Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Distance


__ADS_3

"Riku, aku lihat akhir akhir ini kau terlihat kurang sehat. Apa kau baik baik saja?"


"Terima kasih atas perhatiannya, Guy. Tubuhku hanya pegal karena posisi tidur yang buruk."


"...sungguh?"


Alis mata Guy naik tanda keheranan.


Pewaris dari keluarga Kagami pasti memiliki tempat tidur paling nyaman setara dengan para pangeran. Mana mungkin akan sakit hanya gara gara posisi tidur yang salah?


(?!)


Guy tersenyum saat sadar kalau posisi tidur yang buruk yang dimaksud oleh Riku adalah suatu hal yang lain.


"Oh.. aku tak menyangka kau memiliki niat untuk melebihi ayahmu. Kau sungguh pria sejati."


"?"


Riku dibuat bingung.


Sejak malam itu, Riku dihukum tidur sendiri di bak mandi sampai waktu tak ditentukan. Dua minggu berlalu, tak aneh jika tubuh Riku merasa pegal.


Dia berkata jujur, tapi Guy sepertinya menyimpulkan suatu yang lain.


Memang sebagai anak memiliki niat untuk melebihi orang tuanya. Tapi apakah ada anak (orang) yang bisa melebihi eksistensi seorang King?


Mustahil.


"Ngomong ngomong, apa kau akan mengambil misi hari ini? Aku dan mereka berencana mengambil misi mudah untuk mendapatkan poin kontribusi."


Guy melirik ke arah Helen dan Milia yang sedang berkumpul dengan para gadis. Mungkin sedang mengobrol suatu yang penting.


"Aku mendapatkan misi khusus dari kepala sekolah Vresia. Selain aku, ada empat orang lain dari kelas S yang mendapatkan misi yang sama."


Guy mendesah kecil.


"Aku tak tahu apakah senang atau sedih dengan keadaanmu. Tapi keluarga Kagami memang tak normal. Sampai sekarang aku masih bingung bagaimana ada orang yang mendapat peringkat Blank."


Peringkat Blank tak pernah ada sebelumnya. Adanya peringkat itu tak lain karena ulah Riku sendiri yang terlalu banyak membuat orang pusing.


Sebagai penyihir, peringkat Riku tak diragukan lagi peringkat B, tapi dia memiliki sihir unik setara dengan kekuatan Soul, dan yang lebih mengejutkan, Riku bisa menaikkan kekuatannya dengan melepaskan segel.


Seberapa kuat Riku sebenarnya?


Dengan pertimbangan itu, tak aneh jika menganggap Riku sebagai seorang Irregular. Dan pada akhirnya dibuatlah peringkat baru, yaitu peringkat Blank. Yang berarti tak terikat oleh peringkat.


"Ayahku dulu peringkat F, tapi dia bisa mengalahkan peringkat Master. Bukankah dia lebih gila daripada apa yang aku lakukan."


"Ayahmu mantan seorang pembunuh legendaris. Apa yang bisa dia lakukan itu normal."


"..."


Serius?


Ada seorang non penyihir yang bisa membunuh penyihir peringkat Master dan itu normal?


Baiklah. Ayah Riku bisa melakukannya karena memiliki senjata dan berbagai faktor lain yang bisa melakukannya. Tapi tetap saja itu tak normal.


Riku yang salah memikirkan hal ini, atau dunia yang salah?


Rrrrrrr!! Saat memikirkan itu, handphone Riku bergetar tanda mendapatkan pesan. Pesan itu berisi untuk meminta Riku segera pergi ke ruang kepala sekolah.


"Kita akan mengobrol lain kali. Ini sudah waktunya."


"Begitu. Aku titip salam pada nona Silvyie jika kau bertemu dengannya."


Riku mengangguk dan setelah itu pergi meninggalkan ruang kelas.


Sejak hari itu Silvyie sudah tak berada di kelas B lagi. Maklum, peringkat sebenarnya Silvyie adalah SS dengan kekuatan setara seorang Master.


Lalu masalah keamanan Silvyie, Riku tak perlu kawatir karena ada Lunaris dan lainnya.


(Meskipun aku tahu kalau Lunaris dibalik semua ini, tapi itu tak masalah. Lebih baik daripada mendapatkan amarah lain.)


Riku mendesah kecil dan akhirnya menuju ke ruang kepala sekolah.


--sesampainya di ruang kepala sekolah, Riku melihat Lunaris, Silvyie dan Romeo duduk berhadapan dengan kepala sekolah.


Riku langsung duduk di antara Lunaris dan Silvyie yang kebetulan kosong.


"Kita akan menunggu satu orang lagi, dan setelah itu aku akan menjelaskan misi yang akan kalian terima." ucap kepala sekolah dengan senyuman.


Tak berapa lama menunggu, pintu ruangan diketuk dan seorang gadis muncul. Seorang gadis dengan rambut merah membara yang cukup mencolok dan menarik perhatian.

__ADS_1


Ukuran tubuhnya bisa dibilang kecil untuk seorang berusia 16 tahun. Tapi di balik ukuran tubuhnya yang kecil, dia memiliki ukuran dada yang sama dengan Lunaris.


Sungguh tak seimbang. Itu membuat dia terlihat unik dan manis.


Riku beberapa kali melihat gadis itu, tapi dia tak mengenalnya.


"Riku, kau sudah beberapa kali melihatnya, tapi pasti pertama kalinya kalian bertemu secara langsung."


Kepala sekolah mengenalkan Riku pada gadis itu.


"Namaku Elisa Rill Vermillion. Aku adalah penyihir tipe User dengan sihir khusus untuk menyembuhkan luka. Jika kau terluka, kau bisa langsung datang padaku. Aku akan menyembuhkannya tanpa bekas luka sekecilpun."


"Salam kenal, namaku Riku Kagami. Aku akan mengingatnya."


Riku ingat kalau keluarga Vermillion merupakan pemasok utama dari ramuan sihir Air Mata Phoenix. Resep ramuan sihir sendiri masih menjadi rahasia, jadi mereka memonopoli pasar ramuan sihir ini sehingga membuat mereka menjadi salah satu keluarga paling kaya di kekaisaran.


Keluarga Kagami bisa dibilang menjadi salah satu pembeli utama ramuan sihir Air Mata Phoenix karena aktivitas keluarga Kagami yang selalu terlibat dalam pertarungan.


(Kalau tak salah, Elisa merupakan salah satu kandidat tunangan Rei, tapi seperti biasa keluarga kami memang unik.)


Latar belakang tak menjadi alasan untuk menjadi kekasih atau pasangan dari keluarga Kagami. Tak aneh jika kandidat hanyalah semacam referensi untuk memilih pasangan.


(Dan aku dengar Rei dibuang (dikirim) ke dunia lain oleh ayah. Aku tak tahu harus kasihan atau senang.)


Kasihan sudah wajar, tapi kenapa harus senang? Itu karena Riku iri dengan Rei yang memiliki kesempatan untuk pergi ke dunia lain meskipun untuk melakukan sesuatu yang tak mudah.


"Baiklah, kalian sudah mengenal satu sama lain. Aku akan menjelaskan misi spesial yang akan kalian terima."


"Misi spesial? Ini membuatku tak sabar setelah mendengarnya."


Romeo berapi api. Seperti biasa dia seorang yang gila bertarung.


"Beberapa waktu ini, aktivitas monster di seluruh kekaisaran mulai meningkat pesat. Mereka mulai menyerang desa dan kota. Para Knight sibuk melakukan pembasmian monster. Meskipun Knight merupakan pasukan utama kekaisaran, tapi tetap saja mereka tak bisa melakukan semuanya. Jadi murid Academy menjadi pilihan untuk membantu para Knight. Aku yakin kalian sudah tahu hal itu kan?"


Riku mengangguk dan lainnya terdiam mengiyakan. Ini suatu yang sudah diketahui secara umum, jadi bukan suatu yang mengejutkan.


Bahkan inilah alasan yang membuat Aula Misi begitu sibuk oleh para murid yang ingin melakukan misi.


"Mungkinkah kita akan ikut mengalahkan monster kuat? Jika iya, aku penasaran monster seperti apa yang akan kita temukan nanti. Hahaha.."


"Kau akan mendapat kesempatan melakukannya, tapi biarkan aku menjelaskannya lebih dulu, Romeo."


Kepala sekolah melanjutkan.


"Anda tak mengatakan kalau itu ada kemungkinan kalau aktivitas monster kali ini adalah hasil yang disengaja?" potong Riku.


"Kemungkinan besar itu ada. Dan itu bukan cara baru untuk melemahkan kekuatan kekaisaran secara sedikit sedikit. Untuk sekarang, itu bukanlah masalah yang harus menjadi pikiran kalian."


Riku dan lainnya melirik satu sama lain. Mereka mengerti kalau misi yang akan mereka terima benar benar suatu yang spesial.


"Misi kalian adalah pergi ke hutan Rukia. Lebih tepatnya ke tempat klan Blad tinggal dan akan menerima misi lebih lanjut dari sana. Mengingat hubungan klan Blad dengan kekaisaran, aku rasa tak perlu menjelaskan kenapa kalianlah yang dipilih."


Romeo dan Elisa seperti mengharapkan penjelasan lebih lanjut, tapi melihat kepala sekolah yang tak menjelaskan lebih menjelaskan kalau dia juga tak tahu apapun.


Kemudian kepala sekolah membubarkan Riku dan lainnya dan menyuruh untuk segera pergi ke kota Ares. Kota paling dekat dengan wilayah hutan Rukia.


"Aku bisa menebak kalau ini adalah permintaan dari bibi Yui."


"Aku sependapat. Ini menjadi kesempatan yang bagus untuk bertemu dengannya lagi."


"Jika dia yang membuat permintaan, aku rasa ini akan menjadi misi yang sulit."


"Maaf memotong pembicaraan kalian berdua, tapi siapa bibi Yui yang kalian bicarakan?"


Romeo menyela. Elisa juga terlihat penasaran.


Sedangkan Silvyie sudah beberapa kali bertemu dengan Yui sebagai seorang Queen yang membuat kontrak dengan Emera dengan berbagai alasan.


"Bibi Yui merupakan adik perempuan ayah. Aku tak akan menjelaskan lebih banyak mengingat kalian akan bertemu dengannya nanti. Tapi jangan sekali kali membuat dia marah."


"Secara resmi dia seorang penyihir peringkat Master, tapi dia sebenarnya memiliki kekuatan setara dengan peringkat Paladin." tambah Lunaris.


"Kenapa orang sekuat itu tak pernah terdengar namanya?" tanya Elisa.


"Dia hanya tak ingin mencolok. Sudahlah, kita segera pergi ke pusat teleportasi untuk pergi ke kota Ares."


Fasilitas teleportasi sebenarnya hanya boleh digunakan saat dalam keadaan darurat saja, tapi berkat teknologi sihir yang lebih maju, fasilitas teleportasi kini bisa dilakukan dengan cara yang lebih mudah dan murah.


Tetapi bukan berarti siapa saja bisa menggunakan fasilitas teleportasi. Hanya beberapa orang tertentu atau keperluan penting saja yang diberikan izin untuk bisa menggunakannya dengan bebas.


Misi kali ini mereka harus pergi ke desa klan Blad yang terletak jauh, jadi normal mereka menggunakan fasilitas teleportasi.


"Seperti biasa aku masih tak suka dengan teleportasi."

__ADS_1


"Apa kau anak kecil? Sebagai peringkat S, aku merasa malu memiliki teman seperti dirimu."


"Jika bukan karena dua buah melon besar itu, kaulah yang anak kecil di sini, Elisa."


"Apa kau ingin jadi burung bakar?"


Sesampainya di kota Ares, Romeo terlihat pucat seperti orang mabuk. Mungkin terdengar aneh, tapi itu adalah salah satu kelemahan Romeo sebagai seorang penyihir peringkat S.


"Hahaha... seberapa banyak kau mengatakan itu, tapi sampai sekarang kau tak bisa mengalahkanku. Jangan mengatakan suatu yang mustahil kau lakukan."


"Kuh!!"


"Sudah sudah. Kenapa kalian tak pernah akur saat selalu dalam misi bersama?" tanya Lunaris dengan wajah keheranan.


Romeo dan Elisa membuang muka satu sama lain dan tak menjawab.


Riku berpikir mungkin ada semacam hubungan spesial di antara keduanya. Jika dipikir-pikir, latar belakang Romeo sedikit misterius.


"Ngomong ngomong, bagaimana kita pergi ke desa klan Blad? Aku tak pernah mendengar ada jalan ke sana. Jika ada, orang itu harus pergi melewati hutan Rukia."


Apa yang dikatakan Romeo tidaklah salah. Meskipun kota Ares merupakan kota terdekat dari hutan Rukia, tapi bukan berarti ada jalan menuju desa klan Blad.


Lalu meskipun menggunakan sihir terbang, tapi lokasi klan Blad dilindungi oleh perisai khusus sehingga tak bisa dilihat dengan mudah.


"Memang tidak ada jalan. Tapi kita bisa bertemu dengan orang yang bisa menghubungi klan Blad. Tetapi kita tak perlu melakukan hal repot itu karena mereka sudah menunggu kita."


"?"


Dua orang mendekati rombongan Riku. Romeo dan Elisa terkejut karena merasakan tekanan berat dari keduanya meskipun terlihat tak terlalu tua dari mereka.


Yang menarik, meskipun tekanan berat terpancar dari mereka, tekanan sihir tak begitu kuat. Bisa dibilang ini adalah salah satu ciri khas orang orang dari desa klan Blad.


"Tuan Riku, kami berdua diutus Nona Yui untuk menjemput anda."


Riku mengangguk dan tersenyum.


Tak ada omongan lain dan setelah itu keduanya mengarahkan rombongan Riku ke luar kota. Lebih tepatnya ke bagian luar hutan Rukia.


Salah satu dari keduanya bersiul dan tiba tiba dua sosok besar keluar dari balik pepohonan. Sosok itu menyerupai kadal dengan sayap yang dikenal sebagai naga.


"Fire Dragon Class dan Holy Demonic Dragon Class. Hmm.. sungguh penyambutan yang luar biasa. Bolehkah aku bertarung dengan mereka?"


"Romeo, kau bisa melakukannya nanti jika ada waktu luang. Untuk saat ini kita harus sampai di desa klan Blad lebih dulu."


"Sungguh? aku tak percaya bisa bertarung dengan naga."


Orang normal akan langsung terkejut saat melihat naga untuk pertama kalinya, tapi tak begitu dengan Romeo atau Elisa. Bagi mereka, mungkin naga hanyalah monster yang kuat dan lebih baik tak dijadikan musuh.


"Jika kau bertarung dengan mereka, apa kau tak takut akan dimakan? Fufufu..."


"!?"


Romeo begitu terkejut dan langsung melihat ke arah mata naga.


Mata yang tajam dan kuat dari predator puncak.


"Ri-Riku, mereka tak akan melakukannya kan?"


"Ha..."


Riku mendesah dan ketiga gadis lainnya tertawa kecil.


Kenapa tiba tiba menjadi seorang pengecut? Lagipula naga tak menyukai daging manusia.


Kemudian rombongan mereka akhirnya mulai pergi ke desa klan Blad. Yang tak disangka, Riku dan Lunaris memilih untuk terbang daripada menunggangi naga. Bagi mereka ini lebih cepat.


Jika mau sebenarnya Silvyie juga bisa terbang dengan bantuan spirit, tapi tatapan Lunaris yang tajam dan mematikan membuatnya tak melakukannya. Silvyie mengerti kalau Lunaris ingin menggunakan waktu perjalanan untuk berduaan dengan Riku meskipun bisa dibilang mereka sedang bertengkar.


"Woy.. hutan Rukia memang bisa disebut sebagai hutan paling berbahaya di dunia. Aku tak bisa melihat ujungnya."


Lautan pohon besar dan aura berbahaya dari hutan Rukia bisa dirasakan dengan jelas oleh Romeo dan Elisa.


Bagi Silvyie yang seorang High Elf, dia bisa merasakan kalau hutan Rukia sangat berbeda dengan hutan biasa. Bisa dibilang seperti jurang tak terhingga.


"Aku harus kagum dengan klan Blad yang bisa tinggal di hutan seperti ini. Apakah ada rahasia khusus? Maaf, kalau tak sopan."


"Tidak, Nona. Anda terlalu memuji klan kami. Kami tinggal di hutan Rukia tak memiliki rahasia penting. Hanya harus berhati hati dan menjadi lebih kuat."


"...begitu."


Jawaban yang bisa diduga dari pengendali naga. Elisa sendiri sebenarnya tahu rahasia kenapa klan Blad bisa tinggal di hutan Rukia dengan aman, tapi itu bukan suatu yang harus dibahas.


Elisa melirik ke belakang. Dia melihat Riku dan Lunaris yang terbang berdampingan. Sekilas tak terlihat suatu keanehan, tapi dia bisa merasakan ada semacam jarak di antara mereka.

__ADS_1


4 jam terbang, akhirnya mereka tiba di pintu masuk desa klan Blad.


__ADS_2