
Pemimpin Knight yang sedang bertarung dengan kelompok pria bertopeng bernama Siegfir. Dia merupakan penyihir tipe Contractor peringkat A. Magic Beast miliknya berwujud monster bunglon dengan kemampuan menyamar. Inilah kenapa magic beast miliknya tak terlihat.
Saat ini magic beast miliknya berada di sekitarnya dan mencari celah untuk menyerang musuh yang memiliki kekuatan misterius.
Kenapa misterius?
Dari serangan sebelumnya yang telah menebas bawahannya menjadi dua, dia sadar kalau serangan musuh bukanlah sihir biasa. Namun meskipun dibilang sihir, namun juga tak bisa disebut sihir.
Dari pengalamannya bertarung, apapun jenis sihir, jika dua sihir saling beradu, maka masing masing sihir akan mendorong satu sama lain. Pemenang ditentukan sihir siapa yang terkuat dan bagaimana seorang penyihir mewujudkan sihirnya.
Namun saat serangan musuh menembus perisai yang dibuat bawahannya, serangan musuh bagaikan memotong perisai dan akhirnya membelah bawahannya. Sekilas mereka seperti berhadapan dengan penyihir elemen suci.
Tak hanya itu, mereka juga seperti berhadapan dengan bukan manusia. Meskipun terbuat dari darah dan daging, namun mereka seperti boneka yang tak mempunyai rasa sakit.
[Kalian waspadalah dan apapun yang terjadi jangan menerima serangan langsung dari mereka. Mungkin serangan mereka tak akan bisa tertahan oleh sihir biasa.]
[[[[[[[Baik‼‼!]]]]]]]
Kesepuluh anak buahnya menjawab dengan kompak melalui sihir komunikasi.
Setelah itu, pertarungan antara Knight dan pria bertopeng pun dimulai. Knight berpencar dan bertarung dengan lawan mereka masing masing. Bisa dibilang pertarungan yang tak seimbang karena jumlah musuh lebih banyak, namun bukan berarti itu membuat Knight menyerah.
Siegfir bertarung dengan pedang pendek yang terbuat dari magilium. Dia bertarung dengan musuh yang sebelumnya membunuh bawahannya. Meskipun menggunakan satu tangan, namun musuh bukan berarti mudah dikalahkan.
Sejauh ini musuh dengan mudah bertahan dan menyerang. Meskipun ingin memberikan serangan terakhir, namun sejauh ini Siegfir belum menemukan celah.
"Tch!"
Tak punya pilihan, dia menggunakan magic beast miliknya.
(Cameleon, tangkap dia.)
Musuh di depannya tiba tiba tak bisa bergerak seperti terikat oleh sesuatu. Musuh berusaha meronta, namun kekuatan yang tak terlihat itu terlalu kuat.
Memanfaatkan itu, Siegfir dengan cepat memenggal kepala musuh. Satu musuh mati.
Siegfir lalu bersiap membantu bawahannya yang terlihat kesulitan menghadapi musuh. Bahkan dua di antaranya mengalami luka cukup parah.
Tapi disaat itulah tiba tiba dia merasakan bulu kuduknya berdiri.
"?!"
Dia menyadari sebuah sosok di belakangnya. Sosok itu adalah musuh yang baru saja dia penggal. Meskipun tanpa kepala, musuh masih bisa bergerak dan bersiap dengan serangan mematikan tepat ke arah Siegfir yang sedang lengah.
Darah menyebar, namun itu bukanlah darah Siegfir. Itu adalah darah musuh tanpa kepala.
"Ap-"
Dia terkejut. Musuh yang hampir membunuhnya kini jantungnya tertusuk. Bukan tertusuk oleh pedang atau tombak, namun sebuah tangan. Tangan itu adalah milik pemuda bertopeng putih.
Pemuda itu lalu menarik tangannya dan darah pun menyembur hingga ke wajah Siegfir. Tubuh musuh perlahan jatuh dan tak bergerak lagi. Kali ini musuh benar benar mati.
"Jangan lengah. Musuh kalian bukanlah manusia. Mereka adalah Homunculus dengan kekuatan yang mirip dengan penyihir elemen suci. Jika ingin membunuh mereka, incar jantung mereka. Disitulah letak Hybrid Heart."
Pemuda itu menunjukkan benda semacam kristal berwarna ungu di tangannya. Saat menusuk dengan tangannya, rupanya pemuda itu mengambil Hybrid Heart dan itulah yang membuat musuh mati.
"Terima kasih, eerr...."
"Kita lupakan mengenai perkenalan, sekarang karena sudah mengetahui kelemahan mereka, bukankah kalian bisa menghadapi mereka?"
"Y-Ya.. terima kasih..."
Tapi mengetahui kelemahan lawan bukan berarti pertarungan menjadi lebih mudah bagi Siegfir. Musuh yang memiliki kekuatan yang mirip penyihir elemen suci ditambah dengan tubuh yang tak bisa mati kecuali jantung mereka hancur. Mereka seperti sedang melawan monster berwujud manusia.
"Drauis, mundur. Biarkan aku yang menghadapinya."
"Terima kasih..."
"Cepat pulihkan lukamu terlebih dahulu dan meminta bantuan. Kita akan mengalahkan mereka dengan jumlah."
Bawahannya menjauh dari lokasi pertempuran. Dia seorang Contractor, jadi meskipun saat ini dia terluka cukup parah karena pedang musuh, namun dia masih bisa bertarung. Disaat yang sama dia meminta bantuan kepada kelompok Knight dari wilayah terdekat.
Sambil menunggu bantuan, pertarungan pun terus berlanjut. Siegfir dan Knight lainnya berhasil mengalahkan tiga musuh, namun musuh masih belum banyak berkurang.
Pemuda yang sempat menolongnya kini membantu mereka. Meskipun pemuda itu memiliki kecepatan dan kekuatan, namun karena bukan penyihir, mungkin ini pertarungan yang berat baginya.
Tapi semua anggapan itu salah...
Pemuda itu menghindari tebasan musuh dengan memiringkan badannya. Dia lalu berputar menuju titik buta musuh dan disaat itulah dia menusuk jantung musuh dengan tangannya. Darah mengenai wajah dan pakaian pemuda itu, namun tampaknya dia tak terlalu peduli dan menuju ke musuh selanjutnya.
Bagi Siegfir, itu pemandangan yang luar biasa dan sekaligus menakutkan. Dari pakaiannya pemuda itu bukanlah orang yang suka bertarung, namun seperti pepatah, jangan menilai buku dari sampulnya cocok untuk menggambarkan pemuda itu.
Saat sedang memikirkan itu, musuh menyerang. Dia lalu menahan serangan dengan pedang yang dia ambil dari lawan. Tak seperti penyihir yang akan kehilangan magic arm atau magic beast mereka setelah pingsan, atau mati. Senjata musuh masih tertinggal saat mereka mati.
Dari berat dan warna, Siegfir bisa melihat kalau senjata mereka terbuat dari campuran Mithril. Saat mencoba menyalurkan mana, pedang itu tak bereaksi, dengan kata lain mungkin hanya musuh yang bisa menggunakan kekuatan pedang mereka.
Tapi bukan masalah. Selama ada senjata yang mampu mengimbangi musuh, itu sudah cukup.
Siegfir lalu menggunakan sihir yang sama untuk mengikat gerakan musuh. Dia lalu menusuk jantung musuh dan menghancurkan Hybrid Heart. Satu lagi musuh mati.
Dia lalu merampas pedang musuh dan melemparkannya ke knight tipe Contractor. Knight itu lalu meniru Siegfir dan dengan bantuan knight lain, satu persatu musuh berhasil dikalahkan.
Musuh kini hanya tersisa lima. Di antara mereka salah satunya mengalami luka parah, tapi sepertinya tak ada masalah berarti bagi mereka.
"ini kesempatan. Kita habisi mereka disini‼!"
""Ohhh‼!""
Knight lainnya mulai bersemangat karena kemenangan sudah terlihat, namun musuh tak menunjukan takut.
Siegfir dan Knight lainnya maju dengan senjata musuh di tangan mereka. Disaat itulah pedang musuh bercahaya. Itu adalah tanda mereka akan menyerang.
"Berhati hatilah!"
Siegfir dan anak buahnya waspada akan serangan musuh. Mereka juga sadar adanya kemungkinan mereka mati.
Dan musuh pun menyerang-
"?!"
Cahaya melesat bagai peluru dari pedang musuh, namun serangan musuh tak diarahkan ke Siegfir dan knight lainnya. Serangan itu mengarah ke sosok yang berada di bawah mereka.
Itu adalah sosok seorang wanita berambut merah membara. Wanita itu berjalan sendirian tanpa ada rasa takut meskipun di atasnya terjadi sebuah pertempuran.
Siegfir tak tahu apakah wanita itu bodoh atau tidak, namun mereka tak bisa membiarkan warga sipil mati.
(Sial‼)
Siegfir dengan cepat turun dan berusaha untuk menyelamatkan wanita itu, namun serangan musuh terlalu cepat.
"Sampailah‼"
Dia memercepat gerakannya. Meskipun bisa menyelamatkan wanita itu, namun dia tak bisa menahan semua serangan musuh. Dia sadar mungkin ini menjadi penyelamatannya yang terakhir.
Tapi Siegfir harus melihat kenyataan. Pedang cahaya musuh terlalu cepat dan akan segera mengubah wanita itu menjadi gumpalan daging.
Tapi disaat itulah sosok pemuda bertopeng tiba tiba muncul dengan pedang putih di tangannya. Dengan gerakan yang tak terlihat oleh mata, pemuda itu menebas semua pedang cahaya musuh hingga berkeping keping seperti kaca.
"Wha-‼"
Siegfir tak tahu apakah yang dia lihat sebuah ilusi atau kenyataan, namun itu tak mengubah kalau wanita itu berhasil selamat.
Siegfir lalu memperlambat kecepatannya dan mendarat di samping pemuda itu.
"Paman, pertarungan belum selesai. Ini bukan saatnya untuk bernafas lega."
Pemuda itu benar, namun-
"Tidak. Ini sudah berakhir."
Tiba tiba lima bola api biru muncul di sekitar mereka. Lima bola api itu berubah menjadi tombak api dan melesat ke arah musuh.
Musuh menghindar dan berusaha menebas tombak api, namun saat tombak api berada di jarak satu meter, tombak itu menjadi ribuan kecil dan menyebar ke seluruh tubuh musuh bagai jarum. Setelah itu, tubuh musuh mulai terbakar menjadi debu beberapa menit kemudian. Yang tersisa dari musuh hanyalah kristal ungu yang merupakan Hybrid Heart.
"Wa---"
Siegfir semakin terkejut. Bagaimanapun juga yang dia lihat bukanlah sihir yang bisa dilakukan oleh penyihir biasa.
Dalam rasa kagum dan takut, dia ingat kalau di ibukota ada beberapa penyihir yang mampu melakukan itu. Apalagi dengan api biru yang tak biasa dimiliki oleh penyihir elemen api dan rambut merah scarlet, maka hanya satu orang yang cocok dengan deskripsi tersebut.
Siegfir lalu melihat wajah wanita itu dan dugaannya semakin benar.
"Nyonya Lia?"
__ADS_1
"Maaf karena mengganggu tugas kalian, namun kalian tak keberatan jika aku membantu kan?"
Siegfir berkeringat dingin. Meskipun ada larangan warga sipil untuk membantu Knight saat bertarung, namun tetap ada beberapa orang yang melanggar aturan itu. Dan wanita itu dikenal paling banyak melanggar.
Sayangnya, tak ada yang berani menolak bantuannya. Bahkan Knight seperti Siegfir.
"Te-tentu tidak, nyonya Lia. Kami justru bisa menang berkat bantuanmu. Justru kami merasa malu karena istri tuan Leon repot repot membantu kami."
Wanita itu bernama Lia Allein Fortisillein. Istri dari paladin terkuat di kekaisaran Houou. Tak seperti Leon yang terjun langsung ke pemerintahan dan militer, Lia berstatus warga sipil. Namun Lia juga merupakan penyihir peringkat Master, jadi kekuatannya tak diragukan lagi.
Sayangnya, dia memiliki kebiasaan buruk. Dan kebiasaan buruk itu sudah terkenal ke seluruh kekaisaran.
Mungkin hal ini dikarenakan dia berasal dari rakyat jelata dan mantan petualang. Jadi dia sama sekali tak begitu peduli dengan aturan rumit.
"Ah.. sama sama, tapi tolong jangan beritahu Leon. Dia akan marah jika tahu aku membantu kalian, dan kalian pasti juga kena akibatnya. Bisakah kalian melakukannya?"
Meskipun Lia meminta dengan senyuman, namun Siegfir merasakan tekanan besar dan menakutkan. Anehnya, rasa takut itu bukan karena dia tahu Lia merupakan penyihir peringkat master.
Siegfir melirik ke arah bawahannya yang berada di atas atap bangunan untuk meminta pertolongan, namun kesepuluh bawahannya hanya memberikan tatapan iba.
"Te-tentu, aku bisa melakukannya. Apalagi itu permintaan anda, jadi akan aku lakukan dengan baik. Tapi kalau boleh tahu kenapa anda di sini?"
"Aku hanya sedang belanja." Jawab Lia dengan santai. "Namun karena mereka, toko langgananku tutup. Oh iya, apa kau melihat ibuku? Dia menghilang saat terjadi penyerangan?"
Siegfir terkejut dan kecewa saat tahu alasan Lia membantu mereka hanya karena alasan jengkel, namun ini memang kebiasaan Lia dari dulu.
"Ti-Tidak, kami tak tahu keberadaan nyonya besar Scarlet, tapi aku bisa memerintahkan bawahanku untuk melakukan pencarian jika anda mau."
"Ah tidak. Tidak perlu, ..ibu memang suka menghilang, jadi ini bukan yang pertama kalinya. Daripada memikirkan ibuku, sebaiknya kau melakukan hal yang lebih penting."
Siegfir ingat kalau anak buahnya ada yang terluka parah dan harus segera mengalami perawatan. Dia juga harus mengurus mayat anak buahnya. Setelah itu dia harus memberikan laporan dan masih banyak lagi. Bisa dibilang dia akan sangat sibuk.
Kemudian dia mendengar kalau bantuan telah tiba. Meskipun terlambat, namun Siegfir tak bisa protes.
"....terima kasih atas pengertiannya, nyonya Lia. Dan sekali lagi terima kasih karena membantu kami."
"Tidak tidak. Asal kau melakukan apa yang kuminta itu sudah cukup. Sekarang aku mau pamit karena aku harus mencari ibu."
Lia lalu berbalik arah dan pergi.
Siegfir lalu kembali fokus dengan masalahnya. Anak buahnya yang mengalami luka langsung dirawat dengan sihir penyembuh untuk pertolongan pertama. Sedangkan mayat bawahannya yang mati secara mengenaskan dibawa untuk segera dimakamkan.
Dia sedih karena kehilangan salah satu bawahannya, namun sebagai Knight, kematian selalu dekat dengan mereka. Jika takut mati, itu hal yang wajar. Namun bagaimana cara mati itu adalah suatu yang harus seorang pilih.
"..."
Siegfir mengambil kristal ungu yang tergeletak di jalan. Berhadapan dengan penyihir mungkin suatu yang biasa bagi Siegfir, namun kali ini mereka berhadapan dengan Homunculus.
Manusia buatan. Hanya boneka.
Disaat yang sama dia mengingat kembali insiden yang terjadi beberapa tahun ini. Semuanya berbeda, namun memiliki satu kesamaan. Sebagian besar, insiden itu dilakukan oleh orang biasa.
Dia tak tahu apakah Homunculus yang mereka lawan merupakan cara baru yang dilakukan musuh, namun itu tak mengubah fakta kalau musuh telah menimbulkan kekacauan sehingga mengganggu kehidupan yang damai. Itulah yang tak bisa Siegfir maafkan.
Saat memikirkan itu, dia teringat dengan pemuda bertopeng putih. Namun saat melihat ke sekeliling, pemuda itu sudah tak ada.
"...."
Dia tak tahu apa yang sebenarnya musuh inginkan, namun dia tahu ini hanyalah sebuah awal.
Dan untuk alasan tertentu, pemuda itu menjadi pusat dari masalah yang akan segera terjadi.
💠💠💠
Dua kilometer dari lokasi insiden, seorang pemuda bertopeng berjalan di antara kerumunan. Pakaian mewahnya yang terkena cipratan darah hampir di sebagian tempat membuat orang penasaran apa yang terjadi dengannya.
Meskipun terjadi kekacauan di wilayah lain, namun masyarakat di sekitar Kuro masih melakukan aktivitas seperti biasa. Bukan karena mereka tak takut, namun karena kekacauan hampir setiap hari terjadi di ibukota. Sebagian besar sudah terbiasa dengan hal ini.
Tak ada tempat yang benar benar aman di dunia. Itulah kenyataannya. Meskipun ibukota merupakan tempat berkumpul penyihir kuat, bahkan ada yang terkuat, namun disaat yang sama jumlah penjahat juga banyak. Dan meskipun saat memasuki ibukota diperiksa dengan ketat, namun itu sama sekali tak mengurangi kekacauan atau kejahatan.
Kuro masuk ke salah satu toko pakaian. Dia menuju resepsionis dan meminta pakaian ganti dan sekaligus meminta izin untuk menggunakan kamar mandi.
Setelah tubuhnya bersih dari noda darah, dia berganti pakaian dengan yang sudah dia pesan atau beli.
Pakaian yang dia beli adalah celana panjang, kaos dan jaket. Namun saat memakainya, jaket yang disediakan berwarna .....pink.
"....apa kau bercanda denganku?"
Dia melirik ke sekelilling. Ada pelanggan lain yang belanja di toko itu, namun anehnya dia hanya menemukan satu orang wanita.
Wanita cantik berambut pirang seperti Laila, namun dari segi tinggi badan, wanita itu lebih pendek dan memancarkan aura dewasa.
Kuro sadar ada yang aneh dengan wanita itu. Dari aura yang terpancar, bisa dipastikan kalau wanita itu adalah penyihir. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah wanita itu musuh atau bukan?
Bagaimanapun juga Kuro baru saja diserang, jadi kemungkinan itu ada.
"Ini jaket yang anda minta, tuan Akashi. Sekali lagi maafkan kecerobohan kami."
Kuro menerima jaket dan langsung mengenakannya.
"Tidak apa apa, aku tak terlalu memikirkannya. Kalau begitu aku permisi dulu."
Kuro melangkahkan kakinya dan pergi.
Saat Kuro pergi, sang penjaga toko menunduk untuk meminta maaf sekaligus mengantar Kuro pergi.
Setelah keluar, Kuro melanjutkan perjalanannya. Dia melompat ke atap dan melompat ke atap lainnya seperti ninja. Dia melakukannya bukan karena lebih cepat, namun untuk berjaga jaga jika ada musuh yang menyerangnya sekali lagi.
(Musuh sepertinya tahu siapa aku. Ini buruk, tapi tak apalah..)
Hanya sebagian orang saja yang tahu tentang Akashi dan Kuro adalah orang yang sama. Selain itu Kuro juga tak terlalu merahasiakan identitasnya, jadi wajar jika musuh mengetahuinya.
Masalahnya, jika musuh tahu siapa dirinya, itu membuat dia sulit mendekati musuh. Rencana untuk menggunakan koneksi Akashi kini gagal.
Tapi Kuro bukanlah orang yang akan putus asa hanya karena satu cara gagal. Jika gagal, gunakan cara lain. Dan jika kehabisan akal, cukup membuat yang baru.
Kuro mengambil ponselnya untuk menghubungi Guila.
"[Apa yang bisa kubantu, Master, tidak, Shiro... fuf ufu..]"
Kuro hanya bisa mendesah kecil. Hubungan yang dia miliki dengan Guila bukan hanya tuan dan pelayan, namun lebih dari itu. Jika mengingat kembali bagaimana proses hubungan mereka, Kuro akan langsung tersenyum miris.
"Asal kau tak memanggilku seperti itu di depan Istriku, aku tak akan mempermasalahkannya."
"[Fufu... entahlah.. mungkin aku akan melakukannya.]"
"Saat ini aku tak punya waktu untuk bercanda. Musuh sudah tahu siapa diriku yang sebenarnya, jadi kita akan melakukan rencana C. Bisakah aku mengandalkanmu?"
"[Dengan senang hati, kami akan melaksanakan perintahmu, namun jangan lupa dengan hadiah kami jika kami melakukannya dengan baik. Fuf ufu..]"
Kuro mendesah lagi. Imbalan yang Guila minta bukanla hal sulit, namun itu sedikit membuat Kuro terganggu.
"Baiklah, bukankah itu seperti biasa. Oh iya, bisakah kau meminta Tula untuk menyelidiki sesuatu?"
"[Tula? Mungkinkah ada suatu yang mengganggu Shiro?]"
"Sedikit. Jika berhadapan dengan penyihir itu bukan masalah, namun aku diserang oleh Homunculus."
"[.....Homunculus..?]"
"Kau pasti mengerti apa yang kumaksud kan?"
"[...aku akan segera meminta Tula melakukannya, Shiro]"
"Terima kasih.."
Kuro memutus panggilannya dan dia langsung berganti arah. Jika menemui Benyamin sebagai Akashi percuma, maka dia tak perlu menemuinya.
Kuro bersiul dan terus melompat dari atap ke atap. Setelah beberapa menit, sosok bayangan lewat di atas langit ibukota. Sosok bayangan itu berasal dari naga merah berukuran 5 meter. Itu adalah Rubya, naga yang datang ke ibukota bersama Yui.
Kuro melompat tinggi ke atas dan mendarat tepat ke atas Rubya. Rubya meraung kecil tanda senang karena sudah lama Kuro tak menungganginya.
"Rubya, kita akan ke barat. Aku mengandalkanmu kali ini..."
💠💠💠
Disaat yang sama, Laila masih mencari petunjuk mengenai ritual sihir skala besar yang akan segera terjadi. Puluhan buku berserakan di meja, namun tak ada satupun yang bisa memberikan jawaban.
Rasa lelah dan kantuk mulai menyerang. Bagaimanapun juga pekerjaan membosankan seperti itu lebih cocok dilakukan Kuro.
"Kak Laila, bagaimana kalau kita beristirahat sebentar?"
Yui menaruh setumpuk buku di meja lalu duduk di samping Laila.
__ADS_1
"Tapi kita tak punya banyak waktu. Kau tahu pentingnya apa yang kita lakukan ini kan?"
"Ya, tapi beristirahat juga penting. Mungkin kau tak tahu, namun wajahmu sangat menyeramkan saat ini."
"..eh?"
"Kau terlalu berusaha,. Bukankah kak Kuro pernah memberi tahumu istrirahat juga suatu yang penting. Ingat, kau saat ini berbeda dengan biasanya, jadi kau harus lebih menjaga kondisimu."
Laila mendesah.
"Baiklah, kau mulai seperti Kuro. Jujur saja aku tak kuat jika harus berhadapan dengan kalian berdua, aku bisa gila."
"He he.. aku tahu mengerti apa yang kau maksud."
Keduanya berhenti membaca dan menuju kantin yang berada di bagian terpisah. Mereka juga makan siang untuk mengisi kembali tenaga dan pikiran yang sempat terkuras. Saat makan, tentu mereka membahas orang tercinta mereka, Kuro.
Setelah cukup beristirahat, mereka kembali melanjutkan pencarian mereka, namun mereka belum menemukan satupun petunjuk.
"Haa... tak ada gunanya. Apa ritual sihir itu benar benar ada?"
Yui menaruh pipinya di meja dengan ekspresi lelah. Itu wajar karena mereka sudah mencari selama 6 jam dan lebih dari 100 buku mereka buka, namun hasil mereka masih nihil.
"Jika musuh berniat menggunakanya, itu berarti ada. Jika kita tak menemukan satu petunjuk, itu berarti di tempat ini memang tak ada petunjuk atau..."
"...kita mencari petunjuk di tempat yang salah?" lanjut Yui.
Yui dan Laila menatap satu sama lain dan mengangguk dengan kompak. Saat ini mereka memiliki pemikiran yang sama.
Dengan cepat mereka mengembalikan buku yang mereka baca ke tempat semula. Setelah itu, mereka pergi menuju ke bagian yang berbeda. Tempat itu berada di lantai 3, jadi mereka harus naik.
Karena tak boleh berisik, mereka berjalan dengan cepat, namun berusaha mungkin agar tak mengganggu pengunjung lain.
Tak berapa lama kemudian mereka sampai. Jika bagian sebelumnya berisi tentang ritual sihir, rak di depan mereka merupakan buku yang berisi tentang sejarah. Sejarah yang terjadi selama 400 tahun atau lebih lama lagi terekam dalam bentuk tulisan yang berada di atas kertas.
Tanpa ragu mereka mulai mencari buku dan setelah menemukan buku yang memiliki kemiripan dengan apa yang mereka cari, buku itu mereka ambil dan dibawa ke tempat membaca.
Untuk menghemat waktu, Laila bertugas membaca sedangkan Yui mencari buku di ratusan rak yang ada. Jika mereka memiliki bawahan, mungkin pekerjaan mereka akan lebih cepat, namun ini bukan saatnya untuk memikirkan hal itu.
Dan setelah membuka dan membaca beberapa buku...-
"...Yui, aku menemukan sesuatu."
Yui lalu mendekat ikut melihat apa yang Laila temukan.
Halaman buku yang penuh dengan tulisan kecil. Tak ada tanda atau simbol yang mirip dengan ritual sihir, namun ada konten yang memuat tentang kejadian yang terjadi dua ratus tahun yang lalu. Kejadian itu terjadi pada saat Ringblood Moon seperti saat ini.
[Malam merah darah. Malam yang menakutkan dan sekaligus indah. Namun keindahannya bagaikan dewa kematian yang menggunakan wujud malaikat. Malam ini malam saat dua dunia saling terhubung oleh seutas benang tipis. Ketika seorang mencoba menarik benang itu, langitpun terbelah menunjukkan merah darah yang berasal dari neraka.]
Setelah membaca itu, komentar Yui adalah-
"Malam merah darah tak diragukan lagi Ringblood Moon. Untuk dua dunia yang saling terhubung aku rasa maksudnya adalah gerbang dimensi. Untuk kata selanjutnya, entah mengapa aku merasakan suatu tak enak."
Laila mengangguk.
"Aku menemukan banyak paragraf yang sama di buku lainya. Awalnya aku berpikir karena buku sejarah sebagian besar memiliki kesamaan, namun entah mengapa kalau aku merasa ada sesuatu yang tersembunyi."
"...kak Laila, bisakah kau membuka halaman selanjutnya?"
Laila melakukannya. Hanya ada tulisan kecil dan membuat mata perih, namun bagi Laila bukan itu yang membuatnya tak ingin melanjutkan membaca.
"Semuanya sebagian besar sama dengan buku sejarah yang biasa kubaca. Tak ada banyak hal yang tertulis mengenai Ringblood Moon apalagi semacam ritual sihir."
"Mungkin karena ritual sihir itu sangat berbahaya jika disalah gunakan, maka ritual sihir itu dihapus dan terlarang. Kurasa kita tak akan menemukan petunjuk apapun di buku sejarah biasa."
"..."
Yui benar. Mungkin ada ribuan buku sejarah di perpustakaan itu, tetapi belum tentu buku yang mereka cari ada di salah satunya. Dengan kata lain, usaha mereka sia sia.
Tidak. Hanya karena mengetahui itu bukan berarti mereka sia sia.
Ada alasan kenapa Kuro menyuruh mereka berdua ke perpustakaan Aste. Jika mereka hanya perlu menemukan petunjuk mengenai ritual, maka seharusnya Kuro menyuruh sebagian besar pelayan di rumah untuk membantu mereka. Dengan kata lain, meskipun tanpa bantuan pelayan, Kuro tahu Laila dan Yui akan menemukannya.
"...Aku akan mencari buku lain terlebih dahulu."
Laila berdiri dari bangku. Dan entah mengapa dia tersenyum senang.
"Mungkinkah kau menemukan petunjuk?"
"Entahlah, namun seharusnya aku sudah tahu kalau Kuro bukanlah orang yang melakukan, atau memberikan sebuah petunjuk secara langsung. Yui, tolong gantikan aku sebentar."
Yui tak tahu apa yang dipikirkan Laila, namun jika itu membuat mereka selangkah lebih maju, maka Yui tak akan mencegahnya.
"Kau bisa mengandalkanku."
Laila pergi menuju rak buku. Dia melihat ke sekeliling. Buku tebal, tua, bahkan baru ada di rak dan tertata rapi.
Dia mengambil secara acak dan membukanya. Buku yang dia ambil tak ada hubungannya dengan sejarah yang dia cari, namun ada yang menarik perhatiannya.
Buku itu berisi tentang hancurnya kota yang bernama Limphis. 50 tahun yang lalu, kota itu menjadi lokasi pertempuran akibat serangan negara tetangga.
Musuh tiba tiba muncul menggunakan sihir teleportasi. Karena kedatangan tiba tiba dan tanpa adanya persiapan, maka korban jumlah besar tak terhindarkan. Kota Limphis akhirnya jatuh ke tangan musuh.
Tapi suatu hari kota itu lenyap karena semacam serangan sihir skala besar yang hanya dimiliki oleh penyihir tingkat Paladin. Pasukan musuh semuanya musnah bersamaan dengan para penduduk yang masih bertahan di kota Limphis.
Setelah itu, musuh mundur dan perang pun selesai.
"...."
Laila mendesah lalu mengembalikan buku ke tempatnya.
Dia tak pernah menyangka hal seperti itu pernah terjadi di kekaisaran. Tapi setelah membaca buku itu, entah mengapa tak ada perasaan iba atau perasaan semacamnya.
Ini bukan karena Laila tak kenal rasa belas kasih, namun di dalam ingatannya dia pernah melihat hal yang lebih buruk dan menyeramkan. Kematian bukanlah hal aneh bagi Laila.
Bahkan saat dia membunuh untuk pertama kalinya, perasaannya begitu tenang. Dia menganggap kematian adalah hal yang terjadi pada setiap manusia dan makhluk hidup. Tak ada yang perlu ditakuti, namun bagaimana seseorang mati adalah yang terpenting.
Mati karena melindungi sesuatu, mati karena menyerang dan berniat melakukan kejahatan lainnya namun gagal. Mati karena penyakit dan lainnya hanyalah sebuah jalan seseorang menuju kematian.
Tapi Laila tak punya waktu memikirkan hal itu.
(Kejadian ini mirip saat mencari Grimoire of Dragon. Tapi saat ini Kuro hanya memberi tahu untuk kemari.)
Dulu Laila diberi tahu untuk meminta pada Diana dan diberi botol kecil yang berisi darah Kuro. Berkat itu Laila dan lainnya bisa menemukan Grimoire of Dragon. Meskipun pada kenyataannya buku itu adalah umpan, namun itu menjadi pengalaman yang berharga.
Dan disaat itulah Laila tahu kenapa Kuro mampu memberikan perintah tak masuk akal. Itu karena-
(Dia percaya aku bisa melakukannya, namun jika dibandingkan dengan dulu....-)
Kamar Diana seperti perpustakaan kecil dan hanya ada puluhan rak buku, namun sekarang dia berada di perpustakaan terbesar di negara terbesar di dunia.
"Aha ha.. ini bukan suatu yang lucu."
Tapi bukan berarti dia menyerah. tak ada alasan untuk menyerah.
"Jika dugaanku benar... Kuro pasti tahu aku bisa menemukannya, tetapi... bagaimana caraku menemukan buku yang Kuro maksud?"
Sambil menaruh tangannya di dagu, dia berjalan mengelilingi rak buku tanpa arah yang jelas. Karena capek dan tak ingin pusing, dia mengambil buku secara acak sekali lagi.
Dia tak terlalu memperhatikan sampul atau judul buku dan langsung saja membukanya.
Tapi saat membuka lembaran pertama, yang dia temukan adalah sebuah pertanyaan.
"Hm?"
[Apa yang ingin kau ketahui?]
Laila tersenyum kecil.
"Yang ingin aku ketahui bukanlah kebenaran atau kepalsuan. Yang ingin kuketahui adalah jawaban. Tak peduli apakah itu suatu kebenaran atau suatu kebohongan."
Laila membuka lembaran selanjutnya. Yang dia lihat adalah pertanyaan lainnya.
[Setelah mendapatkan jawaban, apa yang kau lakukan?]
"Aku tak akan melakukan apapun. Jawaban adalah sebuah hasil dari pertanyaan. Jawaban itu akan berubah seiring berjalannya waktu dan siapa yang menjawab. Mendapatkan jawaban bukan berarti harus melakukan sesuatu. Ada kalanya seseorang harus diam dan mengawasi, namun seseorang juga harus tahu kapan bertindak atau melakukan sesuatu."
Laila membuka lembaran selanjutnya. Kali ini pertanyaan tak muncul dan isi sebenarnya terlihat.
Namun disaat itulah dia sadar suatu yang aneh.
(Kenapa aku menjawab pertanyaan aneh tadi? Hmm... entahlah... )
Setelah itu, diapun mulai membaca.
__ADS_1