Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
27. Root's


__ADS_3

"Jadi apa misi kali ini? Tapi sebelum itu, dia baik?"


Kuro melirik ke arah Otome dengan tatapan dingin.


"Tenang saja, dia akan tutup mulut, benarkan Oltear?"


Bulu kuduk Otome langsung berdiri saat melihat tatapan Electra dan Kuro.


Otome mengerti Electra bisa membunuh dia dalam hitungan detik. Karena itulah Otome tak punya pilihan selain mengangguk.


"Bagus sekarang diam dan jangan berisik. Kau boleh saja pergi dari sini jika kau mau."


"Eh? Benarkah itu?"


Mata Otome langsung berbinar saat mengetahui Electra memperbolehkan dia pergi. Dengan ini, dia tak perlu merasa cemas karena mengetahui rahasia antara mereka berdua.


"Tentu saja tidak. Kau sudah terlibat dengan hal ini. Hal ini juga memudahkan kami jika ada rahasia bocor, kami langsung tahu siapa orang yang membocorkan rahasia kami."


"Eh?"


Ucapan Kuro membuat Otome langsung putus asa.


Dia pernah dipanggil iblis oleh Kuro, namun sekarang Otome hanyalah korban dari dua iblis bernama Kuro dan Electra.


"Hmm... benar juga. Jadi Otome sebaiknya diam saja. Fufu... Lagipula cepat atau lambat kau akan tahu rahasia kami karena aku ingin kau membantu Kuro dengan menggunakan kemampuanmu."


"......"


Otome langsung bingung dan terkejut disaat yang sama.


"Begitu rupanya, sihir khusus Soul milik Otome bisa berguna. Ngomong ngomong apa sihir khusus Otome?"


"Hooo.. sihir khusus Otome sangat luar biasa. Apa kau ingin tahu?"


Kuro terlihat sedikit tertarik.


Sementara itu Otome tiba tiba berkeringat dingin dan wajahnya memerah. Dia seolah olah tak ingin Kuro tahu sihir khusus miliknya.


"Kuro, sihir khusus Otome adalah mampu memanipulasi pikiran laki laki sehingga setiap laki laki yang melihat Otome akan langsung melihat Otome sebagai wanita tercantik yang pernah mereka lihat. Nama sihir khusus Otome adalah Succubus Art."


".........."


Kuro terdiam dan tak menunjukkan reaksi setelah mengetahui kemampuan Otome.


Sedangkan Otome, dia menutup wajahnya yang merah padam dengan kedua tangannya.


"Ha..... ternyata hanya sihir penggoda kah. Baiklah, aku benar benar terkesan kau memiliki sihir seperti itu."


Setelah itu, Kuro sedikit tertawa kecil karena menemukan hal lucu. Tertawa sambil menatap ke arah lain agar Otome tak menyadarinya.


Electra juga diam diam tertawa.


"........................kalian berdua..."


Otome tentu saja mengetahui mereka sedang mentertawakan dirinya. Karena merasa dipermainkan dia akhirnya menangis dan murung.


"Aku tahu kau memiliki tubuh yang bagus dan terlihat seksi, wajahmu juga cantik, tapi aku benar tak menyangka kau memiliki sihir semacam itu, ...hmmm... tapi kenapa kau belum memiliki pacar?"


".................."


Perkataan Kuro adalah serangan mematikan. Dia langsung tumbang dan memeluk kedua lututnya.


Otome memang memiliki tubuh yang proposional, dadanya juga lumayan besar. Selain itu, dia memiliki wajah yang cantik. Karena itulah Kuro cukup heran saat mengetahui Otome belum memiliki pacar.


"Fu fu.. Dia sebenarnya pernah berpacaran beberapa kali, tapi hubungan dia tak bertahan lama karena sihir khusus Otome."


".......um.....Dengan kata lain, mereka berpikir bisa jatuh cinta kepada Otome karena efek Succubus kah."


"Tepat sekali."


Electra membenarkan dugaan Kuro.


"Mooouu... sudah cukup. Aku tak ingin mengingatnya lagi."


Dan itulah akhir dari Otome yang dibully oleh Kuro dan Electra.


Otome bahkan sampai memutih.


"Sudahlah, aku yakin cepat atau lambat kau akan mendapatkan pacar yang tulus mencintaimu meskipun dia tahu sihir mu, Otome."


"..........Kuro."


"Hooo..."


Electra merasa terkesan melihat Kuro berhasil menenangkan Otome dengan mudah.


"Lalu bagaimana detail misiku?"


"Ahh.. aku hampir lupa. Misimu adalah mengawal seseorang yang akan datang dari ibukota. Untuk detailnya, lihat saja sendiri!"


Electra memberikan Crystal Age yang berisi data misinya kali ini. Dia lalu mengambil ikan lagi.


Selain berfungsi menyimpan data, Crystal Age juga dapat digunakan oleh non penyihir seperti Kuro. Sayangnya Crystal Age memiliki keamanan yang rendah, karena itulah biasanya Crystal Age tak berisi data yang tak terlalu penting.


Karena itulah Kuro/ Electra akan langsung menghancurkan Crystal Age agar orang lain tak mengetahui data rahasia mereka.


"Hmm.. dia berarti orang penting karena harus dikawal, tapi kenapa tak melalui gerbang teleportasi yang biasa digunakan oleh bangsawan untuk ke kota ini?"


Sudah menjadi rahasia umum bahwa di setiap kota terdapat tempat sihir teleportasi, tapi letak tempat ritual sihir itu hanya bisa digunakan oleh orang tertentu saja seperti bangsawan dan keluarga kekaisaran.


"Sayangnya, orang yang akan kau kawal adalah orang yang sedikit bermasalah dan spesial, jadi kita tak bisa menggunakan sihir teleportasi seperti biasanya. Lihat saja data yang kuberikan kepadamu, kau pasti akan mengerti."


"....."


Setelah itu, Kuro menekan Crystal Age seperti tombol. Lalu munculah lingkaran sihir yang terpancar dari Crystal Age.


Lingkaran sihir itu menunjukkan gambar seorang gadis cantik dan menunjukkan data cukup detail mengenai gadis itu. Bahkan 3 ukuran juga ada.


Seperti yang Electra bilang, Kuro mengerti kenapa sihir teleportasi tak bisa digunakan. Bahkan jika menggunakan sihir teleportasi akan berakibat buruk.


"......."


Kuro selesai membaca dan memberikan Crystal Age kepada Electra untuk dihancurkan.


"Tapi aku tak mengerti kenapa menyuruhku mengawal orang penting seperti dia? Bukankah disana lebih banyak orang yang lebih hebat dari aku?"


"Aku tahu. Tapi kau tak mengawalnya terang terangan, aku ingin kau mengawalnya secara diam diam tanpa diketahui olehnya."


Menyadari ada yang aneh, Kuro menaikkan alisnya.


"Diam diam?"


"Ya. Aku ingin dia tak menyadari sedang diincar, jadi misi kali ini sangat cocok untukmu. Aku akan memberi tahu semuanya jika sudah saatnya tiba, jadi untuk sekarang kau cukup lakukan saja perintahku."


"....Baiklah."


"Kau akan berangkat besok lusa pagi pagi sekali. Nagamu sudah sembuh kan? Jadi kau terbang ke hutan Alf dan mengawalnya hingga sampai ke kota ini. Mengenai bayaran, aku akan membayar 3 kali lipat dari biasanya karena ini misi penting."


"...haaa..."


Kuro hanya bisa mendesah dan terlihat sedikit tidak senang.


Hal itu karena dia akhirnya mengerti maksud dari 'kesempatan terakhir' untuk merebut hati Laila.


Selain dia tak punya banyak waktu lagi, waktu dia juga akan terbuang karena dibutuhkan waktu sekitar 3 hari untuk sampai di kota Areshia dengan menaiki Maltea.


Sayang sihir teleportasi tak bisa digunakan.


Jika menggunakan sihir teleportasi, orang itu bisa datang dalam hitungan detik.


"Jadi aku tak boleh melewatkan makan malam berdua dengan Laila kah?!"


"Ya. Gunakan kesempatan itu sebaik mungkin!"


Mereka berdua tersenyum licik lalu mengunyah ikan.


Sementara itu Otome terdiam tanpa alasan yang jelas.


"Hei Kuro. Mengenai waktumu yang tinggal sedikit, apa kau tak berubah pikiran? Aku sama sekali tak keberatan jika kau tetap di sekolah hingga lulus nanti."

__ADS_1


".......Tentu tidak. Jika aku terlalu lama di sekolah, aku justru semakin sulit untuk pergi. Lagipula aku hanya ingin melihat apakah kami ditakdirkan bersama."


Mendengar itu, Electra hanya tersenyum.


"Aku tak menyangka orang sepertimu percaya dengan takdir. Umm.. Begitu rupanya, jadi itukah alasan kenapa kau ingin merebut hati dia dengan waktu yang terbatas, tapi... apakah ini yang kau inginkan? Jika kau gagal, kau tak akan pernah bertemu dengan dia lagi kan?"


Kuro terdiam untuk sesaat.


Electra tahu kenapa Kuro terdiam, disaat yang sama, dia melihat tatapan sedih yang jarang Kuro perlihatkan kepada orang lain.


"Aku sudah terbiasa kehilangan dan berpisah dengan orang yang berharga bagiku, jadi aku bisa bertahan meskipun aku tak akan pernah bertemu dengan dia lagi. Lagipula dia mungkin akan lebih bahagia jika kami tak bertemu lagi. Benarkan?"


"............."


Electra hanya terdiam saat melihat senyuman palsu Kuro.


Electra pernah kehilangan suaminya, karena itulah dia tahu apa yang dirasakan Kuro, tapi entah mengapa Electra merasa kalau Kuro lebih menderita daripada dirinya.


Tapi apa yang membuat Kuro bisa bertahan dari penderitaan itu?


Itulah yang selama ini membuat Electra heran dan kagum.


Hal ini pula yang membuat Kuro kuat, tapi di sisi lain, hal inilah yang membuat Kuro memiliki sisi kejam di balik sifatnya yang santai dan murah senyum.


"Sudahlah, aku tak ingin membahas masa lalu."


"?"


Kuro tiba tiba berdiri setelah menghabiskan satu tusuk daging ikan. Dia lalu membuang kayu ke tungku agar terbakar.


"Aku harus memberi makan Laiko dulu."


"........Baiklah, maaf merepotkanmu."


Electra hanya tersenyum. Dia sedikit merasa bersalah karena membuat Kuro harus memberi makan naga setiap hari. Hal ini disebabkan proses pendaftaran familiar yang cukup memakan waktu.


Meskipun naga Kuro sudah sembuh dan bisa mencari makan sendiri, namun jika pendaftaran belum selesai, naga Kuro masih dianggap sebagai ancaman.


Selain itu, naga Kuro adalah naga yang mengacau Kota Areshia seminggu yang lalu. Ini membuat situasi semakin lebih rumit karena menyebabkan kepanikan.


Kuro melangkahkan kakinya menuju ke ikan yang mati.


Ikan Rellfish itu sebesar 1 meter dan panjang 3 meter, berat kira kira 250 kg. Bagi Kuro, itu berat yang ringan.


Dia mengangkat ikan itu dengan kedua tangannya ke atas kepalanya dan lalu pergi ke arah hutan yang terletak cukup jauh dari danau Limph.


Kuro pergi dengan sedikit berlari. Dan setelah beberapa saat Kuro akhirnya tak terlihat.


"Kepala sekolah, siapa sebenarnya Kuro?"


Otome bertanya karena akhirnya paham kenapa dia disuruh mengawasi Kuro.


Selama ini, Kuro telah menunjukkan kekuatan yang seharusnya tak dimiliki bocah berusia 16 tahun. Selain itu, Kuro melakukan semua itu tanpa sihir.


Dan meskipun Otome tahu kalau Kuro berasal dari klan Blad, namun ini bisa dibilang tak biasa.


"Entahlah, aku juga ingin tahu siapa sebenarnya Kuro."


Kali ini Electra terlihat serius dan berbicara dengan nada serius. Inilah Electra yang biasa Otome kenal, meskipun masih berpenampilan anak muda.


"Eh? Apa ini juga rahasia?"


"Tidak. Aku benar benar tak tahu siapa sebenarnya Kuro."


".............."


Otome tahu Electra tak berbohong. Karena itulah dia merasa terkejut saat tak mengetahui identitas sebenarnya Kuro.


Sebagai Paladin, Electra pasti mudah mendapatkan informasi berkat pengaruh dan nama besarnya.


"Kau pasti tahu tentang klan Blad. Mereka sebenarnya hanyalah penyihir jahat yang bertobat. Dan karena masyarakat tak menerima mereka, akhirnya mereka membuat sebuah desa di hutan Rukia."


Itu adalah kisah awal dari klan Blad yang jarang diketahui orang.


"Sekarang klan Blad sudah memiliki 3 generasi, dan Kuro termasuk salah satunya. Tapi, aku menemukan fakta bahwa Kuro sebenarnya bukan orang asli klan Blad."


"Eh?"


"Demonia... eh, jangan bilang Kuro sudah sekuat itu?"


Ini wajar mengingat Demonia adalah monster yang cukup kuat. Demonia berwujud manusia kelelawar sebesar dua meter dan dikenal sebagai pemangsa manusia.


"Ya. Dia mengalahkan Demonia saat berusia 6 tahun dengan pedang itu."


Otome melirik pedang Kuro yang terletak tak jauh darinya.


Disaat itulah dia menyadari bahwa Kuro sudah mampu menggunakan pedang saat berusia 6 tahun.


Bagi seorang penyihir, Demonia cukup mudah dikalahkan, tapi tak mungkin bocah berusia 6 tahun bisa mengalahkan Demonia hanya memakai sebuah pedang.


"Meskipun saat itu dia terluka parah, namun dia selamat. Dan karena berhutang budi sekaligus kagum, pemimpin klan Blad mengangkat Kuro sebagai anaknya hingga sekarang. Itulah sebabnya kenapa aku tak mengetahui siapa sebenarnya Kuro."


Dengan kata lain, Kuro tiba tiba muncul di hutan Rukia dan menyelamatkan seorang gadis kecil.


Ini suatu hal yang sulit dipercaya mengingat hutan Rukia adalah hutan paling berbahaya di kekaisaran Houou. Bagaimana cara bocah berusia 6 tahun bertahan hidup di hutan Rukia?


"Tapi bukan berarti aku tak memiliki petunjuk."


Di saat itulah Electra mengambil pedang Kuro yang terletak dekat dengannya. Dia lalu menarik pedang Kuro dari sarungnya dan menatap ke arah Otome.


Dua buah lonceng berbunyi saat Electra menarik pedang Kuro.


"Otome, apa kau tahu pedang ini?" tanya Electra sambil mengarahkan pedang Kuro ke atas.


"Hmmm... aku tahu itu pedang yang tak biasa. Selain itu aku tak pernah melihat pedang yang berwarna putih, tapi aku tahu beberapa legenda yang menyebutkan tentang pedang putih."


Meskipun Otome tahu ada magic arm yang berwujud pedang putih, namun ini baru pertama kalinya melihat pedang yang berbahan logam putih.


"Ya. Ini bukanlah pedang biasa. Nama lain pedang ini adalah Sword of Darkness, Holy Blade, Holy White Sword, Sword from Another World, Sword of Calamity, dan masih banyak lagi.. "


".......... eh? Aku tak tahu pedang itu begitu terkenal."


"Ya... aku setuju. Tapi pedang ini lebih dikenal dengan King Sword."


Disaat itulah Otome melebarkan matanya. Dia terkejut saat mengetahui pedang legendaris ada di depan matanya.


"Ja-jangan bilang kalau..."


"Ya. Ini adalah pedang yang dimiliki oleh Demon King"


Otome langsung menelan ludahnya. Dia tak menyangka bisa melihat pedang yang digunakan untuk menghancurkan dunia.


Tapi disaat yang sama, Otome menyadari satu hal.


"Ja-jadi Kuro memiliki hubungan dengan Demon King? Uh.... ?..Heii... bukankah itu cuma legenda? Lagipula bagaimana Kuro bisa memiliki hubungan dengan Demon King?"


"Fufufu, ya itu cuma legenda. Demon King adalah penyihir terkuat di dunia. Untuk mengalahkannya, 72 penyihir peringkat Paladin menyatukan kekuatan mereka agar bisa mengalahkannya. Ini legenda yang sangat terkenal, tapi satu hal yang juga terkenal adalah legenda pedang putih yang digunakan untuk menghancurkan sebuah kota dalam satu kali tebas. Dan pedang itu kini ada di tanganku..... Mungkin..."


"Huhh...."


Perkataan Electra hanya membuat Otome tersenyum kecut.


Meskipun pedang putih Kuro terkenal, namun lokasi pedang putih milik Demon King saat ini tak diketahui. Selain itu, banyak yang memanfaatkan legenda Demon King untuk membuat pedang putih palsu.


Hal ini mengingat banyak orang yang menginginkan pedang yang mampu menghancurkan sebuah kota dalam sekali tebas.


Meskipun lebih kuat dari logam biasa, pedang Kuro tak memiliki kemampuan khusus seperti pedang sihir atau sejenisnya. Jadi bisa dibilang pedang Kuro mungkin adalah salah satu dari pedang palsu.


"Lalu apa hubungan pedang itu dengan identitas Kuro?"


"..Oh, aku hampir lupa."


Electra memasukan kembali pedang putih Kuro ke sarungnya dan sekali lagi lonceng berbunyi. Setelah itu Electra mengembalikan pedang Kuro ke tempat semula.


"Tak ada."


"Eh?"


"Aku tak menemukan petunjuk apapun mengenai Kuro. Orang tua kandung, tempat asal, kenapa dia bisa di hutan Rukia, semuanya nihil. Huuh.. aku benar benar frustasi dan penasaran. Karena itulah aku bertanya langsung kepada Kuro, dia selalu menjawab, tapi jawabannya justru membuatku jengkel."

__ADS_1


Electra terlihat jengkel dan kesal. Dia sekarang mirip anak kecil.


"Ha ha... "


"Kau tahu, saat kutanya siapa orang tuamu? Dia hanya menjawab 'Pemimpin klan Blad, jika kau penasaran, cari tahu sendiri. Aku tak mau memberi tahu orang yang suka ikut campur sepertimu.' ahhhhh... itu membuatku jengkel, tapi aku tak menyerah dan memutuskan untuk mencari tahu, tapi setelah aku mencari tahu beberapa minggu, akhirnya aku menyerah."


"Dengan kata lain hasilnya juga nihil kah?"


"Ya. Kuro seakan akan muncul dari sebuah batu untuk menyelamatkan putri pemimpin klan Blad."


"Itu terdengar kasar, bagaimanapun Kuro pasti memiliki orang tua. Mungkin dia tak memberi tahu karena itu hanya akan mengingatkannya pada kenangan buruk."


"Hooo ...."


Mendengar itu, Electra menunjukkan senyuman licik. Dia menemukan suatu yang bisa digunakan untuk mempermainkan Otome. Lagi.


"Aku tak menyangka kau begitu perhatian kepada Kuro...Fufu..."


"Aku hanya memberikan alasan yang wajar. Sudahlah, apa hanya itu yang ingin kau ceritakan tentang Kuro? Terus terang, aku lebih penasaran kenapa dia sekuat itu meskipun bukan penyihir."


"......Hmmm mengenai itu, aku juga melakukan beberapa penyelidikan. Yahh... mudahnya dia hanya melakukan sihir tanpa sihir.."


"..Apa maksudmu?"


Otome tak mengerti maksud Electra.


"Otome, kau sebagai guru pasti menyadari bahwa kita disebut penyihir karena mampu membuat hal yang mustahil menjadi tak mustahil."


"......."


"Kita dapat memperkuat tubuh kita, mengendalikan elemen di sekitar kita, menciptakan elemen, menciptakan senjata, menciptakan monster hanya dengan suatu yang disebut sihir, tapi apa kau tahu perbedaan api di depanmu dengan api yang diciptakan oleh sihir?"


"...Api..?"


Otome memperhatikan api yang mereka gunakan untuk membakar ikan.


Api berwarna merah kekuningan yang terus melahap kayu kering. Memancarkan hawa panas dan mampu membakar kulit jika menyentuhnya.


"Bukankah keduanya sama sama api. Apanya yang berbeda?"


"Ya. Tak ada yang berbeda. Keduanya sama sama api, hanya saja proses menciptakan yang berbeda. Sihir memiliki keunggulan lebih cepat dalam menciptakan api. Sedangkan kayu membutuhkan minyak atau pematik (korek api) untuk menciptakan api. Singkatnya hanyalah jalan sulit dan jalan mudah, tapi tujuan tetap sama."


".........."


Dan akhirnya Otome mengerti semua maksud dari penjelasan Electra.


Kuro hanya membuat dirinya kuat seperti seorang penyihir.


Hanya itu, tapi itulah yang membuat kemampuan Kuro mengerikan.


"Karena itulah aku ingin kau mengawasinya."


"eh?"


"Aku belum tahu seberapa besar kekuatan Kuro yang sebenarnya, karena itulah kita harus mengawasi dia dengan hati hati. Kau pasti tahu dia hanya bermain main meskipun menghadapi 11 muridmu yang menggunakan sihir. Hal itulah yang membuat dia juga berbahaya dan tak stabil."


"................."


"Selain itu, meskipun dia terlihat menurutiku, namun dia bisa memberontak kapan saja, dan di saat itulah kita akan menghadapi masalah yang cukup besar."


"Sekuat itukah Kuro...?"


"Ya. Dia dulu pernah berkeliling dunia, tapi dia tak hanya jalan jalan. Aku menemukan suatu hal yang sangat menarik saat menelusuri jejaknya. ...Kuro berkeliling dan berguru kepada semua master yang berpengaruh di dunia, tak hanya itu, dia sebenarnya hanya mempelajari teknik dasar dari setiap 'Art' terkuat lalu menggabungkan ilmu yang dipelajari dengan kemampuannya. Hal yang lebih mengejutkan adalah dia melakukan semua itu sendirian tanpa bantuan orang lain."


"........Dengan kata lain, Kuro kuat karena menguasai kekuatan dari seluruh dunia, tapi aku lebih terkesan kepada kemampuan Kuro dalam belajar. "


Electra hanya mengangguk.


Orang tua, kekuatan dan masa lalu Kuro masih misteri.


Selain itu mereka juga tak tahu siapa sebenarnya Kuro.


"..haa... memikirkan ini membuatku pusing. Tidak, kurasa Anda sudah mengetahui identitas Kuro tapi merahasiakan dariku, apa aku salah?"


Hanya itu kemungkinannya. Mustahil semua hal tentang Kuro tak diketahui.


Disaat itulah, Electra tersenyum tipis sebagai tanda dugaan Otome tidak salah.


"Yahh.. senenarnya aku punya petunjuk lagi, tapi aku kurang yakin kebenarannya."


"Heehh..."


"Otome kau pasti tahu satu legenda lagi mengenai pedang putih. Legenda yang pertama adalah tentang pedang putih yang dimiliki Demon King, dan satu legenda lainnya adalah disaat pedang putih muncul, maka itu adalah pertanda bencana besar akan terjadi. Hal inilah yang menyebabkan pedang putih memiliki nama Sword of Calamity. Dan legenda yang kedua ini sekarang sudah terjadi di depan mata kita."


".........."


Otome terdiam karena menyadari maksud perkataan Electra.


Electra membicarakan insiden yang terjadi seminggu yang lalu.


Insiden itu terjadi di dua tempat, namun insiden yang satunya dirahasiakan kepada masyarakat. Hal ini berkaitan dengan benda yang berhasil dicuri oleh orang misterius bernama 'Shadow'.


Dan Otome paham bahwa kejadian yang lebih buruk akan segera terjadi cepat atau lambat.


"Hal ini bukan pertama kalinya terjadi. Dulu saat aku masih kecil, aku bertemu seorang pmembawa pedang putih sama seperti Kuro. Mungkin Kuro memiliki hubungan dengan orang itu."


"Aku baru pertama kali mendengar ini, tapi jika itu benar, Kuro mungkin cucu dari orang yang anda temui dan kalau tidak salah, kejadian itu menghancurkan sebuah kota dengan radius 100 km, tepat disini."


"Ya. Itu adalah kisah dari perang di kota Limphis yang sekarang telah menjadi danau. Ha ha... Dan sekarang kita makan di pinggir danau yang pernah menjadi medan perang. Ini sungguh lucu."


"..............."


Otome dan Electra akhirnya kembali makan ikan yang kini sudah hampir gosong. Mereka terlalu serius membicarakan Kuro.


".... Apakah Anda tahu siapa nama orang itu? Aku yakin dia pasti cukup terk-"


Sebelum sempat menyelesaikan kata katanya, Otome dikejutkan oleh 2 lingkaran sihir yang muncul tepat di depan dahinya.


Dalam sekejap dia melihat sebuah jarum besar menembus lingkaran sihir pertama, dan sedikit menembus lingkaran sihir kedua.


Otome tak bisa bernafas sesaat saat menyadari jarum itu berhenti beberapa cm dari dahinya.


Setelah itu, lingkaran sihir menghilang dan jarum besar itu terjatuh ke tanah.


"Fuu...ahh.."


Dia akhirnya bisa bernafas lega saat mengetahui Electra telah menolongnya.


Tapi dia juga menyadari satu orang yang menyerangnya hanya dengan sebuah jarum.


"Huuhh.. tampaknya dia mulai marah. Sebaiknya aku tak menceritakan kepadamu. Jika aku melakukannya, nyawamu dalam bahaya, Otome."


Electra tersenyum tipis saat melihat Kuro berada di jarak 100m dari mereka berdua.


Dan Kuro benar benar terlihat tak senang.


"........."


Di saat itulah dia menyadari maksud perkataan Electra yang menyebutkan Kuro berbahaya.


Kuro adalah seseorang yang tanpa ragu membunuh orang yang membuat dia tidak senang, atau Kuro tampaknya menganggap Otome terlalu banyak ikut campur.


Setelah beberapa saat, Kuro akhirnya sampai di depan mereka.


Dia menunjukkan wajah tak senang, tapi dia tiba tiba tersenyum.


"Maaf, aku tak menyangka seranganku meleset."


"Eh?"


Perkataan Kuro langsung membuat Otome bingung.


Meleset?


Apakah Kuro mengatakan kalau targetnya bukan Otome?


Jika bukan, apakah targetnya Electra?


Tapi di saat yang sama, meleset juga berarti Kuro gagal mengenai target karena dihalangi Electra.

__ADS_1


Mana yang benar?


Sekali lagi, itu menjadi misteri bagi Otome.


__ADS_2