Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Art of Death


__ADS_3

Kuro dan Laila memasuki ruangan selanjutnya. Hanya satu langkah memasukinya, keduanya bisa merasakan kalau atmosfer di ruangan itu lebih berat dan mencekam.


Tiang tiang tinggi menjadi penyangga ruangan. Meskipun begitu, tak ada tanda tiang tiang itu dibangun pada masa lalu. Lebih tepat jika tiang tiang itu seperti baru.


Dari tengah ruangan mereka melihat cahaya. Cahaya itu berasal dari kristal kristal yang tumbuh dari atas seperti akar pohon yang menyebar ke segala penjuru ruangan.


Tujuan keduanya adalah tempat itu.


Tak ada jebakan atau musuh. Mereka seolah diundang menuju jamuan makan malam.


Dan kemudian, mereka tiba dan menemukan seorang pemuda yang duduk di sebuah kursi mewah dengan wajah bosan. Pemuda dengan wajah yang sama seperti Kuro, hanya saja rambutnya hitam kelam dan matanya merah.


"...aku sudah bosan menunggumu, Senior. Menurut perhitunganku  seharusnya kau bisa datang lebih cepat."


"Aku banyak urusan tak seperti kau yang menjadi pengangguran, Itsuki, atau aku panggil Ariel?"


Itsuki tersenyum tipis.


"Aku tak peduli. Terserah kau memanggilku seperti apa. Bagiku, semua itu tak ada artinya lagi."


Itsuki berdiri. Dia mengulurkan tangannya seperti meminta seorang berdansa.


Sebuah tangan gadis tiba tiba muncul dan keduanya berpegangan erat. Gadis yang cantik dengan gaun merah darah, dan berambut putih. Hanya saja matanya seolah tak memiliki jiwa.


"Perkenalkan, Dia adalah Queen-ku. Tak kalah cantik dengan punyamu kan, Senior."


Gadis itu menunduk seolah memperkenalkan diri.


"Oh iya, aku harus juga memperkenalkan dia pada mereka berdua, Prince of Phoenix dan ....Loli."


"Siapa yang kau panggil Loli, Baj*ngan."


Yui langsung saja menyerang dengan pedang air. Tetapi serangannya tiba tiba lenyap tak tersisa.


"?!"


"Sungguh tak tahu sopan santun. Aku memperkenalkan diri dengan sopan, tetapi kalian membalasnya dengan serangan. Huuh... Sepertinya kalian memang butuh pelajaran."


Tak ada yang peduli dengan perkataan Itsuki. Mereka bahkan menaikkan hawa haus darah mereka.


"Kau yang tak sopan karena menggunakan wajah kak Kuro. Kau seharusnya yang diberi pelajaran agar bersyukur dengan apa yang kau miliki."


Tiba tiba wajah Itsuki mematung seolah terkejut. Lalu tiba tiba haus darah dari Itsuki meningkat dengan tajam.


"Bersyukur katamu? Orang yang memiliki segalanya tak pantas mengucapkan itu. Tidak semua orang beruntung memiliki keluarga yang baik atau kekuatan yang mampu bertahan hidup. Orang orang seperti kalianlah yang membuatku muak."


Pedang putih muncul di tangan Itsuki.


"Dengan membangkitkannya, semua orang akan setara. Tak akan ada perbedaan antara kuat dan yang lemah. Akan kuhabisi semua yang menghalangiku, termasuk guruku sendiri."


Aura menyelimuti Itsuki dan berubah menjadi pelindung baja putih dengan garis merah yang mengancam.


Gadis yang berada di sampingnya tak melakukan apapun dan hanya terdiam, tetapi aura hitam tiba tiba tiba menyelimutinya. Kejadian ini mirip seperti yang dialami gadis sebelumnya.


Pertarungan selanjutnya akan segera dimulai. Semua tahu itu. Masalahnya adalah siapa yang akan bergerak terlebih dahulu.


" ..Kuro, kau tahu aku membenci pertarungan. Bahkan aku lebih senang menyelesaikan masalah tanpa harus bertarung, tetapi sepertinya aku memang tak memiliki pilihan lain."


Mendengar itu, Kuro tersenyum. Tetapi tiba tiba dia menghadang Laila dengan pedangnya.


Semua terdiam membisu melihat itu.


"Kuro?"


"Maaf, Laila. Aku selalu melibatkan dalam masalah yang tak kau sukai. Aku tahu seberapa besar keinginanmu untuk merebut Lic kembali, tetapi-"


Kuro melangkah maju. Aura putih menyelimutinya bersamaan dengan tekanan yang kuat.


"Itsuki adalah lawanku. Inilah caraku bertanggung jawab sebagai gurunya."


Dalam sekejap, Kuro menghilang. Lalu gelombang kejut terjadi di tengah mereka yang diakibatkan oleh pedang Kuro dan Itsuki beradu satu sama lain.


Kekuatan dan kecepatan yang berada di tingkatan berbeda ditunjukkan seolah tak ada yang bisa memasuki selain mereka berdua.


"Kuro.."


Dengan kemampuannya sekarang, dia bisa bertarung melawan Itsuki. Tetapi saat ini bukanlah pertarungannya.


Itsuki adalah murid dan sekaligus junior Kuro saat dia masih berada di Shadow Knight. Semua yang terjadi saat ini adalah kesalahan Kuro karena dia tak bisa membimbing Itsuki ke jalan yang lebih baik. Wajar saja jika saat ini Kuro merasa harus bertanggung jawab.


"Laila, serahkan pada kekasihmu. Dia melakukan hal ini bukan hanya karena rasa bertanggung jawabnya saja."


"Benar benar. Sebaiknya kita habisi saja wanita itu dan segera cari cara mengeluarkan Lic dari tempat itu."


Laila melihat ke arah kristal yang bagaikan sebuah pohon kehidupan. Di atas sana, Lic terkurung dan tertidur menunggu untuk segera dibangunkan.


Scarflare tiba tiba bercahaya.


"Aku tahu Scarflare, kau juga ingin segera bertemu dengan Lic."


Mungkinkah Scarflare mengerti apa yang dirasakan Laila? Atau karena keduanya sama sama pedang? Tak ada yang tahu pasti kecuali Laila yang memiliki Scarflare.


Laila lalu tersenyum. Disaat yang sama pertarungan Kuro dan Itsuki memasuki tingkat baru di mana keduanya bahkan hampir tak terlihat lagi oleh mata biasa. Seolah memberikan ruang untuk bertarung, keduanya bahkan menjauh.


Ketiganya lalu berlari ke arah sang gadis. Laila dengan Scarflare di kedua tangannya. Yui dengan kedua belatinya dan Arthuria...


"Hapuslah "


Pedang emas dua sisi muncul di tangan Arthuria. Itu adalah wujud magic arm dan sekaligus bukti dia sudah menguasai Breaker. Bukti seorang yang telah melampaui garis batas menjadi Master.


Ketiganya melaju tanpa ragu untuk segera menebas leher sang gadis, sayangnya ketiganya langsung terpental saat mendekatinya.


Ketiganya terseret puluhan meter, tetapi mereka semua berhasil bertahan dan sekaligus terkejut dengan apa yang terjadi.


"Apa itu tadi...?"


Pertanyaan itu segera terjawab oleh cambuk hitam yang mengarah pada mereka bertiga. Mereka menghindar, tetapi cambuk itu mengarah pada Yui karena satu satunya yang menghindar dengan cara melompat.


Yui menyilangkan belatinya untuk bertahan sekaligus bersiap menerima serangan. Tetapi hal yang tak dia perkirakan terjadi. Belati kesayangannya retak dan dia terdorong ke belakang dengan keras sebelum berhenti oleh sebuah tiang.


"Guh.."


Darah dimuntahkan dan rasa sakit menjulur ke seluruh tubuhnya. Itu bukanlah luka yang parah jadi Yui dengan mudah bangkit kembali.


Tiba tiba Laila muncul di depannya dengan pedang yang disilangkan. Sesaat kemudian, cambuk hitam lainnya menyerang Laila dengan kejam. Berbeda dengan Yui, Laila bisa bertahan, namun dia terdorong ke belakang.


"Aku tak akan membiarkanmu melukai Yui!"


"Kak Laila..."


Masih terkejut dengan apa yang terjadi, Yui akhirnya bangkit sepenuhnya. Dia kembali bersiap bertarung.


Sebuah pedang api melesat memotong cambuk hitam.


"Laila, Gadis kecil.. Kalian baik baik saja?"


Arthuria datang membantu. Dialah yang memotong cambuk hitam itu.


"Aku baik baik saja."


"Kuh.. Jangan memanggilku loli, brengsek."


Yui berdiri di samping Laila. Hal yang sama juga dilakukan Arthuria.


Ketiganya lalu melihat ke arah yang sama.


Sosok gadis cantik yang semula menemani Itsuki kini berubah menjadi sosok monster seperti gadis sebelumnya. Sosok ular hitam besar dengan sembilan kepada dan tentakel di sekitar tubuhnya.


"Kali ini Hydra kah... Mereka benar benar tahu bagaimana membuat ini semakin menarik."


Arthuria tersenyum seolah menikmati situasi saat ini.


"Kakak, kau tadi bilang Hydra, bukankah itu artinya monster itu."


"Salah satu monster legendaris yang pernah dipakai Demon King untuk mengalahkan seluruh pasukan di masa perang dulu. Kekuatan tempurnya tak terlalu besar, tetapi karena selalu beregenerasi, Hydra sangat sulit dikalahkan."

__ADS_1


Arthuria terdiam sesaat dengan tatapan tajam seolah mengamati lawan mereka.


Hydra dikatakan sebagai sebuah monster legendaris. Meskipun memiliki wujud yang sama, tapi bukan berarti sosok itu adalah Hydra yang sesungguhnya. Hanya saja, ada kemungkinan kalau monster itu memiliki karakteristik yang sama dengan Hydra yang asli.


Satu satunya orang yang cocok melawan tipe seperti itu hanya satu orang.


"Laila, Loli. Serahkan dia padaku."


"Huh?"


"Aku benar benar membunuhmu jika kau memanggilku loli lagi, B*jingan."


Arthuria hanya tersenyum mengabaikan Yui.


"Meskipun mirip Hydra, ini sama sekali tak semudah itu. Hanya aku yang bisa mengalahkannya."


"Kenapa?"


Tiba tiba monster itu menyerang dengan dua cambuk tentakel sekaligus. Arthuria dengan mudahnya memotong dengan kecepatan yang tak terlihat oleh mata.


"Benda hitam itu bukanlah sihir biasa. Aku merasa itu adalah gabungan miasma dan elemen kegelapan."


Mendengar itu, Laila dan Yui langsung melebarkan matanya.


"Elemen kegelapan, tunggu.... bukankah seharusnya..."


Hanya Demon King yang bisa menggunakan elemen kegelapan? Laila ingin melanjutkannya, tetapi dia berhenti karena tahu jawaban yang dia terima akan berbeda dari yang dia bayangkan.


"Demon King bisa menggunakan semua elemen. Dengan kekuatannya itu dia menggabungkan semuanya dan membuat elemen kegelapan, tetapi semua itu salah."


"Huh?"


"Akan aku jelaskan lain kali. Saat ini kurasa kita fokus pada lawan kita, tidak lawanku. Hanya aku yang memiliki kekuatan suci yang bisa mengalahkannya. Sebaiknya gunakan kesempatan ini untuk membebaskan Lic. Aku yakin loli itu tahu bagaimana caranya."


Tanpa mengatakan lebih lanjut, Arthuria maju.


Dia beradu dengan cambuk tentakel. Dengan mudahnya dia memotong semua serangan yang datang. Tetapi kali ini giliran kepala ular yang menyerang dari berbagai arah secara bersamaan.


"Masih terlalu awal kalau ingin menyerangku."


Semua serangan tertahan oleh perisai api. Kepala berusaha menyerang secara paksa, tetapi Arthuria tak berdiam diri dan menciptakan pedang api untuk memotong setiap kepala.


Dengan kesempatan yang ada, dia memotong Hydra dengan mudah.


"Pergilah. Seperti yang kau lihat, dia lawan yang mudah bagiku."


Arthuria tak bisa terus menoleh ke Laila dan Yui. Hydra hitam dia potong dengan cepat memulihkan diri. Bahkan kepala yang dia potong menghilang seolah kembali ke bentuk asalnya.


"Kakak.."


"Pergi!!"


Dengan berat hari akhirnya Laila dan Yui pergi. Mereka menuju pusat pohon kristal yang mengurung Lic.


💠💠💠


Pertarungan lainnya juga terjadi. Tetapi bukan melawan musuh, tetapi dewa kematian yang bisa membunuh semuanya dengan sekali tebas.


"Sungguh, kenapa semua ini bisa terjadi?"


Jinn menghindar dengan bergerak ke samping. Di tempat semula, sebuah tebasan lebar membekas di lantai.


Tembakan melesat ke arah dewa kematian, dengan sabitnya, dewa kematian bertahan dan membelokannya ke arah dinding.


Tetapi, lawan mereka bukan hanya dewa kematian itu.


"Jinn, awas!!"


Belum sempat mengerti apa yang terjadi, Jinn tiba tiba merasakan pukulan di bagian perutnya. Pelindung Knight Gear yang dia pakai bahkan hancur tak bisa menahan kekuatan pukulan dari wanita seksi yang tersenyum bagaikan iblis.


"Gah!!!!"


Tak hanya pukulan, tapi juga tendangan, pukulan lagi dan akhirnya sebuah pukulan tepat di wajahnya. Setiap bagian yang terkena pukulan hancur berkeping keping. Rasa sakit yang tak tertahankan membuat Jinn tak bisa merasakan apapun lagi.


"Tch, Sial.. Inikah kekuatan seorang komandan Knight?"


Setelah menghajar Jinn, Aldest mengalihkan pandangannya ke Knox dan Amira. Pandangan kosong yang hanya ada haus darah dan keinginan membunuh.


Tiba tiba lingkaran sihir muncul di sekitar Aldest.


"Death Art "


Pasukan tengkorak muncul dari lingkaran sihir. Jumlahnya tak hanya satu atau dua, tapi mencapai puluhan. Semua Undead Knight memiliki senjata dan aura yang menyeramkan. Kini mereka seolah melihat pasukan dari neraka.


Melihat apa yang terjadi di depan matanya, Knox hanya bisa berkeringat dingin.


Disaat yang sama, dia mengingat kenapa semua ini terjadi.


--Sekitar tiga puluh menit yang lalu, mereka tiba di ruangan besar setelah mengalahkan monster beruang setinggi lima meter yang memiliki enam tangan. Serangan yang kuat dan mematikan bisa menembus sihir perisai mereka dengan mudah, tetapi berkat anggota baru mereka, mereka bisa mengalahkannya dengan cepat.


Yang menanti mereka di ruangan itu adalah seorang gadis berambut putih yang duduk si sebuah kursi yang dikelilingi boneka gadis kecil. Mungkin dari jauh terlihat bagai pemandangan yang indah, namun saat mendekat, pemandangan itu berubah menjadi mimpi buruk. Boneka di sekeliling gadis itu kehilangan beberapa bagian tubuhnya seperti kepala, tangan dan lainnya. Boneka yang manis bagaikan boneka horror.


Tanpa ragu Jinn menyerang lebih dulu dengan tombak tanah. Dia melakukannya karena tahu siapapun yang berada di depan mereka adalah musuh. Tak perlu menahan diri untuk membunuh gadis itu.


Tetapi saat tombak hampir menyentuh tubuh sang gadis, boneka boneka bergerak melindungi gadis itu. Boneka hancur dan berserakan.


Disaat itulah, perubahan terjadi pada gadis itu. Dia menangis tersedu sedu dan mengumpulkam pecahan boneka seperti boneka itu sangat berharga baginya.


Kemudian gadis itu berhenti dan menatap mereka berempat.


"Bunuh! BUNUH! BUNUH! bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! BUNUH! BUNUH! bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! BUNUH! BUNUH! bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! BUNUH! BUNUH! bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! BUNUH! BUNUH! bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh! Bunuh!"


Gadis itu seolah mengutuk mereka dengan tatapan kebencian. Dia menagis darah dan maju menyerang mereka.


Tetapi bersamaan dengan suara letusan, darah kental menyembut dari dada gadis. Dan pada akhirnya, gadis itu tak bergerak dengan lubang di dadanya.


Semua berpikir sama.


[Seharusnya tak semudah ini?!]


Apakah ini sebuah jebakan? Kemungkinan itu besar, namun tak ada yang tahu jawaban pastinya.


Jika musuh mati, itu artinya mereka satu langkah menuju tujuan mereka. Tak perlu ragu, tak perlu menyesal, tetapi semuanya tak ada yang berpikir seperti itu.


Karena penasaran, Knox mendekati mayat gadis itu untuk mencari petunjuk. Tetapi tak ada satupun petunjuk. Hanya gadis cantik yang sudah mati.


Merasa tak ada yang bisa didapat lagi, Knox lalu menuju boneka. Tetapi selain boneka menyeramkan, tak ada hal lain yang bisa dilihat.


Disaat itulah tiba tiba mata boneka mengeluarkan air mata darah. Knox secara reflek melempar boneka di tangannya. Boneka itu lalu tertawa dengan keras seolah mereka berada di film.


--Lalu disaat itulah tiba tiba Aldest tertawa bagai orang gila.


Dan begitulah semuanya dimulai.


"Hahahahahahahhaahahhahahahahahahahahahahahahahhahahahahahhaahhahahaahhaahh... Aku akan membunuh kalian semua!!!"


Aldest adalah komandan Knight kota Areshia. Dia bisa mencapai posisi itu disaat usianya masih muda menunjukan bakat dan kekuatan yang dia miliki. Di pertempuran Dragonia, dia menunjukan kekuatan yang sangat mengesankan dan sekaligus menakutkan.


Magic beast dewa kematian yang mampu membunuh hanya dengan sekali tebas. Tak ada yang lebih menakutkan dari itu.


Dan inilah sosok yang Knox, Amira dan Jinn lawan.


Dengan menggabungkan ilmu bela diri dan kordinasi dengan magic beast, dia berhasil mengalahkan Jinn dengan mudah kurang dari dua menit. Ini wajar karena setiap pukulannya memiliki kekuatan yang mampu menghancurkan pelindung Knight Gear. Itu bukanlah serangan yang bisa ditahan dengan sihir pelindung biasa.


Dan sekarang, Knox harus dihadapkan dengan pasukan tengkorak. Dia tak tahu lagi bagaimana cara melawan komandan seksi itu.


Tetapi bukan berarti dia menyerah. Dia tahu jika menyerah, mereka akan mati. Bukan di tangan musuh, namun di tangan teman sendiri. Tak ada yang lebih menyedihkan daripada itu.


"Kuh.. Amira, hancurkan semuanya!"


Amira mengangguk dan menembak satu persatu Undead Knight yang mendekat. Mereka tak begitu kuat sehingga setiap tembakan bisa menghancurkan mereka.


"Sial!"


Tetapi sebanyak apapun Amira menghancurkannya, Undead Knight tak berkurang seolah mereka bisa bangkit kembali. Jarak semakin dekat dan mereka mulai berlari ke arahnya.

__ADS_1


"Serahkan padaku!"


Knox mengaktifkan sihir yang sudah dia persiapkan sebelumnya. Lantai di samping Undead Knight dan menghimpit mereka bangaikan menepuk seekor nyamuk. Semuanya hancur, tetapi senyuman gila tak menghilang dari Aldest.


Dan itu hanyalah sebuah mimpi buruk.


"Black Death Art "


Kedua dinding yang digunakan untuk menghimpit hancur berkeping keping. Sosok tangan besar yang terbuat dari kumpulan tulang muncul dan menghancurkan semuanya.


Mata merah bersinar terang dan menunjukkan sosok aslinya. Monster yang terbuat dari tulang dengan tanduk besar. Tetapi yang paling menakutkan adalah pedang besar yang ada di tangannya.


"Ini sungguh gila!!"


Tak ada pilihan selain protes. Hanya dengan sekali lihat Knox tahu monster itu bisa disamakan dengan penyihir peringkat A atau bisa saja lebih kuat. Bagaimana bisa Aldest menciptakan  monster seperti itu dengan mudahnya?


Amira mencoba menembak dengan salah satu tembakan terkuatnya, tetapi sama sekali tak memiliki efek.


Keduanya lalu menghindari pedang yang melesat ke arah mereka. Tempat mereka sebelumnya hancur lebur karena kekuatannya.


Knox tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika mereka tak menghindar. Serangan sekuat itu membuat sihir pelindung pun percuma.


"Haha.. Mati!"


Saat sedang memikirkan jalan keluar, Knox dikejutkan oleh sosok Aldest yang sudah berada di dekatnya. Dan dengan kepalan tangan yang dipenuhi aura hitam.


(...sial..!!!)


Knox sadar, apapun yang terjadi dia tak boleh terkena serangan itu. Serangan yang mampu menghancurkan pelindung Knight Gear memiliki daya serang yang luar biasa. Apa yang terjadi jika serangan seperti itu mengenai tubuh tanpa pertahanan?


Pukulan Aldest tepat mengenai wajah Knox. Kepalanya hancur dan meledak menjadi bongkahan kecil dan berceceran di lantai.


--Setidaknya itulah yang harusnya terjadi.


Pukulan Aldest memang membuat kepala Knox hancur, tapi tak ada satupun darah yang tercecer. Mayat Knox tiba tiba hancur seperti tanah liat yang rusak.


Mengetahui itu, ekspresi Aldest yang senang karena berhasil membunuh Knox berubah total penuh kekecewaan.


"Jangan kau pikir hanya kau saja yang bisa menggunakan trik murahan "


Benda hitam muncul dari tanah dan mengekang gerakan Aldest. Aldest berusaha meloloskan diri dengan meronta, tapi percuma.


Sosok Knox tiba tiba muncul dari dalam tanah. Dia tersenyum lebar dengan puas.


"Percuma saja. Sihir itu aku buat secara khusus untuk mengekang monster di sekolah kami, jangan pikir kau bisa meloloskan diri. Sekarang serahkan tubuh Aldest, kau tahu dia sudah memiliki suami yang kawatir jika ada goresan kecil di tubuhnya."


Tetapi Aldest menghiraukan Knox. Tak ada tanda gadis itu akan melepaskan Aldest.


Tiba tiba Aldest tersenyum lebar.


Knox sadar siapapun dalam tubuh Aldest sedang merencanakan sesuatu. Dan itu terbukti saat bayangan besar muncul di depan Knox.


Bayangan itu adalah Skeletal Oni yang menyerang Knox dengan pedangnya. Mengetahui serangan mematikan itu, Knox tak merasa heran karena itu adalah gaya pertarungan yang wajar bagi seorang penyihir tipe Contractor.


Knox tak berusaha menghindar. Dia bahkan tak terlihat takut pada pedang besar yang mencincangnya.


"Kau sudah selesai istirahatnya?"


Sebuah senyuman menjawabnya. 


"Tentu saja!!"


Bersamaan dengan itu, pedang Skeletal Oni terhenti tepat sebelum menyentuh leher Knox.


Raut wajah Aldest terlihat terkejut saat tahu siapa yang melakukan itu.  Apalagi dia tahu kemungkinan orang itu bisa melakukannya sangat sulit. 


"Fufu..  Kau mungkin tak menyangka hal ini, tetapi selain dia kuat, dia juga memiliki daya tahan yang tinggi. Luka yang kau berikan cukup berbahaya,  tetapi jika kami tak pernah merasakan itu sebelumnya."


Knox tersenyum dengan liciknya.


Sementara itu, Jinn berhasil menahan serangan Skeletal Oni dengan perisai.  Tentu hanya dengan perisai saja tak cukup untuk menahan pedang besar Skeletal Oni, jadi dia membuat suatu yang bisa menahannya.


",  pernahkah kau mendengarnya? Tentu belum. Itu adalah logam khusus yang mampu menyerap segala serangan fisik, tentu serangan sihir juga bisa, tetapi lebih kuat jika menahan serangan fisik. Logam itu sangatlah langka, jadi mustahil kami bisa mendapatkannya. Jadi kami hanya punya satu pilihan, ...kami membuatnya sendiri dengan sihir."


"?!"


"Kau sadar juga kah, itu logam yang sama dengan yang mengurungmu. Jinn, hancurkan itu. Sudah cukup main mainnya."


"Ooouu!!"


Dengan teriakan penuh semangat, Jinn mendorong dan menghempaskan Skeletal Oni dengan kekuatannya. Lalu dengan tembakan Amira tepat di bagian dada, tubuh Skeletal Oni yang besar mulai kehilangan keseimbangan.


"Satu hal yang harus kau tahu, apa kau pikir kami diam saja saat akan berhadapan dengan kalian?"


Perkataan Knox membuat mata Aldest melebar.


Disaat yang sama, Jinn melompat ke depan Skeletal Oni dengan sihir yang sudah dia persiapkan.


"Sacred Magic Art "


Dengan sekali pukul, Skeletal Oni berhenti bergerak dan dalam hitungan detik hancur berkeping keping. 


Jinn berdiri dengan gagahnya seolah apa yang dia lakukan terlihat biasa saja,  namun apa yang dia lakukan sebenarnya tak semudah itu. 


"Dia masih saja bertingkah sok keren. , seperti yang kau duga,  itu adalah sihir yang sudah disempurnakan setelah tak cukup mampu untuk menghancurkan musuh di pertempuran kami sebelumnya.  Ahaha... apa yang terjadi jika serangan itu diluncurkan pada manusia?"


Aldest masih berekspresi tak peduli, namun semuanya terlihat jelas di tatapannya. 


Orang yang telah mengendalikan Aldest sadar saat ini dia dalam situasi terdesak. Meskipun orang yang dikendalikan adalah komandan Knight dan lawannya hanyalah anak kecil,  namun dia harus mengakui dia terlalu meremehkan  mereka. 


Tetapi semua belum berakhir.  Dia masih bisa mengendalikan Hall. Magic beast pembunuh yang kejam. 


Sayangnya,  saat mencoba mengendalikan Hall dari Link, Hall tak merespon perintahnya.


Knox lalu tersenyum tipis. Dia bagaikan iblis dan sudah tahu semua yang akan terjadi.


"...sudah kubilang kami tak datang ke tempat ini tanpa persiapan.  Itulah kesalahanmu yang pertama, .... Gloria Ereona."


Aldest melebarkan matanya.


"Fufu.. Sepertinya kau penasaran bagaimana bisa tahu nama aslimu. Tentu karena kami mencari tahu. Itu cukup sulit karena kalian menghancurkan semua data yang berkaitan dengan masa lalu kalian, tetapi kami memiliki anggota intelegen yang tak bisa diremehkan. Tak hanya masa lalumu, kami juga mengetahui kekuatan masing masing Silver Viper."


"..."


"Kalian terkenal karena memiliki keahlian serangan dengan racun, tetapi bisa dibilang hanya kau saja yang memiliki sihir paling unik. , itulah sihirmu yang sebenarnya kan?"


Hanya ada kebencian yang terpancar dari Aldest.


"Kau menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya dengan sihir pengendali, tetapi sebenarnya kau mampu mengendalikan dengan memindahkan sebagian jiwamu pada seseorang yang kau kendalikan. Aku hampir tertipu dengan serangan di kota Areshia, tetapi aku sadar banyak keanehan jika kalian hanya menggunakan sihir Million Doll."


Knox mendesah sesaat. Dia lalu melihat situasi sekitarnya dan mengkonfirmasi kalau semua berjalan lancar seperti yang direncanakan.


"Lalu dengan mengetahui itu, kami sudah bersiap dengan situasi yang mungkin kami alami jika berhadapan dengan kalian. Dengan sihir seperti itu, kau pasti akan mengendalikan seorang yang terkuat di antara kami. Suatu yang bisa ditebak dengan mudah seperti itu tak akan pernah bisa mengalahkan kami. Apalagi kami sudah tahu semua serangan Aldest...."


Senyuman tipis muncul di bibir Knox.


Sebelum mereka ke ibukota, Electra memaksa mereka dilatih secara khusus oleh Aldest. Meskipun dilatih, mereka lebih tepat jika harus bertarung melawan Aldest dengan mempertaruhkan nyawa mereka.


Berkat itu mereka tahu bagaimana cara menghadapi Hall dan bagaimana cara menghadapi Death Art milik Aldest. Meskipun mereka tak pernah berhasil sebelumnya, namun sekarang itu mudah bagi mereka. Mungkin hal ini karena disebabkan bukan pemilik aslinya, maka tak bisa memaksimalkan kekuatannya.


(Jujur saja, jika Aldest serius, kami sudah mati)


Knox tahu, komandan Knight bukan hanya sebuah gelar belaka. Namun dia tak menyangka semuanya berjalan sesuai dengan apa yang dia perkirakan.


Lalu Knox melanjutkan,-


"Dan yang terpenting dari semua itu, kami diberi tahu tentang kekuatan khusus Hall. Selain bisa memisahkan jiwa dari tubuh seseorang, dia memiliki jiwa sendiri. Dengan kata lain, Hall adalah magic beast yang hidup dan memiliki emosi. Meskipun dia bermain main dengan kami, kurasa dia sudah tak bisa menahan diri lagi."


Hall mendekat dengan aura mencekam. Sabit besarnya bersinar seolah tak sabar menebas jiwa yang berada di dalam tubuh Aldest.


"Selamat tinggal..!"


Dengan mata merah bersinar terang, Hall menebas Aldest dengan sabitnya.


Sebuah cahaya hitam keluar dari tubuh Aldest. Dan kemudian, Aldest terlihat sudah kembali seperti biasanya.

__ADS_1


Semua berjalan seperti yang Knox rencanakan, tetapi satu hal yang tak Knox ketahui-


----pertarungan belum selesai.


__ADS_2