Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Demon King Power


__ADS_3

"Aku mendapat laporan kalau mereka menemukan mata mata lagi, tuan Boris. Aku tak tahu kenapa mereka sangat bernafsu sekali mengintip orang lain. Sepertinya mereka punya banyak waktu luang."


"...itu adalah bukti kalau kedamaian yang saat ini di depan mata kita bisa hancur dalam hitungan menit, tidak, bahkan lebih cepat. Untuk menghindari hal itulah kita menghabisi siapa saja yang berusaha merusaknya dengan menggunakan kesempatan ini. Saat negeri ini dalam darurat, maka disaat itulah mereka akan aktif bergerak. Mereka mudah sekali ditebak."


Saat ini tak ada negara yang mencoba melawan kekaisaran Houou. Bukan hanya karena mereka memiliki kekuatan militer terbesar di dunia, namun juga karena penduduk kekaisaran Houou mencintai negeri yang dibangun di atas bekas medan perang itu. Karena itulah meskipun para Knight kalah dalam perang, rakyat akan ikut berjuang untuk melawan penjajah yang mencoba merebut kedamaian mereka.


Hanya orang bodoh yang menyerang negara terbesar itu.


Tetapi bukan berarti tak ada pihak yang berusaha mencari kesempatan untuk melakukannya.


Salah satu usaha itu adalah dengan mengirimkan mata mata.


Ibukota kekaisaran didatangi hampir setiap penduduk dari penjuru dunia dengan berbagai macam tujuan. Apakah itu tujuan baik atau bukan.


Saat ini kekaisaran menggunakan sistem pengawas otomatis pada setiap pendatang. Sistem ini dibuat untuk mencegah hal yang tak diinginkan dan setiap pendatang wajib menurutinya, jika tidak mereka tak akan diperbolehkan masuk.


Tetapi bukan berarti sistem itu tak memiliki celah. Salah satunya adalah sistem pengawas hanya melacak agar pendatang tak pergi ke tempat yang dilarang. Hal ini tak termasuk merekam suara atau semacamnya. Dengan kata lain apa yang mereka bicarakan dan apa siapa yang mereka temui tak bisa diketahui.


Dengan banyak celah seperti itu, maka tak mengherankan jika informasi bisa bocor ke negara lain dengan cepat.


Tetapi bukan berarti kekaisaran membiarkan semua itu terus terjadi. Dibentuknya Shadow Knight adalah salah satu cara untuk menangani celah itu.


"Aku mengerti, tetapi ini seharusnya pekerjaan Shiro, bukan penjahat seperti kita. Tuan Boris, bukankah kau setuju?"


"Aku tahu kau kesal karena tak bisa bertarung bersama tuan Kuro, tetapi kita juga memiliki peran penting di sini. Aku tak mau merusak kepercayaan tuan Kuro hanya dengan keinginan egois. Lakukan saja apa yang harus kita lakukan. Saat ini kita hanya bisa berdoa."


"Buu.. Ini pekerjaan yang membosankan. Padahal sudah lama aku tak menikmati hujan darah segar."


Boris mengabaikan keluhan salah satu pelayan dan menatap tengah kota yang ditumbuhi oleh hutan kristal. Meskipun tenang, saat ini terjadi pertempuran di bawah tanah.


Dia adalah seorang penjahat, namun juga seorang pelayan. Tetapi saat ini dia hanyalah seorang pria yang mendoakan keselamatan seorang yang dia hormati dan dia benci.


πŸ’ πŸ’ πŸ’ 


Di udara tipis, kilatan terlihat di seluruh penjuru kegelapan. Suara pedang beradu bagaian suara musik dalam pertempuran.


"...Kau monster!"


Tak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan sosok yang dia lawan.


Pemuda tampan yang terlihat biasa saja, tetapi kecepatan, teknik bertempur, kekuatan bertahan membuat siapapun akan mengucapkan hal yang sama.


"Apa itu yang hanya bisa kau ucapkan, Itsuki?"


Sekitar mereka tak bergerak seolah waktu berhenti. Tetapi kenyataannya merekalah yang bergerak lebih cepat dari aliran waktu. Tak hanya bergerak, namun juga beradu pedang dengan keinginan saling membunuh satu sama lain. Pertarungan mereka sudah berada di dimensi yang berbeda.


Itsuki berhasil melukai Kuro di berbagai tempat bagian tubuhnya, itu bukan luka yang dalam. Lebih tepatnya dia tak bisa melakukannya meskipun ingin segera memenggal kepala Kuro.


Sedangkan Kuro, meskipun terluka gerakan Kuro sama sekali tak terpengaruh. Bahkan gerakannya justru semakin tajam dan dia berhasil menyerang bagian celah pelindung Itsuki.


Tetapi Itsuki bisa meregenerasi bagian yang terluka. Sedangkan Kuro tak memiliki kemampuan seperti itu, namun Kuro bisa bertarung lebih baik. Tak heran jika Itsuki memanggilnya monster.


"Tidak, itulah hal yang pertama kali aku pikirkan saat bertemu denganmu, Senior. Dan sampai sekarang pendapatku tak pernah berubah."


Kuro hanya tersenyum. Mereka lalu beradu pedang sekali lagi dan menjaga jarak.


Itsuki memotong tiang lalu menendangnya tepat ke arah Kuro. Kuro memotongnya disaat yang sama Itsuki menerjang. Kuro bertahan dengan menyilangkan pedangnya dan Kuro terdorong ke belakang, tetapi dia berhasil bertahan dengan menguatkan pijakannya.


Menggunakan satu pedang untuk menahan, kemudian Kuro menyerang dengan menggunakan pedang di tangan kirinya. Kuro tanpa ragu mengincar celah leher yang tak terlindungi pelindung.


Itsuki berhasil menghindar dengan memiringkan kepalanya. Tetapi disaat itulah dia melihat pelindungnya terpotong oleh benda tipis.


Jika dia tak menghindar, dia akan terluka parah. Meskipun bisa beregenerasi, tetapi lebih baik jika tak terluka.


Teknik bertempur seorang pembunuh memang berbeda karena mengincar bagian vital musuh. Satu serangan menentukan semuanya.


Tentu Itsuki juga menggunakan gaya bertempur yang sama. Bagaimanapun juga dia adalah murid terbaik Kuro. Karena itulah keduanya bisa menebak apa yang dipikirkan lawan mereka masing masing.


Apa yang akan dia serang selanjutnya?


Teknik apa yang akan dia gunakan selanjutnya?


Semuanya itu bisa diketahui hanya dengan beradu pedang.


Tetapi meskipun semuanya bisa diketahui, keduanya memiliki perbedaan jelas. Pelindung Itsuki membuat dirinya memiliki kekuatan berlipat ganda. Sedangkan Kuro hanya menggunakan dua pedang. Selain itu Itsuki bisa beregenerasi. Hanya tinggal menunggu waktu hingga pemenang ditentukan.


Keduanya tahu itu. Keduanya sadar batas dan kekuatan masing masing.


"Nafasmu sudah terengah engah, Senior. Bagaimana kalau kita cepat akhiri ini dengan membiarkan aku memenggal kepalamu."


"Ha... Kau memang murid terbaikku, Itsuki."


Kuro masih tersenyum. Dia tak menunjukkan rasa takut atau tanda menyerah. Tentu juga tak berniat kehilangan kepalanya.


"Semua teknik yang kau gunakan benar benar sama dengan yang kugunakan. Aku benar benar senang ada yang bisa sejauh ini. Tetapi apakah hanya ini yang kau bisa?"


"Tentu tidak. Akan aku buktikan kalau aku sudah melampuimu!"


Sekali lagi Itsuki menyerang. Kali ini dia lebih serius dari sebelumnya. Dia bahkan menggunakan kemampuan Dainsleif.


Kekuatan dan kecepatan telah berlipat ganda. Kali ini dia yakin bisa memotong bagian tubuh Kuro.


"?!"


Tetapi yang terjadi justru kebalikannya. Salah satu tangan Itsuki terpotong dan menyemburkan darah merah segar.


"Kau ingat, aku adalah gurumu. Dan kau seharusnya tahu sama seperti murid, seorang guru juga terus berkembang. Apa kau pikir dengan mainan terkutuk itu bisa menyentuhku."


Kuro menghilang. Itsuki bertahan dengan tangan yang tersisa. Tetapi dia dikejutkan oleh kemampuan Kuro yang meningkat lagi.


(Kecepatan dan kekuatannya bertambah?!)


Pada akhirnya Itsuki terdorong hingga membentur dinding dengan keras. Dia perlahan bangkit, tetapi dia masih menunjukkan ekspresi terkejut.


Ini wajar karena seharusnya Kuro sudah mencapai batas setelah bergerak dengan kecepatan tinggi dan bertarung tanpa menggunakan Dragon Gear atau semacamnya.


Semua data pertempuran Kuro di masa lalu sudah Itsuki ketahui. Dengan menggunakan itu dia membuat rencana untuk mengurangi kekuatan Kuro secara bertahap dengan memakai labirin dan monster. Tetapi semua itu percuma jika melihat kenyataan yang terjadi di depan matanya.


(Meskipun kekuatan seseorang terus bertambah seiring dengan waktu, namun ini terlalu abnormal. Inikah kekuatan seorang yang dipanggil King?)


Dia tak tahu apa itu memiliki hubungan dengan apa yang terjadi, tetapi itu tak merubah kenyataan kalau dia harus bertarung.


Itsuki tersenyum.


(Jika aku tak serius, aku yang akan mati)


Dia tahu itu sejak awal. Orang yang dia sebut sebagai guru adalah orang yang paling tak normal yang pernah dia temui selama hidupnya.


Tetapi dari semua itu, yang paling tak bisa dia lupakan dari Kuro adalah kegelapan besar yang pernah Kuro tunjukan padanya.


Dia masih ingat saatΒ  menjalankan sebuah misi pengintaian. Target mereka hanyalah seorang wanita biasa yang hidup di sebuah rumah sederhana. Bisa dibilang tak ada yang spesial dari wanita itu.


Tetapi hanya beberapa kalimat dari informan, kenyataan itu berubah seratus delapan puluh derajat saat tahu wanita itu adalah seorang mata mata dari negeri lain. Disaat itulah dia sadar, penampilan bukanlah segalanya.


'Mulai sekarang kau akan sering melihat hal seperti ini' Itulah saran pertama yang diterima saat dia menjadi Shadow Knight.


Pada akhirnya, mereka membunuh wanita itu. Meskipun wanita itu memiliki seorang putra kecil dan suami yang menyayanginya. Bahkan banyak tetangga memiliki hubungan baik.


Dia tak mengerti kenapa harus membunuh wanita itu. Apakah karena di mata mata? Atau karena dia musuh?


Kemudian, Kuro dengan santainya menjawab.

__ADS_1


'Kau salah jika berharap menjadi pahlawan hanya dengan menolong seseorang. Kadang pahlawan dikenal karena mereka membunuh. Pada akhirnya, tak peduli penjahat atau pahlawan, semuanya tak akan pernah ada jika tak merugikan orang lain terlebih dahulu.'


Lalu dilanjutkan dengan sebuah penjelasan sederhana-


'Wanita itu sudah bersiap dengan apa yang akan menimpanya. Mungkin dia hanya membocorkan informasi, tetapi dengan hal sederhana seperti itu sebuah kekalahan dalam perang bisa terjadi.'


Dia masih belum mengerti, tetapi dia akhirnya sadar pekerjaan mereka sebagai Shadow Knight bukanlah pekerjaan yang disebut sebagai pahlawan atau penjahat.


Mereka hanyalah seorang yang berjalan di kegelapan.


(Kenapa aku mengingat itu?)


Itu adalah awal bagi Itsuki.


Itu adalah jalan yang berat, tetapi dia tak akan menjadi seperti sekarang jika bukan berkat itu.


Dia berkeringat dingin. Dia ingat kejadian di masa lalu karena saat ini dia ingat sensasi yang tak pernah dia rasakan meskipun memiliki tubuh baru.


Ingatan itu adalah ketakutan.


"Itsuki, apa kau ingat satu satunya peringatan yang pernah kuberikan padamu?"


"Tentu saja."


"Itu artinya kau paham tak ada ampun bagimu. Apa kau sudah bersiap?"


Kuro menghunuskan pedangnya. Pedang dengan aura putih yang merupakan ki yang Kuro kendalikan. Tetapi tiba tiba warna itu berubah menjadi hitam kelam yang menakutkan.


"Aku sudah bersiap dari dulu. Tetapi bukan aku yang akan mati."


"Ha ha.. Itu kata yang lucu bagi orang yang akan mati."


Itsuki meregenerasi tangan yang putus. Aura kuat terpancar dari tubuhnya. Dainsleif diselimuti api hitam yang membakar apapun.


Lalu keduanya sekali lagi beradu pedang untuk berlomba memenggal kepala lawan.


πŸ’ πŸ’ πŸ’ 


Hal yang pertama kali dia ingat adalah senyuman ibunya saat memberi susu. Senyuman hangat dan menenangkan itu membuat dirinya berpikir dia adalah seorang yang beruntung.


Tetapi saat itu dia masih belum mengerti, jadi tak ada yang salah jika dia berpikir seperti itu.


Seiring berjalannya waktu, dia akhirnya mengerti tentang keadaan sekitarnya.


Ibunya seorang yang selalu berpenampilan cantik kemanapun dia pergi. Tak peduli apakah itu hanya keluar rumah walau hanya untuk sesaat. Tak mengherankan jika banyak lelaki yang berusaha menggoda ibunya. Tetapi seolah sudah terbiasa dengan itu, ibunya hanya tertawa kecil sambil tersipu malu.


Ibunya benar benar cantik. Itulah yang selalu dia pikirkan.


Tetapi akhirnya dia mengetahui alasan kenapa ibunya seperti itu. Itu karena ibunya adalah seorang yang menjual tubuhnya demi uang. Disaat yang sama dia akhirnya paham kenapa saat bertanya mengenai ayahnya, ibunya selalu menghindar.


Pekerjan ibunya bukanlah pekerjaan yang bisa dibanggakan. Bahkan itu pekerjaan yang buruk dan kotor bagi sebagian orang. Tetapi dia tak pernah berpikir seperti itu.


Baginya ibunya adalah ibu yang baik dan penyayang. Tak peduli apakah kata orang lain, yang terpenting dia menyayangi ibunya. Mereka hidup tenang meskipun kadang mengalami masa sulit karena ibunya tak memiliki pelanggan.


Suatu hari, dia merasakan sesuatu dari dalam tubuhnya. Itu perasaan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Sesuatu yang hangat dan kuat.


Lalu tanpa sadar dia bisa membuat sebuah tornado kecil.


Itu adalah sihir. Bukankah itu artinya dia penyihir?


Ibunya hanyalah orang biasa, jadi dia tak pernah berpikir dia adalah seorang penyihir. Tetapi dia pernah mendengar seorang penyihir yang menikah dengan orang biasa memiliki kemungkinan untuk memiliki anak seorang penyihir.


Mungkinkah itu yang terjadi padanya?


Apakah itu artinya ayahnya juga seorang penyihir?


Dia tak tahu, tetapi dia memberi tahu kebenaran itu pada ibunya dengan rasa bangga.


Apakah aku membuatmu bangga ibu?


Dengan perasaan seperti itu, dia akhirnya memutuskan untuk menguasai kekuatannya. Dia berlatih menjadi penyihir yang lebih baik dan lebih kuat.


Dia akhirnya bisa membuat tornado yang lebih besar daripada dirinya. Dengan ini, aku membuat ibu lebih bangga pada diriku. Itulah yang dia pikirkan.


Dia lalu mengajak anak lain untuk berlatih bertarung dengan sihir. Itu tindakan yang berbahaya jika tanpa pengawasan orang tua, tetapi dia saat itu tak peduli.


Lawannya hanyalah seorang anak yang lebih muda dan masih belum lama bisa menggunakan sihir, dengan percaya diri dia berpikir itu adalah pertarungan yang mudah.


-tetapi dia akhirnya kalah.


Dia tak tahu kenapa, tetapi memar adalah bukti kalau dia kalah dalam pertarungan itu. Itulah kenyataannya.


Kenapa dia bisa kalah?


Dia menceritakan itu kepada ibunya. Ibunya terlihat terkejut dan cemas. Setelah meminta maaf, dia akhirnya bisa lebih tenang.


Lalu hari selanjutnya, ibunya mengajak dia pergi ke suatu tempat. Itu adalah sebuah kantor Knight.


Disana dia dibawa ke sebuah ruangan dan dilakukan sebuah pemeriksaan. Saat melihat hasil pemeriksaan itu, entah mengapa ibunya terlihat kecewa.


Saat pulang, ibunya yang ramah dan murah senyum tiba tiba menampar dan memukul wajahnya dengan keras. Dia tak mengerti kenapa ibunya tiba tiba berubah. Apakah dia membuat kesalahan?


Sambil menahan rasa sakit, dia meminta maaf berulang kali bahkan sampai berlutut. Tetapi semua itu tak membuat ibunya kembali seperti semula.


Lalu kalimat itupun keluar dari mulut ibunya.


"Kenapa aku melahirkan anak tak berguna seperti dirimu? Kalau begini percuma saja usahaku selama ini. Aku tidur dengan penyihir kuat agar membuatku memiliki anak yang bisa menjamin hidupku. Tetapi aku hanya melahirkan sampah. Ya ampun, kenapa ini terjadi padaku?"


Tak hanya marah, penyesalan dan kesedihan ditunjukkan oleh ibunya. Untuk pertama kalinya dia melihat ibunya seperti itu.


Sejak saat itu, perlakuan ibunya berubah seratus delapan puluh derajat. Jangankan saling menyapa, mereka bahkan jarang bertemu seolah ibunya tak peduli dengannya. Bahkan meskipun kelaparan, dia tak dipedulikan.


Kemana ibunya yang selama ini dia kenal?


Beruntung ada tetangga yang kasihan dengannya. Dia masih hidup meskipun dengan makanan sisa.


Tetapi itu bukan yang terburuk.


Tiba tiba ibunya tak kembali. Dia berpikir terjadi sesuatu yang buruk pada ibunya. Dia berkeliling kota untuk mencari ibunya, tetapi dia tak menemukannya.


Lalu setelah sekitar enam bulan tak bertemu, dia kebetulan melihat ibunya sedang belanja di sebuah toko.


Dia ingin segera bertemu dengannya. Dia ingin sekali memeluknya. Namun keinginan itu semuanya lenyap saat melihat seorang pria bersamanya.


Pria itu sangat akrab dengan ibunya. Mereka bagaikan sepasang suami istri yang baru menikah. Tetapi yang lebih mengejutkan adalah perut ibunya yang kini telah membesar.


Senyuman ibunya yang telah lama tak dia lihat, kini terlihat di depan matanya.


Pada saat itu, dia akhirnya mengerti semuanya.


Ibu yang selama ini dia kenal hanyalah sebuah kepalsuan. Sejak awal dia tak diinginkan di dunia ini.


Meskipun hatinya hancur lebur tak tersisa, entah mengapa dia justru tertawa. Tetapi air mata tak berhenti mengalir dari matanya.


Kenapa semua ini terjadi pada dirinya?


Dengan pertanyaan besar itu, dia pergi tak terlihat lagi di sudut gang kotor.


Sejak saat itu dia tak peduli dengan dirinya. Dia tidur di tempat kumuh atau tak makan dia tak peduli.


Tetapi kenapa meskipun seperti itu dalam hati dia belum menyerah?

__ADS_1


Kenapa tak mati saja? Bukankah semuanya akan menjadi lebih mudah?


Dia tiba tiba memanggil nama sihirnya, . Sebuah pisau sepanjang 15 cm dengan gagang yang pas dengan genggamannya.


Sambil melihat pantulan dirinya dari bilah pisau di tangannya, dia bertanya dalam hati.


Kenapa kau terlihat begitu indah padahal aku membencimu?


Magic arm dan magic beast merupakan perwujudan jiwa seorang penyihir. Dengan melihat itu seseorang bisa melihat kepribadian penyihir lain. Itulah yang dia dengar.


Lalu kenapa wujud magic arm miliknya sebuah pisau? Kenapa bukan pedang, tombak atau panah? Bukankah setidaknya dengan itu dia bisa bertarung.


"Itu pisau bagus. Hm.. Apakah itu perwujudan sihirmu?"


Dia tak tahu apakah itu sebuah ejekan atau pujian, namun saat itu dia tak berpikir dengan tenang dan langsung saja menyerang orang itu.


Tetapi yang mengejutkan, tanpa dia sadari tubuhnya lah yang terjatuh ke tanah dengan keras.


"Kau tak terlihat ingin merampokku, tetapi kenapa kau menyerangku? Mungkinkah aku salah?"


Dia hanya bisa melihat sepatu sumber suara itu. Dia ingin bangkit melihat siapa yang di depannya, tetapi dia tak memiliki tenaga untuk mengangkat kepalanya bahkan tubuhnya. Sepertinya dia tak memiliki tenaga karena sudah hampir seminggu tak makan


Bersamaan dengan itu, perlahan kesadarannya menghilang. Tetapi sebelum kegelapan menelannya, dia mendengar sesuatu.


"Dia memiliki mata yang bagus. Bagaimana kalau kita merekrutnya?"


"Eh.. Tetapi.. Bu-"


Dia tak ingat apapun lagi setelah itu.


--Saat dia membuka matanya, dia sadar tak berada di tempat yang dia kenal. Atap berwarna putih dan kasur yang empuk. Semua itu sangat berbeda dengan jalanan kumuh yang selama ini dia tinggali.


Dia tiba tiba mencium aroma lezat di udara. Perutnya berbunyi dengan keras dan dia ingin segera bangkit, tetapi dia tak bisa karena tak memiliki tenaga untuk menggerakkan badannya.


Suara langkah kaki mendekat. Lalu sosok seorang pemuda berambut hitam kelam dengan mata yang sama berdiri dengan mangkuk besar yang penuh dengan aroma nikmat.


"Oh.. Kau sudah sadar? Syukurlah aku tak membawa mayat ke tempat ini."


Dia tak mengerti apa yang pemuda itu katakan. Tetapi matanya tak bisa lepas dari mangkuk pemuda itu. Tentu banyak pertanyaan yang mengganjal, tetapi semua itu tak dia hiraukan.


"Hm.. Kau mau ini? Haha.. Mana mungkin kau tak mau daging domba muda yang dibakar dengan saus spesial ini. Lalu ditambah dengan bumbu yang tepat dan langka, kau bahkan tak bisa mendapatkan ini di restoran manapun."


Air liur menetes dengan deras.


"Fufu.. Kau beruntung....-"


Pemuda itu tersenyum tipis, lalu tanpa ragu memakan daging itu dengan lahap di depannya.


"-bisa melihatku menyantap masakan ini di depanmu. Biasanya tak ada yang pernah melihatnya.. Much much much.."


Daging itu lenyap dan tak tersisa lagi. Yang ada hanyalah sisa aroma nikmat yang membuat perutnya berbunyi bagaikan monster.


Dia tak tahu kenapa pemuda makan di depannya atau membuat dia melihat proses menyantap makanan lezat itu, tetapi satu hal yang pasti, saat itu hanya satu hal yang ada di kepalanya.


Pemuda di depannya adalah monster.


Itulah kisah awal pertemuan pemuda itu dengan Kuro. Salah satu anggota Shadow Knight yang dikenal sebagai Witch Reaper.


πŸ’ πŸ’ πŸ’ 


Ketika saling beradu pedang, Itsuki mengingat masa lalu yang tak ingin dia ingat.


Kisah masa lalu yang membuat ingat dia dulu hanyalah seorang penyihir peringkat E yang dikenal sebagai terlemah. Tetapi dengan latihan keras dan usaha, serta bantuan guru yang dia anggap monster, dia sekarang menjadi seperti ini.


Bertarung dengan seorang yang memberinya kekuatan.


Dari sudut pandang orang lain mungkin itu adalah tindakan yang tak pantas dan tak tahu berterima kasih, tetapi-


(Kau pernah bilang, jangan pernah menyerah dengan impianmu, tak peduli siapa yang menghadang, kau harus bisa meraihnya. Meskipun itu berarti kau harus menebas dewa sekalipun)


Dan seperti yang Kuro bilang, kini demi impiannya, dia akan menebas gurunya sendiri.


"Gah!!"


Kuro memuntahkan darah merah kental. Pedang Itsuki telah berhasil menembus perut Kuro.


Di sisi lain, pedang Kuro menancap tepat di jantungnya. Meskipun saat ini dia merasakan jantungnya terbelah menjadi dua, namun berkat kemampuan regenerasi, rasa sakit itu mulai berkurang.


Dia tahu tak bisa mengalahkan Kuro hanya dengan kekuatan dan teknik. Sebaik apapun dia menguasai dan meniru kemampuan Kuro, dia tak akan pernah bisa mengalahkannya.


Lalu jika tak bisa mengalahkannya, maka hanya ada satu pilihan. Seperti pepatah mengatakan, memberikan daging untuk mendapat tulang. Jika dia tak berkorban, maka dia tak akan menang.


Dan dia berhasil.


Setelah itu, dia mengaktifkan kemampuan khusus Dainsleif untuk menghancurkan jiwa milik Kuro. Meskipun Kuro memiliki hubungan dengan Demon King, namun dia pasti akan mati jika jiwanya dihancurkan.


Dengan itu semuanya berakhir. Dialah pemenangnya. Dia berhasil melampaui gurunya sendiri. Tetapi-


"!? Kekuatan Dainsleif tak bisa digunakan?"


Itsuki tak mengerti apa yang terjadi. Dia pernah menggunakan kekuatan Dainsleif untuk membunuh, memindahkan jiwa atau bahkan merusak jiwa orang lain. Semuanya begitu mudah seperti membalikan telapak tangan.


Tetapi untuk melakukan semua itu pada Kuro seperti hal mustahil.


"Itsuki, usaha yang bagus."


Darah mengalir dari luka dan mulutnya. Bahkan rambut putih murni kini penuh dengan noda darah. Siapapun dapat melihat kalau Kuro sudah di ambang batas kemampuannya.


Tetapi kenapa Kuro masih bisa tersenyum seperti itu?


Tiba tiba Kuro melepaskan genggamannya dari pedang yang menancap di jantung Itsuki. Lalu dia tanpa ragu menggenggam sisi tajam Dainsleif hingga tangannya teriris.


"..tetapi jika kau berpikir mainan ini bisa membunuhku, aku pasti sudah dari dulu melakukannya."


Dia tak tahu apa arti yang diucapkan Kuro.


"Aku akui kau bisa menguasai kekuatan Dainsleif, karena itulah aku tak mau kau berhadapan dengan Laila, Yui dan anak ayam keparat itu. Lagipula kekuatan yang bisa menghancurkan jiwa, itu sama saja dengan kekuatan yang menghancurkan sihir itu sendiri. Dengan kata lain, sekuat apapun mereka bertiga, mereka tak akan bisa mengalahkanmu. Tentu aku heran bagaimana Ayah Macho bisa mengalahkanmu, tetapi sudahlah.. Itu tak ada gunanya dibahas lagi."


Tatapan Kuro masih sama seperti yang terakhir dia ingat. Mata yang dingin dan seolah kegelapan abadi.


"Tetapi Itsuki, apa kau berpikir aku menghadapimu bukan tanpa alasan?"


Mata Istuki melebar karena ingat siapa yang saat ini dia lawan.


Kuro adalah seorang yang bertarung bukan tanpa alasan. Jika dia berkata akan menang, maka dia akan menang. Jika dia tahu lawan berada di atas kemampuannya, maka dia akan mundur. Dengan cara itulah dulu mereka mengurangi jumlah korban sia sia.


Dengan kata lain, jika Kuro berani melawannya meskipun dia menggunakan Dainsleif, maka Kuro sudah mempersiapkan sesuatu.


Mungkinkah sesuatu yang bisa melawan kemampuan Dainsleif? Tetapi apa?


Seperti tahu apa yang dipikirkan Itsuki, Kuro tersenyum lagi.


"Aku tak mempersiapkan suatu yang spesial. Hanya saja, sejak awal kemampuan Dainsleif tak berguna melawan seorang yang memiliki kegelapan tak terbatas seperti diriku ini."


"Ke-ge-lapan?"


"Jika kau tak mengerti, akan aku tunjukan padamu. Ngomong ngomong, inilah salah satu alasan aku dipanggil keturunan Demon King. Kau beruntung karena menjadi orang kedua yang melihat ini."


Tak berapa lama kemudian, seluruh aura putih di tubuh Kuro berubah menjadi hitam kelam. Bersamaan dengan itu, kedua pedang putih Kuro menjadi hitam kelam.


"Itsuki, pernahkah kau mendengar tentang Darkness Art?"

__ADS_1


__ADS_2