Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Meeting Again


__ADS_3

Keesokan harinya kapal udara yang Laila dan lainnya naiki mulai memasuki wilayah kota Gehenna. Dari jendela mereka bisa melihat pulau melayang Avalon dan juga kota megah dibangun tak jauh dari sebuah kawah besar.


Sama seperti legenda asal muasal pulau melayang, kawan besar itu adalah salah satu bukti kalau dulu pulau melayang Avalon merupakan bagian dari daratan.


Kota Gehenna sendiri merupakan kota atraksi turis. Selain wisata utama berupa pulau melayang, kota Gehenna lebih terkenal karena kota ini memiliki sumber air panas.


Sumber air panas sendiri berasal dari gunung berapi yang berdiri kokoh cukup jauh dari kota Gehenna. Meskipun masih aktif, tapi gunung berapi itu sudah 600 tahun tak meletus.


"Jika dilihat dari atas, kota itu benar benar indah. Aku menyesal hanya datang sekilas saja."


"Mau bagaimana lagi, kita hanya datang untuk mendaftarkan diri. Akan berbeda jika sejak awal bertujuan untuk wisata. Oh.. Lic, tolong jaga Riku agar pergi sendirian."


Lic hanya mengangguk dan memegang tangan Riku. Riku sekarang sudah bisa berjalan tanpa bantuan orang lain. Anak anak benar benar cepat tumbuh.


"Kau ada benarnya. Hm.. Kalau begitu, bukankah lebih baik kalau kita menunggu di kota ini saja?"


"Itu bukan pilihan bagus. Kita memang sudah mendaftar, tapi Battle War masih dua minggu lagi. Kita tak tahu apa yang diperbuat lawan kita untuk menghalangi kita hadir."


"Hm..."


"Apa?"


"Aku hanya berpikir bagaimana cara mereka melakukanya? Kau tahu sendiri kan kalau kita memang diperbolehkan menghalangi peserta lain selama tak melanggar kriminal. Apakah itu bisa dilakukan?"


Ruko terdiam sesaat memikirkan kembali apa yang Laila katakan. Memang jika dilihat secara logika, menghalangi peserta lain merupakan pilihan yang kurang tepat. Pada ujungnya mereka semua akan bertarung dalam Battle War, kenapa harus repot repot mengambil resiko?


Dalam Battle War sebelumnya, hal yang sama juga jarang sekali terjadi. Ruko mulai berpikir kalau dia hanya terlalu waspada saja.


"Laila, bukan masalah bisa dilakukan atau tidak. Peserta Battle War semuanya merupakan penyihir muda dengan kemampuan abnormal. Karena itulah menghalangi peserta sebelum bertarung adalah cara yang paling ampuh untuk menyingkirkan lawan. Aturan yang melarang cara kriminal adalah salah satu hambatan, tapi juga sebuah ujian karena peserta disuruh membuat sebuah rencana tanpa mengotori tangannya sendiri."


"Ruko, saat kau menjelaskannya dengan wajah serius seperti itu, kau benar benar manis. Kyaa... Kenapa suamiku semanis ini?"


"..."


Ruko mendesah kecil melihat tingkah Laila yang berlebihan. Di saat yang sama dia ingat saat dirinya menjadi mainan para gadis gadis. Tak lupa momen di saat mereka semua hampir kehilangan kendali dan menyerangnya secara seksual. Tampaknya mereka benar benar sudah tak peduli lagi batas jenis kelamin.


Meskipun begitu, Ruko tahu Laila mengerti apa yang dia sampaikan.


Sekitar 30 menit kemudian, kapal udara turun di kota Gehenna. Mereka sudah sampai.


✡️✡️✡️


Sama seperti sebelumnya, kelompok Laila bergabung dengan kelompok Charlmilia. Saat mereka turun, mereka menjadi pusat perhatian orang orang di sekitar mereka.


Tak hanya penduduk lokal, namun juga penumpang yang turun dari kapal udara lain juga melirik ke mereka. Maklum saja, kelompok mereka terdiri dari gadis gadis kelas tinggi yang cantik.


Situasi ini membuat Fila dan Charlmilia merasa percuma saja mereka menyamar. Mereka sebelumnya juga menjadi pusat perhatian, tapi kali ini benar benar berbeda.


Tapi situasi ini dibilang cukup normal. Kota Gehenna yang menjadi atraksi turis memiliki banyak pengunjung dari seluruh negeri. Apalagi saat musim dingin seperti ini banyak orang yang datang karena ingin menikmati pemandian air panas.


Laila cukup terkenal, tapi banyak yang belum melihat dia secara langsung. Selain Laila, keimutan Lic dan Riku juga memberikan daya tarik tersendiri. Tetapi dari semua itu, yang paling menarik perhatian adalah gadis berambut perak yang menyembunyikan wajahnya dengan sebuah topeng.


Penampilan Ruko yang tertutup membuat dia berkesan misterius. Lalu sebuah pesona yang tak bisa dijelaskan oleh logika dikeluarkan olehnya. Semua berpikir jika dia membuka topengnya, dia pasti seorang malaikat.


Sayangnya, tak ada yang sadar kalau gadis itu sebenarnya seorang lelaki yang berubah menjadi wanita.


"Nona nona, bisakah kami memeriksa identitas kalian?"


Seperti biasa ada sebuah pengecekan yang dilakukan oleh Knight. Pendaratan kapal udara terletak terpisah dari kota utama. Hal ini bertujuan agar bisa bergerak cepat jika ada seorang penyusup.


"Apakah ini cukup?"


Laila memberikan kartu identitas pelajarnya. Knight yang sadar identitas Laila sebenarnya langsung terkejut dan berubah sikap. Ini wajar karena Laila adalah putri jendral terkuat.


"Maafkan kami, nona Laila. Kami telah tidak sopan pada anda. Apakah mereka bersama dengan anda?"


"Benar. Aku menjamin identitas mereka."


"Kalau begitu silahkan. Dan selamat datang di kota Gehenna."


Laila tersenyum pada Knight yang bisa dibilang ramah.


Tak mengecek identitas bisa dibilang sebagai tindakan ceroboh, tapi pengaruh Leon sangat besar. Ini hanyalah salah satu bukti.


"Laila, terima kasih. Kami hanya bisa merepotkanmu."


"Tidak apa apa. Lagipula ini bukan pertama kalinya aku melakukan ini kan? Atau kau lebih senang jika mereka tahu tuan putri datang ke kota ini?"


Laila pernah melakukan hal serupa, jadi ini bukan masalah besar baginya. Lagipula mereka punya satu orang yang bermasalah dalam identitas diri dan jenis kelamin.


"Jangan lakukan itu."


Penampilan biasa mereka sudah menjadi pusat perhatian. Apa yang terjadi jika tuan putri ternyata ada di kelompok mereka? Karena mereka semua bukan tipe orang yang suka menjadi pusat perhatian, mereka tak ingin membayangkan hal itu.


Setelah melewati gerbang di dinding setinggi 10 meter, mereka akhirnya benar benar memasuki kota. Sebagian besar bangunan merupakan penginapan yang sekaligus merupakan pemandian air panas.


Hal yang pertama mereka lakukan adalah mendaftarkan diri. Tentu yang melakukannya adalah Fila dan Charlmilia.


"Ngomong ngomong di mana tempat itu?"


Mereka berjalan menelusuri kota, tapi tempat yang menunjukan sebagai tempat pendaftaran sama sekali tak terlihat. Karena ini Battle War, kemungkinan besar mencari tahu lokasi juga merupakan sebuah tantangan.


Fila dan Charlmilia sudah berjanji tak bergantung pada Ruko. Jika mereka bertanya tentang lokasi, mereka melanggar janji itu. Tapi mereka tak peduli atau lupa dengan hal itu.


"Tempat itu sebenarnya mudah dilihat. Cukup dengan menelusuri kota ini beberapa menit, aku yakin kalian menemukannya."


"Heeehhh..."


Sebuah jawaban yang mereka harapkan dari Ruko.


Kemudian setelah berjalan beberapa menit lagi, mereka akhirnya menemukannya. Sebuah kantor Knight dengan tulisan 'Tempat Pendaftaran Peserta Battle War' tertulis dengan meriah di dinding. Bisa dibilang ini sangat mencolok.


"...."


"...."


Apakah ini sebuah lelucon? Jika iya, ini sama sekali tidak lucu.


"Kalian berdua tak perlu terkejut. Lokasi Battle War sejak awal memang tak disembunyikan. Memecahkan kode itu atau tidak, kalian akan menemukan tempat ini dari rumor atau dari sumber lainnya."


"Aku dengar hal ini juga bertujuan untuk menarik turis. Karena sudah sampai, kita berpisah di sini." Tambah Laila.


Lalu kenapa tak memberikan lokasi secara normal? Pertanyaan itu terlintas jelas di wajah keduanya.


Tapi seolah tak ada yang peduli, Laila dan lainnya melangkahkan kakinya melanjutkan jalan jalan mereka. Hanya Gemini dan Sagita saja yang masih tinggal.


"Jika kalian ingin menginap, kalian bisa datang ke alamat ini."


Sebelum pergi Ruko memberikan sebuah catatan kecil yang berisikan alamat. Mengingat siapa Ruko, pasti itu alamat salah satu tempat yang dia miliki.


"Kami akan ke sana."

__ADS_1


Charlmilia dan Fila akhirnya berpisah dengan Laila dan lainnya.


Setelah itu mereka masuk ke kantor dan langsung saja disambut oleh Knight. Fila menyampaikan maksud kedatangan mereka. Knight mengangguk kemudian meminta bukti mereka adalah peserta.


Fila dan Charlmilia tak terlalu mengerti, tapi ada satu benda yang muncul dalam pemikiran mereka. Sebuah surat yang mereka terima.


Knight memeriksa surat dan mengkonfirmasi kalau itu asli. Tampaknya surat itu terbuat dari bahan khusus dan ditambahkan sebuah sihir sebagai penanda.


Keduanya lalu dibawa ke sebuah ruangan. Di sana mereka bertemu dengan seorang pria tua dengan jenggot panjang dan memakai topi runcing.


Orang tua itu bernama Roland Grasia. Dia adalah salah satu panitia yang mengurus Battle War.


Awalnya Roland terkejut saat sadar siapa yang datang, tapi dengan cepat dia mengerti kenapa Charlmilia merubah penampilannya.


Setelah itu Charlmilia memberikan surat yang sebagai bukti kalau mereka adalah peserta resmi Battle War.


Roland menerima surat itu dan menaruhnya pada sebuah kristal. Sebuah lingkaran sihir muncul dan kristal bercahaya.


"Dengan ini kalian sudah resmi mendaftar. Setelah ini, aku ingin kalian menyimpan ini sampai Battle War tiba."


Roland memberikan sebuah benda menyerupai bola kristal seukuran bola pingpong. Itu adalah batu sihir dengan kualitas terbaik. Di dalamnya terdapat sebuah formula sihir yang begitu rumit dan bergerak seperti ikan berenang dalam kolam.


"Untuk apa batu sihir ini?"


"Anda pasti sudah mengerti kalau di babak kedua peserta sudah boleh bertarung satu sama lain. Tetapi peserta hanya boleh bertarung melawan peserta yang sudah mendaftarkan diri. Jika peserta menyerang peserta yang belum mendaftar, mereka akan langsung didiskualifikasi. Batu sihir ini adalah sebuah bukti peserta yang sudah mendaftar."


"Eh?"


Mereka tak menahan diri untuk terkejut. Keduanya tahu aturan babak kedua, tapi tak menyangka ada aturan serumit itu.


Tidak. Jika dipikirkan kembali, surat yang memberikan petunjuk lokasi yang tak dirahasiakan sudah termasuk aneh. Dengan kata lain, ada peraturan lain yang kemungkinan tak mereka ketahui tentang babak kedua ini.


"Selain bukti, apa fungsi lain batu sihir ini?" Tanya Fila.


"Kau cukup cerdas karena menyadari hal ini, Nona muda." Roland tersenyum senang. "Seperti yang aku bilang tadi, peserta hanya diperbolehkan menyerang peserta yang sudah terdaftar secara resmi. Pertanyaannya, bagaimana mereka bertarung? Di sinilah fungsi batu sihir itu."


"Bisakah anda menjelaskannya secara lebih rinci?"


"Peserta yang saling bertarung tak boleh melibatkan orang lain atau warga sipil. Untuk itu, peserta resmi yang bertarung harus bertarung di area khusus. Batu sihir itu berfungsi sebagai arena dan juga sekaligus pelindung. Dalam sekolah kalian memiliki arena duel, bisa dibilang kristal itu merupakan arena yang bisa dibawa ke mana mana. Tetapi untuk mengaktifkannya, kedua pihak peserta harus saling setuju untuk bertarung. Jika salah satu menolak, maka kristal tak akan aktif."


Penjelasan yang sederhana, tapi Fila menyadari kalau tak sesederhana itu.


Sadar akan kemungkinan lainnya, Fila tak ingin menyia nyiakan kesempatan untuk bertanya lebih lanjut.


"Apa yang terjadi pada pihak yang kalah?"


"Mereka secara otomatis tersingkir."


Sebuah jawaban yang mudah ditebak.


"Apa saja syarat agar tak tersingkir?"


"Selain tak boleh melakukan kriminal, mereka juga tak boleh kalah. Lalu mereka juga harus hadir dalam babak ketiga. Aku pikir hanya itu yang paling penting. Apakah ada yang ingin nona tanyakan lagi?"


"...Tidak. Aku rasa sudah cukup."


Meskipun Roland mengatakan akan menjawab pertanyaan Fila lagi, tapi Fila mengerti kalau itu adalah sebuah peringatan kalau Roland tak akan menjawab dengan jujur. Dengan kata lain, apa yang Roland jelaskan adalah sebuah pelayanan dari panitia.


Setelah urusan selesai, mereka berpamitan. Keduanya lalu pergi ke alamat yang diberikan Ruko.


"Aku tak tahu apakah kita melakukan kesalahan, tapi apa yang kita lakukan bisa dibilang cukup ceroboh."


Kesalahan terbesar mereka bukan karena mendaftar, tapi karena tak mencari tahu lebih rinci tentang proses babak kedua.


Babak kedua Battle War setiap tahun hampir mirip, tapi akan ada perbedaan peraturan dan prosesnya. Tahun ini juga berbeda karena mengharuskan peserta bertarung menggunakan arena khusus.


"Menantang peserta yang mau bertarung adalah kunci babak kedua ini. Tapi tak menantang juga tak masalah. Kita juga bisa memilih menunggu di kota ini sampai babak ketiga dimulai."


Charlmilia mengangguk tanda memikirkan hal yang sama.


Lalu kota Gehenna juga hanya menjadi tempat pendaftaran. Peserta bisa langsung pulang tanpa harus menantang peserta lain.


"Untuk sekarang, sebelum kita mendapatkan informasi lebih lanjut, kita tak boleh menantang atau menerima tantangan."


"Aku setuju, Fila."


Kemudian mereka pergi menuju alamat yang diberikan Ruko. Seperti yang mereka duga, alamat itu merupakan tempat sebuah penginapan paling mewah di kota Gehenna.


Saat tiba mereka langsung disambut pelayan. Sepertinya Ruko sudah memberitahu terlebih dahulu.


Mereka berempat lalu diajak ke bagian dalam ruangan. Tepatnya salah satu ruangan yang dikhususkan untuk tamu VIP.


"Nona bisa mengganti baju yang ada di lemari. Hidangan akan kami segera siapkan."


Setelah itu pelayan menutup pintu dan pergi.


Mereka semua saling menatap satu sama lain karena tak menyangka akan mendapatkan perlakuan yang begitu mewah. Sekilas penginapan itu tak terlalu berbeda dengan restoran Himawari, tapi penginapan itu lebih luar biasa lagi. Bukan hanya segi bangunan, tapi pelayanan.


Fila mengecek isi lemari. Dia menemukan semacam kasur dan juga pakaian dengan desain yang tak biasa dia lihat.


"Aku penasaran sebenarnya Ruko berasal dari negara mana?"


Tak ada yang menjawab pertanyaan itu. Tetapi mereka semua memiliki pemikiran yang sama tentang Ruko.


Dia terlalu misterius.


Dari mana asalnya? Siapa sebenarnya dirinya? Apakah dia hanya seorang King yang muncul dan akan menghilang? Atau lebih dari itu?


Pertanyaan itu sulit terjawab. Bukan karena tak ada jawabannya, tapi setiap kali mereka mendekati jawabannya, jawaban itu seolah menjauh.


"Entahlah.. mungkin saja Ruko meniru budaya negara yang pernah dia kunjungi. Apakah kalian tahu sesuatu?"


"Maaf, putri Charlmilia. Kami tak pernah berpikir ini suatu yang aneh karena bangunan dengan gaya seperti ini cukup mudah ditemukan di kekaisaran."


"Hanya saja, jika menyelidiki asal budaya negeri mana, kami sama sekali tak mengetahuinya." Tambah Gemini.


Pada akhirnya mereka memutuskan untuk tak terlalu peduli. Tentu ini bisa menjadi salah satu petunjuk, tapi mereka tak yakin ini berpengaruh pada tujuan mereka.


Setelah berganti pakaian, tak berapa lama kemudian pelayan datang dengan membawa hidangan.


Hidangan bisa dibilang mirip dengan apa yang disajikan di restoran Himawari. Hidangan begitu nikmat karena disajikan di ruangan hangat.


Selesai makan, pelayan memberitahu kalau Laila dan Ruko sudah menunggu mereka di ruangan lain. Atau lebih tepatnya fasilitas lain.


Sekali lagi mereka diantar oleh pelayan. Tujuan mereka adalah bangunan yang berada di bagian terpisah dari bangunan utama.


Saat tiba, mereka disambut oleh Laila. Dia memakai pakaian yang sama dengan mereka. Lalu rambutnya diikat dan memakai hiasan rambut berbentuk bunga yang begitu indah.


Aura dewasa yang begitu terasa membuat mereka tercengang dan sekali lagi menyadarkan perbedaan mereka dengan Laila.


"Apa kalian puas dengan pelayanannya?"

__ADS_1


"Y-ya.. kami sangat puas."


"Begitu. Aku senang mendengarnya. Silahkan masuk."


Mereka masuk ruangan. Sekilas tak jauh berbeda dengan ruangan yang mereka tempati, tapi suasana kekeluargaan begitu terasa.


Mereka kemudian duduk di lantai tatami dengan posisi seiza. Fila dan lainnya hanya mengikuti posisi duduk Laila saja.


Posisi duduk yang tak biasa itu bisa menjadi masalah, tapi untuk sekarang mereka akan melakukannya.


"Di mana Ruko?"


"Dia bermain dengan Riku dan Lic di ruangan lain. Diriku saja sudah cukup."


Atmosfer menjadi berat. Ini waktunya serius.


"Karena kalian sudah mendaftar, aku yakin kalian sudah membuat keputusan tentang apa yang akan kalian lakukan di babak kedua ini."


"Kau juga sama dengan kami kan?"


Laila mengangguk membenarkan.


"Benar. Dalam Battle War tahun ini, aku ingin menjadi juara apapun yang terjadi. Selain karena aku tak ingin sekolah ditutup, aku juga tak ingin Ku-Ruko bertunangan dengan Riana-chan dengan alasan hadiah. Jika bisa, Riana-chan harus berkompetisi seperti kalian."


Keduanya hanya bisa tertawa kecut.


"Akhirnya aku memutuskan, daripada bertarung nanti, bukanlah lebih cepat lebih baik?"


Tatapan Laila menjadi tajam dan aura yang dikeluarkan lebih menekan.


Mereka semua tahu apa yang ingin Laila katakan selanjutnya.


"Apakah kalian mau bertarung dengan kami?"


✡️✡️✡️


Sementara itu, Ku-Ruko yang bermain dengan Lic dan Riku kewalahan oleh tingkah Riku yang semakin lincah. Lic ikut membantu dengan mainan sederhana seperti bola yang terbuat dari bahan yang sama dengan boneka. Riku bermain, tapi dengan cepat bosan.


Meskipun Riku bukanlah tipe anak kecil yang mudah menangis, tapi apa yang dia rasakan mudah terlihat dari ekspresinya.


"Pa-Mama, bagaimana kalau kita ajak Riku jalan jalan? Dia terlihat bosan."


"Lic, jangan paksakan dirimu memanggilku mama. Aku adalah lelaki. Yah.. tapi aku setuju denganmu. Riku sudah bosan, padahal kita baru tiba di sini beberapa jam."


Riku anak yang pintar, lucu, dan menggemaskan. Wajahnya berasal dari Laila sedangkan auranya berasal dari Ruko. Sifat sifat lain seperti kesukaan dan tingkah laku benar benar mirip dengan keduanya. Terutama bagian Riku menyukai dada besar.


Dari semua itu, yang paling mencolok adalah Riku mudah bosan dan sangat ingin tahu dengan apa yang ada sekitarnya. Setelah merasa cukup tahu, dia akan bosan seperti sekarang ini.


Mengajak Riku jalan jalan untuk melihat sekitar adalah cara yang paling ampuh. Lagipula mereka baru tiba di kota Gehenna. Ada banyak tempat yang bisa mereka kunjungi. Lalu mengingat waktu masih siang hari, jalan jalan bukanlah ide yang buruk.


"Baiklah. Apa kita harus mengajak Laila?"


"Umm.. aku sudah bertanya pada mama melalui telepati. Dia bilang akan menyusul setelah urusannya selesai."


Ruko langsung merasa tak nyaman setelah mendengar itu. Dia tahu apa yang Laila coba lakukan, tapi bertarung bukanlah prioritas utama saat ini. Tentu bukan berarti dia tak siap bertarung.


Akhirnya Ruko memutuskan untuk tak begitu memikirkannya. Dia akan mengikuti apa yang Laila putuskan.


Kemudian Ruko, Lic dan Riku keluar dari penginapan menggunakan pintu belakang. Bangunan yang mereka tempati merupakan bangunan pribadi yang Ruko gunakan saat dia libur.


Sebelum pergi mereka berganti baju dengan pakaian hangat. Untuk Ruko, dia memakai topeng agar tak terlalu menarik perhatian orang lain. Akan gawat jika dia diserang oleh orang lewat.


Setelah keluar, Riku menjadi lebih ceria. Dia dengan cepat berjalan di jalanan yang penuh dengan salju. Meskipun tingkat hujan salju di kota Gehenna terbilang cukup tinggi, salju yang menghujani kota terbilang rendah. Hal ini berkat pelindung kota yang berfungsi melindungi dari monster dan juga berfungsi sebagai penyaring salju.


Cara kerja perisai cukup sederhana, yaitu melelehkan salju yang turun secara berlebihan. Pelindung dengan dua fungsi seperti ini banyak menggunakan energi, karena itulah pelindung jenis ini jarang digunakan di kota besar. Untuk kota Gehenna sendiri, kota ini spesial karena menjadi daya tarik turis.


"Riku, hati hati jalanan licin. Kau bisa terjatuh."


Seolah tak peduli dengan peringatan Ruko, Riku terus berlarian di tengah jalan. Orang orang di sekitar mereka tersenyum senang saat melihat tingkah Riku. Mereka berpikir kalau Riku anak yang lucu.


Tapi peringatan Ruko bukan tanpa alasan. Jalanan licin karena es. Bagi anak yang belum bisa berjalan lancar, ini cukup berbahaya. Dan kemudian hal yang bisa didugapun terjadi.


Riku terjatuh dengan kepala membentur jalan. Ruko dengan cepat berusaha membantunya berdiri, tapi dia berhenti.


Ada orang lain yang terlebih dulu melakukannya. Dan itu bukan Lic.


"Apakah kau baik baik saja?"


Riku bukanlah anak cengeng. Benturan di kepala cukup keras dan sakit. Tapi itu tak cukup membuatnya menangis.


Tetapi Riku berhenti bergerak dan terbengong terus menatap orang yang membantunya. Dia seolah terpesona.


Tak hanya Riku, Ruko juga tak bergerak. Tapi dengan alasan yang berbeda. Dia tak bergerak karena terkejut.


Dia belum lama mendengar kalau orang itu kemungkinan masih hidup dan mengikuti Battle War. Dengan tinggal di kota Gehenna, ada kemungkinan kalau dia akan bertemu dengannya.


Tetapi Ruko tak menyangka akan secepat ini.


"Arisa, dia sungguh lucu. Hey.. apakah kau ibunya?"


"...."


Ruko tak menjawab. Dia mematung seperti sebuah boneka yang benangnya terputus. Sebagai gantinya Lic datang dan memegang Riku.


"Terima kasih telah membantu Riku, kakak. Riku, jangan lakukan itu lagi karena berbahaya. Apa kau mau dimarahi mama?"


"Umu.."


Merasa bersalah, Riku menundukan kepalanya. Dia benar benar pintar.


Kedua gadis yang membantunya hanya tersenyum kecil melihat tingkah dua saudara itu. Lalu akhirnya mereka fokus pada Ruko.


Kedua mata mereka bertemu.


"Kau ibunya? Kau sungguh beruntung memiliki anak selucu dia. Jika punya anak nanti, aku ingin seperti Riku."


"..."


Sebuah senyuman yang begitu tulus dan murni. Rambut hitam segelap malam dan matanya yang seperti kegelapan abadi, tapi matanya memancarkan kelembutan yang begitu hangat.


Wajahnya, suaranya, lekuk tubuhnya dan kepribadiannya. Semua itu sama sekali tak berubah.


Dia masih sama seperti saat terakhir Ruko bertemu dengannya.


"Ah.. maaf, mungkinkah kami salah? Meskipun kau memakai topeng, aku tahu kau masih muda. Mungkinkah kau sebenarnya kakak mereka berdua?"


Ruko tak bisa menjawab. Kepalanya saat ini kosong dan penuh dengan kebingungan.


Tetapi dari semua itu, satu hal yang pasti. Sebuah pertanyaan muncul di kepalanya


Sejak kapan kau ada di dunia ini?

__ADS_1


__ADS_2