Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Silver Viper


__ADS_3

Setelah lolos dari ketiganya, Stella, Hana dan Amira berlari di antara celah sempit bangunan kota. Mereka tak punya tujuan, tapi yang terpenting adalah cepat pergi dari mereka bertiga.


Ketiganya mempunyai ekspresi yang sama, yaitu pucat pasi dan penuh ketakutan.


"Stella."


"Aku tahu. Mereka bertiga .....berbahaya. Meskipun tak melawan langsung, aku bisa merasakannya. Mereka berada di level yang berbeda dengan kita."


Amira terdiam, tapi dia memiliki pendapat yang sama.


"......."


"Hana, ada apa?"


"Tidak. Hanya saja aku merasa pernah melihat mereka sebelumnya. !. ah.. aku ingat, mereka adalah murid yang berhasil selamat dari pertempuran di Dragonia. Kita sekarang tahu kenapa mereka tak terpengaruh sihir penidur ini."


"........"


"..dan itulah yang menyebabkan mereka berbahaya. Pengalaman mereka dalam pertempuran nyata membuat mereka menjadi lebih kuat daripada murid sekolah biasa. Jika lengah, kita ak-"


Sebelum selesai, mereka dikejutkan oleh sosok yang menghadang mereka secara tiba tiba. Ketiganya langsung berhenti dan bersiap dalam posisi bertarung.


"Kalian tak berpikir akan bisa lolos dari kami dengan mudah kan....?"


Sosok di depan mereka adalah Knox. Charlmilia dan Jinn berada di gang lain yang menjadi jalur mereka menghindar. Sekarang mereka terjebak. Bahkan untuk mencegah mereka lari, Charlmilia sudah mengendalikan Byakko berada di atap.


"Kh..."


(Mereka terlalu cepat.)


Hana hanya bisa terkejut, tapi dia juga langsung menggertakkan giginya karena kesal. Dia langsung memanggil Magic Arm miliknya yang berwujud pedang pendek kembar.


"Tembuslah dan terangilah jalanku, Ame no Habakiri"


Tahu dalam posisi tak diuntungkan, Stella mengikuti Hana. Dia juga memanggil Magic Arm miliknya yang berwujud sebuah cermin.


"Tunjukan pesonamu, Merola"


Sedangkan Amira dia hanya mengucapkan nama Magic Arm miliknya dengan suara pelan.


"Verss"


Sebuah senjata api laras panjang mendarat di tangan Amira. Dan itu bukan senjata biasa, tapi sebuah Sniper.


Charlmilia, Knox dan Jinn langsung menajamkan mata mereka. Ketiganya juga menyadari kalau ketiga gadis yang terlihat seumuran mereka bukanlah penyihir biasa. Ketiganya spesial dan dibentuk dengan baik sehingga memiliki keseimbangan yang bagus.


".....tunggu. Kami tak ingin bertarung dengan kalian."


Knox mendekat perlahan. Dia mengangkat tangannya sebagai tanda ucapannya bukanlah kebongongan. Sementara itu Charlmilia dan Jinn entah mengapa justru bersandar di dinding dengan santai.


"Kenapa kau tak ingin bertarung?" tanya Stella.


"........apakah kalian ...ingin?"


Pertanyaan Knox membuat ketiganya terdiam sesaat.


Melihat reaksi mereka, Knox langsung tersenyum licik.


"Yahhh kami sebenarnya ingin bertarung dengan kalian bertiga, tapi tentu jika kalian adalah pelaku dari balik semua ini. ...atau ternyata iya?"


Ketiganya masih terdiam dan saling melirik satu sama lain.


"Jika iya, ..apa yang kalian lakukan?"


"Kau maid yang cukup pintar, seharusnya kau sudah tahu. ...tentu kami akan langsung membunuh kalian."


Perkataan Knox langsung membuat mereka semakin waspada dan takut.


"Jadi apakah kalian pelakunya? Atau seseorang yang tahu pelakunya dan berniat menghentikan mereka?"


Pertanyaan Knox adalah apakah Stella dan kedua temannya ada di pihak mereka atau di pihak musuh. Itu adalah pertanyaan yang mudah dimengerti oleh siapapun.


Tapi pertanyaan Knox juga menjelaskan kalau Knox dan kedua temannya tak ragu membunuh mereka. Ini tak normal mengingat Knox dan lainnya adalah murid sekolah. Jika dibandingkan dengan Stella dan kedua kawannya, pengalaman dalam membunuh seseorang berada di tingkatan yang berbeda.


(Mereka tak normal. Sudah kuduga. Dalam pertempuran di Dragonia, telah terjadi sesuatu. Sesuatu yang penting dan berbahaya. Apa yang sebenarnya terjadi di sana?)


Stella menganalisa situasi dan keadaan. Dia juga membandingkan informasi yang dia miliki.


Pertempuran Dragonia melawan organisasi ******* Liberia cukup menggemparkan seluruh dunia. Bukan hanya kekuatan yang ditunjukan Liberia yang memiliki seseorang yang bisa menggunakan elemen kegelapan, tapi juga kekuatan Kuro yang dia tunjukkan sebagai keturunan Demon King.


Dragonia tahu betul kalau pertempuran itu sangat mempengaruhi kedamaian dunia di masa yang akan datang, karena itulah mereka menutupi sebagian besar informasi yang ada.


Hal ini tentu saja membuat Dragonia dicurigai, tapi di saat yang sama, Dragonia membuat perjanjian dengan Kekaisaran Houou  sehingga kedua negara bisa berbagi informasi dan bisa terhindar dari peperangan lagi.


Dan berkat itulah sebagian besar negara tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi di Dragonia. Yang tahu hanyalah Kuro dan kawan kawannya yang berhasil kembali dengan selamat.


...dan sekarang Stella tahu kenapa mereka bisa selamat.


"Kh..."


Stella langsung mengangkat tangan dan mengembalikan Magic Arm miliknya. Hana dan Amira mengikuti langkahnya beberapa saat kemudian.


"Kami menyerah. Kami adalah orang yang berusaha menghentikan mereka. Seperti kalian."


"....kami tahu siapa pelaku di balik semua ini dan berusaha menghentikan mereka. Karena itulah kami tak bisa meladeni kalian. Bisakah kalian tak mengganggu kami?"


"Hana, hentikan!"


Hana menurut dengan wajah kesal.


Stella langsung menggigit bibir bawahnya karena tahu apa yang dipikirkan Hana saat ini.


Stella kembali menatap Knox. Dia menghela nafas dan bersiap.


"Seperti yang temanku bilang, kami sekarang menuju tempat mereka. Jujur saja tak ada banyak waktu yang tersisa. Jika kita tak cepat, kota ini akan segera hancur dalam hitungan menit."


Knox langsung menyipitkan matanya, tapi setelah beberapa saat dia tersenyum kecil.


Tiba tiba terdengar suara jentikan jari, disaat yang sama sosok Knox di depan mereka hancur perlahan menjadi butiran pasir yang berterbangan.


Stella dan lainnya langsung terkejut dengan apa yang terjadi, tapi hal yang sama terjadi dengan Jinn dan Charlmilia.


Saat sosok Knox hampir menghilang sepenuhnya, sosok lainnya muncul dari atap dengan cara melompat. Sosok itu adalah Knox, Jinn dan Charlmilia yang menaiki Byakko dengan anggun.


Stella langsung menajamkan matanya melihat suatu yang tak dia duga.


(Boneka?)


Bukan berarti Stella tak menyadari boneka yang meniru sosok Knox adalah boneka biasa.


Knox berhasil menciptakan boneka tanah dengan sempurna. Bahkan boneka itu memiliki aliran mana sehingga tak bisa dibedakan apakah boneka atau manusia.


(Tapi tak hanya itu yang bisa dia lakukan.)


Stella melirik boneka Jinn dan Charlmilia yang sudah tak tersisa.


(Dia juga memikirkan bagaimana menghemat mana dan juga memikirkan apa yang mungkin akan kami lakukan. .....cara bertarung seperti ini.....)


Stella tak menyesali keputusannya untuk tak bertarung dengan mereka. Dari segi kekuatan mungkin mereka akan seimbang, tapi cara menggunakan kekuatan Knox dan lainnya lebih terampil dan maksimal daripada mereka. Hal ini mengingatkannya kepada temannya yang memiliki cara bertarung yang hampir sama.


(...Hana....)


Knox dan dua temannya tiba di depan mereka.


"...baiklah, jika kalian berkata jujur dan memiliki tujuan yang sama dengan kami, itu berarti kalian tak keberatan berbagi dengan kami kan?"


---Di waktu yang sama, di bagian selatan Kuryuu Academy.


Sebuah batu besar tiba tiba bergeser, dan sosok Kuro terlihat setelah melihat keadaan sekitar. Setelah aman, Kuro memberi tanda kepada Laila dan Lic yang berada di belakangnya.


Mereka bertiga kemudian keluar dari dalam tanah. Dengan perlahan mereka menuju bangunan yang berada tak jauh dari mereka.


"Tolong jelaskan kenapa kita ke tempat berlatih ini?"

__ADS_1


Tempat mereka saat ini adalah tempat berlatih yang dikhususkan untuk melatih ketangkasan dan ketepatan murid murid. Selain luas dan banyak benda semacam target sasaran, tak ada yang spesial dari tempat itu.


Laila melakukan latihan rutin di tempat itu, tapi bagi Kuro yang hampir memiliki ketepatan sempurna, maka dia tak pernah berlatih di tempat itu.


Tentu tak ada yang bisa protes mengenai kelakuan Kuro yang sering membolos. Tak ada yang berani.


"Musuh kemungkinan besar tak akan menduga kita di tempat ini. Yah... meskipun ketahuan, kita akan lebih leluasa bertarung di tempat ini."


Kuro duduk di tempat istirahat yang digunakan oleh murid murid. Laila dan Lic duduk di dekatnya dengan posisi Lic di tengah.


"Heee.... kau sudah memikirkan sejau- cough! Cough!"


"Laila, apakah batukmu semakin parah?"


"..aku tak tahu, tapi tubuhku tiba tiba lemas."


"......"


Kuro terdiam, tapi dia memikirkan keadaan Laila yang memburuk.


"Laila.... bisakah aku memeriksamu...?"


"...Un.."


Kuro langsung memeriksa dahi Laila untuk memeriksa suhunya. Nafas Laila yang sejak tadi tak teratur membuat Kuro semakin cemas.


Kuro menempelkan dahinya, dia lalu menggunakan energi Ki untuk melihat aliran energi yang ada di dalam tubuh Laila.


"?!"


Mata Kuro langsung melebar saat melihat kondisi tubuh Laila yang lebih parah dari yang terlihat.


(Sial.... aku tak menyangka mereka akan sejauh ini, tapi kapan mereka melakukannya?)


Kuro mengingat kembali pertempuran yang mereka lakukan. Dan setelah itu, dia menyadari kelengahannya.


Kuro langsung menggertakan giginya. Dia marah besar ketika tahu apa yang menyebabkan orang yang dia cintai seperti itu.


Kuro berdiri dan langsung melirik ke halaman luas yang tak jauh dari mereka.


"Aku tahu kalian di tempat ini, jadi cepat tunjukan sosok kalian yang sebenarnya!"


Senyuman muncul di balik bayangan tiang. Tak hanya satu, tapi tiga. Kemudian 3 sosok berjubah muncul dari bayangan itu.


"...kau lebih dari yang kami harapkan, keturunan Demon King. Tapi kau pasti tak menebak kami tak akan melakukan hal itu kepada kekasihmu kan?"


"Kh...!"


--Di tempat lain, kelompok Knox dan kelompok Stella kini menuju bagian selatan Kuryuu Academy menuju tempat Kuro berada.


"Silver Viper-kah. Dari apa yang kalian ceritakan, mereka adalah orang yang berbahaya."


Setelah mendengar siapa pelaku di balik kejadian ini dari Stella, Charlmilia memberikan komentarnya.


"Seperti yang kukatakan tadi, dari kelompok semua Illegal, Silver Viper adalah kelompok yang terdiri orang yang berbahaya dan tak memiliki belas kasihan. Mereka bahkan dikenal akan melakukan apapun demi misi mereka terlaksana, seperti sekarang ini."


"..tapi bukankah Illegal memang organisasi yang dilatih secara Khusus dengan cara seperti itu?"


"Charl, apa maksudmu?"


"Maksudku Illegal memang akan melakukan apapun agar misi mereka tercapai. Mereka bahkan akan tidur dengan target mereka jika hal itu diperlukan. Mudahnya tak ada yang tabu bagi mereka."


Stella dan temannya tak bisa membantah perkataan Charlmilia. Itu adalah kenyataan tentang mereka.


"..tapi inilah yang kutakutkan. Jika mereka akan melakukan apapun, Kuro akan kesulitan menghadapi mereka. Dan entah mengapa aku mempunyai firasat buruk mengenai hal ini." lanjut Charlmilia.


Tempat tujuan mereka semakin dekat, dan mereka langsung mempercepat langkah mereka.


Tapi disaat itulah puluhan sosok boneka kembali menghadang mereka.


"Tampaknya mereka tak ingin kita sampai di sana."


Knox langsung menciptakan tombak dari debu besi yang dia kumpulkan dari tanah dan sekitarnya.


Stella yang memiliki Magic Arm berwujud cermin tak akan banyak membantu jika mengandal kekuatan cermin miliknya, tapi sebagai gantinya dia menggunakan kemampuannya untuk mengawasi gerakan musuh.


Meskipun musuh mereka boneka, tapi mereka tahu dan bisa merasakan dengan jelas kalau boneka yang mereka lawan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Hal itu bisa terlihat dari gerakan yang lebih lincah dan variatif. Tak hanya itu, senjata mereka juga terlihat berbeda.


Knox yang memulai terlebih dahulu dengan melempar tombaknya ke arah boneka yang menuju ke arahnya. Boneka itu menghindarinya, tapi Knox tak terlihat terkejut dan justru tersenyum.


Knox langsung menggerakan tangannya dan disaat itulah tombak itu bergerak dan kembali mengenai tubuh boneka hingga membuat lubang. Tombak itu kembali ke tangan Knox dengan sempurna.


Tapi meskipun tubuh boneka berlubang, boneka itu masih bisa bergerak menuju ke arah Knox.


"..apa kau lupa, musuh kita bukan terdiri dari darah dan daging yang bisa berhenti jika tubuh mereka berlubang..."


Jinn berdiri di depan Knox dengan senyuman lebar seolah mengejeknya.


Kaki sebelah kanan Jinn bersinar, dan dalam sekejap kaki Jinn langsung muncul bagian kaki Knight Gear. Dengan kaki itu dia menendang boneka dengan kekuatan penuh hingga terpental jauh ke belakang.


Boneka itu berbenturan dengan boneka lainnya, dan tiba tiba percikan muncul dan boneka itu langsung meledak dengan keras. Ledakan itu bahkan menghancurkan bangunan dengan mudah.


"...huh.?."


"...huh..?"


Jinn dan Knox tercengang dengan apa yang baru saja terjadi.


Hana langsung mendekat ke tempat keduanya.


"Kami lupa bilang, boneka itu akan meledak jika kita menebasnya atau mengalahkannya, jadi berhati hatilah."


".....hey!!"


Di saat yang sama tembakan melesat ke arah boneka dengan ketepatan yang akurat tanpa ada yang meleset. Boneka langsung hancur dan meledak.


Ketiganya langsung melirik Amira yang melakukan perannya dengan baik. Dia juga menunjukkan bagaimana cara menghadapi boneka itu.


"Jangan pikir hanya dia saja yang bisa melakukannya."


Charlmilia tak mau kalah. Dia menciptakan puluah bola plasma kecil dan langsung menembakkannya. Sebagian mengenai target, tapi banyak yang lolos sehingga Amira membantu dengan menembak yang lolos.


"Huuuu uuhhh..."


Wajah kesal ditunjukkan Charlmilia. Dia tak menyangka akan dipermalukan.


Knox langsung mendesah.


"Kita cepat selesaikan ini, aku sudah capek dengan masalah sepele seperti ini...."


Semuanya langsung menyerang boneka. Setelah kekuatan dan kelemahan lawan meleka diketahui, tak butuh waktu lama hingga mereka menghancurkan semua boneka dengan mudah dan tanpa terluka berat.


Tapi yang mengejutkan adalah tindakan Hana yang melakukannya dengan kecepatan luar biasa, tapi berkat itu mereka tak buang buang waktu.


[Hana, jangan terlalu berlebihan. Kita tahu teknik itu membebani tubuhmu.]


[Aku tahu, tapi inilah caraku.]


Stella langsung mendesah.


[Dasar kau ini.]


Hana lalu melangkahkan kakinya menuju tempat Knox dan lainnya. Tapi disaat itulah boneka muncul dari dalam puing puing dan mengepung Hana dari semua arah.


"!?"


Kejadian ini membuat semuanya terkejut, terutama Stella yang melihat semuanya dari atas.


Percikan muncul di semua boneka. Mereka berniat melakukan bunuh diri.


Menyadari dalam bahaya dan tahu kemungkinan selamat cukup kecil, Hana langsung pasrah dan bersiap menerima takdirnya, tapi disaat itulah di bawah kakinya muncul cahaya bebentuk kotak.


Mata Hana langsung melebar karena tahu sihir itu.

__ADS_1


Mirror Gate, sihir khusus yang dimiliki Stella. Sihir itu mampu menukar tempat suatu benda, tapi hanya bisa digunakan satu kali dalam satu hari.


Dia tahu apa akibat dari yang dilakukan sahabat baiknya itu.


"Stella.."


Tak sempat menyelesai kan kata katanya, dia tiba tiba berada di tempat Stella berada.


Dia terkejut dan langsung melihat tempatnya semula. Dia bisa melihat Stella yang berada di tengah kepungan boneka yang akan meledak. Yang membuatnya semakin terkejut, Stella justru tersenyum bahagia.


Dan ledakan pun terjadi.


Ledakan itu lebih kuat daripada ledakan semua ledakan sebelumnya. Bahkan ledakan itu membuat Hana dan semuanya terpental.


Asap mengepul perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah kawah selebar 10 meter.


"Stella.."


Hana tersungkur dengan keras. Air matanya mengalir dengan deras ketika tahu apa yang terjadi dengan sahabat baiknya itu.


"Stella....."


♦️♦️♦️


Laila semakin tak berdaya dan lemas. Tubuhnya bahkan hampir tak bisa dia gerakan. Lic tak tega melihat Laila dan langsung mendekatinya.


"...Lic. jangan kawatirkan aku..."


Ketiga sosok berjubah itu kemudian melepaskan jubah mereka. Sosok mereka yang sebenarnya kini terlihat.


Ketiganya adalah wanita cantik dan memiliki lekuk tubuh yang seksi dan mempesona setiap pria yang melihatnya, tapi Kuro tahu itu hanyalah kulit palsu yang digunakan untuk menyembunyikan sosok kotor mereka.


Kuro berbalik dan langsung menunjukkan tatapan kemarahannya.


"Kuku... sungguh menakutkan, tapi itu tak cukup membuat kami takut."


Wanita yang berada di tengah yang mempunyai kuku tajam tertawa sinis. Dia sama sekali tak terkena intimidasi Kuro. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh kedua wanita yang berada sampingnya.


"Kau seharusnya tak menunjukkan tatapan seperti itu. Kau tak bodoh, karena itulah kau pasti menyadari apa akibat jika membuat kami marah."


"......."


Kuro terdiam dan melirik Laila. Dia tahu betul apa yang dikatakan wanita itu benar.


(Sial.... tapi aku harus menahan diriku untuk sekarang. Nyawa Laila dipertaruhkan.)


Kuro memiliki kecepatan yang luar biasa, tapi dalam masalah ini dia tak bisa mengandalkan kekuatannya itu. Jika dia gagal, dia tak akan bisa menyelamatkan Laila.


Mencoba untuk tetap tenang, Kuro langsung menarik nafas dalam.


"Baiklah, katakan apa tujuan kal-"


"Kau sudah tahu tujuan kami." Potong wanita yang berada di tengah. "Kami meminta Izriva untuk bersama kami."


"......"


Wanita itu langsung melirik ke arah Lic sambil tersenyum.


"..Izriva.."


Lic terdiam sesaat dan menatap Laila. Tapi tiba tiba dia tersenyum.


"Mama, maaf. Hanya dengan cara ini aku bisa menolong Mama."


Mata Laila dan Kuro langsung melebar. Mereka tahu apa yang akan dilakukan Lic.


Setelah memeluk Laila, Lic melangkahkan kakinya menuju ketiga wanita itu, tapi sebelum pergi, tangan Lic digenggam oleh Laila.


"....."


Lic hanya tersenyum dan perlahan melepaskan genggaman Laila yang tak memiliki tenaga.


"Jangan kawatir Mama. Mereka bilang akan memberikan obat penawarnya jika aku aku mau bersama mereka."


Lic kembali melanjutkan perjalanannya. Kuro hanya bisa terdiam karena tahu ini bukan saat yang tepat untuk melakukan hal ceroboh.


Tapi dari wajahnya terlihat jelas bahwa Kuro sangat marah, tapi di saat yang sama dia tahu tak ada yang bisa dia perbuat. Ketiga wanita itu tahu apa yang mereka lakukan, yaitu menyerang tepat di kelemahan terbesar Kuro.


Rasa cinta Kuro kepada Laila membuat Kuro begitu kuat, tapi disaat yang sama itu membuat Kuro rapuh meskipun memiliki kekuatan yang luar biasa.


Lic semakin dekat. Mengetahui tujuan mereka hampir tercapai, wanita yang berada di sebelah kiri mengeluarkan sebuah kristal merah. Kristal itu perlahan melayang ke atas Lic dan cahaya bersinar menyelimuti Lic. Lalu perlahan tubuh Lic menjadi partikel dan masuk ke dalam kristal.


Sebelum masuk sepenuhnya, Lic mengucapkan beberapa kalimat. Meskipun tak terdengar, tapi dari gerakan bibir, Kuro dan Laila tahu apa yang dikatakan Lic.


Kristal itu lalu kembali ke tangan wanita itu.


"Fu fu... awalnya kami mengira ini menjadi misi yang menarik karena akan mengambil sesuatu dari keturunan Demon King, tapi jujur saja ini lebih mengecewakan daripada yang kuduga."


".....dasar pengecut."


"..terserah apa katamu, tapi ocehanmu tak cukup membuatku tertarik kepadamu. ...tapi akan berbeda jika kau tak memiliki perasaan cinta kepada gadis itu. Jika tak memilikinya, aku yakin kami tak akan memiliki kesempatan seperti ini."


"......"


"Yah... sudahlah. Tak ada gunanya membahas hal bodoh seperti ini. Sebagai orang dewasa aku tahu kau pasti mengerti apa yang kami maksud tanpa harus kami menjelaskannya. Lagipula, ....kau sama seperti kami."


Sebuah lingkaran sihir tiba tiba muncul di bawah kaki ketiganya. Itu adalah sihir teleportasi yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.


Salah satu wanita mengambil benda kecil dari celah dadanya.


(Itu..)


Kuro dapat menebak benda apa itu.


"Seperti yang kami janjikan, kami akan memberikan penawarnya, tapi tentu tak semudah itu. Aku tahu kau memiliki kecepatan yang luar biasa, jadi...."


Wanita itu tersenyum licik. Kuro langsung bisa menebak apa yang akan dilakukan wanita itu.


Sebuah pistol besar muncul di tangan wanita yang memegang penawarnya. Wanita itu langsung memasukan botol kecil itu ke dalam pistol dan menekan pelatuknya ke benda yang digunakan sebagai target latihan.


"...semoga beruntung."


Mengabaikan ketiganya, Kuro langsung bergerak menuju botol yang hanya butuh kurang dari 3 detik akan hancur.


Kuro berhasil menangkapnya dengan sempurna, tapi ketika dia menoleh ke mereka bertiga, mereka sudah tidak ada.


"...Sial.."


Dengan amarah yang besar, Kuro kembali menuju ke arah Laila. Dia tak tahu apakah itu adalah obat penawar dari racun yang kini berada di tubuh Laila. Tapi dia punya cara untuk memastikannya.


Mata Kuro langsung menjadi putih, setelah bebarapa saat dia langsung meminumkan cairan itu ke dalam mulut Laila.


Disaat itulah suara langkah kaki terdengar. Kuro hanya melirik dan tak menatap sumber suara itu.


"Kuro."


"Laila, Kuro, maaf..."


"Alva. Alvi kalian tak perlu meminta maaf. Tindakan kalian sudah tepat. Lagipula aku yang menyuruh kalian. Berkat kalian taka ada korban dari serangan ceroboh mereka."


Saat pertempuran dimulai, Alva dan Alvi tak terkena pengaruh sihir penidur. Tapi bukan berarti mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan.


Mereka memeriksa keadaan sekolah agar tak ada korban. Mereka tahu meskipun jam pelajaran berakhir dan tengah malam berakhir, namun ada beberapa murid yang masih berlatih.


Dengan menggunakan ponsel, Kuro meminta keduanya untuk melakukan hal itu. Inilah alasan kenapa dia memilih tempat itu sebagai tempat bertarung dengan ketiganya.


Tapi semuanya gagal. Dia tak menyangka Laila sudah terkena racun terlebih dahulu.


Laila perlahan lebih baik. Nafasnya perlahan kembali normal dan kesadarannya terlihat lebih jelas.


"Kuro..."


"......"

__ADS_1


"..di mana Lic..?"


__ADS_2