Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Miracle


__ADS_3

Selesai mandi, Laila dan lainnya pindah ke ruang santai. Di sana Merlin bergabung dengan ekspresi begitu tenang seolah meleleh.


Pada akhirnya tak ada yang mencoba mengganggunya dan membiarkan dia beristirahat di sofa. Semua memaklumi kalau dia masih kecil.


Untuk anak kecil lainnya, Riku juga tidur lelap setelah Laila memberikannya susu. Di saat inilah Mitra melihat Laila benar benar menjadi orang tua.


Lic berada di ruangan lain untuk belajar. Ruko dan Laila berencana memasukan Lic ke dalam sekolah sihir yang sama dengan Clara. Karena Lic seorang spirit, situasi ini cukup unik dan membuat keduanya berpikir keras apa yang harus mereka lakukan.


Tetapi jika tak ada jalan, Ruko berencana menggunakan koneksinya. Di saat situasi seperti inilah Ruko benar benar terlihat menggunakan otoritasnya.


Mengabaikan masalah itu, saat ini yang ada hanyalah Laila, Charlmilia, Fila dan terakhir Mitra.


"Kau benar benar menjadi seorang ibu. Awalnya aku kawatir, tapi sepertinya itu tak diperlukan."


"Aku terus belajar menjadi ibu yang baik. Kalau tak salah kau memiliki banyak saudara sehingga kau memiliki banyak pengalaman merawat anak kecil."


"Begitulah. Aku tak kalah darimu untuk mengurus anak."


"Tapi kau kalah dalam urusan membuat anak."


"Ugh!! Untung aku belum minum teh. Kenapa kau mengatakan hal aneh secara tiba tiba, Fila? Aku pikir di sini hanya Laila saja yang sudah tak perawan lagi."


"Kalau masalah itu, siapa yang tahu fufu.."


Fila tersenyum kecil dengan penuh misteri.


Sadar apa yang dimaksud Fila, wajah Mitra langsung memerah padam karena membayangkan apa yang terjadi di antara mereka.


Dia pernah mendengar kalau suami Laila adalah seorang yang akan merayu wanita kemanapun dia pergi. Jika hubungan seperti itu terjalin di antara mereka, ini bukan suatu yang mustahil.


"Fila, sifat burukmu kambuh lagi. Kenapa kau tak pernah berhenti menjahili orang lain?"


"Ekspresinya saat terkejut sungguh menyenangkan. Aku tak tahan jika tak melakukannya."


"Hey!!!"


Mitra protes, sedangkan Laila hanya tersenyum kecil.


Mitra memang tipe orang yang serius, jadi dia memiliki reaksi yang bagus saat dipermainkan. Laila ingat dulu hal seperti ini cukup sering terjadi.


"Oh iya, Mitra. Bagaimana kabar Aleca dan Sella? Aku beberapa kali mengirim surat, tapi mereka sama sekali tak membalasnya."


Laila sebenarnya bisa menggunakan ponsel sihir karena sudah bertukar kontak sebelumnya, tapi mengingat privasi tak terjamin jika menggunakan ponsel sihir, maka mereka memutuskan untuk saling mengirim surat.


Meskipun tak selalu membalas surat Laila, Mitra masih membalas surat Laila. Aleca dan Sella juga membalas surat, tapi hanya di awal.


Laila kawatir dengan keadaan mereka, tapi dia sampai sekarang tak memiliki waktu untuk menemui mereka.


Menggunakan kesempatan Battle War, dia ingin sekali bertemu dengan mereka di kota Gehenna. Dan keputusannya tepat. Dia akhirnya bertemu dengan Mitra. Teman yang sudah dia rindukan.


"Mereka--"


Sayangnya, setelah mendengar cerita dari Mitra, Laila tak punya pilihan selain bersedih.


Mitra dan Merlin kembali ke penginapan mereka setelah makan malam bersama dengan Laila dan lainnya.


Penginapan mereka terletak tak jauh dari penginapan yang ditinggali Laila. Jika dilihat dari segi pelayanan, penginapan yang mereka tinggali kalah jauh dengan penginapan Laila. Meskipun begitu Mitra dan Merlin harus bersyukur karena mereka tak mengeluarkan uang satupun.


"Jujur saja. Kau memiliki teman yang berbahaya."


"Jarang sekali aku mendengar itu dari mulutmu, Merlin. Tapi kau benar, aku harus mengakui kalau Laila lebih berkembang daripada yang aku perkirakan. Dia akan menjadi lawan yang tangguh."


Mitra melihat kerumunan dari beranda, sedangkan Merlin duduk di beranda sambil melihat orang berlalu lalang.


Angin terasa dingin, tapi itu masih dalam batas toleransi.


"Apakah dia memang selalu seperti itu?"


Jarang sekali Merlin tertarik pada orang lain. Tapi Mitra tahu, Merlin mengakui kalau Laila dan temannya kuat meskipun dia hanya melihat sebagian kecil kekuatan mereka.


"Semacam itulah. Dulu saat dia masih bersekolah di Shiryuu Academy, dia adalah salah satu orang yang dikenal sebagai seorang jenius dan di saat yang sama orang yang aneh."


"Aneh?"


"Ya. ..seorang yang terlahir dari orang yang memiliki jabatan tinggi pasti memiliki harga diri yang tinggi pula karena merasa mereka spesial. Tapi Laila berbeda. Dia sama sekali tak memiliki aura itu. Dia bahkan terlihat seperti anak biasa yang bisa ditemukan di manapun."


Merlin paham karena ada banyak contoh di Shiryuu Academy. Tapi yang paling banyak ada di Kinryuu Academy.


"Tapi aku mendengar kalau keluarganya memang tak terlalu memandang perbedaan status. Aku yakin ini adalah salah satu kebiasaan di keluarga mereka."


"Mungkin itu benar. Tapi seperti yang aku bilang tadi, dia tak memiliki aura seorang yang memiliki kekuatan. Apa kau mengerti maksudku?"


Merlin langsung terdiam.


Seperti kebanyakan penyihir lainnya, dia adalah orang yang bisa mengetahui kekuatan orang lain dengan merasakan aura yang dikeluarkan oleh orang tersebut. Tetapi perkataan Mitra barusan mengingatkan dirinya kalau aura yang dia rasakan dari Laila terlalu tenang. Dengan kata lain, normal. Terlalu normal.


"Karena memiliki aura seperti itu, banyak orang yang berusaha menjadi temannya. Tapi seperti yang kau bisa menebak banyak orang yang mendekati Laila karena mereka berusaha membuat koneksi dengan ayah Laila. Aku tak tahu pasti apakah Laila sudah tahu hal itu, namun hal itu membuat Laila tak memiliki banyak teman."


"...Bukankah kau salah satu temannya?"


"Begitulah, tapi kau harus tahu. Karena aku memiliki sifat seperti ini, aku juga tak memiliki banyak teman."


Mitra adalah orang yang egois. Dia bahkan tak peduli dengan orang lain yang bukan menjadi urusannya. Bahkan awalnya dia tak tertarik dengan Laila.


"Tapi entah mengapa kami berempat tiba tiba menjadi sahabat dekat. Mengingat kami memiliki sifat yang saling bertentangan, bukankah hal ini seharusnya mustahil terjadi?"


"...."


Aleca dikenal sebagai seorang anak pembuat onar. Dia bahkan sering mendapatkan hukuman dari guru. Untuk Sella, dia adalah orang yang pendiam dan penyendiri. Dia sering kali berada di perpustakaan.


Mengingat karakter masing masing, menjadi sahabat baik memang tak masuk akal.


"Bagi kami bertiga, persahabatan yang terjalin adalah sebuah keajaiban. Keajaiban yang tak akan terjadi untuk kedua kalinya. Tapi setelah Laila berpisah dengan kami, kami sadar kalau keajaiban itu telah menghilang."


Teman teman Laila kembali ke tempat mereka sebelumnya. Sella kembali menjadi penyendiri, sedangkan Aleca lebih sering melakukan hal yang tak seharusnya.


Hal yang sama juga terjadi pada dirinya. Mitra kembali menjadi seorang yang tak peduli dengan orang lain.


"...Tidak. Aku pikir keajaiban itu tak menghilang. Bukankah karena keajaiban itu sekarang kau berada di sini?"


"!?"


"Aku tak begitu paham apa yang terjadi di antara kalian, tapi jika kalian berpisah, itu artinya kalian sebenarnya berharap Laila akan kembali menyatukan kalian. Aku salah?"

__ADS_1


"..."


"Yah.. aku benci mengatakan hal seperti ini. Tapi aku rasa belum terlambat untuk mempersatukan kalian lagi."


Saat mendengar itu, air mata Mitra menetes. Sudah berapa lama dia tak meneteskan air mata?


"...terima kasih, Merlin."


✡️✡️✡️


Beberapa hari kemudian, kota Gehenna kedatangan 5 kapal udara milik kaisar. Salah satu kapal udara memiliki ukuran dan perlengkapan yang berbeda dari lainnya.


Kapal yang berbeda itu tak hanya membawa kaisar, tapi juga membawa tuan putri Riana, Victoria, dan putri Norn yang pulang dari belajar di luar negeri.


Kapal udara lainnya berisi orang yang tak kalah penting. Ada beberapa jendral, perdana menteri dan juga tamu dari negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan kekaisaran Houou.


Di antara tamu itu, ada tamu dari negara elf. Sang putri elf yang juga dikenal sebagai salah satu dari 21 High Elf.


Penyambutan besar besaran dilakukan. Penduduk kota Gehenna menyambut rombongan kaisar Sei seperti mereka adalah selebriti. Pengamanan ketat dari Imperial Knight dan Holy Knight membuat penduduk hanya bisa melihat dari jauh, tapi itu sudah lebih dari cukup.


Kembang api dinyalakan. Kota Gehenna yang sepi karena terkenal akan musim dinginnya, kini semua itu berubah karena kedatangan rombongan orang paling berkuasa di kekaisaran Houou.


Para rombongan menuju bagian kota yang dikhususkan untuk anggota keluarga kekaisaran dan tamu. Di sepanjang perjalanan, penduduk kota bersorak karena ini adalah pertama kalinya mereka melihat kaisar dan keluarganya secara langsung.


Sayangnya, dalam rombongan ini salah satu tuan putri tak terlihat.


"..."


Tak jauh dari jalan yang menjadi jalur rombongan, Ruko hanya terdiam mengamati tamu yang datang dari atap sebuah rumah. Dia bisa melihat sebagian besar dari mereka adalah orang yang dia kenal.


Beberapa orang yang ingin sekali dia jauhi juga berada di rombongan itu. Baginya, ini seperti melihat rombongan mimpi buruk.


(Sei, apa yang sebenarnya kau rencanakan?)


Dia tak mengerti.


Dia tak mengerti apa yang dipikirkan oleh orang paling berkuasa di kekaisaran itu. Selain lokasi Battle War yang aneh, dia juga sadar banyak orang yang terlibat dalam kehidupannya muncul di sini. Terutama orang yang dulu pernah dia panggil sebagai orang yang paling dia cintai.


Ruko sadar semua ini bukanlah kebetulan.


Mengingat siapa Sei, seharusnya mengetahui kalau Arisa masih hidup bukan masalah besar. Tidak, mustahil mereka tak saling mengenal satu sama lain.


Dia masih belum menemukan garis yang menghubungkan semua hal yang terjadi. Tetapi jika apa yang dia pikirkan benar, maka semua pertanyaannya akan terjawab dalam Battle War nanti.


"...tapi ini benar benar gawat. Jika Laila bertemu dengan salah satu dari mereka, aku akan mendapat masalah besar."


Lelaki yang suka merayu gadis kemanapun dia pergi. Julukan itu diberikan padanya bukanlah tanpa alasan. Meskipun dia tak berniat merayu mereka, tapi entah bagaimana mereka bisa jatuh cinta pada dirinya. Dia tak merasa aneh jika akan mendapatkan julukan raja Harem.


Banyak di antara tamu Sei adalah orang yang dulu pernah terlibat hubungan asmara dengan dirinya. Ruko harus mengakui kalau kali ini dia mungkin akan menghadapi perang yang lebih sulit daripada Battle War itu sendiri.


(Lupakan semua itu. Anggap saja mereka hanya patung)


Untuk pertama kalinya Ruko merasa putus asa. Jika ini bagian dari rencana Sei, dia mengakui kalau rencana itu sudah berhasil membuatnya merasa kalah sebelum bertanding.


(Malam ini aku rasa akan panjang)


Battle War akan dimulai besok pada siang hari. Sebelum itu, akan ada acara pembukaan yang dilakukan oleh kaisar Sei malam nanti.


Pada saat inilah semua peserta akan diperkenalkan pada seluruh tamu yang hadir. Tetapi mengingat ada peserta yang ingin merahasiakan identitasnya sampai Battle War dimulai, maka peserta boleh tak hadir dalam upacara ini.


Setelah melihat rombongan kaisar, Ruko kembali ke penginapan. Dia langsung masuk menemui Laila yang kebetulan bermain dengan Riku.


"Di mana Lic?"


"Dia bersama dengan Yui melihat rombongan kaisar Sei."


"Begitu...."


Kemarin malam Yui tiba di kota Gehenna. Tujuannya tentu saja untuk melihat pertarungan Battle War dari dekat.


Ruko sedikit kecewa saat tahu dia datang sendiri. Dia berharap ayahnya atau beberapa penduduk desa klan Blad datang.


Sayangnya dengan alasan 'ada monster ganas yang sedang menyerang desa, maka dia tidak bisa hadir'. Tentu saja Ruko sadar itu hanyalah sebuah alasan belaka karena desa klan Blad dilindungi oleh beberapa naga.


Pada akhirnya dia tak begitu peduli apa alasan sebenarnya ayahnya tak datang.


"Kenapa kau mencari Lic?"


"Aku ada urusan dengannya. Lebih tepatnya butuh bantuannya."


Mata Laila menyipit dan aura dingin langsung terasa memenuhi ruangan.


"Aku tak bermaksud menggunakan kekuatannya. Aku hanya ingin meminta dia untuk mengalihkan perhatian seseorang."


"Siapa?"


"Kau akan tahu jika saatnya sudah tiba."


"Mantan kekasihmu?"


"Jangan bilang begitu. Dan kenapa kau langsung menyimpulkannya seperti itu?"


Meskipun benar, tapi dia tak ingin Laila tahu.


"Tch.. padahal aku ingin sekali melihat mantanmu. Aku penasaran dia seperti apa."


Entah mengapa Ruko bisa membayangkan apa yang akan terjadi Laila bertemu dengan mereka.


"Yah.. intinya jika dia kembali, tolong beritahu untuk segera menemuiku."


"Baiklah."


"Kalau begitu aku pergi dulu untuk memberitahu Boris untuk mengirimkan pakaian untuk upacara pembukaan nanti."


Secepat Ruko datang, secepat itu pula dia pergi. Laila yang melihat itu langsung kehilangan senyumannya.


Di dalam hatinya yang terdalam dia merasakan suatu yang ganjil pada Ruko. Meskipun rasa penasaran membuatnya ingin tahu dan bertanya langsung, namun perasaan itu langsung ditekan seolah tak ingin melakukannya.


(Kuro... Apa yang sebenarnya terjadi padamu?)


Dia sudah terbiasa dengan rahasia, tapi kali ini dia merasa kalau bukan hanya Ruko saja yang menyembunyikan sesuatu.


Perasaan itu semakin kuat oleh perilaku orang di sekitarnya. Terutama Charlmilia dan Fila. Keduanya seolah sedang merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan Ruko.

__ADS_1


Ruko tahu hal itu, tapi hanya membiarkannya saja. Atau berpura pura tak melihat apa yang mereka lakukan.


Ini aneh.


"Ma..ma.. Bai..k?"


"Terima kasih Riku. Kau memang tahu bagaimana menghiburku."


Laila melanjutkan bermain dengan Riku. Dia sadar menunjukan kekawatirannya di depan Riku hanya akan membuatnya cemas.


Pada akhirnya Laila memutuskan untuk menunggu.


✡️✡️✡️


Malam harinya, Ruko dan Laila pergi ke tempat upacara pembukaan. Tepatnya rumah sementara kaisar Sei.


Lic dan Riku tak bisa mereka ajak mengingat keduanya terlalu menarik perhatian. Bukan berarti keduanya tak suka, tapi situasi Lic dan Riku cukup spesial.


Meskipun Lic sudah diakui menjadi putrinya, tapi bukan berarti semua senang akan hal itu. Dia kadang mendengar kabar tak baik dari orang tuanya.


Untuk Riku sendiri, dia tak ingin ada wanita lain yang berusaha memonopolinya.


Penjagaan ketat terlihat di seluruh sudut rumah. Selain Imperial Knight dan Holy Knight, rumah juga dipasangi penghalang kuat yang mencegah penyusup yang menggunakan sihir teleportasi.


Pengamanan seperti ini mungkin terlihat berlebihan, tapi mengingat banyak orang penting berkumpul di satu tempat, maka ini sangat wajar. Tentu hanya orang bodoh saja yang berani menyusup. Selain penjaga, semua tamu adalah orang yang memiliki kekuatan besar.


"Nona Laila, silahkan masuk. Untuk nona..."


"Dia bersamaku. Dia pemalu sehingga harus mengenakan topeng. Tidak masalah kan...?"


Knight yang bertugas melihat undangan hanya tersenyum kecil. Dia tahu peserta Battle War memiliki cara tersendiri menunjukan diri.


Mereka lalu masuk menuju taman rumah. Di sana banyak orang yang sudah tiba terlebih dahulu. Mereka semua orang yang terkenal sehingga keduanya mudah mengetahui siapa saja yang datang.


"Ini lebih mirip upacara minum teh daripada upacara pembukaan."


Laila tak menyembunyikan apa yang dia rasakan.


"Meskipun ini upacara pembukaan, ini tak lebih dari upacara pengenalan peserta pada orang orang yang berpengaruh. Kau tahu kan, para peserta Battle War adalah calon orang penting. Entah suatu saat mereka menjadi orang penting atau tidak, tapi membuat koneksi dengan orang berpengaruh akan membuat masa depan mereka lebih baik."


"Bukankah hal semacam ini keahlianmu?"


Ruko hanya mengangguk. Meskipun memakai topeng, Laila bisa melihat Ruko tersenyum.


Kemudian mereka menuju kelompok orang yang mereka kenal, yaitu kelompok Electra dan Fila. Untuk Charlmilia, dia tak terlihat bersama dengan Fila.


Juuno dan Franco sedang mengobrol dengan dua orang dewasa di sudut lain.


"Kalian akhirnya datang, Laila, Ruko."


"Fila, selamat malam."


"Kau terlihat cocok dengan gaun itu."


Fila tersenyum kecil dengan wajah merona. Dia senang menerima pujian Ruko.


Gaun yang dia kenakan ternyata tidaklah percuma.


"Kau juga cocok dengan gaun itu, Ruko."


"Entah aku tak tahu harus senang atau sedih menerima pujian itu."


Ruko mengenakan gaun berwarna hitam dengan hiasan mawar merah. Untuk Laila mengenakan gaun putih. Keduanya bagaikan dua sisi yang saling berhadapan, tapi tak ada kesan ketidak cocokan di antara mereka.


"Jangan kawatir, kau terlihat cantik."


"Aku semakin tak ingin mendengar itu. Jangan lupa, aku ini laki laki."


Laila dan Fila tertawa kecil. Mereka benar benar menikmati reaksi Ruko.


"Sepertinya kalian lupa aku ada di sini." Electra menggembungkan pipinya dengan kesal. "Tapi kau belum kembali normal huh.. efek ramuan itu ternyata lebih manjur daripada yang aku kira"


Situasi Ruko sebenarnya cukup gawat. Dia memang sisi lain Kuro, tapi saat mendaftar dia menggunakan identitas Kuro. Jika dia tak muncul besok, dia akan didiskualifikasi.


"Mengenai masalah itu, jika besok aku tak kembali normal. Aku berencana menggunakan salah satu kekuatanku (Authority). Ini bukan masalah besar."


"Kau punya kekuatan seperti itu?"


Ruko mengangguk. Laila yang menerima respon itu bernafas lega karena alasan untuk cemas berkurang.


Tetapi untuk dua orang lainnya, mereka tak bisa mengatakan apapun karena tahu resiko Ruko menggunakan Authority. Penggunaan Authority juga akan berdampak negatif jika Ruko menggunakannya sebelum pertarungan.


"Ngomong ngomong, aku tak melihat Charlmilia. Di mana dia?"


"Dia bersama dengan kaisar Sei. Mereka akan datang secara bersamaan."


"Begitu. Ini normal mengingat dia seorang tuan putri."


"Hanya kau saja yang tak terlalu peduli dengan kenyataan itu Laila."


Sementara keduanya mengobrol, Ruko melihat ke arah lain. Di sana dia melihat seorang yang dia kenal.


"Laila, aku pergi dulu. Aku akan menemui beberapa orang kenalanku."


"Jangan terlalu lama. Sepertinya upacara akan segera dimulai."


Ruko kemudian pamit menuju salah satu sudut taman. Di sana Laila bisa melihat beberapa orang sedang mengobrol. Karena tak merasa cemas, dia mengalihkan perhatiannya.


Tapi saat dia melirik kembali, tiba tiba Ruko menghilang.


"Shiro... Aku datang. Hm.. ke mana dia?"


Sebagai gantinya, seorang wanita datang. Dia memakai gaun berwarna hijau dengan motif daun. Keanggunan dan kecantikan terpancar terang dari wanita itu, tapi yang paling menarik hati Laila dan lainnya adalah daun telinga yang berbeda dengan manusia umumnya.


Ya. Wanita itu adalah seorang elf. Lebih tepatnya High Elf.


"Anda kan..."


Fila tak menyembunyikan keterkejutannya.


Laila memang belum pernah bertemu dengan elf secara langsung, tapi dalam ingatannya sebagai Alice, dia pernah bertemu dengan wanita itu.


"Fea Berlan."

__ADS_1


"Lama tak berjumpa, Aliciana."


__ADS_2