Hal ini memungkinkannya untuk melewati kelas bahkan mengikuti Battle War.


"Jangan sombong karena ukuran dadamu lebih besar. Aku masih dalam pertumbuhan, jadi jangan menangis jika kau kalah suatu hari nanti."


"Kenapa kau selalu membahas ukuran dada? Apa kau memiliki dendam pada orang yang memiliki dada besar?"


"Dada besar adalah musuh."


Mitra hanya mendesah berat. Saat memikirkan apa yang harus dia lakukan, dia ingat pada temannya yang memiliki ukuran dada cukup besar.


Meskipun sudah hampir satu tahun dia tak bertemu, dia banyak mendengar rumor tentang dirinya. Yang paling mengejutkan adalah dia sudah menikah dan memiliki dua anak. Apa yang terjadi selama ini? Bagaimana memiliki dua anak padahal hubungan belum ada satu tahun? Dia benar benar membuat Mitra heran dan kagum (dalam artian lain).


Tapi entah mengapa ini bukan suatu yang aneh mengingat sejak dulu dia adalah orang yang suka merusak pengertian umum walau dirinya tak menyadari hal itu.


Dia tahu kalau temannya akan mengikuti Battle War tahun ini. Seperti janjinya sebelum berpisah dulu, mereka kini menjadi saingan. Meskipun saat ini mereka berada di kota yang sama, dia belum bisa menemuinya karena terlalu sibuk mengurus anak kecil.


"Hey lihat! Sepertinya bukan hanya kita saja yang memiliki pemikiran untuk melihat pulau Avalon dari dekat."


Mitra menoleh ke arah yang ditujukan Merlin. Di sana dia melihat 4 orang gadis berada di ujung bukit tak jauh dari mereka. Entah mengapa mereka membawa papan kayu dengan bentuk persegi panjang.


Dia mengetahui wajah dua orang di antara mereka, tapi dia tak mengetahui dua lainnya. Yang satunya memakai topeng, jadi dia tak tahu seperti apa wajahnya.


(Dia selalu muncul di tempat yang tak seharusnya)


"...apa yang dia lakukan?"


Sekali lagi dia dibuat terkejut. Saat melihat mereka berdiskusi memutuskan sesuatu, sebuah pemikiran aneh muncul di kepala Mitra.


Dan itu langsung menjadi kenyataan.


Keempat gadis itu langsung saja melompat dari tebing dan menggunakan papan kayu sebagai alat seluncur. Bisa dibilang itu adalah semacam permainan atau olahraga mereka.


Bagi Mitra melakukan hal itu di cuaca bagus memang sangat tepat, tapi kenapa harus dari puncak gunung setinggi 4000 meter?


"Ahaha ini baru menarik. Mitra, kita menyusul mereka."


Sayangnya dia memiliki teman yang memiliki hobi yang sama. Dalam hal ini, dia tak memiliki pilihan lain.


"Entah mengapa aku memiliki perasaan buruk mengenai hal ini."


Merlin dengan senyuman lebar melompat terlebih dahulu, dan Mitra menyusulnya. Sebuah seluncur dari es muncul di kedua kaki mereka dan kemudian mereka meluncur.


Keduanya dengan cepat menyusul 4 orang gadis lainnya. Lawan mereka dibuat terkejut oleh kedatangan pesaing baru, tapi ini justru membuat suasana menjadi lebih panas.


Gadis yang memakai topeng merubah posisi tubuhnya dan dengan cepat memimpin. Tak hanya menambah kecepatan, namun dia juga bergerak dengan melakukan gerakan akrobatik saat melewati gundukan salju.


Gerakan yang bukan manusia membuat Mitra dan Merlin kagum, tapi bagi gadis lainnya terlihat biasa saja seolah sudah menduga hal itu bisa dilakukannya. Tak mau kalah, gadis lainnya juga menambah kecepatan. Yang satu mengeluarkan petir di sekujur tubuhnya. Kemudian dia melesat bagai peluru.


Gadis lainnya yang memiliki rambut hijau tak begitu peduli. Dia hanya mengubah posisi tubuhnya dan melaju. Di saat inilah Merlin juga meniru apa yang mereka lakukan.


Mitra yang melihat itu mendesah. Dia melihat pohon di depannya dan menghindar dengan baik. Di saat itulah dia berpapasan dengan salah satu teman lamanya.


"Lama tak berjumpa Mitra."


"Lama tak jumpa, Laila. Apa yang kau lakukan?"


"Ah.. kami sedang bertanding untuk menentukan siapa yang akan tidur bersama dengan Ruko malam ini. Kau tahu, mereka cukup berantusias hehe.."


"Ha...?"


Mitra memiringkan kepalanya karena tak mengerti. Tampaknya Laila dan teman temannya melakukan hal konyol dengan alasan yang konyol pula.


"Ahaha.. bagaimana kalau kita berbicara nanti. Sekarang bagaimana kalau kita berlomba siapa yang lebih dulu sampai di garis finish."


"Baiklah.."


Tak ada alasan khusus Mitra untuk melakukannya, tapi dia menganggap ini sebuah kesempatan bermain dengan sahabat yang sudah lama tak dia temui.


Tetapi sesuatu yang tak dia duga terjadi.


Laila menciptakan lima bola api dan menembakkannya ke semua gadis yang berada di depannya. Mereka juga terkejut sama seperti Mitra, tapi mereka semua justru tersenyum lebar tanda menerima tantangan.


Setelah menghindar, gadis berambut pirang menembakan bola petir. Laila dengan mudah menghindar dan membalas dengan bola api lainnya, tapi dengan jumlah yang lebih besar.


Pada akhirnya saling menembak dengan meluncur berkecepatan tinggi menjadi pemandangan yang menakutkan. Mitra yang tak ingin terlibat juga menerima tembakan dari Laila.


Mitra bertahan dengan menciptakan bola salju, tapi bola api lainnya datang.


"Kau benar benar.."


"Ini lomba, jangan pikir aku akan mengalah!!!"


Mitra mulai serius menanggapi Laila, tapi di saat yang sama mereka sampai di sebuah ujung tebing yang cukup curam.


Ruko yang memimpin tanpa ragu melompat di udara. Sesekali dia melakukan akrobat. Sayangnya, di saat inilah dia menjadi incaran yang mudah oleh Charlmilia dan Laila. Keduanya tanpa ragu menyerang Ruko dengan serangan masing masing.


Sayangnya, seolah sudah menunggu hal itu, dia melompat dari papan seluncurnya dan berputar di udara. Di saat itulah dia menendang serangan keduanya bagaikan bola sepak.


Sekali lagi gerakan yang bukan manusia membuat mereka terkejut, tapi itu masih mudah mereka hindari.

__ADS_1


"Hey.. aku juga tak mau ketinggalan."


Merlin yang merasa ditinggal juga menyerang. Dia menciptakan menciptakan bola cahaya yang diarahkan pada semua lawannya. Bahkan termasuk Mitra.


Semua menghindar, tapi semua itu belum cukup. Serangan Merlin tiba tiba berubah arah dan mengejar mereka.


Tak punya pilihan para gadis melawan serangan dengan serangan. Laila menembakan bola api, Charlmilia menembakan bola petir, Mitra menahan dengan bola es dan Fila menahan dengan bola besi yang dia ciptakan dari tanah pegunungan.


Untuk Ruko, dia sekali lagi menendang serangan yang datang. Tak hanya itu, dia menambah kecepatan dan mengembalikannya ke Merlin.


"Haha.. itu tak aka-"


Merlin berusaha menahan, tapi serangan itu mengarah ke arah lain. Ke arah yang lebih tinggi dan menghasilkan ledakan keras di atas gunung.


"Jangan bilang...."


"Ruko, kau keterlaluan."


"Dia sama sekali tak mengalah. Ya ampun."


"Ruko... "


"Huh..?!"


Masing masing memiliki reaksi berbeda, tapi mereka memiliki satu pemikiran yang sama. Mereka dalam bahaya jika tak cepat.


Pada hari itu, penduduk kota Gehenna dan panitia Battle War dikejutkan oleh suara gemuruh dari salju yang longsor di gunung berapi. Karena jauh dari pemukiman, tak ada korban yang dilaporkan. Semua dengan cepat kembali pada kegiatan masing masing seolah tak begitu peduli apa yang baru saja terjadi dan apa yang menyebabkannya.


Pemenang lomba seluncur adalah Ruko. Yang lainnya gagal karena terkubur longsoran salju. Mereka baik baik saja, tapi akan balas dendam pada Ruko atas perlakuan yang mereka terima.


Sayangnya, Ruko berhasil kabur dengan menghilang.


✡️✡️✡️


Setelah kembali ke penginapan, Laila dan lainnya mandi di pemandian air hangat di luar ruangan. Meskipun pemandian di luar ruangan, terdapat semacam perisai sihir yang membuat tak bisa dilihat dari luar dan juga berfungsi sebagai penghalau udara dingin dari luar.


Sebagian besar pemandian air panas di kota Gehenna menggunakan sistem seperti ini. Hal itulah yang membuat pengunjung merasakan sensasi berbeda karena bisa mandi sambil menikmati pemandangan di musim dingin.


"Ya ampun.. Ruko kali ini benar benar keterlaluan. Jika dia pulang ke rumah, aku akan menghukumnya."


Sambil membasuh tubuhnya, Laila mengungkapkan kekesalannya pada Ruko.


Tertimbun longsoran salju bukan masalah besar karena dia bisa dengan mudah keluar dengan melelehkan es dengan sihir, tapi Laila kesal karena alasan yang berbeda.


"Aku mendengar kalau kalian berlomba untuk menentukan siapa yang akan tidur dengannya nanti. Mungkin dia tak suka dengan keputusan yang kau ambil secara sepihak."


Tak jauh darinya, Mitra juga membasuh tubuhnya dengan air hangat. Sebuah tahi lalat terlihat di salah satu dadanya yang membuat dia terlihat seksi.


Bukan Mitra saja yang membasuh tubuh, Fila juga masih membasuh tubuh dengan gerakan perlahan yang membuatnya terlihat seperti tuan putri. Untuk Charlmilia, dia lebih dulu masuk karena ingin bermain dengan Lic dan Riku. Sementara itu Merlin tak terlihat karena sedang berada di tempat mandi uap.


"Apakah benar begitu? Aku tahu dia pernah tidur dan tinggal bersama dengan gadis lain, jadi aku pikir ini bukan masalah besar. Lagipula dia bukan orang yang akan melakukan hal aneh pada orang yang bukan istrinya."


Mitra memiringkan kepalanya. Dia merasa aneh dengan semua yang disebutkan Laila tadi.


Ada sesuatu yang tak wajar. Dia tak tahu apa itu, tapi semua orang di sekitarnya merasa itu suatu yang wajar.


"Tunggu, sebenarnya siapa Ruko itu? Aku merasa pernah mendengar namanya. Apakah dia orang terkenal?"


"Oh.. kau pasti mendengar nama suamiku."


"Namanya Kuro Kagami kan?"


Laila mengangguk membenarkan. Kabar dirinya sudah memiliki kekasih dan memiliki anak pasti sudah tersebar luas, jadi dia tak merasa aneh jika Mitra tahu hal itu.


"Ruko adalah suamiku. Hanya saja karena alasan tertentu, dia sekarang menjadi perempuan. Yah.. jangan kawatir, itu hanya sementara."


"Oh.. .....huh?!"


Mitra terkejut bagaikan tersambar petir. Dia tahu Laila bukanlah orang yang bisa diukur menggunakan pengertian umum, tapi kali ini dia benar benar berpikir Laila sudah melanggar garis batas.


"Laila apa yang sebenarnya kau pikirkan?"


"Kenapa? Itu karena Ruko sangat manis. Jangan kawatir, aku sudah mengambil keperawanannya."


"Bukan itu maksudku. Eh? Keperawanan?"


Laila mengangguk dengan tidak bersalah.


Saat itu kepala Mitra berpikir keras bagaimana bisa itu terjadi dan bagaimana mereka melakukannya.


Wajahnya langsung merah padam dan uap mengepul di kepalanya. Sebuah tawa kecil terdengar seperti kaset rusak.


"Mitra, jangan terlalu memikirkannya. Kau akan meledak."


"Aku tak ingin mendengar itu darimu."


Pikiran Mitra telah kembali. Dia menghela nafas dalam dan mencoba untuk tenang.


"Laila, kenapa kau tak menunjukan wajah Ruko pada temanmu? Aku yakin dia akan langsung mengerti."


Fila menyarankan dengan sebuah senyuman tipis yang membuat orang berpikir dia merencanakan sesuatu. Dan setelah mengatakan itu, dia pergi menyusul Charlmilia dan lainnya.


"Apa maksudmu? Apakah dia begitu cantik?"


Tidak tidak tidak. Pertama tama dia harus ingat kembali kalau Ruko adalah laki laki. Dia tak boleh tergoda. Apalagi dia adalah suami sahabat baiknya.


"Uhmm.. tidak juga. Hanya saja jika kau melihat wajahnya, kau akan kehilangan kendali dan akan langsung berusaha menyerangnya. Suamiku ternyata berbakat menjadi succubus."


"Aku tak begitu mengerti, tapi aku mengerti kenapa dia memilih kabur darimu."


Mitra benar benar stress menghadapi orang orang yang sudah melanggar garis batas. Apakah ada orang normal di sini selain dirinya?

__ADS_1


__ADS_2